NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Hari Penentuan dan Sinyal yang Berubah

Sinar matahari pagi menembus celah-celah kaca gedung Apex Media dengan begitu terang, menyapu sisa-sisa ketegangan yang tertinggal dari malam lembur yang panjang. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Andra sudah berada di posisinya. Meja depannya tampak sangat rapi; tidak ada lagi tumpukan berkas yang berserakan. Efek dari kejadian semalam membuat Andra tidak bisa tidur nyenyak di kontrakan Mas Joko. Alih-alih merasa lelah, adrenalin di dalam tubuhnya justru bergejolak hebat. Hari ini adalah hari penentuan, hari di mana tim Apex Media akan melakukan presentasi besar di hadapan jajaran direksi perusahaan kosmetik multinasional.

Andra memeriksa kembali tablet kantor dan memastikan semua salinan digital dari dokumen anggaran yang ia revisi semalam sudah tersinkronisasi dengan sempurna di peladen pusat. Tangannya bergerak dengan ketenangan seorang pria yang tahu bahwa ia telah melakukan tugasnya dengan jujur dan maksimal.

Tepat pukul delapan, pintu lift eksekutif terbuka. Nadia melangkah keluar.

Andra menahan napasnya sesaat, mempersiapkan batinnya untuk menghadapi kecanggungan yang mungkin timbul setelah insiden hampir khilaf di atas sofa semalam. Namun, profesionalisme Nadia sebagai seorang Managing Director terbukti bukan sekadar pajangan. Pagi ini, wanita itu tampil luar biasa memukau dengan setelan celana dan blazer berwarna putih gading yang dipadukan dengan blus hitam di dalamnya. Rambutnya kembali disanggul rapi dan kencang tanpa ada sehelai pun yang terurai. Tatapan matanya tajam, langkah kakinya mantap, memancarkan aura seorang jenderal yang siap memenangkan pertempuran bisnis.

"Selamat pagi, Bu Nadia," sapa Andra sambil berdiri dan membungkuk sopan, sengaja kembali ke panggilan formal sepenuhnya untuk menegaskan batas yang telah mereka sepakati semalam.

Nadia menghentikan langkahnya tepat di depan meja Andra. Ia tidak langsung menjawab. Sepasang mata indahnya menatap Andra selama beberapa detik, membaca ekspresi pemuda itu. Ada kilatan kehangatan yang sangat tipis di matanya, sebelum akhirnya ia mengangguk profesional.

"Selamat pagi, Andra. Semua dokumen untuk presentasi jam sepuluh nanti sudah siap?" tanya Nadia, nadanya terdengar tenang dan berwibawa, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka beberapa jam yang lalu.

"Sudah siap semua di tablet, Bu. Salinan cetaknya juga sudah saya siapkan sebanyak lima bundel di dalam tas," jawab Andra sigap.

"Bagus. Masuk ke ruangan saya lima menit lagi bersama tim kreatif. Kita lakukan ulasan terakhir sebelum berangkat ke lokasi," perintah Nadia sebelum melangkah masuk ke ruangannya.

Saat pintu kaca tertutup, Andra mengembuskan napas lega yang tertahan di dadanya. Ia bersyukur karena Nadia memilih untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Itu adalah pilihan terbaik bagi mereka berdua, terutama bagi dirinya yang hanya seorang staf bawah yang butuh mempertahankan pekerjaan ini demi menyambung hidup keluarganya di desa.

Ruang rapat besar Apex Media mendadak riuh ketika tiga orang perwakilan dari tim kreatif masuk, disusul oleh Andra yang membawa semua perlengkapan presentasi. Nadia duduk di kepala meja, memimpin ulasan singkat dengan sangat taktis. Tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.

"Ingat, poin krusial kita adalah di bagian efisiensi anggaran promosi luar ruang yang sudah disesuaikan semalam. Itu kartu as kita untuk menumbangkan agensi saingan," ujar Nadia, matanya melirik sekilas ke arah Andra saat menyebut kata 'semalam'. Andra yang mengerti kode tersebut hanya mengangguk pelan dengan wajah datar yang profesional.

Pukul sembilan lewat tiga puluh menit, rombongan Apex Media tiba di gedung pusat perusahaan kosmetik tersebut. Ruang tunggu lobi utama sudah dipenuhi oleh perwakilan dari agensi-agensi periklanan saingan yang penampilannya tidak kalah mentereng. Persaingan terasa sangat kompetitif dan menegangkan.

Ketika giliran Apex Media dipanggil masuk ke dalam ruang presentasi utama, jantung Andra kembali berdegup kencang. Ia segera mengambil posisi di sudut ruangan, bertugas mengoperasikan layar proyektor dan memastikan setiap lembar salinan data mendarat di meja para dewan direksi klien tepat waktu.

Nadia maju ke depan mimbar dengan langkah yang sangat anggun namun penuh percaya diri. Begitu ia mulai berbicara, seluruh ruangan langsung terhipnotis oleh pesonanya. Penjelasan Nadia begitu runtut, tajam, dan penuh dengan data yang akurat. Setiap kali ada pertanyaan bernada menguji dari direktur utama klien, Nadia selalu berhasil mematahkan keraguan mereka dengan argumen yang brilian.

Andra yang memperhatikan dari sudut ruangan tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Wanita yang semalam menangis di saputangannya dan makan telur dadar buatannya dengan begitu lahap, kini menjelma menjadi sosok raksasa yang sangat dikagumi di dunia korporat. Ada rasa bangga yang aneh yang mendadak menyeruak di dalam dada Andra karena ia bisa menjadi bagian kecil yang mendukung kesuksesan wanita itu hari ini.

"Dan seperti yang bisa Anda lihat di layar," Nadia menunjuk ke arah proyektor, di mana data anggaran operasional hasil lemburan Andra terpampang dengan sangat rapi dan logis. "Kami menawarkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas jangkauan promosi. Ini adalah komitmen kami untuk kemitraan jangka panjang."

Tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan begitu Nadia mengakhiri presentasinya. Para petinggi perusahaan kosmetik itu tampak saling berbisik sambil mengangguk-angguk puas. Direktur utama mereka bahkan berdiri untuk menyalami Nadia secara langsung, sebuah sinyal kuat bahwa proyek bernilai miliaran rupiah itu hampir pasti jatuh ke tangan Apex Media.

Pukul satu siang, rombongan kembali ke kantor dengan perasaan lega dan penuh kemenangan. Tim kreatif langsung pamit ke lantai bawah untuk merayakan keberhasilan awal mereka, menyisakan Nadia dan Andra yang berjalan kembali menuju lantai 17.

Begitu mereka tiba di depan ruang kerja, suasana koridor yang sepi kembali menciptakan ruang intim di antara mereka berdua. Nadia tidak langsung masuk ke dalam ruangannya. Ia berbalik badan, menatap Andra yang sedang meletakkan tas kerja di atas meja.

"Kita berhasil, Andra," ucap Nadia lirih. Nada suaranya tidak lagi sekaku saat presentasi tadi. Ada binar kebahagiaan yang sangat murni di wajahnya.

Andra tersenyum tampan, sebuah senyuman yang sangat tulus dari lubuk hatinya. "Selamat, Bu Nadia. Presentasi Ibu tadi benar-benar luar biasa. Saya sangat kagum melihatnya."

Nadia melangkah satu langkah lebih dekat ke meja Andra, memperpendek jarak di antara mereka. "Ini bukan hanya keberhasilan saya, Andra. Tanpa revisi anggaran yang kamu kerjakan dengan teliti semalam, mereka pasti akan mempertanyakan efisiensi kita. Kamu adalah bagian penting dari kemenangan ini."

Nadia merogoh tas jinjingnya, lalu mengeluarkan selembar kain putih yang sudah dicuci bersih dan disetrika rapi. Itu adalah saputangan milik Andra yang ia gunakan semalam.

"Ini... terima kasih untuk semalam," ujar Nadia sambil mengulurkan saputangan itu. Namun, saat Andra mengulurkan tangan untuk menerimanya, jemari tangan Nadia sengaja tidak langsung melepaskan kain tersebut. Selama beberapa detik, ujung-ujung jari mereka saling bersentuhan di atas selembar kain putih itu.

Nadia menatap mata Andra dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya. "Dan untuk tawaranmu semalam... mulai hari ini, kamu tidak perlu membawa kotak bekal lagi dari kontrakan."

Andra mengerutkan keningnya sedikit, bingung. "Maksud Ibu?"

Nadia tersenyum manis, sebuah senyuman yang penuh dengan sinyal baru yang membingungkan batin Andra. "Mulai besok, saya yang akan meminta juru masak pribadi di apartemen saya untuk menyiapkan dua porsi makan siang. Satu untuk saya, dan satu lagi untuk asisten pribadi saya. Kita akan makan siang bersama di ruangan ini setiap hari. Anggap saja itu... sebagai bonus atas kerja kerasmu."

Nadia melepaskan saputangan itu dari genggamannya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan senyuman yang misterius, meninggalkan Andra yang berdiri terpaku di tempatnya.

Andra menatap saputangan di tangannya dengan perasaan yang campur aduk. Sinyal yang diberikan Nadia sudah berubah sepenuhnya. Batas profesional yang ia perjuangkan semalam kini perlahan-lahan mulai digeser kembali oleh sang bos, menjebak pemuda desa itu ke dalam lingkaran godaan yang semakin sulit untuk ia hindari.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!