"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Bayang Pedang Dan Penghambaan Sang Pendekar
Di saat tragedi berdarah sedang berlangsung di dasar beton basement benteng, bayangan lain tengah berkelebat di antara rimbunan pohon pine yang basah oleh embun malam.
Saeko Busujima bergerak seperti hantu di tengah kegelapan hutan pegunungan. Langkah kakinya sangat senyap, hampir tak meninggalkan jejak di atas tumpukan daun kering. Tidak seperti Takashi Komuro, Shido Koichi, dan yang lainnya yang dibutakan oleh rasa panik serta kelaparan, Saeko telah memisahkan diri dari rombongan SMA Fujimi beberapa jam sebelum mereka nekat merayap ke terowongan pembuangan air milik Thomas.
Sebagai putri dari ahli bela diri Kendo legendaris dan seorang petarung sejati, insting Saeko telah memperingatkannya dengan sangat keras.
Ia telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Thomas mengeksekusi beruang mutan Tier 2 di pondok kayu. Pria itu bukan sekadar manusia yang kuat—ia adalah predator puncak yang telah melampaui logika spesies manusia. Menyusup ke dalam bentengnya melalui terowongan drainase tua seperti yang direncanakan Shido bukanlah bentuk keberanian, melainkan tindakan bunuh diri yang luar biasa konyol dan kotor.
"Mereka yang tidak memahami perbedaan kekuatan hanya sedang mengantarkan nyawa secara sia-sia," gumam Saeko lirih, suaranya halus namun dingin.
POV Saeko: Perjalanan Menuju Rumah Keluarga Busujima
Sebelum melangkah menuju benteng Thomas untuk menyerahkan takdirnya, Saeko memilih untuk menempuh perjalanan berbahaya sendirian kembali ke kediaman keluarganya yang terletak di pinggiran distrik tradisional Fujimi.
Di tengah malam yang mencekam, Saeko menerobos barisan zombie dengan kelincahan yang luar biasa. Ia merayap lewat atap-atap rumah tua, menghindari kerumunan mayat hidup, dan akhirnya berhasil menembus pagar kayu Dojo milik keluarganya yang telah sepi dan berantakan.
Di dalam ruangan doa keluarga yang gelap dan beraroma kayu cendana bercampur darah kering, Saeko berlutut di depan altar. Matanya menatap sebuah kotak kayu pernis hitam berukir naga yang tersimpan rapi di balik dinding rahasia.
Ia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah Katana pusaka keluarga—Meito: Muramasa, sebuah bilah pedang baja lipat kuno yang ditempa dengan kualitas tertinggi, memancarkan aura dingin yang menggidikkan kulit.
Saeko mengambil pedang tersebut, mengikatkan sarungnya yang berwarna hitam emas ke pinggangnya, lalu menyapukan jemarinya di atas kayu halus saya (sarung pedang).
Di dunia baru yang telah hancur ini, pedang kayu (bokken) milik sekolah tak lagi cukup. Ia butuh sebuah persembahan berharga—sebuah bukti nilai dirinya sebagai seorang petarung.
Namun, Saeko sangat realistis. Ia paham betul bahwa sebilah pedang pusaka dan kemampuan Kendo tingkat mahir miliknya tidak akan pernah cukup untuk mengalahkan Thomas. Pria itu bisa meremukkan beton dengan tangan kosong dan memulihkan lukanya dalam hitungan detik. Bertarung menentangnya adalah kebodohan mutlak.
Di bawah tirai malam yang dingin, Saeko mengambil sebuah keputusan besar yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Harga diri sebagai putri bangsawan, reputasi sebagai pahlawan sekolah, dan kebebasan pribadinya... semua itu adalah kemewahan dunia lama yang harus ia buang ke tong sampah. Di dunia baru yang dikuasai oleh hukum rimba ini, hanya ada dua pilihan bagi yang lemah: mati mengenaskan sebagai bangkai, atau menghambakan diri kepada sang penguasa terkuat.
Saeko memilih untuk hidup. Dan untuk hidup, ia siap berlutut, menyerahkan pedangnya, tubuhnya, serta jiwa dan raganya untuk menjadi pelayan maupun budak setia bagi Thomas.
Kembali ke Basement Benteng: Berlutut di Bawah Sang Penguasa
THUD!
Di dalam basement benteng, aura kematian begitu pekat. Mayat Shido Koichi yang lehernya patah tergeletak tak bernyawa di sudut ruangan. Takashi Komuro terkapar memegangi dadanya yang memar parah, sementara Saya Takagi dan Kohta Hirano menangis gemetar di lantai beton, menatap tangan chitin Thomas yang berselimut warna hitam keemasan dengan rasa takut yang tak terlukiskan.
BZZZT... KRAAAK.
Mendadak, pintu baja darurat di sisi atas basement—akses langsung dari luar perimeter—terbuka perlahan.
Thomas memiringkan kepalanya sedikit. Lapisan chitin di tangan kanannya menyusup kembali ke bawah kulitnya saat ia menoleh ke arah tangga atas.
Dari balik pintu tersebut, Saeko Busujima melangkah turun secara perlahan.
Gadis berambut ungu itu tidak datang dengan posisi bertarung. Pakaian seragam sekolahnya yang robek telah berganti dengan pakaian latihan hakama tradisional yang rapi. Di tangan kanannya, ia memegang Katana pusaka keluarga Busujima yang terbungkus kain sutra.
Tak ada ketakutan yang konyol di matanya, tidak ada histeria seperti Saya, dan tidak ada keangkuhan sia-sia seperti Takashi. Yang ada hanyalah kepatuhan dan kepasrahan mutlak dari seorang ksatria yang mengenali tuannya.
Di depan mata Takashi dan kawan-kawannya yang terbelalak tak percaya, Saeko melepaskan Katana di tangannya, meletakkannya di atas lantai beton di depan kaki Thomas, lalu berlutut perlahan.
Saeko menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai beton yang dingin tepat di depan sepatu bot Thomas—sebuah gestur penghambaan paling murni dalam tradisi kuno.
"Aku tidak datang untuk bertarung, Tuan Thomas," suara Saeko bergema halus, teratur, dan dipenuhi kepasrahan yang mendalam di dalam ruangan yang sunyi itu. "Kelompok yang tak berguna di belakangku ini telah memilih jalan kehancuran mereka sendiri karena kebodohan mereka."
Saeko merentangkan kedua tangannya di lantai, tetap menunduk kaku tanpa berani menatap mata Thomas.
"Pedang ini adalah pusaka tertinggi keluargaku, dan tubuh serta jiwaku adalah milikku yang tersisa," lanjut Saeko dengan kepasrahan yang dingin. "Jadikan aku budakmu, pelayanmu, atau pedang lapismu. Aku bersedia menyerahkan seluruh hidup, kesetiaan, dan kehormatanku untuk melayanimu... asal Tuan berkenan memberiku tempat untuk bernapas di sisimu."
Takashi Komuro yang tergeletak di lantai mendadak melupakan rasa sakit di dadanya. Matanya terbelalak hebat, hatinya bagaikan dihantam petir mendengar kata-kata dari gadis yang paling disegani dan dihormati di sekolah mereka.
"S-Saeko...? Apa yang kau lakukan?!" jerit Takashi dengan suara serak bercampur darah. "Kau... kau berlutut pada pria jahat ini?! Di mana harga dirimu?!"
Saeko bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Takashi. Bagi Saeko, teriakan Takashi hanyalah cicitan anak kecil yang belum dewasa dan tidak memahami realitas kiamat.
Thomas menatap Saeko yang berlutut pasrah di kakinya. Senyum tipis, dingin, dan penuh kemenangan terukir perlahan di sudut bibirnya.