Kisah perjalanan cinta gadis tomboy yang di jodohkan dengan seorang pria yang ternyata seorang ketua mafia bernama Leonathan Nugroho. Dia adalah putra pertama dari pasangan Shandy Nugroho dan Merlin Syafira. Nathan itu terkenal dengan kekejamannya di dunia hitam. Bahkan dia juga sering di juluki dengan sebutan king dragon.
Gadis tomboy itu bernama Seinara horison dia adalah anak kedua dari Ardi horison dan Adelia Rasya. Seinara mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Abraham horison. Abraham lebih memilih untuk membangun bisnisnya sendiri di luar negeri. Sehingga dia jarang punya waktu untuk keluarganya, namun dia sangat menyayangi adik semata wayangnya yaitu Seinara. Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan sang adik, sepeti saat mendengar Seinara akan di jodohkan. Abraham adalah orang pertama yang menentang keras rencana tersebut. Namun apalah dayanya, dia tidak bisa mengubah keputusan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah kecil
Seinara memasuki kamarnya dengan wajah kesal, dia sangat kesal karena ulah Nita. Apalagi Nathan yang terlihat banyak diam, membiarkan asisten rumah tangganya terus memojokkan dirinya. Hal itu membuat Seinara semakin kesal.
"Sepertinya semua penghuni rumah ini hanya patuh sama Nathan saja. Gue nggak ada artinya berada di rumah ini. Huh... Bikin mood hancur aja, terus Nathan juga jadi cowok kenapa diam saja? Dia diam saja melihat istrinya di bully sama pembantunya! Tambah kesel banget gue!" Gerutu Seinara sambil menata barang-barangnya.
Di luar kamar, Nathan tersenyum mendengar gerutuan Seinara. Kemudian Nathan mengetuk pintu kamar Seinara. Ternyata Nathan sejak tadi berdiri dibalik pintu kamar Seinara. Jadi dia sudah mendengar semua gerutuan Seinara untuk dirinya.
Tok...
Tok...
Tok...
"Siapa?!" Seru Seinara dari dalam kamar.
"Saya, Nathan!" Jawab Nathan.
"Ngapain dia datang ke kamar gue?" Lirih Seinara bingung.
"Iya sebentar...!" Seru Seinara yang langsung berjalan menuju ke arah pintu.
"Ada apa?!" Tanya Seinara segera setelah membuka pintu kamarnya, dengan wajah jutek.
"Saya hanya ingin memberikan ini untuk kamu" jawab Nathan sambil memberikan sebuah kotak pada Seinara.
"Apa ini?" Tanya Seinara sambil menerima kotak tersebut.
"Sedikit hadiah sebagai tanda permintaan maaf dari saya" jawab Nathan.
Seinara pun membuka kotak tersebut, dan sedikit terkejut dan bingung melihat isinya.
"Gantungan kunci boneka? Apa maksud Nathan memberikan hadiah gantungan kunci ini?" Lirih Seinara dalam hati yang bingung, namun penasaran.
"Banyak sekali gantungan kunci boneka ini, eh tapi... Tunggu, apa maksudnya ini? Kenapa kamu tiba-tiba kasih hadiah saya beginian?" Tanya Seinara mengungkapkan rasa penasarannya.
"Nggak ada maksud apa-apa kok, saya ingin memberi kamu hadiah itu. Bukannya tadi kamu berantem sama si Nita gara-gara benda itu?" Jawab dan tanya Nathan jujur.
Seinara mengernyitkan dahinya, kemudian dia menghembuskan nafasnya dengan kesal. Karena ternyata Nathan sudah salah paham tentang kejadian beberapa jam yang lalu.
"Sepertinya kamu sudah salah sangka deh, tapi... Ya udah deh terimakasih untuk hadiahnya" Ucap Seinara sambil memaksakan senyumnya, dia tidak ingin memperpanjang masalah yang sudah lewat.
"Sama-sama, kalau gitu kamu istirahat saja. Saya juga harus kembali kerja" jawab Nathan.
"Iya" jawab Seinara singkat.
Kemudian Seinara menutup pintu kamarnya kembali, sedangkan Nathan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Tapi saat hampir sampai di ruang kerjanya, Nathan meminta bi Surti untuk membawakan makan siang ke kamar Seinara. Karena Nathan yakin kalau Seinara pasti belum makan siang.
"Bi Surti...!!" Teriak Nathan memanggil asisten rumah tangganya.
"Iya tuan...!" Jawab bi Surti sambil tergopoh-gopoh menghampiri Nathan.
"Iya ada apa tuan?" Tanya bi Surti ketika sudah berada di samping Nathan.
"Bi, tolong bawakan makan siang ke kamar Nara! " Jawab Nathan tegas.
"Nara...? Maksud tuan, nyonya Seinara?" Tanya bi Surti bingung.
"Iya dia, kenapa bibi bingung begitu?" Jawab dan tanya Nathan.
"Nggak apa-apa kok tuan hanya aneh saja panggilan kalian bikin bibi ingin ketawa" jawab bi Surti.
"Udahlah nggak perlu banyak tanya lagi, segera lakukan apa yang saya perintahkan tadi!" Tegas Nathan yang kemudian berlalu begitu saja.
Bi Surti tersenyum melihat sikap Nathan, karena selama ini Nathan memang terkenal dingin pada semua orang. Tapi entah kenapa sekarang bi Surti melihat ada yang berbeda pada Nathan.
"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kamu tuan. Bibi senang melihat perubahan kecil ini" lirih Bi Surti sambil tersenyum.
Bi Surti pun melakukan apa yang telah di perintahkan oleh Nathan. Dia berjalan menuju ke kamar Seinara sambil membawa nampan yang berisi makanan.
Tok...
Tok...
Tok...
"Duh siapa lagi sih!" Gerutu Seinara kesal.
"Nyah... Ini bi Surti. Bibi di perintah tuan untuk bawain makan siang untuk nyonya!" Ucap Surti setelah mengetuk pintu.
"Iya bi, sebentar!" Jawab Seinara yang kemudian berjalan menuju ke pintu dengan malas.
Sebenarnya Seinara ingin merebahkan tubuhnya, sebelum bertemu dengan sang kakak. Namun apalah dayanya, lagi-lagi ada orang yang mengganggu dirinya.
"Ini makan siangnya nyah, kata tuan nyonya belum makan siang. Jadi beliau menyuruh saya untuk mengantar makanan ini kesini" ucap bi Surti sambil tersenyum.
"Iya bi, terimakasih. Harusnya bibi nggak perlu repot-repot begini, karena saya udah makan siang tadi sebelum pulang" jawab Seinara berbohong.
Padahal dia langsung pulang setelah kelas selesai, karena dia ingin merapikan kamarnya.
"Bibi nggak repot kok nyah, lagi pula ini sudah menjadi tugas bibi di rumah ini" jawab bi Surti juga.
Bi Surti membawa masuk ke dalam kamar makanan tersebut, lalu meletakkannya di atas meja yang ada di sana.
"Kalau nyonya butuh sesuatu, panggil saja bi Surti. Bibi selalu ada di dapur, dan siap membantu nyonyah" ucap bi Surti setelah meletakkan makanan di atas meja.
"Iya bi, oh iya di rumah ini siapa yang biasa beresin kamar?" Jawab dan tanya Seinara.
"Yang biasa beres-beres itu Nita sama Lulu nyah. Memang kenapa ya?" Jawab dan tanya bi Surti segera.
"Nggak apa-apa kok bi, mulai besok kamar saya nggak usah di beresin. Karena saya yang akan membersihkan kamar ini sendiri" jawab Seinara tegas.
"Tapi nyah... Gimana nanti kalau tuan marah? Kita semua akan kena masalah dari tuan" protes bi Surti.
"Nanti saya yang akan ngomong sendiri sama tuan" jawab Seinara tegas.
"Baiklah... Kalau begitu bibi pamit ya, silahkan di nikmati makanannya" pamit bi Surti.
Setelah bi Surti pergi, Seinara menatap makanan yang tadi di bawa oleh Bi Surti. Seinara mencoba makan itu sedikit, namun sayangnya rasa makanan itu tidak cocok di lidahnya. Sehingga dia segera membereskan makanan itu dan membawanya kembali ke dapur.
"Bi...! Bi Surti...!" Seru Seinaa memanggil bi Surti.
"Iya...!" Jawab Bi Surti segera sambil berlari menghampiri Seinara yang sedang berdiri di ruang makan.
"Ada perlu apa lagi ya nyah? Kok makanannya nggak di makan? Apa masakannya nggak enak?" Tanya bi Surti beruntun.
"Enak kok bi, hanya saja saya nggak suka sama makanan yang ada daun bawangnya. Jadi maaf saya nggak bisa makan ini" jawab Seinara jujur.
"Oh... Begitu... Maaf ya nyah bibi nggak tau kalau nyonyah nggak suka sama daun bawang. Apa nyonyah punya alergi sama daun bawang?" Tanya bibi lagi.
"Bisa di bilang begitu bi, jadi tolong kalau masak buat saya jangan di kasih daun bawang" jawab Seinara.
"Kalau begitu biar bibi masakin lagi nyah, yang nggak pake daun bawang" ucap Surti merasa bersalah.
"Nggak perlu bi, karena sebentar lagi saya juga mau keluar untuk ketemu sama seseorang" tolak Seinara.
"Oooh..." Lirih bi Surti.
Tanpa mereka sadari, ternyata sejak tadi ada yang mendengarkan percakapan mereka. Orang itu tersenyum mendengar percakapan tersebut.
"Sepertinya kali ini aku punya ide untuk menyingkirkan perempuan berandal ini dari rumah ini. Aku nggak mau punya saingan untuk mendapatkan perhatian dari tuan Nathan. Enak saja, dia mau merebut tuan Nathan dari aku. Jangan mimpi!" Lirih perempuan itu sambil berlalu pergi.