Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilog
Sejak tragedi itu Rey sempat berpisah dengan sang isteri namun tetap bisa bertemu dengan keluarganya. Dia kembali menjalani aktifitasnya di biro arsitek tempatnya bekerja. Sementara Kristal tuntas menjalani rehabilitasi sesuai perintah dari pengadilan. Meski tak lagi dibatasi oleh jeruji besi, Rey tetap merindukan keharmonisan sebuah keluarga sebagaimana dulu yang pernah dirasakannya. Rey membawa keluarganya berlibur. Dia tak luput mengingatkan untuk membuang imajinasinya tentang keberadaan sosok Id. Walau itu sangat sulit dilakukan.
Hotel berbintang yang sangat populer. Bukan hanya dari segi fasilitasnya, tetapi juga sering kali mengadakan pameran fotografi berskala nasional maupun internasional.
Selesai dengan aktifitas berenang bersama, Rey mengajak makan Kristal dan Darrius ke sebuah restoran yang satu lingkup dengan hotel. Sebelum masuk ke restoran, dia melihat banyak orang berbondong-bondong memasuki ruang pameran.
“Rey mau kemana kamu?” kata Kristal dengan senyuman yang merekah.
“Rasanya aku penasaran, kenapa banyak orang disana! Kamu masuk duluan, nanti aku akan susul. Hanya lima menit, tidak lebih!” tutur Rey, seraya mengecup kening Kristal.
“Papi jangan lama-lama yah!”
Kristal dan Darrius masuk bersamaan dengan Rey yang juga melangkah ke ruang pemeran fotografi. Setelah berada disana, Rey mendapati tulisan,“Persepsi”. Dalam hati dia menerka bahwa itu ialah tema yang diangkat. Rey terus masuk menjurus ke arah dalam. Banyak foto-foto unik bermakna ganda dan sudah di edit sedemikian rupa oleh Sang fotografer.
Diantara banyaknya foto terpajang, sebuah foto dengan figura emas berukuran besar memikat perhatiannya.
"Reyhan!" seru panggilan yang samar terdengar.
Reyhan melirik ke berbagai arah. Tapi dia tetap tidak menemukan pemilik suara. Dipikirannya kini ingin tetap meneruskan melihat foto yang menjadi pusat perhatiannya.
"Aduh kamu di panggil terus. Kenapa tidak jawab sih. Ini saya Sonya, teman SMU kamu dulu! Aku dengar kabar kamu sedang ada disini! Sengaja memang aku ingin bertemu dengan kamu. Dimana istrimu?"
Reyhan tampak sedikit meminta waktu untuk mengulang memori di kepalanya.
"Sonya yang mana yah? Haduh, maaf yah. Belakangan ini, saya benar-benar banyak sekali yang harus diselesaikan."
"Saya tahu semua tentang kamu. Teman kita juga sudah banyak cerita tentang kamu."
"Begitulah hidup. Satu masalah selesai, kita harus bersiap menuntaskan masalah lainnya. Tapi, tolong kasih sedikit saja saya cerita. Benarkah kita saling mengenal sejak SMU?"
"Aku tahu kamu. Siapa juga yang bisa lupa sama kamu. Si manusia super dingin. Kalau memang kamu lupa ya sudah biarkan saja. Namanya juga masa lalu. Oh ya, gimana karyaku ini? Apa kamu suka? Bagian mana yang paling membuat kamu suka?"
"Jadi ini semua karya kamu? Wow, selamat yah. Terus terang aku sama sekali tidak mengenal dunia fotografi. Jadi tidak bisa banyak menilai., Aku dan istri cuma untuk sekedar liburan. Tidak sengaja melihat keramaian. Ternyata ada pameran foto, dan itu hasil karya kamu. Teman lama yang sama sekali aku lupa. Aduh, maaf yah sekali lagi." Rey melipat kedua tangan, sebagai tanda permintaan maaf.
"Ya sudah kalau memang kamu lupa. Tidak jadi masalah. Ada kamu saja disini sudah senang aku. Banyak ternyata yang masih perduli dengan foto. Oke deh, silahkan kamu lanjutin melihat semua foto." ujarnya seraya membawa langkahnya menjauh dari Reyhan.
Reyhan tersadar akan isi pikiran yang menarik perhatiannya. Perlahan-lahan Rey terus melangkah sampai akhirnya semakin dekat dengan foto artistik itu.
Rey menyingkirkan beberapa orang yang menghalangi pandangannya. Penglihatannya menangkap dengan jelas. Rey tercekat menatap pada gambar tersebut. Foto itu memperlihatkan seorang perempuan berpakaian merah dengan rambut tergerai berwarna kepirangan nampak tengah mendorong seorang lelaki berbusana jaket overcoat dari atas apartemen.