Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nisfu Syaban
#kamar mandi.
"Mas Hamdan baru saja masuk." kata Bunda.
Aku merespon Anggukan.
"Mas?" kataku memanggilnya dari dalam.
"Sebentar lagi Riana." jawabnya Halus.
"Mas Aku bawain Handuk?" Kataku berbohong.
Pintu dibuka dan Hamdan menarikku masuk bersama ke kamar mandi.
"Mau bantuin kan?"
Aku tersenyum dan menatap matanya sensual, Hamdan memejamkan matanya lalu mengerang kecil kebetulan kamar mandinya kedap suara.
Setelah 7 menit berlalu.
Aku tersenyum disaat Hamdan terlihat ter -engah-engah.
"Kamu keluar duluan gih."
Aku mengangguk dan mengusap miliknya,"kalo tegang lagi panggil aku ya dek."
"Astagfirullah Riana? mesum deh."
senyumnya timbul tapi masih bersabar.
"Khilaf Mas." jawabku.
....
Aku keluar kamar mandi dan Abi Rehadi ada disana melihat Hamdan juga di kamar mandi namum hanya terlihat kepalanya.
"Ayo ngapain berdua di kamar mandi?" kata Abi membuatku membisu.
"Abi ga pernah muda aja."
Abi sudah paham maksudnya.
"Iya iya selamat atas kehamilan kamu ya ponakan Abi."
Aku memeluk Abi dan Abi membalasnya dan mengusap surai rambutku.
"Riananya Abi udah jadi seorang ibu, jaga kesehatan jangan membuat Suami marah atau cemburu dosa nakk? jaga jaraklah dengan Fattah ya. jaga Hati Suami kamu Ri?"
Hamdan sengaja tidak menutup pintu dan mendengar Abi mengetahui isi hati Suamiku.
"Iya Abi makasih udah nasehatin Aku. Aku akan inget selalu."
...
Siang seperti biasa Abi dan Bunda izin untuk tidak Sholat berjamaah di masjid.
Imam sholat zuhur tadi itu Hamdan, Aku membantu Bunda dan Mama masak di dapur.
kemudian, Putri dan Marissa membawa ibu mereka kerumah Abi, dan ternyata hari penjengukan tiba.
Aku menyambut Ibunya Marissa dan Ibunya Putri masih muda sekali.
"Aku kangen!!" kata Marissa.
"Riana kok ga ke asrama? main gitu mampir?" sambar Putri.
Aku memeluk mereka satu satu.
"Udah ada Suami, Riana ga bisa seperti itu kalo ada waktu saat udah gendong bayi mungkin bisa anak ini mampir."
Marissa dan Putri memelukku erat.
"Selamat kehamilannya Sayang!" Putri tidak menyangka itu anak Hamdan sampai menangis.
"Masya allah, benih membuahkan hasil! ga sabar Hamdan gendong bayinya terus kamu main sama kita Hahaha!" Marissa mencoba melawak.
"Kalian tuh yaa ga bisa berubah maunya gosip kalo kita sudah bertiga gini?" kataku menangis.
"Maaf Marissa putri? tolong jangan biarkan Riana terus menangis ya ga baik buat janin? dia harus bahagia karna momentnya Pas besok sholat Nisfu." Fattah begitu peduli padaku.
"Siapa suaminya sepupu bertindak."
ucap Putri.
Setelah seru seruan bersama Putri dan Marissa selesai, wakti menjelang Asar juga izin berjamaah Marissa dan Putri.
Aku tertidur di badan Mamaku pulas karna habis sibuk tertawa, Aku jadi ga ada energi di jam 4 sore.
Udah kelamaan tidur, lalu sesuatu yang dingin menempel di telapak tanganku.
"Apa nih dingin?" Aku terkejut.
Hamdan membelikanku Jus melon dan sedotan udah nancap disana tinggal menikmati saja.
"Habisin Ri." Fattah menimpali.
"Aku ga lupa Sayang, Maaf baru inget."
Aku menyedot Jusnya,"eumm manis. kaya Kamu Mas Hamdan."
"Ri? gua ga di puji juga?"
"Diem ya Fattah?" kataku dan Hamdan melempar senyum. Aku segera mencium pipi Hamdan di depan Mamaku kini Hamdan tersipu dan masuk kedalam.
"Mas! kok kabur sih!" responku dan mama tertawa bareng.
"Kalian berdua bikin mama inget masa muda."
"Iya mam, Mama masih ada foto Ayah kandung Riana ga?"
"Masih ada dong? mau liat?"
"Mana?" kataku penasaran.
Ponsel mama di buka dan memeriksa apakah ada foto Ayah kandung di simpan disana?
"Nih dia!" mamaku antusias.
Aku melihat gambarnya jelas, Ayahku memasang wajah datar mama tersenyum.
"Cuma 1 doang yang ini mam?"
"Ada lagi banyak di goggle drive, mama dulu kecintaan sama ayahmu karna gombalin mama, pas mama tau akhirnya itu palsu mama jatuh terlalu keras dan terluka tapi--- mama udah sembuh dari itu-- Ada pengganti Ayah Bimo yaitu Ayah Nathan."
Mama melihat Suami keduanya dengan mata bahagia dan merasa cukup.
"Kau kira Rehan anak kandung mama taunya Ayah Nathan duda."
Mama mengangguk.
"Mama ga mau ada anak lagi dari ayah?"
"Mama mau, tapi Ayah Nathan trauma katanya hehe, ayahmu bilang cukup kamu dan Rehan aja udah istimewa."
Aku menatap Ayah takjub dia benar benar ayah yang berharga buat mama.
"Oke mam." kataku menyedot habis Jusnya.
"Rasa apa itu bau Melon?"
"Rasa Melon mam." kataku membuat Mama tersenyum dan memelukku erat.
Wajar saja mama masih memelukku karna sudah lama tidak bertemu berbulan bertahun tahun lamanya.
...
Malam tiba...
Semua siap berberes beres terpal biru stand by di luar. Besok kedatangan malam nisfu Sya'ban.
Aku lebih ingin tidur pacaran dengan Suamiku.
"Yaudah gapapa bangunin aja Riana." kata Mama.
Mungkin mau ngobrol membahas apa? Fattah di depan kamarnya.
"Riana? ada di dalam?" katanya.
Pintu di dorong oleh Fattah yang tersenyum kecut, karna di kunci dari dalam.
Di dalam kamar Aku dan Hamdan sedang bercumbu mesra sehingga tidak punya waktu membuka pintu.
kamar Fattah kedap suara tapi suara panggilan dari Fattah Di larang Hamdan karena saat ini Aku malam ini melakukan kewajiban sebagai Istri.
"Mas pelan pelan..." pintaku.
Hamdan mengangguk entah melakukan banyak hal apa di balik selimut.
"Ga ada jawaban?" kata Fattah pergi dari kamarnya.
...
Paginya, Jam 6 Hamdan membangunkanku, habis sholat subuh di kamar berdua lalu tidur lagi karna pagi itu hujan jam 5.
Aku masih dalam keadaan tidak berbusana di balik selimut.
"Mandi Sayang," perintahnya.
"Ga mau dingin." singkat padat membuat Hamdan tergoda untuk tidur lagi.
"Kapan kita bisa ber jam jam di rumah di kamarnya ya? Mama masih betah di rumah Abi?"
"Sekarang kamu yang mes*m," asbunku.
"Aku yang ga nahan Ri, kamu wajib ngasih-- itu yang buat kamu pahalanya gede."
"Iya Sayaaang..."
Hamdan menelan salivanya.
"Tuh Mas mah Aku cuma jawab doang Mas mau ngapain lagi?"
Hamdan menaiki tempat tidur dan menghantam tubuhku lagi.
"Mas, sebelah kanan ga mau! jangan kesitu. yang kiri aja!"
"Mas Ahh!"
"Mas Hamdan bener bener ga ngasih ampun Aku..."
Drama pagi memang ada aja sehabis hujan cuaca membuat Suami tergoda untuk tidur lagi maka? Aku lah yang jadi santapannya.
Tok tok !
"Ahh... -- Mas udah itu bukain pintu?"
Hamdan membuka selimutnya dan mendengar suara terlebih dahulu.
"Hamdan Arkatama? Riana Amirani? bantu Abi siapkan snack untuk malam Nisfu nanti?"
Bunda mengetuk pintu 2x dan pergi dari sana.
"Noh Bunda manggil kita." kataku tersenyum lega.
"Andai di rumah kita, Aku ga bisa lansung berhenti gitu aja."
"MAS HAMDAN MAU DI PUKUL?"
"Pukul Aku dosa."
"Pukul Istri yang Dosa, mana ada Istri dosa mukul Suami cuma ga ada etikanya aja."
Hamdan tetap bertaham di atas badanku.
"Mas udah turun besok kan kita pulang?"
Hamdan pun turun tempat tidur dan membereskan bajuku dan jilbab.
"Makasih Mas."
Hamdan lanjut memakai baju dan siap siap keluar kamar duluan.
Hamdan dan Abi sibuk menaruh mentata gelas Aqua kecil dan beberapa sedotan di dalam wadah mini di sebelahnya, Fattah merapihkan buah buahan yang di beli Ayahku dari alfamart.
Aku ke dapur melihat Bunda dan Mama membuat Agar agar dan Puding susu rasa melon dan tiramisu.
Aku bagian mengaduk Fla vanila cair jika puding sudah dingin.
Seharian full kegiatan yang seru dari membuat Puding membuat Nasi liwet ayam goreng, menata pisang di atas nasi liwet.
tibalah malam bersiap ke Masjid sudah ramai semua Santri dan orang luar juga ke Masjid pesantren ber bondong bondong.
Aku juga ke masjid dan ingin mendengar Fattah ceramah. kalo Hamdan bagian jadi Imam sholat Nisfu.
...
Next?
semangat tor