Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
Langit di balik jendela besar apartemen Vivian mulai berubah menjadi kanvas berwarna jingga dan ungu pekat. Sinar matahari yang sekarat memantul di permukaan meja marmer dan lantai kayu yang dipoles mengkilap, menciptakan suasana yang melankolis sekaligus intim. Keheningan di dalam unit mewah itu hanya dipecah oleh suara samar deru mesin kendaraan dari jalanan Los Angeles jauh di bawah sana.
Setelah perjalanan singkat yang penuh dengan debaran dari restoran, Logan bersikeras mengantar Vivian hingga masuk ke dalam apartemennya. Alibi yang ia gunakan cukup klasik: meminjam kamar mandi.
"Kamar mandinya di mana, Kak?" tanya Logan sambil melepas jaket kulitnya dan menyampirkan nya di lengan sofa.
Vivian menunjuk ke arah lorong pendek yang menuju ke area dapur. "Lewat sana, Pakai saja yang itu."
Begitu Logan menghilang di balik pintu kayu ek, Vivian menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru berwarna abu-abu gelap. Ia memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut. Kejadian di salon dan makan siang tadi benar-benar menguras energinya lebih banyak daripada menangani klien paling cerewet sekalipun.
"Bisa-bisanya dia masuk ke kamar mandi di sana, padahal ada kamar mandi tamu di dekat dapur," gumam Vivian pada dirinya sendiri. Ia menatap langit-langit, mencoba mencerna kembali rentetan kegilaan yang terjadi. Sosok Isabella yang antusias, rencana pernikahan yang tiba-tiba, dan yang paling mengganggu: tatapan Logan yang mulai berubah.
Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar. Logan keluar, namun ia tidak langsung berjalan menuju pintu keluar. Ia berjalan perlahan menghampiri Vivian, langkah kakinya terdengar mantap di atas karpet bulu. Logan tidak lagi memakai kacamata hitamnya, memperlihatkan mata gelapnya yang kini tampak sangat jernih dan... tajam.
Ia berhenti tepat di depan Vivian yang masih duduk bersandar. Suasana seketika berubah menjadi sangat berat. Logan tidak lagi tampak seperti mahasiswa nakal yang suka menggoda; ia tampak seperti pria yang membawa beban pertanyaan besar di kepalanya.
"Vivian," panggil Logan, suaranya rendah dan sangat serius.
Vivian mendongak, sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara pemuda itu. "Ya?"
Logan berlutut di depan sofa, membuat posisinya sejajar dengan Vivian. Ia menatap mata wanita itu dengan intensitas yang membuat Vivian sulit bernapas. "Aku ingin bertanya satu kali lagi. Dan kali ini, tolong jangan berbohong. Apa benar kau hamil saat ini, Vivian? Entah itu anak George atau siapa pun?"
Vivian terdiam sejenak. Ia melihat kejujuran di mata Logan, sebuah kekhawatiran yang bukan dibuat-buat untuk kepentingan kontrak. Ia menyadari bahwa bercanda soal ini lebih lama lagi hanya akan menyakiti mereka berdua.
"Tidak, Logan," jawab Vivian dengan suara yang sama seriusnya. "Aku tidak hamil. Semua itu murni kebohongan spontan yang kubuat di butik sebulan lalu agar ibumu mengalah soal ikat rambut itu. Aku tidak pernah mengandung anak siapa pun."
Mendengar jawaban itu, ada kilatan emosi yang melintas di wajah Logan—campuran antara lega dan sesuatu yang lain yang sulit didefinisikan. Tanpa peringatan, Logan bergerak maju dan melingkarkan lengannya di pinggang Vivian, menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Vivian membeku. Pelukan Logan terasa sangat kokoh, hangat, dan... protektif. Aroma parfum woody bercampur dengan sisa aroma jalanan dari tubuh Logan menyerbu indra penciumannya.
"Logan? Apa yang kau lakukan?" bisik Vivian, namun ia tidak mendorongnya.
"Kalaupun kau benar-benar hamil, aku siap menjadi ayahnya, Vivian," ucap Logan tepat di dekat telinga Vivian. Suaranya bergetar kecil, seolah ia baru saja membuat janji besar pada dirinya sendiri. "Aku serius. Aku akan bertanggung jawab atasmu dan bayi itu, siapa pun ayahnya."
Deg.
Jantung Vivian berdegup kencang. Ia melepaskan diri sedikit dari pelukan Logan untuk menatap wajah pria itu. "Kenapa? Kenapa kau mau melakukan hal segila itu untuk wanita yang baru kau kenal lewat sebuah kontrak ganti rugi?"
Logan terdiam sejenak, ia menunduk melihat tangannya yang masih memegang lengan Vivian. "Aku tidak tahu jawabannya. Aku sendiri bingung kenapa pikiran itu muncul begitu saja."
Vivian mencoba mencairkan ketegangan yang mulai menyesakkan itu. Ia memaksakan sebuah senyum miring, mencoba kembali ke mode "wanita dewasa" yang dominan. "Lalu kenapa kau ingin bertanggung jawab? Oh... jangan-jangan kau mulai mencintai pesonaku, Logan? Ternyata rayuan 'kakak' ini berhasil membuatmu bertekuk lutut?"
Vivian mengira Logan akan membalas dengan gombalan nakal seperti biasanya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Logan tetap diam, menatap Vivian dengan pandangan yang dalam, seolah sedang mencari sesuatu di dalam matanya.
"Aku tidak tahu kenapa cepat sekali aku merasakan ini," ucap Logan akhirnya, suaranya sangat tulus. "Tapi aku mulai menyukaimu, Vivian. Benar-benar menyukaimu melebihi apa yang seharusnya ada dalam kontrak kita."
Vivian tertegun. Kata-kata itu lebih berdampak daripada ciuman panas mana pun yang pernah mereka lakukan.
"Lalu... apa kau mencintaiku?" tanya Vivian pelan, hampir berupa bisikan.
Logan menghela napas panjang, ia memberikan senyum tipis—senyum yang terasa pahit sekaligus manis. "Cinta? Entahlah. Setelah apa yang terjadi dua tahun lalu, aku tidak yakin aku masih mengerti apa itu cinta. Aku takut mengakui kata itu. Tapi yang kutahu pasti... aku tidak ingin pria lain menyentuhmu, aku tidak ingin kau sedih karena bajingan seperti George, dan aku ingin berada di sini, bersamamu, setiap malam seperti ini."
Logan menyandarkan keningnya di kening Vivian. Ruangan itu kini benar-benar gelap, hanya diterangi oleh lampu kota yang masuk dari jendela.
"Menyukaimu itu nyata, Vivian. Dan itu jauh lebih menakutkan bagiku daripada sekadar jatuh cinta," lanjut Logan.
Vivian memejamkan matanya, merasakan napas Logan di wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh kendali, Vivian merasa ia tidak ingin mengendalikan apa pun malam ini. Ia membiarkan hatinya yang selama ini beku, mulai mencair karena kehangatan dari seorang pria yang usianya jauh lebih muda, namun memiliki keberanian yang jauh lebih besar daripada siapa pun yang pernah ia temui.
Kontrak satu bulan itu tiba-tiba terasa seperti sebuah selamanya yang mulai menghantui pikiran mereka berdua. Dan di tengah kegelapan apartemen itu, pengakuan jujur Logan telah meruntuhkan tembok terakhir yang dibangun Vivian di sekeliling hatinya.