NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjaga Jarak

Langkah kaki terdengar di lorong rumah sakit.

Pelan. Teratur.

Namun entah kenapa

bunyi itu terasa begitu jelas di telinga Fatan.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

Ada firasat aneh yang tiba-tiba merayap di dadanya.

Dan ketika pintu kamar perawatan perlahan terbuka

Dunia yang ia susun rapi…

mulai retak.

Kanaya berdiri di sana.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Tidak ada jejak tangis.

Tidak ada kemarahan.

Hanya… ketenangan yang justru terasa menakutkan.

Fatan membeku di tempat duduknya.

Tangannya masih menggenggam tangan Amira

namun kini terasa asing.

Seolah-olah genggaman itu sedang disaksikan oleh seseorang

yang seharusnya tidak melihatnya seperti ini.

Kanaya melangkah masuk.

Senyumnya lembut.

Rapi.

Terjaga dengan sempurna.

Namun entah kenapa

Fatan justru merasa itu lebih menyakitkan daripada tangisan.

“Amira…” ucap Kanaya pelan.

“Sahabatku.”

Amira menoleh.

Matanya berbinar seketika.

“Kanaya…”

Suaranya lemah, namun penuh haru.

“Aku kira kamu tidak akan datang… aku hampir mati, tahu…”

Fatan menahan napas.

Ia menunggu.

Menunggu Kanaya menoleh padanya.

Menunggu satu tatapan.

Satu reaksi.

Apa pun.

Marah.

Kecewa.

Benci.

Apa saja

asal bukan ini.

Kanaya mendekat.

Menggenggam tangan Amira dengan hangat.

Lalu mencium keningnya.

Gerakan yang penuh kasih.

Penuh ketulusan.

Seolah tidak ada apa-apa yang salah.

“Aku akan selalu datang, untukmu” jawab Kanaya tenang.

“Bagaimana pun keadaannya.”

Fatan berdiri perlahan.

Tubuhnya terasa kaku.

Ia ingin bicara.

Ingin menyapa.

Ingin menjelaskan entah apa.

Namun

Kanaya tidak menoleh.

Tidak sekali pun.

Seolah-olah ia tidak ada di ruangan itu.

Seolah-olah keberadaannya tidak berarti apa-apa.

Dan sikap itu…

lebih menghancurkan dari pada teriakan mana pun.

Amira tersenyum kecil.

Menatap tangan Kanaya yang menggenggamnya.

“Adrian tidak meninggalkanku sedetik pun,” ucapnya lirih, penuh rasa syukur.

“Dia sangat menjagaku dan mencintai ku”

Fatan merasakan sesuatu menekan dadanya.

Ia menoleh ke arah Kanaya.

Menunggu.

Masih berharap.

Kanaya mengangguk.

Tulus.

“Itu wajar,” katanya lembut.

“Kamu istrinya.”

Kalimat itu jatuh.

Pelan.

Namun menghantam Fatan dengan keras.

Seperti pengakuan diam-diam

yang sekaligus menjadi penolakan paling jelas.

Ia bukan lagi bagian dari dunia Kanaya.

Bukan sebagai suami.

Bukan sebagai apa pun.

Kanaya menoleh sedikit.

Namun bukan kepadanya.

Tatapannya hanya singgah pada bunga di meja kecil.

Seolah mencari sesuatu untuk dilihat…

agar tidak perlu melihatnya.

“Beristirahatlah dengan baik,” lanjut Kanaya.

“Kamu harus segera pulih. Banyak hari bahagia yang menunggumu.”

Amira menggenggam tangan Kanaya lebih erat.

“Kamu baik-baik saja, kan?”

Fatan ikut menahan napas.

Pertanyaan itu…

entah kenapa terasa seperti ditujukan juga padanya.

Namun Kanaya hanya tersenyum.

Senyum yang tidak sampai ke matanya.

“Aku baik,” jawabnya singkat.

“Melihatmu selamat saja sudah cukup dan bersyukur”

Tidak ada keluhan.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada pengakuan.

Fatan menunduk.

Untuk pertama kalinya

ia merasa seperti orang asing dalam hidupnya sendiri.

Dalam kenyataan yang ia ciptakan sendiri.

Kanaya melepaskan genggaman tangan Amira perlahan.

Gerakannya tetap lembut.

Teratur.

Seolah tidak ada beban.

“Aku tidak akan lama,” katanya.

“Kamu masih perlu istirahat.”

Ia berdiri.

Membenahi tasnya.

Masih tanpa melirik ke arah Fatan.

Namun sebelum pergi

Kanaya berhenti.

Satu detik.

Dua detik.

Ia berhenti, lalu memperbaiki selimut amira

“Amira…”

Suaranya tetap lembut.

“Jagalah dirimu… dan rumah tanggamu dengan baik.”

Amira tersenyum.

Tidak memahami makna di balik kalimat itu.

“Aku akan melakukan nya,” jawabnya yakin.

“Aku sangat mencintainya.”ucap Amira

Fatan memejamkan mata sesaat.

Kalimat itu…

yang dulu mungkin akan membuatnya hangat

Kini justru terasa seperti beban.

Kanaya mengangguk.

“Aku tahu.”

Hanya itu.

Tidak lebih, Kanaya memeluk Amira erat

Dan kemudian

Ia pergi.

Langkahnya tenang.

Tegak.

Tanpa ragu.

Tanpa air mata.

Namun justru di situlah Fatan sadar

Kanaya tidak lagi menunggunya.

Tidak lagi berharap.

Tidak lagi memohon.

Dan itu…

lebih menakutkan daripada kehilangan.

Pintu tertutup.

Bunyi kecil yang seharusnya biasa saja

Namun terasa seperti akhir dari sesuatu yang besar.

Fatan tetap berdiri.

Tidak bergerak.

Matanya tertuju pada pintu yang kini sudah tertutup rapat.

Ia ingin mengejar.

Namun kakinya seperti terpaku.

Seolah ada sesuatu yang menahannya.

Atau mungkin

ia tahu.

Apa pun yang ia lakukan sekarang…

sudah terlambat.

Di sisi lain, Amira memejamkan mata lagi.

Merasa tenang.

Merasa dicintai.

Tanpa menyadari

bahwa di ruangan yang sama,

ada seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.

Di luar

di lorong yang sunyi

Kanaya berhenti berjalan.

Fatan tidak melihatnya.

Namun entah kenapa…

ia bisa membayangkannya.

Membayangkan bagaimana Kanaya berdiri di sana.

Menutup mata.

Menahan sesuatu yang tidak pernah ia perlihatkan.

Bukan untuk menangis.

Tapi untuk menerima.

Bahwa ada cinta

yang harus dilepaskan.

Agar sesuatu yang lain…

tidak ikut hancur sepenuhnya.

Dan di dalam ruangan itu

Fatan akhirnya mengerti satu hal:

Ia mungkin masih memiliki Amira.

Namun ia baru saja kehilangan Kanaya

Bukan karena ia pergi.

Tapi karena ia berhenti mengakui dirinya

sebagai bagian dari hidupnya.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!