Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal Bahaya
Malam di Jalan Bunga tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya neon berwarna merah jambu dan biru elektrik berpendar dari papan-papan nama kafe remang-remang, menciptakan suasana halusinasi yang memabukkan. Angin malam membawa campuran aroma parfum murah, asap rokok, dan bau alkohol yang menyengat.
Pengunjung, baik wajah-wajah lama yang sudah kecanduan maupun pendatang baru yang sekadar penasaran datang dengan tujuan yang sama: mencari hiburan instan di balik senyum para "bunga" yang menjajakan diri di teras-teras rumah.
Manda, salah satu primadona di blok itu, sedang duduk di sebuah kursi rotan bersama seorang laki-laki. Pria itu tampan, dengan setelan pakaian yang harganya mungkin setara dengan penghasilan Manda selama setahun.
Manda mengeluarkan seluruh pesona dan keterampilannya. Sentuhan halus di lengan, tawa yang manja, hingga tatapan mata yang seolah memuja. Namun, ia segera menyadari bahwa umpan yang ia tebar tidak sepenuhnya dimakan.
Laki-laki itu, meski membiarkan tangannya menyusuri pinggang Manda, justru membuka pembicaraan yang membuat dahi Manda berkerut. Pembicaraan itu bukan tentang kecantikannya, melainkan tentang Gisel.
"Tuan, Anda mungkin tidak tahu," sahut Manda, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil tetap mempertahankan senyumnya.
"Gisel berbeda dengan kami. Dia itu anak rumahan yang dijaga ketat oleh Om-nya. Dia tidak tahu apa itu gemerlap malam, dan dia tidak akan pernah mencicipi nikmatnya 'pekerjaan' di jalan ini."
"Bisa seperti itu?" Laki-laki itu menyesap minumannya, matanya menyisir rumah-rumah di sekitarnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Setahuku, di lingkungan seperti ini, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Termasuk dirimu, yang memilih putus sekolah untuk menekuni profesi ini."
"Gisel itu aneh, Tuan. Dia lebih suka belajar dan menghabiskan waktu dengan tumpukan buku daripada dengan manusia," jawab Manda, sedikit ketus.
"Bukankah profesimu juga termasuk proses belajar? Belajar tentang keinginan manusia?" Laki-laki itu menyeringai.
Manda mulai merasa bosan dan sedikit terhina. Ia menggerakkan jemarinya, menyisir dada bidang pria itu dengan gerakan menggoda.
"Sudahlah, Tuan. Apakah Anda hanya akan terus membicarakan bunga tanpa nama itu dan mengabaikan aku yang sudah siap mekar ini?"
Laki-laki itu tertawa rendah. Ia segera menyambar tubuh Manda, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang kasar sementara tangannya mulai bergerak liar di bawah cahaya lampu teras yang temaram.
Bermesraan di teras adalah pemandangan biasa di Jalan Bunga, atau sejenis etalase untuk menarik minat pelanggan lain. Namun, ada aturan tak tertulis yang dijaga ketat untuk menjaga martabat semu wilayah itu. Dan malam itu, semua yang terjadi tidak luput dari pengamatan Om Arman.
Sang penguasa Jalan Bunga itu duduk santai di kursi kayu teras rumahnya, sekitar sepuluh meter dari posisi Manda. Ia menyesap puntung rokoknya, matanya tajam mengawasi setiap pergerakan.
Di sudut-sudut gang, anak buahnya berdiri tegap, memastikan bahwa transaksi berjalan lancar tanpa ada keributan atau aparat yang melintas.
Tante Ira, yang duduk di samping Arman, awalnya tampak acuh. Namun, tiba-tiba matanya membelalak. Ia menyenggol lengan suaminya. Arman mengikuti arah pandangan istrinya dan seketika berdiri. Darahnya mendidih.
Manda, dalam keadaan kehilangan kendali akibat gairah atau mungkin pengaruh alkohol, membiarkan laki-laki itu melucuti pakaian bagian atasnya di tempat terbuka. Kulit putihnya terpapar cahaya lampu jalan, sebuah pemandangan yang melanggar hukum privasi yang ditetapkan Arman.
"Manda!" Suara Arman menggelegar, membelah kebisingan musik dari kafe sebelah.
Manda tersentak. Kesadarannya kembali seperti disiram air es. Ia segera menarik kain untuk menutupi tubuhnya, wajahnya pucat pasi. Namun, laki-laki di hadapannya tetap duduk dengan tenang. Ia bahkan tidak beranjak, seolah kehadiran Om Arman hanyalah angin lalu.
"Apa kamu lupa peraturan yang aku buat?" tanya Arman, suaranya rendah namun penuh ancaman.
Matanya tertuju pada Manda, namun aura kemarahannya diarahkan pada si pria asing.
"Maafkan aku, Om. Aku... aku tidak sengaja," jawab Manda dengan suara bergetar.
Ia tahu benar, siapa pun yang melanggar aturan Om Arman akan menerima akibat yang fatal. Bisa diusir, atau lebih buruk lagi.
"Bukankah peraturan memang dibuat untuk dilanggar?" tanya laki-laki itu dengan nada yang sangat santai.
Ia menyalakan rokoknya sendiri, lalu mengembuskan asapnya tepat ke arah wajah Om Arman.
Anak buah Om Arman mulai bergerak mendekat, tangan mereka sudah berada di balik pinggang.
Sebagai preman yang kenyang pengalaman, Om Arman tahu pria ini bukan orang sembarangan. Keberanian yang setenang itu biasanya datang dari uang atau kekuasaan yang sangat besar. Om Arman tersenyum kecut.
"Tidak masalah jika peraturanku tidak kamu hiraukan," kata Arman sambil menatap pria itu dalam-dalam.
"Tapi yang pasti, malam ini bisa jadi kesempatan terakhirmu menginjakkan kaki di jalan ini."
Laki-laki itu tidak membalas. Ia hanya menatap Arman dengan pandangan hampa, lalu kembali berpaling pada Manda. Manda hanya bisa terdiam, membenahi pakaiannya dengan jemari yang masih gemetar.
Laki-laki itu berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Namun, saat ia bersiap melangkah pergi, Manda yang entah karena butuh uang atau sekadar ingin menuntaskan apa yang sudah dimulai menarik lengannya.
"Tuan, Anda belum menyelesaikannya," rengek Manda, kembali memamerkan daya tariknya.
"Aku sudah kehilangan selera," jawab pria itu dingin.
Namun, Manda tidak menyerah. Tangannya bergerak berani, menyentuh bagian sensitif pria itu di balik celananya.
"Tapi juniormu sepertinya masih menginginkannya."
Sentuhan itu seolah membangunkan singa yang sedang tidur. Pria itu mengumpat pelan, lalu dengan gerakan kasar menyambar rambut Manda dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Pintu dibanting dan dikunci dari dalam. Kali ini, Manda memastikan tidak ada aturan lagi yang dilanggar secara visual, meski ia tahu ia sedang bermain api dengan pria yang berbahaya.
Di teras rumahnya, Om Arman kembali duduk dengan perasaan tidak tenang.
"Kamu kenal laki-laki itu?" tanya Arman pada Tante Ira.
Ira mengangguk perlahan, wajahnya tampak pias di bawah lampu.
"Aldi Sanjaya."
"Keluarga Sanjaya yang... itu?" tanya Arman memastikan.
Ira mengangguk lagi. Arman mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pantas saja pria itu tidak takut padanya. Keluarga Sanjaya adalah penguasa bayangan di Kota Fauna. Mereka memiliki saham di bank, properti, hingga kontrol atas birokrasi.
Jalan Bunga sendiri bisa tetap eksis selama bertahun-tahun sebagian besar karena perlindungan tertutup dari keluarga itu karena mereka sering menggunakan jasa "bunga-bunga" di sini untuk menjamu tamu-tamu politik mereka.
Alarm bahaya berbunyi nyaring di kepala Arman. Mengapa seorang Sanjaya datang ke sini?
Arman segera berdiri dan masuk ke dalam rumah. Ia melangkah menuju kamar Gisel yang berada di bagian paling belakang.
Ia berdiri di depan pintu kayu itu selama beberapa saat. Ketika melihat celah di bawah pintu sudah gelap, ia mendesah lega. Gisel sudah terlelap, aman dalam dunianya yang murni dan tak tersentuh.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun memetik bungaku sebelum ia benar-benar mekar," gumam Arman pada kegelapan koridor.
Firasatnya mengatakan, badai besar sedang menuju ke arah Jalan Bunga. Dan kali ini, lawan yang dihadapinya bukan sekadar preman pasar, melainkan raksasa yang bisa meratakan seluruh hidup mereka dalam satu kedipan mata.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏