NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Malam Tanpa Tidur Saat Balqis Demam & Janji Ayah untuk Selalu Ada

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 02.17 pagi. Rumah begitu sunyi senyap, hanya terdengar dengungan halus dari kulkas di dapur yang berbunyi ritmis, serta desau angin malam yang sesekali mengetuk kaca jendela dengan lembut. Aku baru saja tertidur lelap setelah seharian penuh mengurus pekerjaan kantor yang menumpuk dan menemani Balqis bermain kejar-kejaran di halaman, ketika tiba-tiba terdengar suara rengekan kecil yang memilukan dari kamar sebelah. Awalnya suaranya sangat halus, mirip dengkuran kucing yang kesakitan, namun semakin lama semakin menjadi-jadi hingga berubah menjadi tangisan pilu yang memecah keheningan malam.

“Ayah… Ayah…”

Suara itu langsung menyentakku bangun. Insting keayahanku seketika menyala terang benderang. Aku melompat dari tempat tidur tanpa pikir panjang, berlari kecil menuju kamar Balqis tanpa sempat menyalakan lampu utama agar cahaya tidak terlalu silau bagi matanya. Begitu aku membuka pintu kamar, hawa panas yang berbeda langsung menyergap wajahku. Bukan panas udara biasa, melainkan hawa panas yang memancar kuat dari tubuh mungil yang sedang meringkuk gelisah di bawah selimut tebal.

Balqis terbangun dengan kondisi yang memprihatinkan. Wajahnya merah padam seperti tomat matang, keringat dingin membasahi seluruh dahinya yang biasanya sejuk dan wangi. Napasnya tersengal-sengal pendek, dan matanya yang indah itu kini berkaca-kaca penuh ketakutan serta ketidaknyamanan yang luar biasa.

“Ayah… panas… badan Balqis panas…” rintihnya lirih, suaranya serak parau dan bergetar hebat menahan sakit.

Hatiku mencelos rasanya, perih sekali mendengar keluhan anakku. Rasa kantuk yang tadi masih berat seketika hilang menguap, digantikan oleh kepanikan alami yang segera coba aku tekan sedalam-dalamnya. Aku tahu betul, sebagai seorang ayah, aku tidak boleh menunjukkan rasa panik di depan anak. Aku harus menjadi tembok ketenangan tempatnya bersandar.

“Iya, Nak. Ayah di sini. Jangan takut,” bisikku dengan nada selembut mungkin sambil segera duduk di tepi kasur dan menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Benar saja, panasnya luar biasa tinggi, membakar telapak tanganku. Ini demam tinggi.

Aku segera mengambil termometer digital dari laci nakas samping tempat tidur. “Ayo Dek, kita cek suhu dulu ya, biar Ayah tahu seberapa panasnya. Buka mulutnya sebentar, ‘ngaaa’,” ajakku mencoba terdengar ceria meski hati cemas.

Balqis menurut dengan sangat lemas, hanya mampu membuka mulutnya kecil-kecil. Beberapa detik kemudian, termometer itu berbunyi *tit tit tit* dengan nada cepat. Angka yang muncul di layar kecil itu membuat napasku tertahan sejenak: 39.2 derajat Celcius. Demam yang cukup tinggi dan berbahaya untuk anak seumurnya.

“Waduh, panas sekali ya, Sayang,” kataku sambil berusaha tersenyum menenangkan, meski dalam hati aku sudah mulai menghitung-hitung kapan waktu terbaik untuk membawanya ke dokter jika obat tidak segera mempan. “Tidak apa-apa, Nak. Ayah akan bantu turunkan panasnya pelan-pelan. Kita kompres hangat ya, biar enak badannya?”

Balqis menggeleng lemah, air mata bening mulai mengalir deras di pipinya yang merona karena panas. “Nggak mau kompres… dingin… Balqis nggak suka dingin… Balqis mau peluk Ayah aja…”

Permintaan sederhana itu langsung menghancurkan seluruh pertahananku. Di saat sakit seperti ini, anak-anak memang tidak butuh apapun selain kehadiran orang tua mereka. Tidak ada obat kimia yang lebih manjur daripada pelukan hangat dari ayah yang membuat mereka merasa aman dan dilindungi.

“Oke, oke, Sayang. Kita pelukan dulu sebentar ya, nanti kalau sudah agak enakan, kita kompres pelan-pelan biar cepat sembuh,” bujukku dengan hati-hati.

Aku mengangkat tubuh mungilnya yang terasa jauh lebih berat dari biasanya karena seluruh ototnya lemas, lalu memeluknya erat-erat di dada bidangku. Aku menggoyangkan tubuhnya perlahan ke kiri dan ke kanan, seperti ayunan bayi yang menenangkan. Tanganku yang besar mengusap punggungnya naik turun secara ritmis dan hangat, mencoba mentransfer ketenanganku kepadanya.

“Sstt… sstt… Ayah di sini. Ayah nggak akan pergi kemana-mana. Balqis harus kuat ya, Nak. Ayo kita lawan sickness-nya sama-sama,” bisikku terus menerus di telinganya, seolah-olah kata-kata itu adalah mantra penyembuh yang ampuh.

Balqis membenamkan wajahnya yang panas di lekuk leherku, mencari sumber kesejukan. Tangisnya perlahan mereda menjadi isakan pelan yang sesekali masih terselip di antara napasnya yang berat. “Ayah… jangan pergi… temani Balqis terus ya…” pintanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

“Ayah janji nggak akan pergi. Sampai Balqis tidur lagi, sampai Balqis sembuh total, sampai Balqis besar nanti dan punya anak sendiri pun, Ayah akan selalu ada di samping Balqis,” janjiku dengan sangat tulus, sambil mencium puncak kepalanya yang masih terasa panas membara.

Setelah beberapa menit dipeluk erat, napas Balqis mulai sedikit lebih teratur, meski suhu tubuhnya masih belum juga turun drastis. Aku tahu kompres tidak bisa ditunda lagi demi kesehatannya. Dengan sangat hati-hati, aku melepaskannya sejenak dari pelukan untuk mengambil handuk kecil berbahan lembut dan baskom plastik berisi air hangat—bukan air dingin, agar tubuhnya tidak menggigil kaget.

“Ayo Dek, kita lap badan biar adem. Nanti cepat sembuh biar bisa main sepeda lagi besok pagi,” ajakku dengan semangat palsu yang mencoba mengalihkan perhatiannya dari rasa tidak nyaman yang ia rasakan.

Proses mengompres itu berlangsung lambat dan penuh perjuangan kecil. Balqis sering kali merengek ingin kembali dipeluk, bergerak gelisah karena tidak nyaman, atau menangis keras saat handuk basah pertama kali menyentuh kulitnya yang sensitif. Tapi aku tetap sabar menghadapi semuanya. Aku melakukannya pelan-pelan, bagian demi bagian, sambil terus bercerita tentang apapun untuk mengalihkan fokusnya dari rasa sakit. Aku bercerita tentang kelinci putih yang sedang tidur di bulan, tentang bintang-bintang yang tersenyum di luar jendela, tentang es krim cokelat raksasa yang sedang menunggu dia sembuh untuk dimakan bersama.

“Nanti kalau Balqis sudah sehat totally, kita beli es krim yang paling besar di toko ya? Yang ada topping buah stroberi, cokelat, dan keju semuanya,” godaku dengan antusias.

Mata Balqis yang setengah tertutup karena lelah tiba-tiba berbinar sedikit mendengar kata 'es krim'. “Benaran, Yah? Cokelatnya banyak banget?” tanyanya penuh harap.

“Benaran, Nak. Ayah janji. Tapi syaratnya, Balqis harus istirahat yang cukup sekarang. Tutup mata cantikmu, rasakan handuknya yang adem di badan. Enak kan?”

Perlahan-lahan, efek obat penurun panas yang tadi sudah kuberikan melalui mulutnya mulai bekerja di dalam tubuh kecil itu. Butiran keringat mulai keluar dari pori-porinya, menandakan mekanisme tubuh sedang berjuang menurunkan suhu. Wajah merahnya mulai berangsur memudar, diganti dengan warna kulit alami yang lebih tenang. Napasnya yang tadinya sesak dan pendek, kini menjadi lebih panjang dan teratur.

Namun, malam itu belum benar-benar berakhir bagiku. Aku tidak berani meninggalkannya sendirian di kamar bahkan untuk tidur sejenak. Aku khawatir demamnya naik lagi tiba-tiba di tengah tidur, atau dia terbangun dalam keadaan bingung dan ketakutan tanpa ada ayah di sampingnya. Jadi, aku memutuskan untuk begadang menjaganya semalaman penuh.

Aku menarik kursi kayu kecil ke samping tepat di sisi tempat tidurnya, lalu duduk di sana dengan posisi siaga, mengawasi setiap tarikan napasnya dengan teliti. Sesekali aku meraih tangannya untuk menyentuh dahinya memastikan suhunya stabil. Kadang aku mengelus rambutnya yang lembap oleh keringat dengan jari-jariku yang kasar. Kadang aku sekadar menatap wajahnya yang polos dan damai saat tidur, bersyukur luar biasa bahwa dia masih ada di sini, bernapas, dan hidup di sisiku.

Di keheningan malam yang mencekam itu, pikiranku melayang jauh. Menjadi seorang ayah ternyata bukan tentang selalu terlihat gagah, kuat, dan tidak punya masalah di luar rumah. Bukan tentang tidak pernah merasa lelah, takut, atau ragu. Menjadi ayah justru tentang kemampuan luar biasa untuk menahan rasa takut itu, menyembunyikan kelelahan yang amat sangat, dan tetap hadir dengan senyuman tulus yang menenangkan saat anakmu paling membutuhkanmu di saat rapuh.

Malam itu, aku belajar sebuah pelajaran berharga bahwa cinta seorang ayah diuji bukan saat anak tertawa bahagia berlarian di taman bermain yang cerah, melainkan saat tengah malam buta yang gelap, saat anak sakit parah, rewel tanpa alasan jelas, dan hanya ingin pelukan hangatmu. Di saat-saat kritis seperti inilah, arti kata “Ayah” benar-benar terasa berat, mulia, dan penuh tanggung jawab besar.

Jam demi jam berganti dengan lambat. Pukul 03.00, 04.00, hingga 05.00 pagi. Mataku sudah terasa sangat berat seperti diberi beban timah, kepala pening berdenyut-denyut, tapi aku memaksanya tetap terbuka lebar. Setiap kali Balqis bergerak sedikit saja di atas kasur, aku langsung siaga penuh. Setiap kali dia mendengkur kecil atau mendesah, aku tersenyum lega mengetahui dia masih nyaman.

Menjelang subuh, sekitar pukul 05.30, langit di luar jendela mulai berubah warna secara perlahan dari hitam pekat menjadi biru tua kemerahan. Burung-burung pagi mulai berkicau pelan menyambut fajar yang akan segera tiba. Dan di saat yang sama, Balqis pun akhirnya tidur sangat pulas dan nyenyak. Napasnya teratur sempurna, dahinya sudah tidak sepanas tadi malam, keringat di tubuhnya sudah kering. Dia tampak begitu damai, persis seperti malaikat kecil yang sedang bermimpi indah tentang taman permen.

Aku menghela napas panjang yang tertahan, melepaskan seluruh ketegangan otot yang tadi malam menghimpit dadaku erat. Alhamdulillah. Krisis malam ini sepertinya sudah berlalu dengan selamat.

Perlahan-lahan, aku berbaring miring di sampingnya di atas kasur, tidak untuk tidur nyenyak, tapi sekadar memejamkan mata sejenak sambil tetap waspada setengah sadar. Aku meraih tangan mungilnya yang terkulai lemas di atas selimut motif bintang, lalu menggenggamnya erat-erat. Tangan itu begitu kecil, lembut, dan halus, tapi bagiku, genggaman kecil itu adalah sumber kekuatan terbesar di dunia yang mampu menggerakkan gunung sekalipun.

“Terima kasih sudah kuat, Nak,” bisikku lirih, lebih kepada diriku sendiri daripada kepadanya. “Terima kasih sudah membuat Ayah belajar arti sabar, ikhlas, dan cinta yang sesungguhnya tanpa syarat.”

Fajar pun sepenuhnya tiba menyinari bumi. Cahaya matahari pagi yang keemasan menerobos masuk melalui celah gorden yang terbuka sedikit, menyinari wajah Balqis yang kini tampak cerah, segar, dan kembali berwarna merah muda alami. Suhu tubuhnya sudah kembali normal sepenuhnya. Ketika dia membuka mata perlahan-lahan dan melihatku masih ada di sampingnya dengan mata panda dan wajah lelah namun tersenyum lebar, dia berkata dengan suara serak tapi sangat manis di telingaku:

“Ayah… Balqis sudah nggak panas ya? Sudah sembuh?”

Aku tertawa kecil lega, lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. “Sudah, Dek. Sudah sembuh total. Balqis hebat banget tadi malam. Sangat kuat melawan demamnya. Ayah bangga punya anak sekuat Balqis.”

Balqis tersenyum puas hingga matanya menyipit, lalu merangkak mendekat dan memeluk leherku lagi dengan sisa tenaga yang dia punya. “Makasih, Yah, sudah nemenin Balqis semalaman suntuk. Ayah nggak tidur ya demi Balqis?” tanyanya polos penuh kepedulian.

“Nggak apa-apa, Sayang. Yang penting Balqis sembuh dan happy. Ayah senang sekali bisa jagain Balqis, nggak ada kerjaan yang lebih penting dari ini,” jawabku sambil membalas pelukannya erat-erat, menghirup wangi rambutnya yang khas.

Di momen haru itu, aku sadar sepenuhnya. Semua rasa lelah yang luar biasa, semua mata panda yang hitam, semua kekhawatiran yang mendera tadi malam, semuanya terbayar lunas hanya dengan satu pelukan tulus dan senyuman manis ini. Tidak ada hadiah mewah, tidak ada gaji besar, tidak ada pujian dunia yang lebih berharga daripada mengetahui anakku aman, sehat, dan bahagia hanya karena ada aku di sisinya menjaganya.

Malam tanpa tidur itu bukan sekadar kewajiban biologis seorang orang tua. Itu adalah bukti nyata cinta yang tak terhingga. Bukti bahwa sejauh apapun aku pergi merantau, sesibuk apapun pekerjaanku mengejar dunia, saat Balqis butuh, aku akan selalu ada. Siap sedia, siang maupun malam, dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka.

Dan aku berharap dengan sangat, suatu hari nanti ketika Balqis sudah dewasa, menikah, dan mungkin memiliki anak sendiri, dia akan membaca cerita ini dan mengerti. Bahwa di balik setiap kisah masa kecilnya yang penuh kebahagiaan dan tawa, ada malam-malam panjang yang gelap di mana Ayahnya rela mengorbankan tidur, kesehatan, dan waktunya, hanya untuk memastikan dia bisa bermimpi dengan tenang dan indah.

Karena itulah janji suci seorang Ayah kepada anaknya.

Janji yang tidak perlu tertulis di atas kertas bermaterai, tapi terpahat mendalam di setiap detak jantung dan setiap helaan napas kehidupannya.

Bahwa aku akan selalu ada. Selalu, sampai kapanpun.

— Ayah Balqis

P.S.: Untuk para Ayah dan Bunda hebat di luar sana yang mungkin sedang begadang, lelah, dan cemas menjaga anak sakit di malam ini… Semangat! Kalian tidak sendirian. Pelukan hangat kalian adalah obat terbaik dan paling manjur bagi mereka. Tetap kuat, karena mereka sangat butuh kita. 💪❤️🌙

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!