Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soal Adipati
Suci berkata,
"Hagia itu orangnya memang baik ke semua orang, Lea. Jadi jangan salah sangka, sampai merasa diistimewakan. Aku bilang begini karena tidak mau kamu kecewa nantinya. Soalnya Mas Hagia itu banyak fansnya, banyak cewek-cewek yang suka sama dia (termasuk dirinya). Dan Mas Hagia punya prinsip yang kuat soal batasan. Dia nggak bakal membiarkan dirinya terlalu dekat sama orang baru sebelum dia benar-benar yakin orang itu punya niat yang tulus."
Azalea menyandarkan punggungnya ke tiang kayu pendopo yang terasa dingin. Peringatan Suci itu cukup menyita atensinya. Hagia memang sosok yang sulit ditebak. Gerak-geriknya tenang, bicaranya tertata, dan kebaikannya terasa natural tanpa dibuat-buat. Namun, Azalea memilih untuk tidak ambil pusing. Baginya setiap orang punya hak untuk bersikap baik, dan ia pun punya hak untuk tidak baperan. Hidup sudah cukup rumit dengan urusan perjodohan tanpa harus ditambah dengan drama perasaan yang tidak perlu.
Matahari mulai merosot ke ufuk barat, meredup menuju kegelapan. Azalea fokus menatap layar ponselnya, jarinya sesekali mengusap layar dengan serius. Latihan alat musik tradisional yang ia jalani beberapa jam ini sudah usai, meninggalkan rasa pegal di jemari tapi ada kepuasan tersendiri di batinnya.
Langkah kaki yang ringan terdengar mendekat. Itu Hagia. Pria itu datang membawa nampan makanan dan dua gelas minuman hangat. Mengetahui itu, Azalea segera meletakkan ponselnya, membenarkan posisi duduk, dan menyambut Hagia dengan senyum tipis.
"Terima kasih ya, Kak, atas jamuannya. Jadi merepotkan."
"Sama-sama, Lea. Dimakan selagi hangat. Di sini kalau sudah malam udaranya cepat sekali dingin."
Azalea mulai menyantap makanan itu pelan-pelan, meresapi rasanya. Suapan pertama langsung membuatnya manggut-manggut. Rasanya enak, dan cocok di lidah Azalea. Hagia juga mulai makan. Keduanya makan bersama dalam keheningan.
Dalam diamnya, pikiran Azalea tiba-tiba berkelana. Ia merasa tidak enak hati. Sejak menginjakkan kaki di desa ini, ia merasa terus-menerus menjadi pihak penerima. Harus ada sesuatu juga yang ia berikan. Itu juga salah satu dari prinsip hidupnya.
Gue kasih apa ya? Soal makanan, kalau bukan beli, mana gue bisa bikinnya. Masak air aja kadang pancinya gosong, batin Azalea miris.
Dan beberapa hari di desa, Azalea sadar ternyata ia sebagai manusia masih banyak kurangnya. Dia pikir dengan kehidupan yang dijalani dikota, sudah cukup mumpuni. Tapi ternyata belum ada apa-apanya.
Disela-sela mikir apa yang sekiranya diberikan kepada orang lain sebagai hadiah dan ucapan terimakasih selain dengan uang, Azalea matanya menangkap eksistensi Adi. Benar kata Suci, di tempat seperti ini, Adi bakal cosplay jadi tukang parkir. Laki-laki itu hanya sebatas di parkiran sana, tidak berani sampai masuk ke sanggar.
Azalea yang kaget jadi tersedak. Batuk-batuk, lalu Hagia menyurukan minuman ke Azalea. "Pelan-pelan, Lea. Ini minum dulu." Azalea meneguknya dengan tatapan mata yang masih tertuju ke Adi, yang mana lelaki itu malah dadah i love you ke Azalea.
Hagia mengikuti arah pandang Azalea. Saat tahu apa yang membuat Azalea gusar, Hagia menghela nafas lalu meneguk minumnya. Ia pun bersuara,
"Saya penasaran, kenapa kamu bisa bersinggungan dengan Adi?"
Azalea menoleh, "Ceritanya panjang sekali, Kak. Tapi masih bisa disingkat. Singkatnya begini, aku sengaja datang ke sini untuk melabrak orang yang mau dijodohkan denganku. Rencananya aku mau bikin dia ilfeel, biar dia sendiri yang minta perjodohan itu batal ke orang tuaku. Tapi makin ke sini, aku makin bingung. Sikapnya sama sekali nggak mencerminkan kriteria menantu yang diinginkan ayahku. Kayak... nggak percaya aja, kok bisa Ayah mempercayakan aku pada orang kayak begitu?"
Hagia terdiam cukup lama. Ia tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu, mencari kata-kata yang paling tepat agar tidak terdengar menghakimi namun tetap menyuarakan kebenaran.
"Kalau kamu merasa salah orang, itu artinya ada hal yang kamu tidak yakini dan hanya mengira-ngira. Apakah nama, alamat, dan informasi lain yang kamu pegang sudah benar-benar sesuai?"
"Nah, itu dia masalahnya. Aku cuma berbekal nama Adipati. Tapi kesalahanku adalah, saat sampai di desa ini, aku menanyakan hal itu kepada Pak RT. Aku bilang aku mencari Adi yang sedang dijodohkan padaku. Dan Pak RT langsung mengarahkan aku ke orang itu."
Hagia sedikit tersentak kecil mendengar nama itu. "Yang dijodohkan kepadamu namanya Adipati?"
"Iya, Kak,"
"Adipati saja? Atau ada nama lengkapnya?" Entah kenapa ia merasa terpanggil saat Azalea sebut nama Adipati. Soalnya nama belakangnya sendiri adalah Adipati.
"Tahunya itu saja. Nggak tahu ada nama lengkapnya atau tidak. Ayahku malah menyuruh cari informasi lebih lanjut ke Pak Lurah di sini. Pokoknya ceritanya ajojing lah, Kak. Banyak dramanya kalau dijabarkan satu-satu," keluh Azalea.
"Saya yakin kamu salah orang, Lea. Soalnya... Adi yang sering mengganggu kamu itu bukan Adipati. Namanya Adi Riyanto. Dia memang asli sini, tapi di desa ini dia terkenal banyak tingkah dan sering membuat masalah kecil. Itulah kenapa orang-orang cenderung menghindari bersinggungan dengannya."
Azalea berdecak keras, tangannya menepuk dahi. "Tuh kan! Beneran salah orang! Duh," ia merutuki kecerobohannya. "Kalau begitu, fix aku harus segera ketemu Pak Lurah. Aku butuh kejelasan siapa Adipati yang sebenarnya. Kak Hagia, mau kan bantu tunjukkan rumah Pak Lurah?"
Hagia mengangguk pelan. "Bisa. Tapi tidak sekarang. Pak Lurah sedang ada urusan dinas ke luar kota, lusa baru pulang. Begitu beliau kembali, saya sendiri yang akan mengantar kamu ke sana."
Azalea mengangguk setuju.
"Lalu malam ini kamu mau pulang ke rumah Pak RT?" tanya Hagia.
Azalea menggeleng. "Nggak, aku nggak balik ke sana lagi. Tadi sebelum ke sini aku sudah pamitan. Pakaian dan semua barang sudah aku taruh di mobil. Aku nggak mau merepotkan keluarga Pak RT lagi, apalagi setelah Adi tahu aku tinggal disana."
Bagi Azalea, urusan tidur dalam dua hari ke depan bukan masalah besar. Mentalitas anak kota yang mandiri muncul kembali. Ia berpikir tidur di dalam mobil pun jadi, asalkan ada tempat parkir yang aman.
Namun Hagia tampaknya tidak setuju dengan ide itu. "Jangan tidur di mobil. Tidak aman dan tidak nyaman untuk perempuan sendirian. Di dekat sini ada semacam bangunan asrama atau guest house sederhana. Biasanya digunakan untuk anak-anak mahasiswa yang sedang KKN atau tamu sanggar. Tempatnya bersih, layak, dan ada penjaganya. Kamu bisa punya teman bicara di sana, sekaligus pengalaman baru. Mau?"
Lagi-lagi, Azalea merasa tersentuh. Gue lagi yang dikasih bantuan, batinnya. Ia sempat ingin menolak karena merasa tidak enak hati terus-menerus dibantu, namun Hagia bersikukuh. Tatapan pria itu sangat meyakinkan, seolah memastikan bahwa keamanan Azalea adalah prioritasnya saat ini. Akhirnya, Azalea mengangguk setuju.
Hagia tampak bernapas lega. Ia segera bangkit dan membantu Azalea mempersiapkan kepindahannya ke asrama tersebut. Dan ketika mereka sampai di sana, mata Azalea membelalak. Tempatnya jauh lebih nyaman dari yang ia bayangkan. Saat Hagia berpamitan untuk membiarkannya istirahat, Azalea berdiri di ambang pintu kamarnya yang baru. Ia melihat punggung Hagia yang menjauh.
Ingat Lea, dia memang baik kepada semua orang. Jangan baper. Jangan sampai kamu jadi salah satu fans yang diceritakan Suci, Azalea membatin, mengulang-ulang kalimat itu sebagai mantra pelindung agar hatinya tidak goyah oleh kebaikan seorang pria yang banyak fansnya.
.
.
Bersambung.
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣