“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”
Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.
Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.
Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Turnamen Linyi di mulai
Dua bulan berlalu seperti hembusan angin dingin yang menajamkan mata pedang.
Di bawah naungan matahari pagi yang cerah, Kota Linyi berubah menjadi lautan manusia.
Bendera-bendera berwarna merah dan emas berkibar di sepanjang jalan utama, menandakan dimulainya turnamen tahunan yang paling bergengsi.
Para pendekar dari berbagai sekte kecil dan klan menengah berkumpul, masing-masing membawa ambisi untuk mengukir nama mereka di atas panggung batu yang sakral.
Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pemuda berjalan dengan tenang.
Jubah abu-abunya yang sederhana tidak mampu menyembunyikan perubahan pada tubuhnya, bahunya kini lebih kokoh, langkahnya sangat ringan seolah ia mengambang di atas tanah, dan beberapa helaian rambut putihnya kini terjalin rapi di antara rambut hitamnya, memberikan kesan misterius yang menarik perhatian banyak pasang mata.
Di sampingnya, Xue Ling berjalan perlahan. Ia mengenakan cadar tipis untuk menutupi wajah cantiknya yang masih sedikit pucat, tangannya menggandeng lengan Shan Luo.
Meskipun masih lemah, binar di matanya menunjukkan bahwa ia lebih sehat dari dua bulan lalu.
"Shan'er, lihatlah betapa ramainya tempat ini," bisik Xue Ling, matanya menatap panggung besar di tengah alun-alun. "Ibu tidak menyangka kau benar-benar akan membawaku menonton."
Shan Luo tersenyum tipis, matanya mengawasi kerumunan dengan waspada. "Aku ingin Ibu melihat dunia lagi. Kita tidak akan terus bersembunyi dalam bayang-bayang."
Mereka berhenti di depan sebuah altar kristal yang dijaga ketat oleh prajurit kota. Di dalamnya, tergeletak hadiah utama yang menggiurkan.
Seratus tael emas bertumpuk rapi, namun perhatian semua orang tertuju pada sebuah kotak beludru hitam di sampingnya.
Sebuah kalung perak dengan liontin permata hijau zamrud yang berdenyut pelan.
"Itu dia ..." gumam Shan Luo.
Berdasarkan informasi yang ia dapat, itu adalah Kalung Jantung Rumput Es, sebuah Artefak Kelas Bumi.
Artefak ini memiliki kemampuan pasif untuk memurnikan udara di sekitar pemakainya dan memberikan pasokan energi kehidupan yang stabil ke dalam jantung.
Bagi orang biasa, ini adalah perhiasan mahal; bagi Xue Ling yang memiliki meridian rusak, ini adalah nyawa kedua.
"Sangat indah," puji Xue Ling tulus. "Siapa pun yang memenangkannya pasti sangat beruntung."
"Ibu yang akan memakainya," batin Shan Luo dengan tekad yang membeku.
"Nama? Klan? Ranah?" tanya seorang petugas pendaftaran dengan nada bosan.
"Shan Luo. Pendekar mandiri. Tahap Pengumpulan Qi tahap puncak," jawab Shan Luo tenang.
Selama dua bulan pembantaian malam di hutan, Shan Luo berhasil menstabilkan fondasinya dan menembus ke tahap puncak. Ini adalah pencapaian luar biasa untuk pemuda seusianya tanpa bantuan pil alkimia tingkat menengah.
"Ranah ke 2 tahap puncak? Di usia 15 tahun?" Petugas itu mendongak, matanya sedikit terkejut namun segera berubah menjadi cibiran saat melihat pedang baja tua di punggung Shan Luo. "Baiklah, masuk ke Grup C. Jangan menangis jika pedang rongsokanmu itu patah di babak pertama."
Di belakangnya, terdengar tawa renyah dari sekelompok pemuda berpakaian mewah. Salah satunya, seorang pemuda dengan bordir burung merak di bajunya, mendekat sambil memainkan kipas.
"Pendekar mandiri dengan pedang berkarat? Linyi benar-benar semakin menurun standarnya," ejek pemuda itu. Ia melirik Xue Ling yang berdiri di samping Shan Luo. "Hei, bocah. Jika kau butuh uang, jual saja wanita di sampingmu itu ke kediamanku. Dia punya postur yang bagus meski ditutupi cadar."
DEG.
Hawa dingin yang menusuk tiba-tiba meledak dari tubuh Shan Luo. Tanah di bawah kakinya mulai retak kecil, dilapisi kristal es tipis. Tangannya secara refleks bergerak menuju gagang pedang bajunya.
Xue Ling segera menggenggam tangan anaknya, meremasnya pelan. "Shan'er ... jangan. Biarkan saja anjing menggonggong."
Shan Luo menarik napas dalam, memaksa emosinya kembali ke dasar Dantian. Tatapannya menatap pemuda itu seperti pemangsa yang sedang menatap bangkai.
"Kau beruntung Ibu sedang ada di sini," desis Shan Luo. "Berdoalah agar kita tidak bertemu di panggung, Tuan Muda Merak. Karena saat itu tiba, lidahmu akan menjadi hal pertama yang kubekukan."
Pemuda itu tertegun sejenak, merasakan bulu kuduknya berdiri akibat tatapan dingin Shan Luo, sebelum akhirnya mencibir untuk menutupi rasa takutnya dan pergi bersama kelompoknya.
Turnamen dimulai dengan dentuman gong yang menggetarkan dada. Shan Luo mengantar ibunya ke kursi penonton khusus yang ia sewa dengan sisa uang terakhirnya, memastikan ia bisa melihat panggung dengan jelas.
"Hati-hati, Nak," bisik Xue Ling.
"Tentu, Bu."
Saat nama "Shan Luo" dipanggil, ia melompat ke panggung dengan gerakan yang sangat efisien.
Lawan pertamanya adalah seorang pria besar berotot yang membawa gada berduri, seorang Pendekar pengumpulan Qi tahap menengah.
"Bocah kurus! Menyerahlah sebelum gada ini menghancurkan tulang-tulangmu!" raung si pria besar.
Shan Luo tidak membalas. Ia hanya menarik pedang bajunya yang kusam. Logam itu bergetar pelan, seolah ikut merasakan haus darah pemiliknya.
"Mulai!"
Pria besar itu menerjang seperti banteng gila, mengayunkan gadanya dengan kekuatan penuh. Angin yang dihasilkan serangan itu cukup untuk menerbangkan debu di sekitar panggung.
Shan Luo tetap tenang. Mengingat ajaran ibunya, ia memposisikan tubuhnya dengan rileks. Langkah Embun Beku.
Ia bergeser sedikit, tubuhnya seolah menjadi bayangan yang meluncur melewati serangan gada itu. Tanpa menggunakan kekuatan kasar, ia hanya menyentuhkan bilah pedangnya ke pergelangan tangan pria itu.
Sring!
Sedikit Qi es dialirkan. Seketika, sendi pria itu membeku, membuatnya kehilangan keseimbangan. Shan Luo tidak membuang waktu. Dengan punggung pedangnya, ia menghantam ulu hati lawannya.
BUGH!
Pria besar itu terlempar keluar panggung, pingsan sebelum sempat menyadari apa yang terjadi.
Penonton terdiam sejenak. Kemenangan itu terlalu cepat. Terlalu mudah.
"Pemenang: Shan Luo!" teriak wasit.
Shan Luo menyarungkan kembali pedangnya dan menatap ke arah tribun penonton. Di sana, Xue Ling bertepuk tangan kecil dengan wajah berseri-seri. Senyum itu, senyum itulah yang membuat semua rasa sakit di jiwanya terasa sepadan.
Namun, di balik kegembiraan itu, Shan Luo merasakan getaran di lengannya. Sabit Jiwa Kegelapan di dalam tatonya mulai bergejolak.
Ia bisa merasakan aura banyak orang kuat di tempat ini, dan sabit itu seolah berbisik. menuntut untuk ikut serta dalam pesta darah yang akan datang.
"Sabar," gumam Shan Luo pada dirinya sendiri. "Hadiah utamanya belum di tangan. Dan pertunjukan yang sebenarnya ... baru saja dimulai."