Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga Jarak
Langkah kaki terdengar di lorong rumah sakit.
Pelan. Teratur.
Namun entah kenapa
bunyi itu terasa begitu jelas di telinga Fatan.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
Ada firasat aneh yang tiba-tiba merayap di dadanya.
Dan ketika pintu kamar perawatan perlahan terbuka
Dunia yang ia susun rapi…
mulai retak.
Kanaya berdiri di sana.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Tidak ada jejak tangis.
Tidak ada kemarahan.
Hanya… ketenangan yang justru terasa menakutkan.
Fatan membeku di tempat duduknya.
Tangannya masih menggenggam tangan Amira
namun kini terasa asing.
Seolah-olah genggaman itu sedang disaksikan oleh seseorang
yang seharusnya tidak melihatnya seperti ini.
Kanaya melangkah masuk.
Senyumnya lembut.
Rapi.
Terjaga dengan sempurna.
Namun entah kenapa
Fatan justru merasa itu lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Amira…” ucap Kanaya pelan.
“Sahabatku.”
Amira menoleh.
Matanya berbinar seketika.
“Kanaya…”
Suaranya lemah, namun penuh haru.
“Aku kira kamu tidak akan datang… aku hampir mati, tahu…”
Fatan menahan napas.
Ia menunggu.
Menunggu Kanaya menoleh padanya.
Menunggu satu tatapan.
Satu reaksi.
Apa pun.
Marah.
Kecewa.
Benci.
Apa saja
asal bukan ini.
Kanaya mendekat.
Menggenggam tangan Amira dengan hangat.
Lalu mencium keningnya.
Gerakan yang penuh kasih.
Penuh ketulusan.
Seolah tidak ada apa-apa yang salah.
“Aku akan selalu datang, untukmu” jawab Kanaya tenang.
“Bagaimana pun keadaannya.”
Fatan berdiri perlahan.
Tubuhnya terasa kaku.
Ia ingin bicara.
Ingin menyapa.
Ingin menjelaskan entah apa.
Namun
Kanaya tidak menoleh.
Tidak sekali pun.
Seolah-olah ia tidak ada di ruangan itu.
Seolah-olah keberadaannya tidak berarti apa-apa.
Dan sikap itu…
lebih menghancurkan dari pada teriakan mana pun.
Amira tersenyum kecil.
Menatap tangan Kanaya yang menggenggamnya.
“Adrian tidak meninggalkanku sedetik pun,” ucapnya lirih, penuh rasa syukur.
“Dia sangat menjagaku dan mencintai ku”
Fatan merasakan sesuatu menekan dadanya.
Ia menoleh ke arah Kanaya.
Menunggu.
Masih berharap.
Kanaya mengangguk.
Tulus.
“Itu wajar,” katanya lembut.
“Kamu istrinya.”
Kalimat itu jatuh.
Pelan.
Namun menghantam Fatan dengan keras.
Seperti pengakuan diam-diam
yang sekaligus menjadi penolakan paling jelas.
Ia bukan lagi bagian dari dunia Kanaya.
Bukan sebagai suami.
Bukan sebagai apa pun.
Kanaya menoleh sedikit.
Namun bukan kepadanya.
Tatapannya hanya singgah pada bunga di meja kecil.
Seolah mencari sesuatu untuk dilihat…
agar tidak perlu melihatnya.
“Beristirahatlah dengan baik,” lanjut Kanaya.
“Kamu harus segera pulih. Banyak hari bahagia yang menunggumu.”
Amira menggenggam tangan Kanaya lebih erat.
“Kamu baik-baik saja, kan?”
Fatan ikut menahan napas.
Pertanyaan itu…
entah kenapa terasa seperti ditujukan juga padanya.
Namun Kanaya hanya tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke matanya.
“Aku baik,” jawabnya singkat.
“Melihatmu selamat saja sudah cukup dan bersyukur”
Tidak ada keluhan.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada pengakuan.
Fatan menunduk.
Untuk pertama kalinya
ia merasa seperti orang asing dalam hidupnya sendiri.
Dalam kenyataan yang ia ciptakan sendiri.
Kanaya melepaskan genggaman tangan Amira perlahan.
Gerakannya tetap lembut.
Teratur.
Seolah tidak ada beban.
“Aku tidak akan lama,” katanya.
“Kamu masih perlu istirahat.”
Ia berdiri.
Membenahi tasnya.
Masih tanpa melirik ke arah Fatan.
Namun sebelum pergi
Kanaya berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
Ia berhenti, lalu memperbaiki selimut amira
“Amira…”
Suaranya tetap lembut.
“Jagalah dirimu… dan rumah tanggamu dengan baik.”
Amira tersenyum.
Tidak memahami makna di balik kalimat itu.
“Aku akan melakukan nya,” jawabnya yakin.
“Aku sangat mencintainya.”ucap Amira
Fatan memejamkan mata sesaat.
Kalimat itu…
yang dulu mungkin akan membuatnya hangat
Kini justru terasa seperti beban.
Kanaya mengangguk.
“Aku tahu.”
Hanya itu.
Tidak lebih, Kanaya memeluk Amira erat
Dan kemudian
Ia pergi.
Langkahnya tenang.
Tegak.
Tanpa ragu.
Tanpa air mata.
Namun justru di situlah Fatan sadar
Kanaya tidak lagi menunggunya.
Tidak lagi berharap.
Tidak lagi memohon.
Dan itu…
lebih menakutkan daripada kehilangan.
Pintu tertutup.
Bunyi kecil yang seharusnya biasa saja
Namun terasa seperti akhir dari sesuatu yang besar.
Fatan tetap berdiri.
Tidak bergerak.
Matanya tertuju pada pintu yang kini sudah tertutup rapat.
Ia ingin mengejar.
Namun kakinya seperti terpaku.
Seolah ada sesuatu yang menahannya.
Atau mungkin
ia tahu.
Apa pun yang ia lakukan sekarang…
sudah terlambat.
Di sisi lain, Amira memejamkan mata lagi.
Merasa tenang.
Merasa dicintai.
Tanpa menyadari
bahwa di ruangan yang sama,
ada seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
Di luar
di lorong yang sunyi
Kanaya berhenti berjalan.
Fatan tidak melihatnya.
Namun entah kenapa…
ia bisa membayangkannya.
Membayangkan bagaimana Kanaya berdiri di sana.
Menutup mata.
Menahan sesuatu yang tidak pernah ia perlihatkan.
Bukan untuk menangis.
Tapi untuk menerima.
Bahwa ada cinta
yang harus dilepaskan.
Agar sesuatu yang lain…
tidak ikut hancur sepenuhnya.
Dan di dalam ruangan itu
Fatan akhirnya mengerti satu hal:
Ia mungkin masih memiliki Amira.
Namun ia baru saja kehilangan Kanaya
Bukan karena ia pergi.
Tapi karena ia berhenti mengakui dirinya
sebagai bagian dari hidupnya.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?