Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.
kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Gerbang Malam Yang Mencekam.
"Berhenti! Kalian tidak boleh masuk ke sana!" teriak seorang suster kepala dengan nada tegas, berusaha menghadang laju mereka.
Namun Dimas dan Putra seolah tidak mendengar. Fokus mereka hanya satu sampai di gudang itu secepat mungkin.
"Maaf Sus! Ini soal ada masalah yang mendesak!" teriak Dimas sambil terus mendorong kursi roda Arun dengan kecepatan tinggi. Putra bergerak lincah di sampingnya, menutupi jalan agar tidak ada yang berani menghalangi terlalu jauh.
Akhirnya, setelah berlari dan berjalan cepat melewati koridor-koridor sepi, mereka sampai di sebuah pintu besi tua yang berkarat di bagian paling ujung gedung, tepat di sebelah kamar mayat yang dingin dan menyeramkan.
Suasana di sana berbeda. Udara terasa jauh lebih dingin dan pengap, bau tanah basah dan debu bercampur menjadi satu. Matahari sudah hampir benar-benar tenggelam, menyisakan cahaya oranye redup yang mulai digantikan oleh kegelapan.
"Ini dia..." bisik Arun dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi menatap pintu besi itu. "Di dalam sana... di dalam sana ada Patung Dewi itu."
Dimas menghentakkan kakinya, menatap pintu itu dengan tatapan tajam. "Putra, bantu aku buka pintunya!"
Mereka berdua mendorong keras pintu besi yang berat dan berderit itu. Kreeeeek... Suara besi bergesekan terdengar nyaring memecah keheningan malam yang mulai turun.
Begitu pintu terbuka, debu tebal berterbangan. Ruangan itu sangat gelap, hanya diterangi cahaya senja yang masuk dari jendela kecil yang tinggi dan berdebu.
"Pak... lihat itu!" tunjuk Putra dengan tangan gemetar.
Di sudut ruangan, di balik tumpukan kardus dan barang-barang bekas, berdiri sebuah patung gak begitu besar, yang terbungkus kain putih lusuh. Bentuknya jelas menyerupai sosok wanita anggun, seorang dewi. Namun ada aura aneh yang memancar darinya, dingin dan menekan dada.
"Itu dia... Patung Dewi tempat Leo bersembunyi..." desis Arun. "Cepat Pak... kita harus buka kainnya sekarang juga! Sebelum malam benar-benar tiba dan mereka semua bangun!"
Dimas dan Putra saling pandang sejenak. Jantung mereka berdegup kencang. Cerita Arun soal Alam Arwah dan tempat persembunyian itu terdengar masih sangat mustahil, tapi suasana di sini... suasana di depan patung ini terasa begitu nyata dan mengerikan.
"Gak peduli apa pun itu..." gumam Dimas pelan, matanya menatap tajam pada sosok patung itu. "Kalau Om Leo arwahnya ada di sana, kita harus keluarkan!"
"Pak Dimas..." bisik Putra panik sambil memandang sekeliling. "Kita harus terpaksa bawa patung ini keluar dari sini. Untung saja ukurannya tidak terlalu besar, masih bisa diangkat."
"Put... di sini ada CCTV gak?" tanya Dimas cepat, matanya menyapu sudut ruangan mencari lensa pengawas.
"Kayaknya sih ada Pak..." jawab Putra ragu. "Area ini kan biasanya diawasi ketat."
"Waduh... repot juga kalau gini caranya..." Dimas menggaruk kepalanya. "Gimana cara bawa keluarnya tanpa ketahuan?"
"Biarkan aku saja yang bawa!" seru Arun tiba-tiba. Dia segera bergerak mendekati patung itu.
"Maaf ya Ibu Dewi..." bisik Arun pelan seolah meminta izin pada benda itu. "Terpaksa Ibu aku bawa seperti ini ya, biar gak ketahuan sama penjaga dan petugas di luar."
Dengan sigap, Arun mengangkat patung tersebut dan meletakkannya dengan hati-hati di samping tubuhnya di atas kursi roda. Lalu dia mengambil kain selimut tebal yang dia bawa dari ruang perawatan tadi.
Sreeek...
Dengan cepat dia menutupi seluruh tubuh patung itu hingga rata, menyamarkannya seolah-olah itu hanya tumpukan barang atau bantal biasa yang diletakkan di sampingnya. Sekarang tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik kain itu tersembunyi sebuah patung kuno yang menjadi wadah arwah Leo.
"Nah... begini lebih aman!" desis Arun lega. "Sekarang ayo cepat keluar sebelum ada yang curiga!"
Dimas dan Putra saling pandang, takjub melihat kelicikan dan keberanian Arun.
"Oke siap! Kita jalan sekarang!" perintah Dimas.
Dia kembali mendorong kursi roda itu dengan santai namun cepat, berusaha terlihat biasa saja seolah tidak membawa barang curian yang sangat berharga dan berbahaya di dalamnya.