NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Kediaman Henderson

Malam itu, atmosfer di kediaman Erlangga terasa berbeda, seolah udara pun tahu bahwa badai besar akan segera datang.

Di depan cermin riasnya, Zoe berdiri mematung. Gaun satin hitam yang memeluk tubuhnya bukan sekadar pakaian--- itu adalah zirah. Ia menyentuh permukaan dingin cermin, menatap sepasang mata yang kini tak lagi menyimpan ketakutan.

Benar kata orang, rasa sakit adalah guru terbaik, dan Zoe telah lulus dengan nilai sempurna. Dari gadis yang dulu hanya bisa menunduk saat ditindas kini ia menjelma menjadi sosok yang keindahannya terasa tajam dan berbahaya.

"Nona, kau tampak luar biasa! Sangat... sangat tidak tersentuh," puji Milo, yang entah bagaimana suaranya terdengar seperti bisikan penyemangat di telinga Zoe.

Zoe menarik napas panjang, senyum tipis tersungging di bibirnya yang dipulas merah gelap. "Kau benar, Milo. Aku baru sadar sekarang, bahwa kelemahan terbesarku dulu adalah membiarkan mereka melihat apa yang ingin mereka lihat. Kenapa tidak dari dulu aku menanggalkan topeng kepatuhan ini?"

Milo melompat ke atas kasur, ekornya bergoyang pelan namun matanya menatap tajam ke arah Zoe. "Apakah ada rencana lain di balik gaun indah ini, Nona? Bau di ruangan ini... beraroma seperti pembalasan."

"Cerdas seperti biasa," gumam Zoe dengan nada penuh misteri. "Malam ini bukan sekedar undangan makan malam untuk menjalin hubungan antar keluarga Henderson dan Erlangga. Anggap saja ini adalah panggung sandiwara, Milo. Dan aku? Aku bukan lagi penonton di barisan belakang. Aku adalah sutradara sekaligus pemeran utama yang akan memastikan pertunjukan ini berakhir dengan tepuk tangan... atau jeritan."

Tok! Tok!

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Zoe. Ia melangkah anggun, membuka pintu dan mendapati Joe Erlangga berdiri di sana. Ayahnya itu tampak gagah dengan setelan jas mahal, namun matanya yang biasanya penuh otoritas kini hanya berisi kekaguman yang tulus.

"Zoe! Ya Tuhan... kau sangat cantik sekali, Nak. Papa hampir tidak mengenalimu," puji Joe dengan suara sedikit bergetar.

Zoe menatap ayahnya, ada kilatan dingin yang berusaha ia sembunyikan di balik senyuman sopan. "Malam ini sangat spesial untukku, Pa. Aku sudah terlalu banyak melewatkan kesempatan di masa lalu. Malam ini, aku ingin memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memalingkan muka dariku. Aku tidak akan mengecewakan siapa pun, terutama diriku sendiri."

"Tentu saja, sayang. Papa yakin Evander pasti akan semakin jatuh cinta padamu," sahut Joe bangga, seraya merangkul bahu putrinya dengan protektif.

Mereka menuruni tangga dengan perlahan. Di ruang tengah, atmosfer hangat tadi langsung menguap begitu sosok Tina, Dika, Siska, dan Maudy terlihat. Mereka berdiri rapi, mencoba menampilkan citra keluarga sempurna.

Maudy, meski satu tangannya masih dibalut perban tipis akibat "insiden" sebelumnya, tampak memaksakan senyum sinis yang tertutup bedak tebal. Joe tetap mengizinkan mereka ikut demi menjaga nama baik keluarga di depan Henderson, meski luka di hatinya atas perilaku mereka terhadap Zoe yang terbongkar belum sembuh benar.

Zoe menatap mereka satu per satu dengan tatapan datar yang justru membuat bulu kuduk mereka merinding. "Nikmatilah sisa - sisa kedamaian ini," batin Zoe saat kakinya menginjak anak tangga terakhir. 

Karena setelah malam ini--- mungkin semuanya akan berubah.

Mobil keluarga Erlangga membelah jalanan aspal menuju gerbang megah kediaman Henderson. Di kursi belakang, mata Maudy berbinar terang saat melihat pilar-pilar kokoh yang menyambut mereka. “Lihat kemewahan ini, Ma,” bisik Maudy pada Tina, “Jika aku yang menjadi nyonya di sini, aku akan merombak seluruh taman itu menjadi seleraku. Evander pasti tidak akan keberatan.” Tina mengangguk setuju, matanya penuh ambisi.

Sayangnya, status perjodohan itu milik Zoe—saudari tirinya yang selalu dianggap pengganggu. Namun, Maudy tak gentar; dia tahu betul bahwa selama ini perhatian Evander hanya tertuju padanya.

Begitu mobil berhenti di teras, keluarga Henderson sudah menyambut dengan senyum formal. Berbeda dengan Evander yang berdiri bersandar pada pilar dengan raut wajah malas, seolah keberadaan tamu-tamu ini hanyalah beban.

Namun, suasana berubah seketika saat pintu mobil terbuka dan bunyi ketukan hak tinggi stiletto menghantam tanah. Sosok Zoe muncul dengan penampilan yang menjatuhkan rahang semua orang. Gaunnya yang elegan namun berani menonjolkan kecantikan yang selama ini tertimbun pakaian tertutup yang membosankan.

Detik itu juga, napas Evander tertahan--- matanya membelalak tak percaya, seolah baru saja melihat berlian yang baru selesai diasah.

Xanders melangkah maju dengan tawa lebar, “Selamat datang, teman lama!” serunya sambil memeluk Joe dengan hangat.

Di sampingnya, Shasa langsung menghambur memegangi pundak Zoe. “Zoe sayang, kamu cantik sekali! Tante hampir tidak mengenali kamu, kupikir tadi ada bidadari yang salah turun. Lihat putraku, Evander!” Shasa melirik Evander yang langsung membuang muka dengan telinga memerah karena salah tingkah.

“Ayo masuk, jangan berdiri di luar saja!” ajak Xanders menuntun mereka masuk.

Sementara itu, Tina, Dika, Siska, dan Maudy tertinggal di belakang, berdiri mematung dengan perasaan terhina. Kehadiran mereka seolah menjadi hantu yang tak kasat mata bagi keluarga Henderson.

Mereka melangkah masuk dengan hentakan kaki penuh emosi, meski mata mereka tetap tidak bisa berbohong saat mengagumi interior rumah yang begitu artistik.

Tina mendekatkan bibirnya ke telinga Maudy, berbisik tajam, “Maudy, dengar Mama. Kalau kamu berhasil menikahi Evander, seluruh harta Henderson ini akan ada di bawah kakimu. Jangan biarkan Zoe mengambil posisi itu.”

Dika, yang sedari tadi mengamati situasi dengan senyum miring, mengangguk setuju sambil melipat tangan di dada. "Setidaknya jika rencana ini berhasil dan kamu resmi menjadi bagian dari mereka. Kita semua akan ikut merasakan senangnya, hidup dalam kemewahan yang jauh melampaui apa yang kita punya sekarang. Jadi, pastikan kamu tidak gagal, Maudy," jawab Dika dengan nada penuh tuntutan.

Maudy mengepalkan satu tangannya, menatap punggung Zoe dengan kebencian yang mendalam. “Tenang saja, Evander hanya sedang kaget melihat pakaiannya. Hatinya tetap milikku. Aku akan memastikan kita menguasai semua ini, sepeser pun tak akan tersisa untuk Zoe.”

Padahal jika di lihat--- keluarga Erlangga masih jauh di atas keluarga Henderson. Tapi mereka yang memiliki ambisi besar seolah tidak cukup dengan apa yang mereka miliki sekarang.

Mereka akhirnya duduk di meja makan yang dipenuhi hidangan mewah yang aromanya menggoda selera, namun suasana hati mereka jauh dari kata tenang. Evander duduk tepat di depan Zoe, dan pandangannya seolah terkunci. Matanya tidak lepas sedikit pun dari wajah Zoe yang malam itu tampak begitu bersinar, seolah-olah seluruh lampu kristal di ruangan itu hanya menyinari gadis itu.

Di bawah meja, Maudy mengepalkan satu tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa cemburu membakar dadanya melihat bagaimana Evander mengabaikan keberadaannya sepenuhnya demi gadis di depannya.

Namun, pemandangan yang paling menyakitkan bagi Maudy dan juga aneh justru adalah reaksi Zoe. Gadis itu sama sekali tidak melirik ke arah Evander. Zoe menyesap minumannya dengan tenang, seolah kehadiran Evander—pria yang dulu dia cintai hanyalah hembusan angin lalu yang sama sekali tidak berarti.

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!