NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tepi hutan pinus

Area 21+

Bocil dilarang nimbrung...!!!!

Harap bijak dalam memilih bacaan, dan jangan berdebat di kolom komentar.

Terima kasih.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Andrean menarik lengan Rani yang hendak pergi.

Suasana kantor sudah sangat sepi karena semua telah pulang sejak setengah jam lalu.

"Ran... Jangan ngambek ya... Nanti mas ajak makan bakso di tempat biasa. Kan udah lama kita nggak makan disana..." bujuk Andre tepat di kuping Rani.

Laki-laki itu masih memeluk Rani dari belakang sehingga dia bisa merasakan benda yang terus berdenyut menusuk b*kongnya.

Rani merinding seketika.

Lehernya meremang kala hangat nafas Andre menerpanya.

Bibir basah Andre juga mencium leher Rani dan sedikit mengecapnya.

Tangan laki-laki itu juga bergerilya di dada Rani yang mekar.

"Aku cinta sama kamu Rani... Jadi percayalah padaku"

"Tapi kamu juga main sama Meri... Bagaimana aku nggak cemburu" rajuk Rani.

"Aku dan Meri itu cuma teman, nggak lebih. Aku juga nggak pernah tidur dengan dia.. Aku cuma ngelakuin ini sama kamu"

"Ahhhkk...." desah Rani karena Andre meremas miliknya dibawah sana. Tangan Andre telah sampai pada lembah yang berada disela paha Rani. Masuk kedalam kain berenda berwarna hitam dan seketika, kain tipis itu telah basah akibat ciaran kenikmatan Rani.

"Mas... Aku... ahhhhkk...." kepala Rani mendadak panas dan bersandar pada bahu Andre.

Rani bagai ikan yang kekurangan oksigen. Mulutnya terus terbuka menikmati setiap sentuhan Andre. Kakinya lemas karena pelepasannya. Beruntung, Andre masih menahan badan Rani agar tidak ambruk kelantai.

Sudah satu tahun ini keduanya menjalin hubungan diam-diam, atau lebih tepatnya sejak Andre dilantik menjadi kepala infratruktur desa dan bekerja di kantor kelurahan.

Andrean sejatinya adalah lulusan kampus di kota dan lama menetap disana sebelum akhirnya pak Herman menariknya untuk bekerja membantunya.

Pak Herman adalah kepala lurah di desa Selasih sekaligus ayah dari Andrean.

Andrean lebih tua 7 tahun dari Rani.

Awalnya hubungan mereka masih normal layaknya orang-orang pacaran, tapi ketika suatu hari, Rani dan Andrean pergi jalan-jalan dan kemalaman, disitulah rayuan maut mulut lelaki berhasil merusak dan merenggut kesucian Rani, si gadis polos.

Hingga kini, sudah tak terhitung berapa kali keduanya berhubungan badan. Biasanya Andre selalu memakai pengaman yang ia bawa di dompetnya agar tidak kebobolan.

Andre mencium keras leher Rani hingga meninggalkan jejak merah disana.

Andre menggiring Rani pada sofa di ruangan tersebut dan mendudukkannya.

Sementara dirinya berdiri dihadapan Rani dengan wajah menghadap pada benda yang menonjol dari balik celana dinasnya.

"Sentuh Ran... 'dia' kangen kamu" ucap Andre merayu.

Rani melakukan perintah Andre. Ia sudah sangat lihai memainkan benda mirip pentungan kayu itu.

Andre membantu Rani dengan membuka gespernya dan menurunkan celananya hingga sebatas paha.

Milik Andre berdiri dengan pongahnya tepat didepan wajah Rani.

Meski sudah tak terhitung benda itu memasuki dan menguasai dirinya, tetap saja Rani selalu ngeri melihat penampakannya.

"H*sap Ran... ayo cepat, nanti ada yang datang kalau kita kelamaan..." desak Andre yang gemas melihat Rani hanya diam saja.

Rani menggenggam benda itu sebelum memasukkan kedalam mulutnya seperti sedang memakan permen tangkai manis.

Kepala Andre menengadah menatap langit-langit, menikmati setiap kuluman mulut Rani yang basah. Matanya juga merem melek seiring decapan kuat dari mulut Rani.

"Ahhkkkk...." d*sah tertahan dari bibir Andre.

"Udah.. udah.. Nanti keluar di mulut kamu... ayo sekarang kamu hadap sofa... aku mau masuk..."

Rani lagi-lagi menurut.

Ia menghadap sofa dan membelakangi Andre.

Tangan lentiknya meremas sandaran sofa ketika benda tak bertulang itu kembali menerobos masuk.

Andre melepas habis celana kerja Rani dan membiarkan perempuan itu setengah polos.

Pluk...

Milik Andre masuk sempurna pada sarangnya.

Basah, legit dan rapat.

Andre terus memaju mundurkan pinggulnya dengan sebelah tangan mer*mas pay*d*ra Rani yang kenyal.

Rani merasakan kenikmatan yang luar biasa karena milik Andre masuk lebih dalam padanya.

Kedua tangan Andre berpindah memegang sisi pinggang Rani guna menyeimbangkan gerakan keduanya yang semakin bersemangat.

"Enghhhh....." jerit tertahan dari Rani. Kepalanya menunduk.

Andre terus menggempur Rani yang penuh dengan peluh di tubuhnya. Kedua tangannya kemudian bertumpu pada bahu Rani dengan pinggul yang terus bekerja, mencari puncaknya sendiri.

"Sshhhh...." lagi Rani mendesis kala ia rasa milik Andre terlalu dalam memasukinya.

Andre selain tampan, tubuhnya juga proporsional dengan beberapa otot perut yang terbentuk sempurna.

Prok... prok....

Suara kulit basah beradu begitu nyaring diruangan sunyi tersebut.

Des*h saling bersahut-sahut antara keduanya.

Andre mengumpulkan rambut panjang Rani dan menariknya.

Ia seperti sedang menunggangi kuda dengan tali pelananya.

"Akhhhh....." jerit Rani. Kepalanya mulai terasa panas yang artinya, puncaknya hampir sampai.

"Barengan sayang... mas juga mau datang...." Andre terus mempercepat gerakannya hingga cairan kental itu keluar dari pusat tubuhnya.

Andre lalu menarik keluar miliknya ketika ia tersadar kalau dirinya tidak memakai safety.

"Ran... nanti habis ini, kamu minumjus nanas muda... aku lupa pakai karetnya..." ucap Andre sedikit panik.

Rani masih mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang habis terkuras karena aktivitas tadi. Dadanya masih naik turun dengan nafas memburu.

"Nih... bersihkan punya kamu... Cuci dulu sebelum pulang..." ujar Andre menyerahkan beberapa lembaran tisu pada Rani.

Laki-laki itu telah berpakaian rapi dan terlihat mengeluarkan sebatang r*kok dari kotaknya.

Pikirannya terus mengutuk perbuatannya yang lupa memakai pengaman.

"Terserahlah... Toh dia nggak bakalan ham*l kok..." gumamnya.

Andre menatap layar ponselnya dan tersenyum setelahnya. Matanya melirik Rani yang masih fokus membersihkan sisa-sisa cairan milik Andre.

"Ran... aku pulang duluan ya... Pak Herman barusan menghubungi dan minta aku pulang lebih awal" ucap Andre bergegas pergi.

Rani terperangah kaget dan buru-buru memakai kembali celana panjangnya. Ia tidak ingin ditinggal sendiri diruangan sepi ini.

Saat menarik handle pintu, kepala Rani menoleh sejenak. Hidungnya sedikit mengernyit. Masih tercium aroma anyir dari sisa perbuatan keduanya. Buru-buru Rani kembali membersihkannya karena takut ada yang curiga nanti.

Rani memandang keluar jendela dan menyadari langit sudah mulai gelap.

Dengan langkah cepat, Rani bergegas meninggalkan gedung kelurahan tapi tetap dalam mode waspada agar tidak terpergok oleh siapapun.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Rani mengayuh sepedanya menuju kediaman orangtuanya.

Kuduknya merinding kala ia melewati satu jalanan yang dipinggirnya terdapat hutan pinus yang tak terjamah tangan manusia. Lebat dan masih asri.

Orang-orang kampung bilang, disana ada gubuk tua yang merupakan bekas tempat tinggal seorang dukun sakti bernama Mbah Djani.

Wanita tua yang hanya menampakkan diri dimalam jumat kliwon.

Rani mempercepat kayuhannya ketika telinganya menangkap suara-suara aneh.

Boooommmm...

Sebuah suara ledakan terdengar dari dalam hutan menyusul kemudian kepulan asap putih menggumpal.

Rani tertegun sejenak saat ia melihat sebuah benda melayang diatas kepalanya.

Melayang dari satu pohon ke pohon lainnya.

Ia menelan ludah kasar.

Rani memejamkan kedua matanya kuat dan berharap hawa dingin yang tiba-tiba menerpa kuduknya segera menghilang.

"Rani..."

"Maharani..."

Suara pelan dan sedikit serak terus memanggil namanya.

"Ampun mbah... Aku cuma numpang lewat... maaf telah mengganggu..." ucap Rani ketakutan.

Aroma anyir darah menusuk keras indra penciumannya bercampur dengan aroma kuat khas nenek-nenek sepuh.

Hangat nafas seseorang menerpa kulit wajah Rani.

Ia tidak berani membuka kedua matanya.

"Putuslah dengan laki-laki itu... dia hanya mempermainkan mu..." ucap suara itu yang terdengar jelas di telinga Rani.

Kening Rani berkerut tak mengerti.

Setelahnya, semua kembali normal.

Rani perlahan membuka matanya.

Kosong..

Tak ada siapapun disana kecuali dirinya.

Tak ingin membuang waktu, Rani kembali mengayuh sepedanya.

Suara hewan malam menemani setiap kayuhannya menuju rumah.

"Ran... kok malam pulangnya?" tanya pak Rahman yang duduk di teras rumahnya begitu Rani sampai dengan kening bercucuran keringat.

"Iyo pak... tadi mampir dulu ke rumah Tini. Aku masuk dulu ya pak.... Gerah, mau mandi" sahut Rani bergegas masuk kedalam kamarnya.

"Loh Ran... baru sampai ndok?" seru ibu Sukma yang datang dari arah dapur dengan secangkir teh dan sepiring pisang rebus untuk suaminya.

Rani menyahuti dari dalam kamar. "Iya buk..."

Dadanya masih berdegup kencang karena kejadian tadi dipinggir hutan.

Ditambah tubuhnya lelah karena kecapean mengayuh sepeda dan karena 'kegiatan' bersama Andrean tadi sore.

bersambung....

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!