"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.
Setelah Erlan pergi, suasana kamar terasa sangat berat, seolah oksigen di ruangan ini habis dihisap oleh kehadirannya yang dominan. Aku segera bergegas ke kamar mandi, mengguyur tubuhku dengan air dingin untuk mengusir rasa takut yang masih merayap di kulitku. Tak lama setelah aku keluar, Marta masuk membawa nampan sarapan yang jauh lebih mewah dari biasanya, namun seleraku sudah hilang.
"Nyonya, Tuan Besar Erlan memang tegas, tapi mohon habiskan makanan ini. tuan Erlan sendiri yang memintaku menyiapkan semua ini," ucap Marta pelan sambil menata piring di meja kecil dekat jendela.
Aku mengangguk lemah. "Terima kasih, Marta. Tapi setelah ini, aku harus bimbingan online. Bisakah kau memastikan tidak ada yang menggangguku selama satu jam?"
Marta menunduk hormat lalu keluar. Aku membuka laptop cadangan yang sudah disiapkan di meja kerja. Saat wajah dosen pembimbingku muncul di layar Zoom, aku merasa kembali ke duniaku yang lama—dunia yang normal, di mana masalah terbesarku hanyalah revisi skripsi, bukan peluru atau ancaman pembunuhan. Selama satu jam, aku tenggelam dalam diskusi bab terakhir tugas akhirku, mencoba melupakan bahwa aku sedang berada di markas salah satu klan paling berbahaya.
Baru saja aku menutup laptop, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Darrel masuk. Dia masih mengenakan kemeja kantor, namun jasnya sudah dilepas. Lengannya yang terluka tampak sedikit kaku di balik kain kemeja yang sedikit menonjol karena balutan perban.
Darrel menatapku tajam, matanya menyisir seluruh penjuru kamar sebelum terpaku padaku. "Apakah Ayah ke sini tadi?" suaranya rendah, ada nada ketegangan yang ia coba sembunyikan.
"Iya," jawabku singkat, tanganku masih memegang pinggiran laptop.
"Dia menyakitimu? Melakukan sesuatu padamu?" Darrel melangkah mendekat, matanya mencari bekas luka atau memar di wajahku.
"Tidak," aku mengambil undangan hitam di meja dan menyodorkannya padanya. "Dia memberikan ini. Katanya aku harus datang sebagai Nyonya Grisham. Dia mengancam tentang Nenek lagi jika aku membuat malu di pesta itu."
Darrel menyambar undangan itu, membacanya sekilas dengan tatapan jijik, lalu melemparkannya kembali ke meja seolah benda itu adalah sampah beracun.
"Aku sudah tahu tentang acara itu," desisnya. "Dan jawabannya adalah tidak. Kita tidak akan pergi."
Aku terbelalak. "Tapi Darrel, Ayah bilang—"
"Aku tidak peduli apa yang dia katakan!" potong Darrel tajam. "Pesta itu adalah sarang ular. Musuh-musuh Grisham akan berkumpul di sana, dan kau hanya akan menjadi sasaran empuk. Aku tidak punya waktu untuk menjagamu di tengah kerumunan orang-orang haus darah. Kau tetap di mansion. Itu perintahku."
"Lalu bagaimana dengan Ayah? Jika aku tidak datang, dia akan berpikir aku membangkang, dan dia bisa menyakiti Nenek!" seruku, mencoba mengejar langkahnya saat dia berbalik untuk pergi.
"Ayah adalah urusanku. Kau diam saja di sini," sahutnya tanpa menoleh, lalu melangkah keluar dari kamar dengan cepat.
Aku tidak bisa membiarkan ini. Jika Darrel dan Erlan berselisih, akulah yang akan menjadi korban di tengah-tengahnya. Dengan langkah terburu-buru, aku membuntuti Darrel keluar dari sayap barat.
"Darrel, tunggu! Kita harus bicara!" aku setengah berlari mengekorinya di lorong panjang yang sunyi.
Darrel terus berjalan menuju ruang kerjanya, langkahnya lebar dan cepat. "Kembali ke kamarmu, Lily! Jangan membuatku mengulang perintahku!"
"Tidak sebelum kau mendengarkanku!" aku berhasil menyusulnya tepat saat dia memegang gagang pintu ruang kerjanya. Aku berdiri di depannya, menghalangi jalannya dengan napas tersengal. "Kau tidak mengerti. Bagi Ayah, pesta ini bukan sekadar pesta. Ini tentang pengakuan. Jika aku tidak ada di sana, dia akan merasa kau gagal mengendalikan istrimu sendiri. Kau mau dia datang lagi ke kamarku besok pagi dengan ancaman yang lebih parah?"
Darrel menunduk, menatapku dengan mata yang berkilat marah namun juga tampak sangat lelah. "Kau pikir dengan datang ke sana kau akan aman? Di sana tidak ada aturan, Lily. Sekali kau melangkah ke aula itu, identitasmu sebagai 'kelemahan' Grisham akan terekspos ke seluruh dunia."
"Aku sudah terjebak di sini, Darrel! Tidak ada tempat yang lebih tidak aman selain menjadi istrimu tanpa perlindungan dari Ayahmu sendiri," balasku berani, meski hatiku gemetar hebat. "Ayo kita datang. Aku akan belajar secepat mungkin. Kumohon, jangan biarkan Nenek menjadi korban hanya karena ego kalian berdua."
Darrel terdiam, rahangnya mengeras. Ia menatapku seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku cukup kuat untuk bertahan hidup di dunianya yang gelap, atau hanya akan menjadi beban tambahan bagi pundaknya yang sudah terbebani peluru.
**
Darrel menatapku dengan intensitas yang nyaris membuatku ingin memalingkan wajah. Ia meraih daguku dengan tangannya yang bebas, memaksaku menatap tepat ke dalam manik matanya yang sehitam jelaga. Tidak ada kelembutan di sana, hanya tuntutan yang dingin.
"Menjadi bagian dari kami bukan sekadar memakai gaun mahal dan tersenyum di depan kamera, Lily," bisiknya, suaranya terdengar seperti peringatan dari dasar jurang. "Menjadi istri seorang Grisham berarti kau harus memiliki hati yang terbuat dari baja. Kau tidak boleh terlihat takut, tidak boleh terlihat ragu, dan yang paling penting... kau tidak boleh tunduk pada siapa pun. Bahkan jika pria itu menodongkan pistol tepat di keningmu."
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering. "Aku bisa," jawabku, mencoba membuang segala getar di suaraku.
"Benarkah?" Darrel menyeringai sinis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Dunia di luar sana akan mencoba mengulitimu hidup-hidup hanya untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Mereka akan mencari celah untuk menghancurkanku lewat dirimu. Jika kau menunjukkan satu saja tetes air mata di pesta itu, kau bukan hanya mempermalukan Erlan, tapi kau menandatangani surat kematianmu sendiri."
Aku menarik napas panjang, menguatkan pijakanku di atas lantai marmer yang dingin. "Aku sudah kehilangan segalanya, Darrel. Kebebasanku, mimpiku, bahkan harga diriku malam itu. Satu-satunya yang tersisa adalah nyawa Nenek. Jika menjadi monster sepertimu adalah harga yang harus kubayar untuk melindunginya, maka aku akan melakukannya. Aku akan belajar."
Darrel terdiam sejenak, menatapku seolah baru pertama kali melihatku bukan sebagai beban, melainkan sebagai sekutu yang terpaksa. Ia melepaskan cengkeramannya di daguku, lalu merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
"Baiklah. Jika itu maumu," ucapnya datar. "Besok kita akan datang.."
Ia berbalik, tangannya yang terluka ia masukkan ke dalam saku celananya dengan gerakan yang tetap terlihat kaku.
"Dan satu hal lagi, Lily," ia berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. "Jangan pernah berpikir untuk mencari perlindungan padaku saat kau berada di aula pesta itu. Di sana, kau berdiri sendiri. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah Nyonya Grisham, atau jangan pernah kembali ke rumah ini."
Tanpa menunggu balasan dariku, Darrel melangkah pergi, meninggalkan aku sendirian di lorong yang sunyi. Suara langkah sepatunya yang tegas bergema, seolah-olah setiap ketukannya adalah hitungan mundur menuju perubahanku yang sesungguhnya.
Aku menyentuh pergelangan tanganku yang masih terbalut perban tipis. Aku harus mematikan Lily sang penjual bunga yang lembut. Mulai detik ini, aku harus menjadi perisai yang tak tertembus. Aku akan menerima semua kegilaan ini, karena di dunia Grisham, hanya ada dua pilihan: menjadi pemangsa atau menjadi mangsa yang dihilangkan. Dan aku memilih untuk bertahan hidup.
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya