cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Minggu-minggu itu Jakarta terasa lebih sumpek dari biasanya bagi Jelita. Jadwal kuliah semester ini benar-benar tidak punya belas kasihan. Dari praktikum yang laporannya setebal skripsi sampai kuis dadakan yang muncul seperti jerawat di malam minggu, semuanya sukses menyita waktu Jelita. Sudah hampir lima hari dia tidak bertemu Langit. Hanya ada pesan-pesan singkat di WhatsApp dan telepon tengah malam yang biasanya berakhir dengan Jelita yang ketiduran sambil memegang ponsel.
Jelita rindu, tentu saja. Dia rindu wangi maskulin Langit, rindu tawa sengkleknya, dan rindu bagaimana pria itu selalu punya cara untuk meruntuhkan tembok kaku di hatinya. Namun, di tempat lain, di sebuah kafe remang-remang yang jauh dari jangkauan Jelita, sebuah takdir sedang menertawakan hidupnya dengan cara yang paling ironis.
...----------------...
Di sebuah sudut meja kayu yang dipenuhi puntung rokok dan sisa kopi hitam, dua pria duduk berhadapan. Jika ada orang asing yang lewat, mereka pasti akan mengucek mata dua kali. Wajah mereka identik. Bentuk mata, hidung, hingga lekuk bibirnya sama persis. Perbedaannya hanya terletak pada aura; yang satu tampak teduh namun misterius. sementara yang satunya lagi tampak liar, dominan, dan seolah tidak punya beban hidup.
Mereka adalah Yayan dan Langit. Saudara kembar yang terpisah oleh perceraian orang tua sejak mereka masih bayi. Yayan tinggal bersama sang Papa dan di bawa ke luar kota, sementara Langit tetap diJakarta bersama Mama. Mereka jarang bertemu, namun ikatan darah tidak pernah benar-benar bisa diputus.
"Lo masih aja begini, Yan. Muka lo kayak orang yang habis ditinggal mati satu kampung," celetuk Langit sambil menyulut rokoknya. Dia menatap kembarannya dengan tatapan mengejek yang khas.
Yayan hanya menghela napas panjang, tatapannya kosong menembus jendela kafe. "Gue nggak tahu, Lang. Gue udah coba pindah sekolah dulu, coba ganti lingkungan, tapi tetep aja... ada satu nama yang nyangkut di tenggorokan gue. Mau gue telan sakit, mau gue muntahin juga susah."
Langit tertawa terbahak-bahak, suara tawanya membuat beberapa pengunjung kafe menoleh. "Drama banget hidup lo! Siapa sih? Cewek SMP itu lagi? Gila, lo itu udah 21 tahun, Yan! Masa depan lo masih panjang, tapi otak lo masih nyangkut di koridor sekolah tujuh tahun lalu? atau nyangkut sama senyum hantu di perpus?"
Yayan menoleh, jauh di dalam. lubuk hatinya dia merasa bersalah "Gue pergi gitu aja tanpa bilang apa-apa, Lang. Gue liat dia nangis di depan jendela kaca karena cewek gue yang lama, dan gue cuma bisa berdiri di seberang jalan. Penyesalan itu yang bikin gue nggak bisa jalan maju."
Langit menyandarkan punggungnya ke kursi, mengeluarkan asap rokok dari mulutnya dengan santai. "Main lo kurang jauh, Yan. Dan lo... lo itu nggak gentle. Lo cuma nunggu semesta ngasih keajaiban tanpa lo usahain."
yayan mendengus "Maksud lo?"
"Gue nggak kayak lo," lanjut Langit dengan seringai nakal yang selalu menjadi andalannya. "Gue tipikal cowok yang kalau udah mau, ya gue kejar sampe dapet. Gue nggak peduli temboknya setinggi apa. Kayak cewek gue sekarang, misalnya."
Langit mencondongkan tubuhnya ke meja, matanya berbinar saat menceritakan tentang Jelita—meskipun dia tidak tahu kalau "Jelita"-nya adalah "Jelita"-nya Yayan.
"Waktu pertama kali gue liat dia, gila... mukanya tembok banget! Kaku kayak beton sepuluh lapis, Yan. Orang bilang dia siswi teladan yang nggak tersentuh, dingin, dan nggak punya ekspresi. Tapi gue? Gue malah makin penasaran. Langsung gue tempelin tiap hari, gue jadiin murid 'tutor sesat' gue, gue paksa dia keluar dari zona nyamannya."
Langit terkekeh mengingat momen-momen awal dia mengejar Jelita. "Bahkan dia pernah lari ke toilet gara-gara gugup deket gue. Tapi gue nggak nyerah. Gue sikat terus sampe akhirnya sekarang dia jadi milik gue seutuhnya. Lo harusnya kayak gue, Yan. Agresif dikit. Jangan cuma jadi pengagum rahasia yang berakhir jadi hantu."
Yayan menatap langit jengkel. lagi lagi dia pamer kemesraan "Beda, Lang. Cewek yang gue maksud itu... dia punya etika yang kuat, dia lembut tapi rapuh.. "
"gak kayak cewek lo yang bisa lo ajak nakal" jawab yayan sinis
"ck.. cewek gue cewek baik baik ye.. kadang lo perlu ngajakin dia keluar zona aman nya.. biar apa? biar dia bisa ngelepasin beban hidupnya.. dan otomatis dia bakalan nganggap lo berjasa! 'oh.. kalau gak ada dia mungkin gue masih monoton' gitu" jawab langit bangga
"ya kali.. yang ada dia makin ilfeel sama gue" jawab yayan gak setuju tutor sesat langit
"Intinya, lo itu terlalu banyak mikir 'gimana kalau'. Harusnya lo mikir 'bodo amat'. Gue bahkan udah bawa cewek gue ke Puncak, kita mabuk bareng, dia muntah-muntah di mobil gue, tapi dari situ gue makin sayang sama dia karena dia bener-bener lepas di depan gue. Lo? Masih aja nyimpen foto lama di dompet yang warnanya udah pudar."
Yayan terdiam. padahal dia dan langit sama berandalannya, bedanya mereka punya cara yang beda, yayan lebih suka mengagumi kemurnian hantu masa lalunya. dan langit lebih suka ceweknya keluar jalur dan bebas terbang bersamanya.
"Lo bener.. tapi gue gak mau ngerusak cewek yang gue cintai" jawab yayan
"Makanya, Yan! kalau gitu Cari yang baru! cari yang bisa bikin lo lupa. Dunianya luas, jangan cuma muter-muter di lubang yang sama," Langit menepuk bahu Yayan dengan keras. "Kapan-kapan gue kenalin sama cewek gue. Biar lo tau tipe cewek yang bikin cowok macem gue bertekuk lutut."
Yayan hanya mengangguk, meskipun hatinya tetap ragu. Dia tidak tahu bahwa pria yang sedang menertawakannya ini sebenarnya sedang memeluk takdirnya. Dia tidak tahu bahwa kembaran identiknya telah "merubuhkan tembok beton sepuluh lapis" milik gadis yang selama tujuh tahun ini mengisi hati nya.
Malam itu, di kafe yang remang, dua orang yang menyukai perempuan yang sama namun berbeda jalan sedang bersinggungan. Langit dengan kemenangan cintanya yang berapi-api, dan Yayan dengan sisa-sisa penyesalan yang membeku. Mereka tertawa, mereka merokok, dan mereka saling mengejek, bahkan gak segan segan mengumpat nasip masing masing
...----------------...
Di tempat lain, di meja belajarnya yang berantakan, Jelita bersin tiba-tiba. Dia mengusap hidungnya, merasa ada seseorang yang sedang membicarakannya. Dia kembali menatap buku tugasnya, lalu melirik foto Langit di layar ponselnya. Dia tersenyum kecil. Dia tidak tahu bahwa "hantu masa lalu"-nya sedang duduk hanya berjarak beberapa sentimeter dari "masa depan"-nya.
Dunia memang sesempit itu, dan takdir terkadang memiliki selera humor yang sangat kelam.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣