NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Di dalam gua yang pengap di lereng Merapi, waktu seolah berhenti berputar. Udara di sana tidak lagi mengandung oksigen, melainkan uap darah dan aroma busuk dari rahasia bumi yang dibongkar paksa. Arka bersimpuh di atas tanah berbatu, tubuhnya gemetar hebat sementara keringat dingin bercampur darah merembes dari pori-pori kulitnya.

Di hadapannya, Aki berdiri tegak seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan gua. Tangannya yang keriput memegang dua duri panjang dari pohon Randu Alas yang sudah direndam dalam cairan empedu ular hitam.

"Kau yakin, Cucu? Begitu mata manusiamu kumatikan, kau tidak akan pernah lagi melihat warna langit yang biru atau wajah ibumu dengan cara yang sama. Kau hanya akan melihat denyut kematian dan aliran getah yang busuk," suara Aki terdengar seperti parutan kayu di telinga Arka.

"Lakukan, Aki... Nirmala sedang dijahit hidup-hidup. Aku bisa merasakannya," rintih Arka.

Aki tidak menunggu lebih lama. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, ia menusukkan kedua duri itu tepat ke pusat pupil mata Arka.

"AAAGGGHHHHHH!!!"

Jeritan Arka meledak, memantul di dinding gua, menghancurkan beberapa stalaktit yang menggantung. Namun, jeritan itu segera tertelan oleh keheningan yang mengerikan. Darah hitam pekat mengalir deras dari kelopak mata Arka, membasahi pipinya hingga jatuh ke tanah. Dalam kegelapan mutlak itu, saraf-saraf penglihatan Arka yang hancur mulai bermutasi. Tiba-tiba, dunianya meledak dalam spektrum warna yang tidak pernah dikenal manusia warna energi, warna getah, dan jalur-jalur akar yang merayap di bawah kerak bumi.

"Sekarang, rasakan denyutnya... Masuklah ke dalam tanah, dan jadilah bagian dari akar yang kau benci itu untuk sesaat." perintah Aki.

Tubuh Arka perlahan ambles ke dalam tanah gua yang melunak seperti lumpur hisap. Ia tidak lagi bernapas dengan paru-paru jiwanya kini berenang di dalam aliran energi bumi yang panas dan bergejolak, melesat menuju Jakarta melalui jalur-jalur gaib yang hanya bisa dilihat oleh mata yang sudah "mati".

Suara kaca jendela yang pecah tadi bukan hanya sekadar akhir dari perlindungan, melainkan awal dari mimpi buruk yang lebih nyata. Sosok wanita berbaju biru makhluk yang mengenakan wajah ibu Nirmala namun memiliki jiwa kayu yang lapar kini telah berada di atas tubuh Nirmala yang lumpuh.

Nirmala tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa kaku, otot-ototnya seolah-olah telah berubah menjadi serat kayu yang terpilin kencang. Ia hanya bisa melihat dengan mata yang membelalak saat sosok itu mengeluarkan duri-duri panjang yang mencuat dari ujung jari-jari kayunya. Duri itu tajam, bergerigi, dan mengeluarkan cairan bening yang berbau amis.

"Kita harus menyatu, Sayang... Kau adalah bagian dariku yang hilang," bisik sosok itu. Suaranya kini terdengar seperti ribuan serangga yang berbisik di dalam liang telinga.

Sosok itu mulai bekerja. Dengan gerakan yang presisi namun brutal, ia menusukkan duri panjang dari jarinya menembus kulit lengan Nirmala, lalu menariknya keluar dan menusukkannya kembali ke kulit kayunya sendiri.

SLUUP.

JREEET.

Nirmala ingin menjerit, namun rahangnya telah dikunci oleh kekuatan gaib. Rasa sakitnya luar biasa seperti dibakar hidup-hidup dari dalam. Ia merasakan sensasi logam panas yang merobek dagingnya, menjahit kulit manusianya yang halus dengan kulit kayu makhluk itu yang kasar dan busuk.

Darah merah Nirmala merembes keluar, membasahi sprei, namun setiap kali darah itu menyentuh kulit kayu sang "Ibu", darah itu seketika terserap, membuat serat-serat kayu di wajah makhluk itu berdenyut merah.

"Lihat, Nak... kau mulai kembali ke pelukanku," kata sosok itu sambil terus menjahit bahu Nirmala. Luka-luka itu tidak menutup, melainkan dipaksa menyatu dengan duri sebagai benangnya.

Di sudut ruangan, Ibu Sekar masih berjuang. Seluruh tubuhnya kini hampir tertutup sempurna oleh akar-akar hitam yang keluar dari lantai. Akar itu melilit lehernya, menariknya perlahan masuk ke dalam celah ubin yang menganga. Mata Ibu Sekar melotot ke arah Nirmala, air mata mengalir deras dari wajahnya yang mulai membiru karena kehabisan napas. Ia tidak bisa menolong ia hanya bisa menyaksikan ritual "penjahitan" raga itu terjadi di depan matanya.

Sosok "Ibu" itu kini berpindah ke arah dada Nirmala. Wajahnya yang terbelah mengeluarkan ulat-ulat kayu kecil yang mulai merayap masuk ke dalam luka jahitan di lengan Nirmala.

"Sekarang... jantungmu... berikan jantung yang kau curi itu..."

Tangan kayu sang "Ibu" yang tajam dan kasar mulai menekan dada Nirmala, tepat di atas jantung yang berdetak dengan suara krak-krak. Kuku-kukunya mulai merobek piyama Nirmala, siap untuk membedah dada gadis itu.

Tepat pada saat kritis itu, lantai ruang tamu meledak dengan kekuatan yang dahsyat.

BOOOOOMM!

Ubin-ubin keramik terlempar ke udara, hancur menjadi debu. Dari lubang di tengah ruang tamu, sesosok makhluk menyerupai manusia melompat keluar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Itu adalah Arka.

Namun, Arka yang sekarang bukan lagi pria yang dikenal Nirmala. Pakaiannya telah compang-camping, tertutup tanah merah dan darah. Wajahnya sangat pucat, dan yang paling mengerikan adalah matanya kedua matanya kini dibalut oleh kain kafan putih yang sudah basah oleh darah hitam yang terus merembes.

Meskipun matanya tertutup, Arka bergerak dengan presisi yang menakutkan. Ia tidak menoleh ke arah mana pun, namun ia langsung meluncur ke arah kamar Nirmala.

"Lepaskan dia, Penjaga Sandiwayang!" suara Arka terdengar sangat berat, beresonansi dengan getaran tanah di bawah kaki mereka.

Sosok "Ibu" itu menoleh, wajah terbelahnya mengeluarkan suara desisan ular. Ia melompat dari atas tubuh Nirmala, merangkak di langit-langit kamar dengan gerakan patah-patah, siap menerkam Arka.

Arka tidak mundur. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan Biji Pohon Purba yang diberikan oleh Aki. Biji itu bercahaya putih kebiruan di tengah kegelapan rumah yang mencekam.

"Demi Akar yang menghidupi dan Bumi yang menelan kembali!" Arka menghantamkan biji itu ke lantai kayu kamar.

Seketika, akar-akar berwarna putih susu, bercahaya dan bersih, mencuat keluar dari tempat biji itu mendarat. Akar-akar purba ini bergerak seperti cambuk, langsung melilit akar-akar hitam Randu yang mengikat Ibu Sekar. Terjadi pertempuran yang mengerikan di lantai dan dinding rumah. Akar hitam mencoba melilit akar putih, namun setiap kali mereka bersentuhan, suara desisan panas terdengar, dan akar hitam itu seketika layu dan hancur menjadi abu.

Sosok 'Ibu' menyerang Arka dari langit-langit, menjatuhkan dirinya dengan tangan yang siap mencabik leher Arka. Arka, meskipun buta, menghindar dengan gerakan yang hampir menyerupai tarian. Ia menangkap pergelangan tangan kayu makhluk itu.

KRAAAK!

Arka mematahkan tangan kayu itu dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Cairan hitam menyembur ke wajah Arka, namun ia tidak bergeming. Ia menempelkan telapak tangannya yang lain tepat ke belahan wajah makhluk itu.

"Kembalilah ke tanah yang memuntahkanmu!"

Cahaya putih meledak dari telapak tangan Arka. Sosok 'Ibu' itu menjerit, jeritan yang begitu nyaring hingga kaca-kaca di seluruh rumah yang tersisa pecah berkeping-keping. Tubuh makhluk itu perlahan mencair, berubah menjadi lumpur hitam dan serat kayu busuk, sebelum akhirnya tersedot masuk ke dalam lubang di lantai yang kini telah dipenuhi oleh akar putih purba milik Arka.

Keheningan kembali menyelimuti rumah Ibu Sekar. Kabut di luar mulai memudar, dan cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk lewat jendela yang hancur.

Ibu Sekar tergeletak pingsan di sudut ruangan, namun napasnya sudah mulai teratur setelah akar-akar yang melilitnya musnah. Arka berdiri di tengah ruangan, masih dengan kain kafan berdarah yang menutupi matanya. Napasnya tersengal-sengal, dan ia tampak sangat rapuh.

Nirmala masih terbaring di tempat tidur. Ia sudah bisa bergerak, namun rasa sakit di tubuhnya belum hilang. Ia menatap lengannya dan menjerit tertahan.

"Arka... lihat ini..."

Jahitan-jahitan duri tadi memang sudah lepas seiring musnahnya sang 'Ibu', namun bekasnya tidak hilang. Di sepanjang lengan, bahu, dan sebagian dadanya, terdapat pola luka yang mengerikan. Luka itu berbentuk jahitan yang rapi, namun di dalamnya bukan lagi daging manusia yang merah, melainkan serat-serat kayu kecokelatan yang telah menyatu secara permanen dengan dagingnya.

Nirmala kini memiliki "jahitan kayu" yang melingkar di tubuhnya tanda bahwa separuh dari dirinya kini telah diklaim oleh Sandiwayang. Ia bukan lagi manusia seutuhnya, tapi juga bukan kayu sepenuhnya.

Arka berjalan mendekat dengan langkah ragu, tangannya meraba-raba udara hingga ia menyentuh tangan Nirmala.

"Aku tidak bisa melihatmu Nir." bisik Arka, suaranya penuh dengan kepedihan yang mendalam. "Tapi aku bisa merasakan denyut jantungmu. Jantungmu masih berdetak... meskipun suaranya sekarang terdengar seperti suara hutan."

Nirmala memegang tangan Arka yang kasar dan penuh tanah. Ia menatap wajah temannya yang kini telah kehilangan penglihatannya demi menyelamatkannya.

"Arka... matamu..."

"Ini harga yang harus kubayar, Nir. Tapi perang ini belum berakhir. Kita hanya mengusir penjaganya. Pohon Randu itu masih berdiri di Sandiwayang, dan ia tahu bahwa kita telah menggunakan Biji Purba."

Nirmala menatap pola jahitan di tangannya, lalu menatap Arka yang buta. Di tengah kehancuran rumah itu, ia menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian, Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupan lama mereka di Jakarta.

Karena sekarang, ke mana pun mereka pergi, hutan itu akan tumbuh di dalam diri mereka.

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apa pula judul nya happy ied mubarak😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
janji apa?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
putri duyung? 😱
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
semoga berhasil nir
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah disana akan aman?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti ibu Lastri mau putra nya sembuh
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!