Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Tanah Pasir Roh terasa dingin saat berada dalam genggaman, tanpa memperlihatkan keistimewaan apa pun. Qin Shang pun tidak merasakan adanya aliran energi dari benda itu.
Ia memasukkan Tanah Pasir Roh tersebut ke dalam sebuah tabung jarum suntik berukuran sangat kecil.
Saat penuh, tabung itu hanya mampu menampung sekitar tiga gram, tepat sama dengan target kerja harian.
Qin Shang menuangkan Tanah Pasir Roh ke dalamnya, tetapi isinya baru memenuhi sekitar seperempat tabung.
Setelah memperkirakan jumlahnya, ia menyimpulkan bahwa dirinya harus bekerja sekitar delapan jam untuk memenuhi target harian.
Tentu saja, jika sekali angkut ia membawa lebih banyak serpihan Batu Qianjun dan berani masuk lebih jauh ke sungai bawah tanah, waktu yang dibutuhkan pasti bisa dipersingkat.
"Lebih baik lihat situasinya dulu. Jangan gegabah."
Qin Shang pun kembali bekerja.
Di tengah pekerjaan, area penambangan Pasir Roh menyediakan makan siang.
Itu adalah makanan pertama yang disantap Qin Shang sejak tiba di Dunia Xuanwu. Selama sebulan terakhir, setiap hari ia hanya bertahan hidup dengan Sup Peningkat Darah.
Hidangan yang tersedia sangat melimpah. Berbagai lauk daging disajikan sepuasnya, hanya saja tidak ada nasi.
Lin Kai memang sudah kelaparan. Begitu melihat makanan, ia langsung mengambil semangkuk besar dan mulai menyantapnya dengan lahap.
Qin Shang pun tak kalah rakus.
Semasa di Bumi, ia pernah mengalami gangguan rasa lapar yang berlebihan. Dua tahun hidup dengan kebiasaan makan dalam porsi besar membuatnya sangat menggemari makanan enak.
Selama sebulan terakhir, lidahnya benar-benar kehilangan selera.
"Enak sekali! Makanan di sini benar-benar luar biasa!"
Sambil terus makan, Lin Kai berkata, "Kau masih ingat Mei Me dari kelas kita, kan?"
Di benak Qin Shang segera terbayang sosok gadis yang dulu wajahnya dipenuhi jerawat. Namun, setelah rutin berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Matahari setiap hari, jerawatnya menghilang dan penampilannya berubah jauh lebih cantik.
Selain itu, ia juga cukup akrab dengan Su Yao, ketua kelas bagian akademik.
Sambil mengunyah sepotong daging, Qin Shang mengangguk.
"Tahu. Memangnya kenapa?"
"Bukankah keluarganya punya restoran? Masakan Mei Me juga lumayan enak. Dia berencana membuka rumah makan di Gunung Tianyuan dan menghasilkan uang dengan menjual masakan dari dunia kita. Tapi sekarang sepertinya mustahil. Masakan di sini jauh lebih enak daripada masakan di Bumi."
Qin Shang mengangguk kecil.
"Setiap daerah punya selera makan masing-masing. Masakan dari tempat lain memang tidak mudah diterima."
"Oh iya, ide Xu Wen malah lebih menarik."
Lin Kai terkekeh sebelum melanjutkan.
"Xu Wen bilang kalau nanti kemampuan bela dirinya sudah mentok, dia akan menulis Perjalanan ke Barat lalu menjualnya di Gunung Tianyuan untuk mendapatkan Poin Kontribusi. Tapi dia lupa menghitung satu hal, yaitu jumlah penduduk Gunung Tianyuan. Paling banyak cuma sekitar sepuluh ribu orang. Pasarnya terlalu kecil. Mana mungkin bisa hidup dari jualan buku? Aku sudah bilang begitu, tapi dia tetap tidak percaya. Katanya, selama bukunya bagus dan ada seorang dermawan besar yang menghargainya, dia bisa langsung sukses."
Qin Shang mengangguk.
"Kalau benar ada dermawan besar, nilainya memang jauh lebih besar daripada ribuan atau puluhan ribu pembeli biasa."
"Ketua kelas juga punya rencana. Katanya dia ingin mengumpulkan modal untuk membuka rumah makan besar. Nanti Xu Wen jadi pendongeng, sedangkan Mei Me menjadi kepala koki...."
Lin Kai terus mengobrol dengan Qin Shang hingga tak lama kemudian suara gong terdengar menggema.
Dang! Dang! Dang!
Semua orang segera kembali bekerja melanjutkan penyaringan Pasir Roh.
Menjelang pukul lima atau enam sore, Qin Shang dan Lin Kai akhirnya berhasil mengumpulkan tiga gram Pasir Roh.
Setelah menyerahkannya dan melewati pemeriksaan yang sangat ketat, barulah mereka diizinkan keluar dari gua.
Qin Shang kembali ke tempat tinggalnya. Sekitar setengah jam kemudian, Lu Chen juga pulang.
Begitu masuk, Lu Chen langsung menceritakan pengalaman kerjanya hari itu.
Pekerjaannya adalah memelihara hewan bernama Babi Batu, makhluk yang bentuknya menyerupai babi tetapi berukuran sebesar sapi. Karena hari itu merupakan hari pertamanya bekerja, ia mendapat tugas membersihkan kandang. Selama bekerja, ia berkali-kali ditanduk Babi Batu hingga sekujur tubuhnya dipenuhi memar.
"Awalnya kukira kita datang ke sini untuk berkultivasi, menjelajahi langit dan bumi, lalu hidup abadi. Siapa sangka malah berakhir jadi tukang ternak babi."
Sambil berbaring di atas tempat tidur, Lu Chen tiba-tiba bertanya,
"Qin Shang, menurutmu sekarang Su Yao dan Ye Han sedang apa? Mereka masuk ke Sekte Yunlan. Apa mereka sedang belajar teknik keabadian?"
Saat itu Qin Shang sedang menyiapkan makan malam.
Ia mengaduk masakan di dalam panci. Bahan utamanya adalah Ikan Pedang Kuning, sejenis ikan yang rasanya sangat lezat dengan harga yang juga terjangkau. Bahkan hanya direbus dengan air pun, rasanya sudah sangat nikmat.
Lu Chen terus berbicara.
"Aku bekerja di tempat yang sama dengan Zu Yue dari kelas kita. Katanya Wen Ren ditempatkan di Divisi Pembakaran Kayu, khusus mengurus pembakaran kayu."
"Pekerjaan seperti apa itu?" tanya Qin Shang penasaran.
Lu Chen bangkit dari tempat tidurnya.
"Masih ingat waktu Mo Si Pengulit membawa kita masuk ke sini? Ada orang hebat yang memikul sebatang kayu sambil menyeberangi jembatan rantai. Kayu itu namanya Kayu Roh Qinggang. Di dalamnya mengandung Pasir Roh Kayu. Tugas Wen Ren adalah memasukkan Kayu Roh Qinggang itu ke dalam tungku sampai habis menjadi abu. Gajinya lima puluh Poin Kontribusi setiap bulan."
"Coba pikir, enak sekali pekerjaannya, kan? Yang paling bikin kesal, Poin Kontribusinya hampir dua kali lipat darimu. Padahal kalau aku bukan petarung Tahap Peningkatan Darah, pekerjaan itu juga bisa kulakukan. Benar-benar cuma unggul sepuluh hari dalam menembus kultivasi, perlakuannya langsung jauh berbeda."
Qin Shang tidak menanggapi.
Berapa lama lagi aku bisa mencapai Tahap Peningkatan Darah Kedua? pikirnya sambil menghitung-hitung dalam hati.
Malam itu, Qin Shang kembali memasuki cangkang telur di alam mimpinya.
Benar saja, serangga kupu-kupu hitam itu masih tetap berjaga di mulut lubang cangkang telur dan belum juga pergi.
Qin Shang tidak merasa kesal.
Bagaimanapun, cangkang telur itu sudah berlubang. Ia masih bisa menyerap Energi Abadi dari luar. Kalaupun serangga kupu-kupu hitam itu pergi, ia tetap tidak berniat keluar dengan mudah sebelum memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi dirinya sendiri.
Qin Shang menyerap Energi Abadi segar sebanyak mungkin.
Keesokan paginya, saat Energi Abadi masih memenuhi tubuhnya, ia segera bangun dan menuju tepi sungai untuk berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Matahari.
Ma Haoran di seberang sungai juga sudah datang lebih dulu.
Keduanya saling mengangguk dari kejauhan sebagai salam, lalu kembali tenggelam dalam latihan masing-masing.
Setelah selesai berlatih, Qin Shang kembali bekerja.
Begitulah, setengah bulan berlalu begitu saja.
Dalam waktu setengah bulan, uang Lu Chen sudah habis. Ia juga tidak berhasil mendapatkan tambahan makanan, sehingga hanya bisa bersiap menahan lapar selama setengah bulan berikutnya.
Namun, Qin Shang telah lebih dulu meminjam satu keping emas dari Ma Haoran.
Berkat uang itu, mereka berdua berhasil melewati sisa setengah bulan tersebut.
Selama sebulan penuh, Qin Shang setiap hari menyerap Energi Abadi sambil terus berlatih. Ia merasakan kemajuan kekuatannya berlangsung sangat pesat. Bahkan, ia mulai merasakan tanda-tanda akan mengalami Peningkatan Darah sekali lagi.
"Cepat sekali."
Qin Shang tak bisa menahan rasa kagumnya.
Padahal selama ini ia tidak meminum satu mangkuk pun Sup Peningkat Darah, tetapi kemajuannya tetap secepat itu. Energi Abadi benar-benar luar biasa.
Dan memang benar.
Pada hari kelima puluh sejak Qin Shang tiba di Gunung Tianyuan, ketika pagi itu ia sedang berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Matahari di tepi sungai, tiba-tiba ia merasakan perubahan pada tubuhnya.
Ia segera duduk bersila.
Ma Haoran yang berada di seberang sungai memperhatikannya dengan heran. Langit masih gelap sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi pada Qin Shang.
Ia bahkan sempat mengira penyakit lama Qin Shang kambuh lagi.
Namun, belum genap tiga menit berlalu, Qin Shang sudah kembali berdiri.
Ia merasakan darah di dalam tubuhnya bergemuruh hebat, bagaikan ombak lautan yang sedang mengamuk.
Darah dan energinya telah mencapai tingkat yang benar-benar baru.
Sorot matanya pun memancarkan cahaya yang jauh lebih tajam.
Hanya dalam waktu sedikit lebih dari dua bulan, aku sudah mencapai Tahap Peningkatan Darah Kedua! Dengan bantuan Energi Abadi ini, sepertinya aku tidak akan butuh waktu lama lagi untuk mencapai Tahap Pembukaan Meridian!
Qin Shang tidak berniat mengungkapkan tingkat kultivasinya.
Bagaimanapun, laju peningkatan seperti itu terlalu mencengangkan. Jika sampai diketahui orang lain, pasti akan menimbulkan masalah.
Gunung Tianyuan dihuni oleh para makhluk abadi. Tidak ada yang bisa menjamin mereka tidak akan menyadari keberadaan Cacing Lapar di dalam tubuhnya. Itulah kartu truf terbesar yang dimiliki Qin Shang.
Karena itu, Qin Shang tetap menjalani hari-harinya seperti biasa dan terus bekerja setiap hari.
Memasuki bulan ketiganya di Gunung Tianyuan, pada suatu malam Lu Chen pulang membawa sebuah kabar.
"Wen Ren sudah berhasil menembus Tahap Peningkatan Darah Kedua!"