(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari yang Jatuh
Langit di atas Lingkar Luar Ibukota Suci yang biasanya temaram oleh kabut kotoran fana kini mendadak berubah menjadi lautan api keemasan.
Tiga ratus kapal terbang berlapis baja emas membelah awan, melayang dengan barisan tempur yang menutupi seluruh cakrawala. Di garis depan, berdiri Pelindung Kekaisaran Ketujuh. Jubah emasnya berkibar ganas, mahkota apinya memancarkan suhu yang membuat atap-atap baja bangunan kumuh di bawah sana mulai meleleh.
Alam Penyatuan Langit Tahap Akhir. Di Ibukota Suci, ini adalah tingkat kekuatan yang hanya tunduk pada Kaisar.
"Dengarkan aku, para cacing Lingkar Luar!" Suara Pelindung Ketujuh menggelegar, diperkuat oleh hukum alam hingga memecahkan gendang telinga ratusan ribu pengungsi dan penjahat yang meringkuk di jalanan. "Seorang pengkhianat bersayap tulang hitam sedang bersembunyi di antara kalian! Jika dalam sepuluh tarikan napas tidak ada yang menyerahkannya padaku, aku akan mengubah seluruh kawasan kotor ini menjadi lautan lahar!"
Kepanikan meledak. Jutaan orang menjerit histeris, berlarian membabi buta mencoba mencari tempat berlindung dari kiamat yang turun dari langit. Namun, ke mana pun mereka lari, bayangan kapal-kapal kekaisaran telah menyegel setiap sudut.
Di dalam markas Perkumpulan Gagak Hitam, suhu udara melesat naik hingga kayu-kayu penyangga mulai mengeluarkan asap.
Meng Fan terbatuk hebat, memegangi dadanya yang sesak. "T-Tamatlah kita! Dia benar-benar datang membawa pasukan penuh! Dan ancamannya bukan gertakan!"
Bai berdiri di sudut ruangan, wajahnya sepucat salju. Ia bisa merasakan tekanan Pelindung Ketujuh menembus dinding batu markas. "Penyatuan Langit Tahap Akhir... Di tahap ini, mereka tidak lagi meminjam kekuatan langit, mereka adalah bagian dari langit itu sendiri. Susunan pengunci di ruang bawah tanah tidak akan bisa menyembunyikan Chu Chen dari sapuan apinya."
"Tujuh!" suara Pelindung Ketujuh kembali bergema menghitung mundur. "Delapan! Sembilan!"
BUMMM!
Tepat sebelum hitungan kesepuluh diucapkan, sebuah ledakan dahsyat merobek lantai dasar markas Gagak Hitam.
Batu-batu marmer hancur berhamburan. Dari dalam kawah yang tercipta, seberkas cahaya hitam pekat yang bertabur titik-titik perak bintang purba melesat ke atas, langsung menembus atap bangunan dan membubung ke udara, menghentikan laju jatuhnya pilar-pilar api pertama yang baru saja ditembakkan oleh pasukan kekaisaran.
Di tengah-tengah badai abu dan api, sosok Chu Chen melayang dengan tenang.
Jubah abu-abunya berkibar tertiup angin panas. Ia tidak melepaskan Sayap Tulang Naganya. Tubuhnya hanya berdiri santai di udara, matanya yang sedalam malam tanpa bintang menatap lurus ke arah Pelindung Ketujuh yang melayang di atas ratusan kapal.
"Kalian sangat berisik," ucap Chu Chen pelan. Suaranya tidak keras, namun entah bagaimana, Niat Pedang Purba yang terkandung di dalam nada suaranya memotong auman angin dan terdengar jelas di telinga setiap prajurit.
Pelindung Ketujuh menyipitkan matanya, tatapannya setajam tombak menembus tubuh Chu Chen.
"Kau..." Pelindung itu mengerutkan keningnya. "Kau tidak memancarkan hawa Raja Fana maupun Penyatuan Langit... Gejolakmu hanya berada di Puncak Istana Jiwa! Tapi aura di sekitarmu menolak hukum alam. Jadi kau adalah iblis yang membunuh Huang Jin dan meruntuhkan Klan Ba?!"
"Huang Jin?" Chu Chen memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang mengingat-ingat. "Ah, Jenderal dengan pedang cahaya yang renyah itu. Dagingnya cukup lumayan."
Kata-kata itu adalah penghinaan mutlak. Menelan ahli Penyatuan Langit dan menyebutnya 'daging yang lumayan' di depan Pelindung Kekaisaran?!
"Bocah kurang ajar! Kau akan merasakan api neraka yang sesungguhnya!"
Pelindung Ketujuh tidak membuang waktu. Ia tidak mengutus prajuritnya, ia sendiri yang melangkah maju. Menghadapi keganjilan seperti ini, kesombongan harus disingkirkan. Ia langsung melepaskan Hukum Penyatuan Langit terkuatnya.
Hukum Langit Terbakar: Matahari Kehancuran!
Seketika, salah satu dari sembilan matahari buatan di langit Ibukota Suci bergetar selaras dengan tubuh Pelindung Ketujuh. Seberkas pilar energi matahari murni melesat turun, menyatu dengan telapak tangannya, dan membentuk sebuah bola api raksasa berwarna keemasan yang selebar seribu tombak.
Panas yang dipancarkannya langsung melelehkan ujung atap baja di Lingkar Luar. Ini adalah kekuatan yang bisa menguapkan sebuah benua kecil!
"Mati!" Pelindung Ketujuh melemparkan matahari buatan itu lurus ke arah Chu Chen.
Melihat kiamat turun ke arahnya, Chu Chen tidak menghindar. Ia bahkan tidak membuka mulutnya untuk menggunakan Pelahapan Langit.
"Menelan energi ini hanya akan merusak keseimbangan Dantianku yang baru," bisik Chu Chen dingin. "Mari kita uji seberapa kokoh istanaku sekarang."
Chu Chen tidak merapal sihir. Ia hanya menghentakkan kaki kanannya ke ruang hampa di udara.
BUMMMMM!
Perwujudan bayangan Istana Jiwa Naga meledak dari punggungnya. Namun kali ini, istana itu tidak lagi berukuran puluhan tombak. Bangunan ilusi yang terbuat dari tulang naga hitam legam itu membesar hingga menutupi seluruh langit Lingkar Luar! Pilar-pilarnya bertabur cahaya angkasa dari energi Teratai Bintang Primordial, dan atapnya terbakar oleh Api Teratai Merah yang menyatu dengan Niat Pedang Purba.
Sebuah ranah penolakan hukum alam tingkat dewa terbentuk.
Matahari raksasa milik Pelindung Ketujuh menghantam atap Istana Jiwa Naga Chu Chen.
KRAAAASSS!!!
Dunia seakan menjadi tuli. Tabrakan itu tidak menghasilkan ledakan yang menyapu Lingkar Luar, karena ranah Istana Jiwa Naga milik Chu Chen langsung menggilas hukum matahari tersebut!
Seperti batu asahan yang menghancurkan gumpalan tanah liat, istana raksasa itu meremukkan bola api matahari menjadi jutaan percikan cahaya tak berbahaya yang berhamburan ke seluruh penjuru kota.
Hukum Penyatuan Langit Tahap Akhir... dipatahkan dengan kekuatan penindasan mutlak dari seorang Puncak Istana Jiwa!
"A-Apa?!" Pelindung Ketujuh memuntahkan darah keemasan. Hubungan batinnya dengan hukum matahari itu terputus paksa. Matanya melebar hingga nyaris robek melihat istana tulang raksasa yang menentang surga itu. "Mustahil! Ranah Istana Jiwa tidak mungkin bisa menghancurkan Penguasaan Alam Penyatuan Langit!"
"Pemahaman fanamu terlalu sempit," suara Chu Chen terdengar tepat di belakang telinga Pelindung Ketujuh.
Pelindung itu membeku. Kecepatan Chu Chen di Setengah Langkah Raja Fana telah melampaui hukum dasar ruang itu sendiri.
Sebelum sang Pelindung bisa memanggil perisai Qi-nya, tangan kanan Chu Chen, yang telah sepenuhnya berubah menjadi cakar naga bersisik hitam legam, menembus dada belakang Pelindung Ketujuh, menghancurkan tulang rusuknya, dan mencengkeram jantung spiritualnya.
"Ghhhk—!" Pelindung Ketujuh membelalakkan matanya, darah segar menyembur dari mulutnya.
Di bawah sana, tiga ratus komandan kapal kekaisaran menjatuhkan senjata mereka. Pelindung Agung mereka... dewa yang mengendalikan matahari... ditusuk dari belakang dalam satu tarikan napas?!
"Penyatuan Langit Tahap Akhir," Chu Chen mendekatkan bibirnya ke telinga Pelindung yang sekarat. "Di mataku, kau hanyalah lilin tua yang sudah meredup."
Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan.
Daya hisap gelap gulita meledak dari cakar Chu Chen. Jeritan Pelindung Ketujuh tertahan di tenggorokan. Saripati kehidupan yang telah berusia ribuan tahun, fondasi Penyatuan Langit, dan kepingan hukum alam ditarik paksa.
Namun, kali ini efeknya tidak hanya berhenti pada tubuh sang Pelindung.
Karena Pelindung Ketujuh terikat langsung dengan salah satu dari Sembilan Matahari Buatan di Ibukota Suci, kematian dan penyerapan energinya memicu rentetan bencana yang mengguncang langit.
Di atas Ibukota Suci, salah satu dari sembilan matahari emas yang selalu bersinar terang itu mendadak berkedip-kedip liar. Cahayanya meredup, berubah warna menjadi merah darah, sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan sebuah bola logam raksasa mati yang melayang di angkasa.
KRAAAK!
Matahari ketujuh telah jatuh! Langit Ibukota Suci mendadak kehilangan sepersembilan dari kehangatan dan cahayanya, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk.
Jutaan pasang mata dari Lingkar Dalam hingga Lingkar Luar menatap ke langit dengan kengerian yang membuat lutut mereka lemas. Selama ribuan tahun Kekaisaran Matahari Suci berdiri, tidak pernah ada satu pun matahari mereka yang padam.
Dan di tengah kengerian itu, Chu Chen melempar mayat kering Pelindung Ketujuh ke bawah, membiarkannya hancur menjadi debu sebelum menyentuh atap kumuh Lingkar Luar.
Lautan Qi Chu Chen bergemuruh, menyerap energi murni tersebut untuk memperkokoh fondasi Setengah Langkah Raja Fananya hingga menjadi sekeras berlian abadi.
Ia perlahan memutar tubuhnya di udara, menatap sisa tiga ratus kapal terbang kekaisaran yang kini dikomandoi oleh prajurit yang gemetar dan menangis ketakutan.
"Satu matahari padam," bisik Chu Chen, menyeringai kejam. Ia merentangkan tangannya, membiarkan Sayap Tulang Naga Hitam menembus jubahnya dan terkembang lebar menutupi langit.
"Masih ada delapan lagi yang harus kujatuhkan."