"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Siang itu, Kantin Satu Universitas New York (NYU) terasa seperti medan magnet raksasa. Ruangan luas dengan arsitektur modern itu merupakan titik temu strategis bagi mahasiswa Fakultas Teknik, Manajemen, dan Seni.
Wangi pasta, aroma tajam kopi, dan bising percakapan ribuan mahasiswa beradu menjadi satu, menciptakan simfoni khas kampus elit yang tak pernah tenang.
Di salah satu meja pojok, Veronica Brooklyn duduk dengan tenang, matanya fokus pada layar laptop sementara tangannya sesekali menyuapkan potongan sandwich ke mulutnya. Di depannya, Theana—sahabat baiknya sejak semester awal—sedang asyik mengunyah kentang goreng.
Theana adalah anomali di kampus ini. Dia berasal dari keluarga kelas atas yang hartanya mungkin tidak akan habis tujuh turunan, namun dia adalah manusia paling low profile yang pernah Veronica kenal.
Dia ceplas-ceplos, sedikit mesum dalam bercanda, dan yang paling penting, dia memperlakukan semua orang sederajat. Theana adalah satu-satunya alasan kenapa Veronica tidak benar-benar merasa sendirian di tengah lautan mahasiswa sombong yang seringkali menganggap anak beasiswa panti asuhan seperti dirinya sebagai "lintah".
Tiba-tiba, suara riuh rendah di kantin itu seolah tersedot ke dalam lubang hitam. Keheningan yang janggal merayap, membuat Veronica refleks mengangkat kepalanya dari layar laptop.
"Nah, ini dia..." gumam Theana dengan nada sarkas yang kental. "Para penjaga gerbang Olympus sudah datang."
Veronica menoleh ke arah pintu masuk kantin. Di sana, lima pria berjalan dengan langkah yang memancarkan aura dominasi mutlak. Mereka adalah legenda hidup NYU. Kaya, tampan, dan memiliki kuasa yang bahkan bisa membuat dekan berpikir dua kali sebelum menegur mereka.
Veronica hanya mengenal Tiga dari mereka secara spesifik karena sering "berulah" di Fakultas Manajemen: Dorian, si playboy cap badak bercula satu yang merasa seluruh wanita di New York adalah koleksinya; dan Gavin, si tebar pesona yang senyumnya bisa membuat mahasiswi tahun pertama pingsan di tempat.
Namun, di dalam kepalanya, Veronica memiliki sistem penamaan sendiri untuk mereka. Dia menyebut mereka B5.
"Lihat itu, Vea," bisik Theana sambil menunjuk dengan dagunya. "Barisan pria-pria yang tidak punya kata 'tidak' dalam kamus hidup mereka."
Veronica mendengus pelan, matanya menyisir kelima pria itu satu per satu sambil mengabsen gelar yang ia berikan dalam hati.
Pertama, Dorian (Brengsek). Pria itu sedang tertawa lebar sambil merangkul Gavin. Kedua, Gavin (Bajingan), yang sedang mengedipkan mata pada seorang mahasiswi seni di meja sebelah. Ketiga, Sander (Bangsat), si tukang rusuh yang kabarnya pernah meretas sistem kampus hanya untuk mengubah nilai ujian temannya. Keempat, Ailen (Bucin)—sebutan yang diberikan Veronica karena menurut rumor, Ailen belum bisa pindah hati dari mantannya meski ribuan Surat Cinta mengantre.
Dan terakhir... pria yang berjalan paling belakang.
"Siapa namanya? Apel? Iya, mungkin Apel," batin Veronica saat menatap pria itu.
Pria itu adalah Apolo (Bangsawan). Berbeda dengan empat temannya yang berisik, Apolo adalah personifikasi dari ketenangan yang dingin. Dia jarang bicara, jarang tertawa meledak-ledak. Dia hanya memberikan senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tidak terlihat—saat menanggapi ocehan gila Sander.
Di mata Veronica, hanya si 'Apel' ini yang terlihat sedikit waras, meski auranya tetap menunjukkan bahwa dia berada di kasta yang jauh berbeda dengan orang-orang seperti Veronica.
"Ailen! Berhenti menatapku seperti itu, brengsek!" tiba-tiba Theana berteriak kecil ke arah rombongan itu.
Ailen, si duta penolak gadis cantik itu, hanya menoleh sekilas dengan tatapan datar sebelum membuang muka.
Veronica melihat rahang Theana mengeras. Ia tahu ada sesuatu yang belum tuntas antara sahabatnya dan Ailen, sebuah rahasia masa lalu yang Theana simpan rapat-rapat.
"Sudahlah, Thea. Jangan cari ribut dengan mereka. Kita ini cuma para rakyat di mata B5," bisik Veronica menenangkan.
Veronica sadar, kepintarannya dan kepercayaan dirinya tidak akan berguna jika ia berurusan dengan mereka. Jika B5 tersinggung, mereka bisa melenyapkan beasiswanya hanya dengan satu panggilan telepon. Jadi, ia lebih memilih menjadi penonton pasif.
Namun, ketenangan Veronica terusik saat suara dari meja tepat di sampingnya terdengar.
"Oh God... oh yes... ahhh it's so great..."
Veronica tersentak. Ia menoleh cepat ke samping, mengira ada seseorang yang sedang memutar film dewasa 21+ di tengah kantin yang ramai.
Ternyata, itu adalah sekelompok mahasiswi yang sedang menatap rombongan B5 dengan tatapan memuja yang nyaris gila. Mereka mendesah kegirangan hanya karena melihat Gavin merapikan rambutnya atau melihat Dorian tertawa.
"Demi Tuhan..." Veronica bergidik ngeri. "Mereka lebih menyeramkan dari film horor."
Mendengar desahan-desahan damba itu, memori Veronica mendadak terlempar ke malam dua hari lalu. Suasana gelap, aroma parfum maskulin yang mahal, dan suara berat seorang pria yang memanggil namanya.
Vea... namaku Vea...
Ahh, Veaaa...
Veronica merinding. Ia merapatkan jaketnya, merasa wajahnya mendadak memanas. Ia sendiri pernah mendesah seperti itu—bahkan mungkin lebih parah—di bawah tubuh pria bernama Azeant.
Pria yang ia temui di aplikasi, yang suaranya terdengar sangat dewasa dan dominan, sangat berbeda dengan keriuhan di kantin ini.
Ia tidak tahu bahwa Azeant yang ia cari, Azeant yang ia rindukan sentuhannya, sedang berjalan hanya beberapa meter darinya dengan nama yang ia salah sebut sebagai 'Apel'.
Apolo, di sisi lain, merasakan sebuah pandangan yang berbeda. Di tengah ratusan mata yang memujanya, ia merasakan ada satu pasang mata hazel yang menatapnya dengan cara yang datar, seolah dia bukan siapa-siapa. Ia melirik sekilas ke arah meja pojok, melihat seorang gadis berjaket kulit yang sedang memutar bola mata malas ke arah mahasiswi yang mendesah tadi.
Apolo tersenyum tipis. Sangat tipis. Gadis itu... gadis yang sama yang pernah ia lihat di perpustakaan.
"Ayo, Pol! Kenapa melamun? Burger di depan sudah memanggil!" seru Sander sambil menarik bahu Apolo.
Apolo mengangguk, namun pikirannya terbagi. Ia meraba ponsel di sakunya, memikirkan pesan 'Ok' dari Vea semalam.
Ia tidak sabar menanti jam lima sore berlalu, ingin segera menukar kebisingan kantin ini dengan kegelapan apartemennya, di mana ia bisa kembali mendengar desahan yang asli, bukan desahan damba dari gadis-gadis yang tidak ia kenal.
Sementara itu, Veronica kembali menunduk ke laptopnya, mencoba menghapus bayangan desahannya sendiri dari kepalanya. Ia tidak sadar bahwa malam ini, Si 'Bangsawan' yang ia remehkan itu akan kembali menjadi Azeant yang akan membuatnya mendesah lebih keras dalam kegelapan yang mereka sepakati.
"Thea, ayo pergi. Kantin ini makin lama makin berisik oleh suara orang-orang gila," ajak Veronica sambil mengemasi barangnya.
"Setuju. Aku juga butuh oksigen sebelum meledak melihat wajah Ailen," sahut Theana.
Mereka berdua berjalan keluar, berpapasan dengan rombongan B5 di koridor sempit menuju pintu keluar. Veronica menunduk, aroma parfum maskulin yang sangat familiar tercium saat ia berpapasan dengan Apolo. Langkahnya sempat terhenti sesaat, jantungnya berdegup kencang. Bau ini...
Namun ia segera menggelengkan kepala dan mempercepat langkahnya. Tidak mungkin. New York penuh dengan pria yang memakai parfum mahal, batinnya mencoba waras.
Apolo berhenti melangkah, menoleh ke belakang menatap punggung Veronica yang menjauh.
"Kenapa, Pol?" tanya Dorian.
"Bukan apa-apa. Hanya... aroma yang familiar," jawab Apolo pelan sebelum melanjutkan langkahnya menuju meja tengah kantin, memulai siang yang panjang sebelum malam yang ia nantikan tiba.