NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Udara di dalam kelas XI IPA 2 terasa lebih berat dari biasanya. Sinar matahari sore yang menerobos masuk melalui jendela kaca besar SMA Nusa bangsa memberikan semburat jingga pada deretan meja kayu. Arga Baskara masih merasakan gema peringatan Dimas di telinganya. Sahabatnya itu benar, benteng yang ia bangun selama ini mulai retak seiring dengan kehadiran Nala yang semakin sering mengusik dunianya.

Arga menunduk, mencoba fokus pada buku latihan fisikanya. Namun, sudut matanya tidak bisa berhenti memperhatikan Nala yang sedang tertawa kecil bersama Rara di meja depan. Tawa itu masih sama dengan delapan tahun lalu, renyah dan mampu menghentikan detak jantung Arga untuk sejenak.

Suara langkah sepatu basket yang berdecit di lantai kelas memecah keheningan yang ia coba pertahankan. Arga tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum maskulin yang tajam dan aura kepercayaan diri yang meluap-luap itu hanya milik satu orang.

Satria Dirgantara berdiri di samping meja Arga dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana abu-abunya. Ia melemparkan senyum lebar yang biasa ia gunakan untuk memikat siswi di sekolah ini. Tatapannya tertuju lurus pada Nala, sebelum akhirnya berpindah ke arah Arga dan Dimas yang duduk bersisian.

"Woi, Arga, Dimas!" ujar Satria dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke telinga Nala.

Arga hanya menoleh sekilas tanpa mengubah posisi duduknya. Ia kembali menatap deretan rumus yang kini terasa semakin rumit. Di sampingnya, Dimas menghentikan kegiatannya bermain ponsel dan menatap Satria dengan alis terangkat sebelah.

"Kenapa, Sat?" tanya Dimas dengan nada datar.

Satria bergeser sedikit, mempersempit jarak antara dirinya dan meja Arga. Ia melirik kursi kosong di sebelah kiri Arga yang biasanya digunakan untuk menaruh tas atau buku-buku cadangan.

"Gue boleh numpang duduk di sini sebentar? Gue mau ngobrol enak sama Nala, mumpung gurunya belum masuk," kata Satria tanpa basa-basi.

Nala yang mendengar namanya disebut langsung menoleh. Ia menatap Satria dengan ekspresi bingung, lalu beralih menatap Arga. Ada kilat ketidakenakan yang terpancar dari mata gadis itu, namun ia tetap diam, membiarkan situasi bergulir.

Arga merasakan jemarinya yang memegang pulpen mengeras. Ada rasa panas yang merayap di tengkuknya. Permintaan Satria terdengar sangat sederhana, namun bagi Arga, itu adalah invasi terang-terangan terhadap ruang personal yang ia jaga dengan susah payah.

"Cari tempat lain saja, Sat," sahut Arga pendek.

Satria tertawa kecil, seolah menganggap ucapan Arga adalah sebuah candaan. Ia meletakkan satu tangannya di sandaran kursi kosong tersebut.

"Cuma sebentar, Ga. Pelit amat lo sama teman sendiri. Lagian ini kursi juga lagi kosong, kan?" timpal Satria lagi, kali ini dengan nada yang lebih menekan.

Tania Larasati yang duduk di depan Arga ikut memutar tubuhnya. Ia memperhatikan ketegangan yang mulai terbangun di antara kedua cowok itu. Di sisi lain kelas, Rara menyenggol lengan Nala, memberikan isyarat bahwa suasana sedang tidak baik-baik saja.

Dimas berdeham, mencoba mencairkan suasana sebelum Arga benar-benar meledak.

"Iya, Sat, tapi biasanya Arga memang naruh barang-barangnya di situ. Lo mending tarik kursi dari belakang saja kalau mau ngobrol," usul Dimas berusaha logis.

Satria tidak bergeming. Ia justru menatap Arga dengan tatapan menantang, seolah ingin membuktikan siapa yang lebih memiliki kuasa di ruangan itu. Ia tahu Arga adalah tipe cowok pendiam yang biasanya akan mengalah demi menghindari keributan.

"Ayolah, Ga. Masa gitu doang nggak boleh? Gue cuma mau nanya soal tugas kelompok sama Nala," desak Satria.

Arga meletakkan pulpennya di atas meja dengan bunyi ketukan yang cukup keras. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata Satria. Tidak ada keraguan di sana, hanya ada ketegasan yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Nggak bisa, Sat," jawab Arga dengan suara rendah namun sangat jelas.

Satria mengerutkan kening, senyumnya perlahan memudar.

"Kenapa?" tanyanya ketus.

"Karena bangku itu sudah ada yang menempati," ujar Arga tenang.

Satria melirik bangku yang benar-benar kosong itu, lalu kembali menatap Arga dengan wajah tidak percaya. Ia merasa sedang dipermainkan oleh cowok yang selama ini ia anggap tidak ada apa-apanya.

"Siapa? Jangan bilang lo lagi halusinasi," sindir Satria dengan nada meremehkan.

Arga menarik tas punggungnya dari bawah meja dan meletakkannya di atas kursi kosong tersebut dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan. Ia menatap Satria tanpa berkedip.

"Gue," sahut Arga singkat.

Keheningan seketika menyergap kelas. Dimas membelalakkan matanya, tidak menyangka Arga akan bersikap sefrontal itu. Tania menahan napas, sementara Nala hanya bisa terdiam dengan jantung yang berdegup kencang melihat sisi Arga yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Satria mendengus sinis, merasa harga dirinya sedikit tergores. Ia menatap tas Arga, lalu kembali ke arah pemiliknya. Ketegangan itu bagaikan benang tipis yang siap putus kapan saja.

"Oke, gue paham," gumam Satria akhirnya.

Ia memberikan tatapan terakhir yang tajam pada Arga sebelum berbalik menuju mejanya sendiri di barisan belakang. Langkah kakinya terdengar lebih berat, menunjukkan kekesalan yang tertahan.

Begitu Satria menjauh, Dimas langsung menyenggol lengan Arga dengan keras.

"Gila lo, Ga. Sejak kapan lo jadi seberani itu?" bisik Dimas dengan nada yang bercampur antara kagum dan khawatir.

Arga tidak menjawab. Ia kembali mengambil pulpennya, namun tangannya sedikit gemetar. Ia tahu ia baru saja melakukan sesuatu yang akan mengubah dinamika di kelas ini. Ia melirik ke arah Nala, dan saat itu juga, mata mereka bertemu.

Nala tidak memalingkan wajah. Ia menatap Arga dengan kerutan di dahi, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki rumit yang ada di hadapannya. Arga segera membuang muka, kembali menenggelamkan diri dalam deretan rumus fisika yang mendadak terasa jauh lebih aman daripada kenyataan yang harus ia hadapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!