Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETEGANGAN
Kembali ke dalam kamar, Tuan Thomas datang dengan napas memburu, memberikan tas medis Arkan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tenang, Arkan menyuntikkan obat penurun tekanan darah ke selang infus Lyra.
"Bertahanlah, Ly... jangan buat kami takut," bisik Arkan, matanya terpaku pada monitor detak jantung portabel yang dia pasang.
Perlahan, deru napas Lyra yang tadinya pendek-pendek mulai stabil, dan suhu tubuhnya yang tadi melonjak panas perlahan mereda, meninggalkan butiran keringat dingin di sekujur tubuhnya.
Pendarahan di hidungnya pun mulai berhenti, menyisakan jejak merah yang kontras di wajah pucat nya.
"Dia sudah stabil, Mom, tapi dia lemas sekali, imun tubuh nya menurun, Aku tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini," ucap Arkan lemas, terduduk di kursi samping ranjang sambil memijat pelipisnya.
Cup
Nyonya Arin mencium kening Lyra dengan sangat lama, air matanya jatuh mengenai pipi putrinya, hanya dia dan suaminya yang tahu bahwa ini bukan sekadar masalah tekanan darah.
"Terimakasih karena selalu kuat sayang," bisik Nyonya Arin, mencium lembut punggung tangan Lyra.
Tuan Thomas berdiri di ujung tempat tidur, matanya menatap tajam ke arah jendela yang tertutup tirai rapat, dia tahu, obat dari Arkan hanya menenangkan raga Lyra, tapi tidak dengan jiwanya yang mulai bergejolak.
"Kak! Bawa dua gadis itu pergi dari sini. Pastikan mereka tidak membocorkan apapun soal kondisi Lyra, dan jangan biarkan mereka menemui Lyra sampai aku memberikan izin," perintah Tuan Thomas dengan suara dingin nya.
Di luar kamar, Gia dan Sifa hanya bisa pasrah saat beberapa pengawal berbadan besar menuntun mereka keluar dari kediaman mewah itu.
Kamar Lyra kini kembali hening, namun keheningan kali ini terasa lebih berat bagi Thomas dan Arin.
"Thomas... apa yang harus kita lakukan? Arkan bahkan tidak bisa menemukan penyebab pastinya secara medis," tanya Nyonya Arin dengan suara bergetar setelah Arkan sedikit menjauh untuk merapikan alatnya.
"Aku akan melakukan apapun demi Putri kita Sayang!" jawab Tuan Thomas, tegas.
Di balik tidur lelapnya yang dipicu obat bius, jiwa Lyra tetap merintih, seolah sedang berusaha mencari jalan pulang ke sebuah ingatan yang sangat jauh.
Hah...
Tuan Thomas menghela napas panjang, tatapannya beralih pada Arkan yang masih terduduk lemas di sisi ranjang.
Arkan menatap telapak tangannya yang masih ternoda bercak darah adik sepupunya itu dengan pandangan kosong.
"Ar, kamu istirahatlah dulu, biar Mommy yang jaga Lyra di sini," ucap Thomas sambil menepuk bahu keponakannya itu pelan.
Arkan mendongak, matanya memerah menahan gejolak emosi.
"Gimana Arkan bisa istirahat, Dad? Arkan dokter, tapi Arkan ngerasa nggak berguna banget, kenapa obat penstabil yang biasanya bekerja cepat, tadi sempat tertolak oleh tubuh Lyra? Itu nggak masuk akal secara klinis," jawab Arkan dengan suara serak.
Frustrasi yang Arkan pendam akhirnya meledak di depan sang paman.
"Ini bukan salahmu, Arkan, tubuh Lyra hanya sedang beradaptasi dengan sesuatu yang berat," ucap Arin sambil mengusap air mata di pipinya, tangannya masih setia menggenggam jemari dingin Lyra.
"Sesuatu apa, Mom? Tolong jangan tutupi apapun dari Arkan, ini sudah kedua kalinya dalam minggu ini Lyra tumbang hanya karena mendengar sebuah nama. Siapa sebenarnya Xavier Valerius itu?" tanya Arkan menuntut penjelasan, matanya bergantian menatap Thomas dan Arin dengan penuh tanya.
Thomas terdiam sejenak, suasana di kamar itu mendadak jadi sangat mencekam, hanya terdengar suara detak jantung dari monitor portabel yang terpasang di pergelangan tangan Lyra.
"Dia bukan orang sembarangan, Ar. Dan hubungan mereka jauh lebih rumit dari sekadar pertemuan antara orang asing," jawab Thomas singkat, seolah setiap kata yang keluar adalah beban berat.
Tok
Tok
Tok
Ceklekk
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk pelan, Tuan Jerome masuk dengan raut wajah yang masih terlihat tegang, diikuti oleh Tuan Steven di belakangnya, Aura pemimpin keluarga besar itu langsung terasa menyesakkan ruangan.
"Dua anak itu sudah dibawa pulang, aku sudah pastikan mereka tutup mulut, Thomas. Tapi sepertinya mereka beneran ketakutan," ucap Tuan Steven dengan nada bicara yang rendah namun berwibawa.
"Saat ini keadaan Lyra sudah lebih stabil, tapi tekanan darahnya tadi sempat melonjak tidak wajar. Arkan takut kalau pemicunya muncul lagi, pembuluh darah di kepalanya bisa benar-benar pecah," ucap Arkan, terlihat sangat Khawatir.
Tuan Jerome mendekat, mengusap kepala putranya sebentar lalu beralih menatap Lyra yang terbaring lemah.
"Bagus kalau kamu sigap, Ar. Tapi mulai sekarang, Papi minta kamu lebih ketat menjaga akses siapa pun yang mau menemui Lyra," ucap Tuan Jerome, tegas.
"Pasti pa," jawab Arkan, mengangguk tegas.
"Lalu bagaimana keadaan Kakek?" tanya Arkan.
"Dia sudah baik-baik saja, Oliver yang menjaga nya, Kakek mu hanya terkejut saat mendengar keadaan Lyra yang tiba-tiba drop tadi, kamu tahu sendiri se sayang apa Kakek mu itu pada Lyra," jawab Tuan Jerome, menatap sendu pada wajah pucat Lyra.
"Tapi siapa pria bernama Xavier itu?" tanya Arkan, mengepalkan tangannya kuat.
"Xavier Valerius, dia bukan pria sembarangan, di dunia bawah namanya manjadi simbol kekuatan yang tidak sembarangan orang bisa membicarakan nya," gumam Tuan Jerome, yang merupakan pemimpin mafia milik keluarga Wijaya.
Arin menggeleng pelan, dia mencium kening Lyra yang masih sangat pucat.
"Aku tidak peduli seberapa kuat pria itu! Aku cuma mau putriku hidup," ucap Nyonya Arin, terisak.
Di tengah ketegangan itu, jemari Lyra tiba-tiba bergerak sedikit, bibirnya yang pucat tampak bergumam tanpa suara, sebuah rintihan yang membuat keempat pria di sana seketika bungkam.
"Dingin...dingin sekali..." bisik Lyra sangat lirih.
Arkan langsung menempelkan stetoskopnya ke dada Lyra dengan cepat. "Daddy! Detak jantungnya meningkat lagi!
"Lyra? Sayang? Ini Mommy di sini, Nak!" Arin panik, mencoba membelai wajah Lyra yang kembali dibanjiri keringat dingin.
"Selimut! Arkan, ambilkan selimut tambahan sekarang!" perintah Tuan Thomas dengan suara yang bergetar hebat, kehilangan ketenangan yang tadi sempat dia tunjukkan.
Arkan bergerak secepat kilat, menyambar selimut tebal dari lemari di sudut kamar dan langsung menyelimuti tubuh mungil Lyra hingga ke batas dada.
"Suhunya turun drastis, Dad. Ini aneh, tadi dia demam tinggi, sekarang justru hipotermia," ucap Arkan menggeleng kan kepala nya, pelan.
"Kenapa tangannya kaku sekali, Ar?" tanya Nyonya Arin histeris, mencoba menggosok kedua telapak tangan Lyra yang terasa sedingin es.
"Sarafnya menegang karena ada penolakan dari dalam," jawab Arkan menjelaskan dengan napas yang masih tersengal, jemarinya lincah memeriksa denyut nadi di leher Lyra.
"Ly, denger Abang? Lawan rasa dinginnya, Ly... jangan menyerah," bisik Arkan, pelan.
Tuan Thomas segera merengkuh bahu istrinya yang mulai gemetar hebat.
"Arkan! Lakukan sesuatu! Kenapa wajahnya sampai membiru begitu?" teriak Tuan Thomas, suaranya pecah, tak lagi mampu menyembunyikan ketakutan seorang ayah.
"Arkan sedang berusaha, Dad! Tolong, Mommy sama Daddy mundur sedikit, kasih Arkan ruang!" jawab Arkan dengan nada tinggi yang dipicu rasa panik.
Arkan segera meraih botol kecil berisi cairan penghangat dari tas medisnya dan mengoleskannya ke titik-titik nadi Lyra.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,