Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 - Diperbolehkan Pulang
Hari-hari setelah itu berjalan seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai. Tidak ada langkah kaki Zayn lagi di koridor rumah sakit. Tidak ada suara dinginnya yang menyakitkan, tapi justru itu yang terasa lebih menyesakkan. Seolah-olah dia benar-benar menghapus keberadaan Naomi dan Davin dari hidupnya dalam satu malam.
Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan lanjutan. Hanya sunyi yang panjang dan dingin.
Naomi sempat berharap, meski sedikit, bahwa Zayn akan kembali. Mungkin dengan penyesalan. Mungkin hanya untuk sekadar melihat anaknya sekali lagi. Namun harapan itu perlahan mati.
Selama tiga hari berlalu, tak ada siapa pun dari keluarga Hartanto yang datang. Bahkan dr. Ratna yang begitu vokal malam itu pun seolah menghilang.
Yang tersisa hanya perawat yang datang silih berganti dan satu wajah yang masih menunjukkan sedikit empati, dr. Livia.
Pagi itu, seperti biasa, dr. Livia masuk ke ruang rawat Naomi dengan wajah serius namun lembut.
“Bagaimana kondisi kamu hari ini, Naomi?” tanyanya sambil membuka catatan medis.
Naomi tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. “Sudah lebih baik, Dok.”
Matanya langsung melirik ke arah Davin yang sedang terbaring di boks kecilnya.
“Dia gimana, Dok?” tanya Naomi cepat, nada cemas tak bisa disembunyikan.
Dr. Livia terdiam sejenak. Jeda itu langsung membuat jantung Naomi berdegup tidak karuan.
“Ada yang perlu saya jelaskan,” ucap dr. Livia akhirnya, suaranya pelan.
Naomi langsung menegakkan tubuhnya, menahan rasa nyeri. “Apa itu, Dok?”
Dr. Livia mendekat, lalu menarik kursi di samping ranjang Naomi. “Kelainan yang dialami Davin bukan hanya di bibir.”
Dunia Naomi seperti kembali retak. “Maksudnya?” suaranya mengecil.
Dr. Livia menarik napas perlahan. “Celahnya sampai ke langit-langit mulut. Ini yang kita sebut sebagai celah langit-langit atau cleft palate.”
Naomi menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya langsung mengalir.
“Jadi... lebih parah dari yang saya kira?” bisiknya.
“Bukan soal lebih parah atau tidak,” jawab dr. Livia hati-hati. “Tapi memang membutuhkan penanganan lebih khusus.”
Naomi mengangguk pelan, meski hatinya terasa semakin berat.
“Apa... dia bisa sembuh?” tanyanya lirih.
“Bisa ditangani,” jawab dr. Livia tegas. “Tapi prosesnya tidak instan. Akan ada beberapa tahap operasi, dan perawatan intensif sejak bayi.”
Naomi menatap Davin lagi. Tangis kecil bayi itu terdengar, seolah merasakan kegelisahan ibunya.
Naomi menggigit bibirnya. “Aku akan lakukan apa pun, Dok,” katanya pelan tapi pasti. “Apa pun.”
Dr. Livia mengangguk, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius. “Ada satu hal penting yang harus kamu tahu. Dengan kondisi langit-langit yang terbuka seperti ini, Davin tidak bisa menyusu langsung dari payu dara.”
Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Naomi langsung menatapnya. “Apa?”
“Risikonya terlalu besar,” lanjut dr. Livia. “ASI bisa masuk ke saluran pernapasan. Dia bisa tersedak.”
Tubuh Naomi langsung terasa dingin.
“Jadi... aku nggak bisa menyusui anakku sendiri?” suaranya bergetar hebat.
Dr. Livia meraih tangannya pelan. “Kamu tetap bisa memberikan ASI. Tapi bukan dengan cara langsung.”
“Lalu bagaimana?” tanya Naomi, hampir putus asa.
“Kita akan gunakan selang khusus yang langsung masuk ke lambung untuk sementara waktu,” jelas dr. Livia. “Atau alat bantu feeding khusus bayi dengan kondisi seperti ini.”
Air mata Naomi jatuh lagi. Setelah semua yang terjadi, sekarang bahkan hal paling alami antara ibu dan anak pun terasa direnggut darinya. Namun dia menghapus air matanya cepat.
Tidak! Naomi tidak boleh lemah.
“Baik, Dok,” katanya pelan, tapi lebih tegas. “Aku akan belajar.”
Dr. Livia menatapnya dengan sedikit kagum. “Kamu kuat, Naomi.”
Naomi menggeleng pelan. “Aku nggak punya pilihan lain.”
Matanya kembali tertuju pada Davin. “Aku satu-satunya yang dia punya sekarang.”
Hari-hari berikutnya diisi dengan rutinitas baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Belajar memompa ASI. Belajar menggunakan alat feeding. Belajar memahami tangisan Davin.
Setiap langkah terasa sulit. Setiap kesalahan membuatnya panik. Beberapa kali tangannya gemetar saat mencoba memberi makan Davin. Bahkan pernah hampir menangis saat melihat bayinya batuk kecil karena kesulitan menelan. Namun Naomi tidak menyerah.
Setiap malam, saat rumah sakit mulai sepi, Naomi duduk di samping boks Davin, memandanginya dalam diam.
“Maaf ya, Nak...” bisiknya suatu malam. “Mama masih belajar.”
Davin hanya mengeluarkan suara kecil, seolah menjawab. Itu cukup untuk membuat Naomi bertahan.
Seminggu kemudian, dokter menyatakan Naomi sudah boleh pulang. Namun kabar itu tidak sepenuhnya membawa kebahagiaan. Karena begitu keluar dari rumah sakit, dia tidak tahu harus ke mana.
Rumah Zayn? Itu sudah bukan tempatnya lagi. Ia bahkan tidak yakin apakah dirinya masih diperbolehkan menginjakkan kaki di sana.
Pulang ke kampung halaman? Pikiran itu sempat muncul. Namun bayangan wajah ayahnya langsung membuat dada Naomi sesak. Ayahnya satu-satunya keluarga yang ia miliki. Pria tua yang sudah berjuang membesarkannya seorang diri sejak ibunya meninggal, dan pria itu punya riwayat penyakit jantung.
Bagaimana kalau dia tahu Naomi diceraikan tepat setelah melahirkan?
Bagaimana kalau dia tahu cucunya lahir dengan kondisi seperti ini?
Naomi tidak sanggup membayangkannya. “Belum...” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku belum siap.”
Naomi menatap ponselnya lama. Layar itu terasa berat. Namun akhirnya, ia membuka daftar kontak.
Satu nama muncul di pikirannya. Jihan, sahabatnya sejak kuliah. Satu-satunya orang yang mungkin masih bisa dia percaya.
Tangannya sempat ragu. Sudah lama mereka tidak benar-benar berbicara. Jihan sibuk dengan klinik kecantikannya yang baru dibuka.
Namun saat ini Naomi tidak punya pilihan lain. Dengan napas tertahan, dia menekan tombol panggil.
Telepon berdering. Sampai akhirnya dijawab.
“Halo?”
Suara itu. Masih sama seperti dulu.
Naomi langsung menggigit bibirnya, menahan tangis yang tiba-tiba naik.
“Jihan...” suaranya pecah.
Hening sejenak di seberang sana. “Naomi?” suara Jihan berubah kaget. “Ya ampun, kamu ke mana saja? Kau kayaknya sibuk banget setelah menikah sama—”
“Ji...” potong Naomi pelan. Air matanya jatuh lagi. “Aku... butuh bantuan.”
Nada suaranya cukup untuk membuat Jihan langsung diam.
“Ada apa?” tanya Jihan, kali ini serius.
Naomi menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri.
“Aku di rumah sakit,” katanya akhirnya. “Aku... baru melahirkan.”
“Wah, yang benar?” suara Jihan terdengar antusias. "Terus gimana--"
“Aku jelasin nanti...” potong Naomi cepat. “Tolong... kamu bisa jemput aku?”
Nada suaranya begitu rapuh. Begitu berbeda dari Naomi yang dulu.
Jihan terdiam beberapa detik. Lalu jawabannya tegas.
“Kirim lokasi sekarang. Aku akan jemput kau!”
Tangis Naomi akhirnya jatuh tanpa ditahan lagi.
“Terima kasih, Ji...”
Naomi menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia menoleh ke arah Davin yang tertidur.
“Mama sudah cari bantuan, Nak...” bisiknya pelan. Ia menggenggam tangan kecil itu.
“Sekarang kita mulai hidup baru, ya.”
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘