Sinopsis
Mitsugu dipindahkan ke dunia Naruto, menggunakan templat Namikaze Minato. Mitsugu ditugaskan untuk berperan sebagai putra Minato dari dunia paralel!
Sarutobi Hiruzen: {Kau putra Minato dari dunia paralel?}
Mitsugu: {Ya, jadi aku akan mengurus putra ayahku di dunia ini.}
Jiraiya: {Kau juga muridku di dunia itu? Hebat!}
Mitsugu: {Tentu saja, kau bahkan mengajariku Rasengan!}
Naruto: {Kau kakakku…}
Mitsugu: {Ya, aku kakakmu. Panggil aku Mitsugu-nii mulai sekarang.}
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayang_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namikaze Mitsugu (9)
Namikaze Mitsugu (9)
{Aku hanya ingin bertanya padamu. Apa kau bisa membuka segel? Misalnya membuka segel untuk membebaskan Rubah Ekor Sembilan?} Hiruzen menatap langsung ke mata Mitsugu.
{Aku tidak bisa melakukannya, Hokage-sama. Ayahku tidak pernah mengajarkannya padaku... atau lebih tepatnya, akulah yang tidak ingin mempelajarinya.}
{Jadi begitu...} Hiruzen mengisap rokoknya, merasa lega atas jawaban yang diberikan Mitsugu. {Bagaimana dengan Naruto? Apa kau sudah bertemu dengannya?}
Mitsugu mengangguk.
Mitsugu tahu pria tua ini telah lama mengawasi dirinya dan Naruto.
{Aku kasihan padanya. Hidupnya sangat buruk. Ck, aku benar-benar terkejut. Aku tidak menyangka di dunia ini, sosok seperti Ayahku justru memiliki anak yang hidupnya menjadi seperti itu...} Ekspresi Mitsugu dipenuhi kesedihan.
Hiruzen tercekat.
Dadanya terasa sesak, namun ia menarik napas dalam-dalam dan tetap memaksakan diri untuk tampil tenang.
Hiruzen bangkit dari tempat duduknya, menatap pemandangan Konoha dari balik jendela.
{Dunia ini lebih rumit, Mitsugu...} Kedua tangan di belakang punggung. {Sejak Kyuubi mengamuk, orang-orang salah paham dan menganggap Naruto sebagai reinkarnasi Rubah Ekor Sembilan...} Hiruzen berbalik dan menatap Mitsugu. {Namun aku yakin Naruto bisa mengatasinya. Dia anak yang kuat. Kehendak Api menyala di dalam jiwanya.}
Hiruzen pun mulai memberikan ceramah panjang tentang Kehendak Api. Ucapannya terdengar tegas dan penuh keyakinan, menekankan bahwa mengutamakan desa di atas kepentingan diri sendiri adalah wujud sejati penduduk Konoha.
Mitsugu hanya menatap dengan wajah serius. Bagi orang lain, ia tampak seolah mendengarkan dengan saksama hingga akhir.
Namun kenyataannya, semua itu hanya masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.
{Kehendak Api bukan sekadar kata-kata, Mitsugu. Keyakinan! Desa ini hidup karena pengorbanan mereka yang datang sebelum kita! Selama api itu menyala, Konoha tidak akan runtuh! Anak-anak adalah masa depan desa! Melindungi mereka berarti melindungi hari esok! Naruto adalah salah satunya... Dia adalah anak Konoha yang memikul beban yang bahkan orang dewasa pun tak sanggup menahannya! Jika kita meninggalkannya, maka api itu padam... Dan saat Kehendak Api padam, desa ini hanyalah kumpulan bangunan tanpa jiwa...} Hiruzen merasa sedikit haus.
Mitsugu terdiam.
(Sungguh aneh! Semua yang dikatakan tidak masuk akal! Bah! Bah! Bah! Hanya orang bodoh yang akan tersulut emosi penuh semangat oleh kata-kata yang tidak jelas itu... Kehendak Api...?)
Mitsugu kemudian mengangguk, seolah membenarkan semua yang dikatakan Hiruzen.
{Hokage-sama memang sangat bijaksana, sama seperti yang kukenal. Benar, Kehendak Api ini sama seperti yang pernah kudengar di duniaku. Hokage-sama di duniaku juga memiliki Kehendak Api yang tak kalah kuat seperti ini.}
Mitsugu tersenyum ramah.
Hiruzen merasa gembira.
Senyuman di wajahnya tak bisa disembunyikan.
Hiruzen tak menyangka bahwa dirinya yang lain di dunia berbeda juga berbicara tentang Kehendak Api.
{Bagus, bagus sekali!} Hiruzen menepuk pahanya sendiri dia sangat bahagia!
Setelah memastikan.
Hiruzen menyuruh Mitsugu pergi, Hiruzen pun tidak lagi takut jika masalah tidak terduga muncul.
Mengingat semua yang sebelumnya dikatakan Danzo tidak membuat Hiruzen merasa khawatir.
Dalam perjalanan pulang, Namikaze Mitsugu merasa sedikit pusing disertai sakit kepala.
Mendengar semua ucapan yang tidak jelas berkedok Kehendak Api membuat kepalanya semakin berat. {Hah...}
Kehendak Api versi Hiruzen terasa terlalu kuat. Mitsugu sampai pusing mendengarnya, jika ia tidak segera pergi, telinganya bisa saja berdarah.
mantap 👍👍👍👍👍