Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31. Pengaruh alkohol
“Gugat cerai dia, De. Mas sanggupi biayanya," pintanya dengan membawa rambutku ke bagian belakang telingaku.
"Mas, Mas ngerti nggak sih aku malu dengan terus-terusan kawin cerai? Lebih baik statusku bersuami, tapi aku selayaknya janda. Ketimbang orang kampung tau kalau aku ini janda lagi, pasti mereka langsung berpikir bahwa akulah yang bermasalah. Kek waktu perdebatan kita di pinggir jalan itu,” jujurku lesu. Aku harus mengatakan apa lagi agar ia mengerti tentang pandangan sosial yang aku dapatkan nantinya.
“Kamu pikirin pendapat orang? Tapi kenapa kamu nggak pikirin masukan dari Mas? Apa harus dimasuki dulu, baru mau patuh? Apa harus tau dulu enaknya Mas kek gimana?" Aroma alkohol dari mulutnya, terasa begitu menyengat di hidungku karena jarak wajah kami sangat berdekatan.
Aku terkekeh kecil, mesumnya datang lagi. Aku suka ia yang **bul.
Aku tahu, bahkan ia sempat e***si tadi saat berjoget di lantai dansa. Ia terus menempelkan miliknya, dengan menahan pinggangku agar sedikit menonggeng padanya.
Tapi sialnya aku suka, aku suka disentuhnya. Aku malu sekali pada diriku, aku seperti menj***t ludah sendiri.
Tapi kan ludah sendiri kan? Bukan ludah orang lain.
"Kalau misalnya kamu udah resmi, kedepannya kan enak juga. Kalaupun memang kamu belum bisa berkomitmen dalam waktu dekat, Mas bisa ngajuin perjanjian pranikah. Biar kamu merasa diuntungkan karena aktivitas fisik kita. Yaa, kamu pasti ngerti lah. Sengaja atau nggaknya, di belakang orang tua pasti kita ada melakukannya. Biar kamu punya kekuatan hukum, biar Mas nggak main-main sama kamu," bujuknya dengan mengusap pelipisku. Namun, ibu jarinya berada di bibirku.
Pandangannya fokus ke arah bibirku.
Aku memiliki rasa kurang percaya diri di area bibirku. Mulutku lebar, meski wajahku terlihat ciut. Bedah operasi cukup beresiko, karena akan membuat tampilan sangat tidak alami.
Jadi sesuai saran dokter saja, bibirku hanya dibentuk dengan filler. Agar terlihat berisi dan garis lebarnya tersamarkan. Tapi ya pasti kentara jelas jika aku berbicara, akan terlihat jika memang ukuran mulutku itu lebar.
Nah, kan? Kena.
Baru juga tadi ia membahas dengan aktivitas fisik, ia sudah melahap bibirku saja sekarang.
Aku merasa, bahwa ia hanya ingin menuntaskan keinginannya saja. Bukan apa-apa, tapi sejak ia meminta kepastian saat itu. Sampai sekarang ia sering sekali mencuri kesempatan dalam kesempitan.
“Usahakan urus perceraian kamu ya, Sayang?" pintanya lembut dengan bibirnya yang sudah basah.
Bibirku pun pasti basah karenanya.
“Mata kamu cantik betul, De. Tiap kali Mas ditatap kamu, rasanya Mas bern***u terus," ungkapnya tanpa malu.
“Jangan, Mas!" Aku menahan dadanya ketika ia bangkit untuk mengungkung tubuhku.
Ia memejamkan matanya rapat, kemudian memegangi kepalanya. Sebelum akhirnya mengunci tanganku di atas kepalaku.
Miliknya mengeras, aku bisa merasakannya menekan di area perut bawahku. Pasti si kecil amat tersiksa di dalam celana jeans itu.
"Sekali aja, De. Ya? Nggak bakal mas hamili, kita main aman sampai kamu bener-bener resmi menjanda. Kamu tenang aja, Sayang,” ucapnya di telingaku kiriku. Kemudian, l****nya bermain tidak sopan di sana.
Suaraku lolos, perutku mengencang, aku tak kuasa menahan ****sang** yang ia berikan.
"Jangan dimerahin, Mas,” tolakku dengan menahan leherku untuk beringsut agar ia tidak bisa mengaksesnya.
“Nggak, De. Tenang aja, Mas ngerti apa yang kamu butuhkan."
Belum juga ada aba-aba lain. Ia begitu tidak sabaran, karena jemarinya langsung memperkenalkan diri di sana.
Kan aku ketahuan jika aku sudah basah dari tadi, karena jemarinya lolos begitu mudah.
“Uhmmm." Mulutnya masih berada di area leherku.
“Buka kakinya, jangan ditahan," pintanya dengan menekan satu lututku ke arah berlawanan.
"Kita, kita…" Apa ya kata-katanya, aku tidak mau malam ini terjadi sesuai kehendaknya.
Apalagi sekarang jemarinya sudah bermain di sana, pasti ia sudah tidak sabaran aslinya.
“Apa, Sayang?" bisiknya dengan tambahan napas beratnya di telingaku.
Hah, sudah. Jebol sudah pikiran warasku karena ****sang**nya. Kakiku melemas, membuka aksesnya agar lebih mudah.
“Jangan buru-buru, Mas. Kita punya banyak waktu," ujarku beralasan. Aku hanya ingin mengulurkan waktu, agar kegiatan ini tidak benar-benar terjadi.
Ya mana tau ia sudah kepalang pening.
“Hahhhh!" Aku melonjak tiba-tiba, ketika ia mengakses lebih bebas ke arah atas.
“Kamu sensitif betul." Kekehan gelinya begitu jelas.
Siapa yang tidak sensitif, jika inti tubuhnya langsung dimainkan. Bayangkan saja, ribuan syaraf memusat di sana. Apa tidak merinding sebadan-badan, ia mempermainkanku dengan seenaknya.
Tapi memang enak.
“Mas, udah dulu, Mas," rengekku penuh permohonan.
Namun, ia malah membuka kepala ikat pinggangnya dengan satu tangannya. Semudah itu juga ia membuka pengait dan resleting celananya.
Sedangkan tangannya yang satu lagi, ia tetap gunakan untuk menahan tanganku di atas kepalaku.
"Mas, jangan dulu, Mas!” Aku panik karena ia sudah mengeluarkan benda keras nan panas itu meski aku belum melihatnya jelas.
"MAAAAASSSSSSSSS!!!" Tubuhku berontak reflek setelah mendapatkan benda keras itu berusaha menyeruak masuk.
“Shttttt." Ia menyumpal mulutku dengan mulutnya.
Aku tidak mau, rasanya sepertinya besar sekali. Itu apa? Seperti bukan barang saja. Masa iya aku yang sudah dibobol laki-laki sampai harus meregangkan kaki lebih lebar, agar miliknya bisa mudah untuk masuk.
“Mas, jangan dulu," rengekku manja disela desakannya di bawah.
Ekspresinya sudah kalang kabut sendiri. Ia bahkan langsung mengubah posisi tubuhnya. Ia langsung membuka kakiku dengan dirinya yang berada di tengah-tengah. Jangan lupakan tanganku yang tetap dicekalnya begitu erat.
“Mas, kamu nggak akan maksa kan???" Aku panik bukan kepalang, melihatnya memindahkan ludahnya dari mulutnya ke arah tengah-tengah tubuhnya.
“Mas nggak tahan, Sayang. Tahan ya? Maaf, agak besar," ungkapnya dengan mencondongkan kepalanya ke depan.
Ini bukan si kecil, tapi si besar.
Ia terus mendorong di bawah sana, sedangkan aku tidak benar-benar rileks. Mau berteriak pun bagaimana, jelas-jelas aku dengan patuhnya masuk ke kamar yang sama.
“Setelah Mas masuk, Mas yakin kamu nggak akan ngerasa puas dengan laki-laki lain. Lepas itu, kamu bakal ketagihan sama Mas. Karena cuma sama Mas, kamu ngerasain dinding kamu benar-benar penuh," bisiknya jelas dengan dorongan yang semakin memaksa.
“Lepasin tangan aku, Mas! Aku nggak leluasa." Karena semakin ditolak, ia semakin kencang memegangi tanganku.
Aku rasa, miliknya pun sudah masuk setengahnya.
“Janji jangan dorong Mas, karena kamu bakal ngerasain akibatnya," ancamnya menakutkan.
Bagaimana tidak menakutkan, matanya begitu merah. Ia dalam pengaruh alkohol, ditambah ia sedang dilanda hawa n****nya.
"Kalau kamu nurut, Mas nggak mungkin dorong keras begini, De,” ujarnya di depan wajahku dengan miliknya yang sedikit ditarik keluar.
Aku mengangguk cepat, aku tidak ingin milikku lecet-lecet karena paksaan darinya.
Detik itu juga, miliknya hilang dari permukaan milikku. Digantikan dengan kepalanya yang tepat berada di depan milikku tanpa jijik.
Aku menggelepar, kedua tanganku lunglai di dekat kepalaku tanpa perlawanan. Penampilanku sudah amat compang-camping, dengan bagian dadaku sudah terlihat sebelah.
Entah kapan ia merusak penampilanku.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠