NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelang Bayangan

Kawasan Lingkar Tengah Ibukota Suci malam itu diselimuti oleh suasana yang tak biasa. Meskipun Segel Matahari Mutlak masih menyala merah redup di langit, pergerakan kereta-kereta kencana mewah menuju satu titik tertentu seolah tak terbendung oleh keadaan siaga perang kekaisaran.

Tujuan mereka adalah Kediaman Utama Klan Ye.

Di balik tembok giok hitam yang mengelilingi kediaman raksasa tersebut, tidak ada perjamuan makan atau pesta tarian. Para tamu diarahkan menuju sebuah lorong bawah tanah yang dijaga oleh dua patung singa batu yang memancarkan aura Istana Jiwa Puncak. Ini adalah jalan masuk menuju Lelang Bayangan, pasar gelap tingkat tinggi yang bahkan hukum kekaisaran pun menutup mata terhadapnya.

Chu Chen melangkah turun dari keretanya dengan jubah sutra hijau zamrud yang mewah. Wajahnya—yang kini adalah wajah Ba Tuo—dipasang dengan ekspresi malas dan angkuh yang begitu sempurna hingga pengawalnya sendiri tidak berani menatapnya.

Di depan gerbang lorong, dua penjaga berzirah perak menyilangkan tombak mereka. "Undangan Darah!" bentak salah satunya.

Chu Chen dengan santai menjentikkan plakat logam merah darah dari jarinya. Plakat itu melayang dan ditangkap oleh penjaga tersebut. Begitu memeriksa keasliannya, penjaga itu langsung menunduk hormat dan menyingkir.

"Silakan masuk, Tuan Muda Ba."

Begitu Chu Chen melangkah melewati lorong dan memasuki aula lelang bawah tanah, bahkan dengan ingatan Kaisar Naganya, ia harus mengakui bahwa Klan Ye tahu cara memamerkan kekayaan.

Aula itu berukuran sebesar lembah, diterangi oleh ribuan batu permata malam yang melayang di udara, menciptakan bayangan semu langit bertabur bintang di bawah tanah. Ribuan kursi yang terbuat dari kayu roh berusia ratusan tahun tersusun rapi. Di lantai dua dan tiga, terdapat ratusan bilik kehormatan yang ditutupi oleh tirai cahaya pelindung, mencegah siapa pun mengintip ke dalam.

Chu Chen tidak memiliki hak untuk memasuki bilik kehormatan. Klan Ba hanyalah klan kelas menengah; Ba Tuo hanya berhak duduk di barisan depan lantai bawah.

Saat Chu Chen berjalan menuju kursinya, sebuah tawa merendahkan terdengar dari samping.

"Oh? Bukankah ini Ba Tuo, si lelaki hidung belang dari Klan Ba?"

Chu Chen menoleh perlahan. Seorang pemuda berpakaian sutra ungu dengan kipas emas di tangannya sedang menatap Chu Chen dengan senyum mengejek. Di belakang pemuda itu berdiri dua pengawal yang memancarkan aura Raja Fana Tahap Awal.

Itu adalah Ye Mo, salah satu tuan muda dari Klan Ye sang tuan rumah, yang kebetulan lewat untuk menyapa para tamu kelas bawah.

"Kudengar kau menghilang semalaman di Lingkar Luar saat Segel Kota diaktifkan," Ye Mo berjalan mendekat, mengipasi dirinya sendiri. "Aku terkejut kau tidak mati dibunuh oleh penyusup bersayap tulang itu, atau mati di atas ranjang pelacur murah. Ayahmu pasti membuang banyak Batu Roh untuk menebus nyawamu hari ini, bukan?"

Beberapa bangsawan muda di sekitar mereka tertawa tertahan. Ba Tuo memang terkenal sebagai lelucon di kalangan pewaris klan.

Chu Chen menatap Ye Mo dengan sepasang mata yang, untuk sesaat, benar-benar mati. Tidak ada kemarahan, tidak ada rasa malu. Hanya tatapan seekor naga yang sedang menakar apakah semut di depannya cukup renyah untuk dikunyah.

"Urus urusanmu sendiri, Tuan Muda Ye," ucap Chu Chen dengan nada malas yang begitu dingin hingga tawa di sekitarnya mendadak terhenti. "Atau aku akan memastikan kipas emasmu itu tersangkut di tenggorokanmu."

Ye Mo terbelalak. Sejak kapan Ba Tuo yang pengecut ini berani membalas ucapannya dengan ancaman pembunuhan di kandang Klan Ye?!

Sebelum Ye Mo bisa meledak marah, suara gong raksasa yang sangat dalam bergema di seluruh penjuru aula, menggetarkan lantai batu dan membungkam setiap mulut yang terbuka.

Di atas panggung pualam raksasa di tengah aula, seorang pria tua bungkuk melangkah maju. Ia tidak menggunakan tangga, melainkan melayang turun dari langit-langit aula seolah berjalan di atas udara kosong.

Begitu pria tua itu mendarat, sebuah tekanan spiritual yang tak terbayangkan menyapu seluruh ruangan. Ratusan ahli Istana Jiwa dan Raja Fana yang hadir di sana serempak menahan napas.

"Setengah Langkah Penyatuan Langit," bisik Chu Chen, menyipitkan matanya. Pantas saja tidak ada yang berani membuat keributan di Lelang Bayangan. Penjaga panggungnya saja berada satu helai rambut dari menguasai hukum langit dan bumi.

"Selamat malam, para bangsawan dan pahlawan Ibukota Suci," suara pria tua itu serak namun terdengar jelas di setiap sudut aula. "Aku adalah Penatua Ye Ming, yang akan memandu lelang ini. Kita semua tahu kekaisaran sedang bergejolak. Oleh karena itu, kita akan mempersingkat basa-basi. Barang yang dibeli di sini dijamin oleh darah Klan Ye. Tidak ada pertanyaan, tidak ada jejak."

Ye Ming melambaikan tangannya. Pelayan-pelayan mulai membawa barang-barang pertama.

Satu per satu, pusaka langka bermunculan. Dari pedang terbang yang mampu membelah gunung, hingga tungku peleburan pil purba. Harganya melonjak gila-gilaan, mulai dari lima ribu hingga dua puluh ribu Batu Roh Tingkat Atas.

Chu Chen duduk dengan menyilangkan kaki, wajahnya tampak sangat bosan. Ia bahkan menutup matanya saat sebuah Pedang Angin Pemutus Sukma—pusaka tingkat bumi yang diperintahkan Ba Zhen, "ayah" dari Ba Tuo, untuk dibeli—dibawa ke atas panggung.

Pedang itu terjual seharga tiga puluh ribu Batu Roh kepada seorang tetua dari klan lain. Chu Chen tidak mengangkat plakatnya sekali pun. Persetan dengan perintah klan fana.

Waktu berlalu hingga lewat tengah malam. Suasana di aula mulai memanas. Para tamu di bilik kehormatan lantai atas mulai bersuara, menandakan bahwa barang-barang kelas puncak akan segera dikeluarkan.

Penatua Ye Ming tersenyum penuh arti. Ia memberi isyarat, dan sebuah meja giok bening diangkat ke atas panggung oleh formasi melayang. Di atas meja itu, terdapat sebuah kotak kaca yang memancarkan hawa dingin mutlak dan cahaya perak keunguan yang menyilaukan.

Di dalam kotak kaca itu, sekuntum bunga teratai berdaun tujuh berputar lambat di udara hampa. Ia tidak memiliki akar, seolah hidup dari memakan cahaya bintang. Riak energi yang dipancarkannya begitu murni hingga beberapa ahli Istana Jiwa di barisan depan langsung merasakan Dantian mereka bergetar ingin menerobos.

"Hadirin sekalian, ini adalah hidangan utama kita malam ini," suara Ye Ming menggelegar bangga. "Teratai Jiwa Bintang Primordial. Dipetik dari kedalaman celah ruang oleh Leluhur Tertinggi kami."

Seluruh aula menahan napas.

"Fungsi tanaman ini tidak perlu kujelaskan panjang lebar," lanjut Ye Ming. "Bagi kalian di Alam Istana Jiwa, ini akan memperluas lautan kesadaran dan memadatkan istana kalian hingga tidak bisa dihancurkan oleh hukum alam biasa. Bagi kalian di Puncak Istana Jiwa, ini adalah kunci mutlak untuk menyentuh gerbang Raja Fana tanpa takut gagal!"

Chu Chen perlahan membuka matanya. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat. Ini dia. Makanan yang akan meluaskan Istana Jiwa Nagaku hingga ke batas tanpa ujung.

"Harga awal," Ye Ming mengetukkan palu kayunya. "Lima puluh ribu Batu Roh Tingkat Atas. Kenaikan penawaran paling rendah lima ribu!"

"Lima puluh lima ribu!" teriak seorang bangsawan dari barisan depan.

"Enam puluh ribu!" balas suara dari lantai dua.

"Tujuh puluh ribu!"

Hanya dalam waktu sepuluh tarikan napas, harga teratai itu telah melonjak hingga delapan puluh lima ribu Batu Roh Tingkat Atas. Ini adalah angka yang gila, setara dengan pundi-pundi penuh sebuah klan kelas menengah selama puluhan tahun!

Di lantai dua, sebuah bilik kehormatan memancarkan cahaya keemasan. Suara yang sangat angkuh dan berwibawa terdengar dari baliknya.

"Seratus ribu Batu Roh."

Aula mendadak hening. Seratus ribu? Banyak yang mengenali suara itu. Itu adalah Pangeran Ketiga dari Kekaisaran Matahari Suci! Tidak ada klan yang berani bersaing harta dengan keluarga kekaisaran, terlebih saat Ibukota sedang dalam keadaan darurat militer.

Penatua Ye Ming di atas panggung tersenyum puas. "Seratus ribu Batu Roh dari Bilik Nomor Tiga. Adakah yang berani—"

"Seratus lima puluh ribu."

Sebuah suara malas dan terdengar sedikit bosan memotong dari arah kursi penonton lantai bawah.

Ribuan kepala serempak menoleh ke bawah. Bahkan Penatua Ye Ming sedikit membelalakkan matanya.

Di sana, duduk menyilangkan kaki dengan satu tangan menopang dagunya, adalah Chu Chen dalam wujud Ba Tuo. Jubah hijau zamrudnya tampak mencolok di tengah kerumunan yang kini membeku dalam ketidakpercayaan.

Ye Mo, yang duduk tak jauh dari sana, melompat dari kursinya, matanya hampir keluar dari rongganya. "Ba Tuo?! Kau gila?! Dari mana kau punya seratus lima puluh ribu Batu Roh Tingkat Atas?! Ayahmu tidak mungkin memberimu kekayaan sebanyak itu untuk dibuang!"

"Aku menawar menggunakan mulutku, bukan pundi-pundi ayahku," jawab Chu Chen tanpa melirik Ye Mo, matanya tetap menatap tajam ke arah Teratai Jiwa Bintang Primordial di atas panggung.

Di Bilik Nomor Tiga, terdengar suara meja yang digebrak keras. Hawa membunuh dari keluarga kekaisaran tumpah dari balkon.

"Siapa anjing dari klan menengah yang berani menaikkan harga melawanku?!" raung Pangeran Ketiga, tirai biliknya tersibak, memperlihatkan wajahnya yang merah padam karena murka. "Dua ratus ribu Batu Roh!"

Seluruh penonton menahan napas, menatap Ba Tuo yang tampaknya baru saja menggali kuburannya sendiri.

Chu Chen menguap pelan. Ia merogoh Cincin Penyimpanannya, lalu dengan sangat santai, ia mengangkat tangannya dan berbicara ke arah balkon kekaisaran.

"Tiga ratus ribu," ucap Chu Chen pelan. Ia menggunakan kekayaan yang ia rampas dari Jenderal Agung dan Tiga Panglima Kekaisaran tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tuan Pangeran, jika pundi-pundi kekaisaran sedang menipis karena sibuk membiayai pemakaman Jenderal kalian... sebaiknya Anda duduk kembali dan menonton saja."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!