Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi Uduk Bu Minah
Mobil Andi berhenti di pinggir jalan kecil yang bahkan Google Maps kelihatan ragu buat ngasih nama—jalan sempit pinggirnya penuh rerumputan kering, dan satu-satunya tanda identitas adalah papan kayu luntur yang tertulis "Warung Uduk Bu Minah" cat kuning mengelupas tergosok angin.
Jam di dashboard menunjukkan 06.29 Matahari muncul malas tapi Jakarta sudah bangun setengah— seperti orang belum mandi mikirin cicilan KPR, tagihan listrik, atau deadline kerja harus selesai hari ini.
Angin pagi tipis, bercampur dengan bau asap dari pembakaran sampah di sudut jalan, dan aroma nasi uduk mulai meresap ke dalam mobil.
Di kiri jalan, lampu warung nasi uduk menyala kuning pucat—berpendar lembut, cukup terang buat menerangi panci besar di atas kompor arang, dan bangku plastik merah, biru, hijau yang disusun acak di depan warung.
Kombinasi warna masuk akal jam segini: ketika orang-orang masih kurang tidur, dan mata belum bisa membedakan warna uang dengan daun.
Andi mematikan mesin ditingkah suara kicauan burung kecil dari pohon jambu di pinggir jalan, dan suara motor orang yang mau ke kerja atau pulang dari shift malam.
“Ini… sarapan?” tanyanya, setengah ragu, setengah panik sempat membayangkan sarapan "aman": kopi take-away dari warung kopi di sudut jalan, duduk kaku di kursi mobil, foto cepat dengan senyum paksa, lalu selesai dalam 15 menit.
Bukan… ini. Bukan warung orang berbagi cerita pagi, bukan bangku plastik lengket karena sisa minuman kemarin, bukan pula ibu penjual kepo tahu rahasia dari satu pandangan.
Nayla melirik keluar jendela mengangguk. Matanya merah karena kurang tidur, tapi senyumnya lembut. “Iya. Favorit. Gue ering kesini pas pulang dari kerja malam.”
“Oh.” Andi menelan ludah. Lidahnya kering. Ia seperti anak balita diajak ke rumah hantu pasar malam.
Sarapan, bukan kegiatan orang asing, bukan bagian dari kontrak yang mereka buat.
Tapi Nayla sudah membuka pintu mobil, keluar dengan langkah yang tenang. “Ayo.”
suaranya ringan seolah-olah ini hal yang biasa membuat kaki laki laki itu terikat dengan sesuatu.
Mereka duduk berhadapan di bangku plastik lengket. Meja aluminium dingin penyok satu . Ibu penjual—berkerudung putih kusut, wajahnya ramah dengan kerutan di sudut mata, memandang mereka dengan senyum penuh tafsir.
“Berdua ya?” tanyanya, cepat, sambil mengusap tangan di apron kotor.
Andi refleks mengangguk. “I— iya.”
Nayla tidak membantah senyumnya sedikit membesar senang dengan kekakuan Andi.
“Paket komplit dua?” lanjut ibu itu. “Dengan telur balado, orek tempe, dan sambal merah?”
Andi hendak bicara, tapi Nayla sudah lebih dulu. “Iya, Bu. Yang satu nasi setengah.”
Ibu itu melirik Andi. “Masnya diet?”
Andi tersedak udara. Dia tidak pernah diet—cuma makan sedikit karena sering lupa sarapan, atau terlalu sibuk mikirin kerja. “Eh— iya. Diet… stres Bu..”
Ibu warung terkekeh hangat atas semua jenis alasan hidup manusia sejak subuh. “Ah, diet stres. Saya tahu. Banyak orang yang kesini dengan alasan itu. Nanti saya kasih sambal lebih banyak ya, biar stresnya hilang.”
Andi tertawa kecil, agak malu, ibu warung seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun, padahal ini pertama kalinya dia kesini.
Nasi dihidangkan 5 menit kemudian. Uduk hangat—panas meresap ke piring plastik, dan bau kelapa harum. Telur balado masih meleleh, orek tempe renyah, dan sambal merah baunya langsung membuat mata melek
Untuk beberapa detik, mereka hanya duduk. Diam, bukan diam canggung tapi aneh. Seperti dua orang terlalu cepat masuk ke zona domestik—seharusnya untuk orang-orang sudah dekat, bukan baru bertemu beberapa menit lalu.
Andi mengambil sendok sedikit gemetar. “Gue… eh, gue … jarang sarapan.”
Nayla mengaduk sambalnya pelan. Jari-jarinya tipis “Kelihatan.”
“Hah?”
“Orang jarang sarapan biasanya bingung memulai dari mana. Mau makan nasi dulu, telur, atau sambal?” Nayla menunjuk ke piringnya. “Coba makan nasi dengan telur dulu rasanya lebih hangat.”
Andi mengikuti menyendok nasi dengan telur balado, rasanya hangat sederhana dan nyata. Tidak seperti makanan di restoran mahal enak tapi tidak "hidup". Dadanya agak mengendur ketegangan yang dia rasakan sejak pagi tiba-tiba berkurang.
“Ini enak,” katanya jujur.
Nayla tersenyum kecil. “Makanya gue ajak ke sini tempat yang membikin orang merasa… ada.”
“Kok… bukan kopi?”
Nayla menatap nasi di depannya, “Kopi buat orang yang mau kelihatan santai, ingin tampak semuanya baik-baik saja. Sarapan itu buat orang capek butuh sesuatu nyata, bukan cuma tampilan.”
Andi terdiam kalimat itu mengena, karena dia selalu minum kopi agar terlihat santai, meskipun di dalam hati capek—capek kerja, capek hidup, capek sendirian.
Jakarta berjalan, pelan tapi pasti. Semua orang punya cerita sendiri, dan Andi baru saja masuk ke dalam cerita gadis itu.
Ibu warung melirik, “Pacaran lama ya?”
Andi tersedak sendok hampir terjatuh dari tangannya dan beberapa butir nasi tumpah ke meja. “Eh— bu, kami—”
Nayla mengangkat wajah, tenang tidak terkejut. “Belum lama, Bu.”
Belum lama.
Bukan “iya”
Bukan “bohong”
Tapi juga “bukan”.
Andi meliriknya kecut tapi Nayla tetap fokus ke nasi menyendok dengan orek tempe seolah-olah kalimat itu tidak ada artinya,
“Masnya kerja apa?” tanya ibu warung lagi gak henti.
“Saya ak—”
“Akun—” Nayla berhenti, lalu menoleh ke Andi. Matanya ada sedikit tanya. “Akuntan, kan?”
“Iya. Akuntan.”
“Pantes mukanya tegang, kerjaannya mikir terus, mikir uang, mikir laporan, mikir deadline. Tapi warung ibu jangan di pajakin nanti Ibu bungkusin nasi uduk”
" Eh ..tidak usah Bu." Andi tergagap melirik gadis didepannya, ia sadar satu hal yang bikin tenggorokannya kering. Nayla tidak sedang akting berlebihan, hanya… hadir tidak manja tidak lebay tidak menjual senyum seolah-olah ini rutinitas sungguhan.
Nayla menyeka tangannya dengan tisu “Kak Andi.”
“Iya?”
“Kita perlu foto bentar.”
" Untuk apa ?'
"'Kontrak."
ia mengangguk mengeluarkan ponsel sedikit gemetar. Layar ponsel berkedip,
Nayla mendekat satu langkah tidak menempel, tapi cukup dekat sampai dia bisa mencium aroma sabun—bukan parfum mahal
“Pegang tangan Nayla” ucapnya pelan lembut, tapi ada kepercayaan di dalamnya.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Ia menurut terasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya, tangan gadis yang mengaduk sambal, membuka pintu mobil, dan menepuk bahunya subuh tadi
Klik.
Satu foto.
Klik lagi.
Ibu warung menimpali menggoreng telur. “Cocok tuh. Muka Mas lebih hidup persis pegawai kantoran dapat gaji pertama dan Mbaknya cantik alami."
Andi tertawa canggung. “Hehe…” Dia melihat foto di ponselnya gadis itu tersenyum lembut, Mereka terlihat seperti pasangan ideal.
Nayla menarik tangannya pelan.“Udah, ah “Cukup. Foto itu bagus.”
"Bu, tambah satu dibungkus.”
“Buat Mbaknya?.
Andi refleks mengangguk. “Iya. Dia suka nasi uduk,”
Nayla menoleh kaget matanya membesar, "Ha?"
“Kalau lu lapar di tempat kerja nanti.”
Hening kecil jatuh di antara mereka. Bukan hening kosong. Hening hangat sesuatu yang tumbuh di antara mereka—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Terima kasih.”
Andi mengangguk.
Beberapa detik berlalu sebelum Nayla berkata pelan, “Kak Andi.”
“Iya?”
“Kita baru mulai. Jangan kebanyakan mikir. Semua akan berjalan dengan baik.”
“Gue… mikir terlalu banyak, Nay...ucapnya rintih, wajahnya berubah sendu, tentang kerja, masa depan, dan apakah gue cukup baik?”
“Makanya,” Dia bangkit mengambil tasnya dari bangku tersenyum lembut. “Gue siap ada membantu.”
Kalimat itu sederhana. Hanya empat kata. Tapi entah kenapa— di kepalanya terpatri bertahun-tahun. ''Nay....Laki laki itu tersendat, "kita kemana?"
" Oh ya, habis ini kita ke kantor."
Andi mengernyit jauh di dalam dadanya, sebuah alarm kecil berbunyi pelan awas. Ini bukan bagian dari kontrak lebih dari itu.