Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nona Racun dan Menteri Pemalas
...Chapter 14...
Ling Xu mengabaikan komentar terakhir itu, lalu menatap Huan Zheng dengan mata yang tiba-tiba berbinar.
Bukan karena harapan, melainkan karena rasa penasaran yang belum terpuaskan.
"Kau sudah menjelaskan soal Pondasi Lintang, Huan Zheng. Tapi kau belum menjelaskan apa yang di atas itu. Apa setelah Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Tiga? Apa itu Bujur Surgawi? Ada apa di atas itu semua?"
Huan Zheng terdiam sejenak.
Matanya yang malas tiba-tiba berubah—menjadi lebih berat, lebih dalam, seperti sumur tua yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari.
Ia menguap—tapi kali ini, uapannya terasa dipaksakan, seperti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu di balik kebosanan yang dibuat-buat.
"Itu," jawabnya akhirnya, suaranya datar, "adalah cerita untuk lain waktu, Nona Racun. Aku akan mengatakannya—tapi hanya jika kau sudah menembus batas Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Tiga. Hanya jika kau sudah mengatasi masalah yang menghalangimu untuk melangkah ke Langit Terang Tingkat Kesatu."
Ling Xu mengerutkan kening.
"Masalah? Batas? Maksudmu—"
"Maksudku," potong Huan Zheng sambil berdiri, menepuk-nepuk debu dari celananya, "kau terlalu banyak bertanya untuk seseorang yang bahkan belum mengumpulkan seratus keping. Fokus dulu, Nona Racun. Jangan bermimpi tentang langit sebelum kau bisa berdiri di atas tanah."
Ia berjalan lebih dulu, meninggalkan Ling Xu yang masih berdiri di tepi sungai dengan bibir mengerucut—antara kesal dan kecewa, antara ingin membantah dan sadar bahwa pria pemalas itu benar.
Peperangan di wilayah perbatasan itu berlangsung seperti hujan yang lupa cara berhenti.
Tiga bulan penuh langit tidak pernah benar-benar cerah, hanya berganti antara kelabu dan merah, antara dentuman Qi dan jeritan yang akhirnya menjadi sunyi.
Ling Xu, dengan jubahnya yang kini bertambal di tujuh belas tempat dan rambut putih bercoraknya yang diikat longgar karena tidak lagi punya waktu untuk merapikan, berjalan di antara tenda-tanda darurat dengan tangan yang tak pernah kering dari darah.
Darah tentara, darah warga sipil, darah anak-anak yang matanya masih terbuka lebar saat ia membalut luka mereka.
"Sembilan belas pasien hari ini," ucapnya suatu sore pada Huan Zheng yang duduk malas di atas peti mati—karena tidak ada kursi, dan karena pria itu memang tidak pernah pilih-pilih tempat untuk bersandar, "tiga belas di antaranya selamat. Enam sisanya... setidaknya mereka tidak mati sendirian."
Huan Zheng tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengeluarkan sekantong kecil dari balik bajunya—kantong yang berisi 777 keping Lintang Kemanusiaan, berdenyut pelan seperti jantung yang dipisahkan dari induknya—lalu melemparkannya ke pangkuan Ling Xu tanpa melihat.
"Kumpulkan itu, Nona Racun. Kau sudah pantas naik tingkat."
Dan malam itu juga, di bawah langit yang masih merah karena sisa-sisa pertempuran, Ling Xu duduk bersila di atas tanah yang lembap oleh embun dan darah, merasakan 777 keping itu meleleh masuk ke dalam dadanya, menyatu dengan 51 keping lama, lalu meledak menjadi sesuatu yang baru.
Bukan ledakan yang keras, melainkan ledakan yang sunyi, seperti bunga yang mekar di dalam gua yang tidak pernah tersentuh cahaya, dan ketika ia membuka matanya, ia sudah berada di Lintang Bawah Tingkat Ketiga, dengan 228 keping tersisa sebagai bekal untuk perjalanan berikutnya.
"Selamat," ucap Huan Zheng datar dari kejauhan, matanya yang malas tiba-tiba berkedip—dan dalam satu kedipan itu, 2666 keping Lintang Kemanusiaan muncul entah dari mana di telapak tangannya, berputar seperti galaksi kecil yang lupa bahwa ia seharusnya tidak mungkin ada, "aku juga naik."
Ling Xu menatap Huan Zheng dengan mata yang membelalak.
Bukan karena iri, karena ia sudah terlalu lelah untuk iri, melainkan karena tidak masuk akal, karena tidak mungkin seorang pria dengan ranah yang sama, dengan kondisi yang sama, dengan makanan dan tidur yang sama, bisa mengumpulkan keping empat kali lebih banyak dalam waktu yang bersamaan.
"Dari mana kau dapatkan itu semua?" tanyanya, suaranya antara kagum dan curiga, tapi Huan Zheng hanya mengangkat bahu dengan malas yang membuat Ling Xu ingin melempar batu ke kepalanya.
“Kubudidayakan,” jawabnya ringan—seolah ia hanya sedang menggandakan sesuatu yang remeh, bukan menciptakan sesuatu dari kehampaan.
Nada suaranya datar, hampir malas, namun justru di situlah letak keanehannya.
Seperti seseorang yang menyebut hujan sebagai hal sepele, padahal ia baru saja memanggilnya dari langit yang kosong.
“Setiap kultivator sebenarnya bisa,” lanjutnya, bahunya sedikit terangkat, “hanya saja kebanyakan terlalu malas—atau terlalu bodoh—untuk benar-benar memahami caranya.”
Ling Xu ingin bertanya lebih jauh, ingin menggali rahasia di balik kemampuan yang bahkan tidak tercatat dalam kitab-kitab kuno yang ia baca di Paviliun Kitab dulu, tapi Huan Zheng sudah lebih dulu berdiri dan berjalan ke arah barat, meninggalkan hanya bayangan panjang di bawah senja yang mulai pudar.
"Ayo, Nona Racun. Negara berikutnya menunggumu—dan aku mulai bosan melihat wajahmu setiap hari."
Negara berikutnya ternyata bukan negara—melainkan kerajaan kecil yang sedang sekarat, dengan raja yang terbaring lumpuh di atas ranjang yang terlalu besar untuk satu tubuh yang tinggal tulang dan kulit, dan para bangsawan yang bukannya merawat malah bersiap membagi-bagi tahta seperti anak ayam yang memperebutkan cacing di tengah kandang yang sudah lapuk.
Ling Xu dan Huan Zheng datang sebagai tabib keliling—atau setidaknya itulah yang mereka katakan pada para penjaga gerbang yang awalnya melarang mereka masuk dengan todongan tombak berkarat.
Tapi ketika Ling Xu menyembuhkan putri mahkota yang demamnya sudah tujuh malam tidak turun, dan Huan Zheng—dengan malas—menendang panglima perang yang mabuk kekuasaan hingga terbang menembus tiga dinding istana, pintu gerbang itu terbuka lebar, dan mereka disambut bukan sebagai tamu, melainkan sebagai penyelamat.
"Aku tidak mau jadi raja," ucap Huan Zheng ketika perdana menteri yang sudah sangat tua berlutut di hadapannya sambil menawarkan mahkota yang terbuat dari emas dan berlian, "tapi dia—" ia menunjuk Ling Xu dengan ibu jarinya yang kotor, "—mau. Jadikan dia raja. Aku cukup jadi menteri yang malas."
Ling Xu sempat ingin membantah, ingin berteriak bahwa ia tidak pernah bermimpi menjadi penguasa, bahwa ia hanya seorang tabib yang pandai meracik ramuan dan lebih pandai meracik dendam, tapi ketika ia melihat mata para rakyat jelata yang berkumpul di halaman istana—mata yang tidak lagi hampa seperti mata para gadis di Perkemahan Xuelan, melainkan mata yang masih menyimpan secercah harapan meskipun tubuh mereka kurus dan pakaian mereka compang-camping—ia menghela napas panjang, lalu mengangguk.
"Baiklah," ucapnya, suaranya pelan tapi terdengar oleh semua orang karena keheningan di halaman itu begitu pekat seperti air kolam yang tidak pernah bergerak.
“Aku akan menjadi raja kalian. Tapi dengan satu syarat: kalian harus mau berubah. Karena aku tidak akan memimpin kerajaan yang isinya hanya para pengemis yang menunggu mati."
Dan di bawah kepemimpinan Ling Xu—dengan Huan Zheng sebagai menteri yang hanya bekerja dua jam sehari tapi anehnya semua kebijakannya selalu tepat sasaran—kerajaan itu berubah.
Pajak diringankan, beras dibagikan, sumur-sumur baru digali, dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, anak-anak di desa-desa terdalam tidak tidur dengan perut kosong.
Bersambung….