Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benci
Winda terbangun sebelum alarm nya berbunyi.Matanya terasa panas, sebab menangis semalaman. Bantal di samping kepalanya masih lembap, rambutnya berantakan. Selimut masih melilit tubuhnya, namun dinginnya tetap merambat hingga ke dada. Napasnya pendek, tidak teratur, seolah tangis semalaman belum benar-benar berhenti meski air matanya sudah mengering.
Kelopak matanya bengkak, dan saat ia berkedip, rasa perih itu kembali mengingatkannya pada malam panjang yang nyaris tanpa tidur karena memikirkan semua ucapan ayahnya-Arman.
Ia memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ingatannya masih kabur, tapi perasaan takut itu belum pergi. Justru semakin jelas, semakin nyata.
Winda perlahan turun dari ranjang nya dan berjalan menuju pintu kamar. tapi ia terhenti saat memegang gagang pintu.
Dari balik pintu kamar yang tertutup rapat, suara pelan terdengar. Awalnya samar, seperti bisikan yang tertahan. Awalnya Winda mengira itu hanya sisa mimpi buruknya. Namun suara itu kembali terdengar, lebih jelas kali ini. Suara dua orang dewasa yang saling berbicara dengan nada ditekan.
Itu..Mama dan ayah.
Tubuh Winda menegang saat mendengar namanya di sebut. Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia menahan napas, mencoba mendengarkan setiap kata.
"Aku nggak setuju Winda dijodohkan," suara Priska terdengar lirih, namun jelas.
"Perjodohan itu sudah disepakati. Cepat atau lambat, dia harus nurut." jawab Arman tegas. Satu kata itu—perjodohan—jatuh begitu saja.
"Pernah nggak kamu tanya, apa yang dia mau?"
"Lagi pula, aku melakukan ini demi kebaikan keluarga ini." ucap Arman dengan nada dingin, tak menjawab pertanyaan Priska.
"Demi kebaikan keluarga ini?" ucap Priska sinis. Amarahnya tak lagi bisa ditahan.
"Kau hanya mementingkan dirimu sendiri! Kalau memang demi kebaikan keluarga ini, seharusnya kau tidak memaksa Winda!" suaranya meninggi.
"Kau membesarkan anak-anakmu dari kecil sampai dewasa, lalu setelah mereka dewasa kau ingin menjual mereka?! Setelah Winda siapa lagi? Raya?!Kau hanya memikirkan uang!" Priska terengah-engah karena berteriak, matanya memerah.
"Tidak," seru Arman dingin. "Hanya Winda. Aku akan membiarkan Raya menikah dengan pilihannya sendiri."
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras.
Di balik pintu kamar, Winda tak lagi sanggup menahan air matanya. Tangannya gemetar saat ia menggigit bibir, berusaha menahan isak agar tak terdengar sedikit pun.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?" suara Priska bergetar hebat. "Hanya Winda? Kau—"
Priska melangkah mendekat, menarik kerah baju Arman lalu mengguncangnya dengan amarah yang meluap. "Apa masalahmu dengan Winda sampai kau tega memperlakukannya seperti ini?!APA YANG SALAH DENGAN WINDA SAMPAI KAU INGIN MENJUALNYA?!" teriak Priska marah hingga dadanya terasa sesak. Dadanya naik turun menahan amarah agar tidak semakin meluap.
Tangannya masih mencengkeram kerah baju Arman, namun perlahan melemah saat pria itu sama sekali tidak melawan. Wajah Arman tetap dingin, seolah kata-kata barusan tidak menyentuh hatinya sedikit pun.
“Lepaskan.” ucap Arman singkat namun tegas.
Priska mundur selangkah, matanya menatap tajam. "Jawab aku," katanya dengan suara gemetar. "Kenapa hanya Winda?"
Arman terdiam. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah—bukan marah, tapi seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang terlalu lama disimpan.
"Dia anak pertamamu." Priska membalas cepat. "Dia sudah banyak berkorban. Tapi kenapa justru dia yang kau perlakukan seperti ini?"
Arman memalingkan wajahnya. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Justru karena dia anak pertama." ucapnya rendah. "Dia punya tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa? Kau membesarkan Winda… bukan sebagai ayah.Tapi sebagai orang yang menunggu balasan"
"Aku sudah memberi dia segalanya," kata Arman dingin. "Sekarang giliran dia untuk menurut."
Di balik pintu, Winda terpaku. Air matanya mengalir tanpa suara. Dadanya terasa sesak, kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tak berani ia ucapkan.
"Raya tidak ada hubungannya dengan ini," Arman melanjutkan. "Dia tidak terikat apa pun. Tidak seperti Winda."
"Terikat?" Priska mengulang, nyaris berbisik. "Anak macam apa yang kau anggap sebagai ikatan?"
Priska menatap Arman dengan mata merah, napasnya masih bergetar. "Kau terus bilang ‘tanggung jawab’," katanya lirih, "tapi kau tidak pernah menjelaskan tanggung jawab apa yang harus ditanggung anak itu."
Arman terdiam. Lama. Terlalu lama untuk sebuah jawaban yang sederhana. Tangannya meremas pelipis, seolah kenangan lama kembali menekan kepalanya.
Keheningan jatuh di antara mereka. Arman tidak menjawab. Dan justru dari diam itulah Priska semakin yakin—ada masa lalu yang sengaja disembunyikan, dan Winda berada tepat di tengahnya.
Priska menurunkan tangannya perlahan. Amarahnya berubah menjadi lelah yang dalam. "Dulu," katanya lirih, "kau paling sayang sama Winda di banding dengan Raya "
Arman terdiam.
"Kau yang gendong dia kalau dia demam. Kau yang bangun tengah malam cuma karena dia mimpi buruk," suara Priska bergetar. "Jadi jangan bilang ini soal tanggung jawab."
"Kenapa kau berubah?" suara Priska terdengar lelah, bukan marah. "Kenapa sejak Winda remaja, kau seperti melihat musuh di wajahnya?"
Arman menghela napas panjang. Wajahnya menegang. "Dia berubah. Dan aku benci anak itu." ucapnya dingin dan jauh.
Arman bukan berubah tanpa sebab.
Kebenciannya pada Winda tumbuh perlahan, seiring keberanian Winda tumbuh sebagai anak yang tidak bisa lagi diam.
Sejak kecil, Winda sering melihat hal-hal yang seharusnya tidak ia lihat. Nada suara ayahnya yang meninggi. Barang-barang yang dibanting. Tangisan pelan Priska di balik pintu kamar. Dan tangan Arman—yang terlalu mudah terangkat saat emosi menguasai dirinya.
Awalnya Winda hanya bersembunyi.
Lalu ia menangis.
Lalu ia menutup telinga.
Namun saat ia mulai remaja, semuanya berubah.
Winda mulai berdiri di depan Priska setiap kali Arman marah. Tubuhnya gemetar, tapi matanya menantang. Ia berteriak. Ia membentak. Ia memaki ayahnya tanpa peduli lagi.
"Jangan sentuh mama!"
Kalimat itu seperti api yang menyiram bensin.
Bagi Arman, Winda bukan lagi anak kecil yang bisa diatur. Ia menjadi pengingat hidupnya yang kacau. Saksi atas sisi dirinya yang paling buruk. Dan yang paling menyakitkan—Winda tidak takut padanya.
Setiap makian Winda terasa seperti tamparan pada harga dirinya.
Setiap tatapan benci itu seperti tuduhan.
Sejak saat itu, Arman mulai membenci Winda.
Bukan karena Winda anak yang buruk.
Melainkan karena Winda berani membela ibunya—dan membuat Arman terlihat kejam di mata rumahnya sendiri.
"Kurang ajar!" bentak Arman setiap kali Winda melawan.
Dan semakin Winda membela Priska, semakin Arman merasa kehilangan kendali. Amarahnya tidak lagi hanya jatuh pada Priska, tapi juga pada anak yang berani memihak.
Itulah sebabnya Arman memilih menjauhkan Winda.
Itulah sebabnya hanya Winda yang ingin ia "lepaskan"
Itulah sebabnya perjodohan terasa seperti solusi paling mudah baginya.
Bukan untuk kebaikan Winda.
Melainkan untuk menyingkirkan suara yang selama ini berani melawannya.
Di mata Arman, Raya masih bisa dibentuk.
Tapi Winda—
sudah terlalu berani, terlalu sadar, terlalu membencinya.
Priska masih berdiri di depan Arman, napasnya tersengal. Dadanya naik turun, bukan hanya karena marah, tapi karena lelah—lelah menahan semuanya sendirian.
"Kau benci Winda karena dia berani melawanmu," ucap Priska dengan suara serak. "Karena dia tidak mau diam seperti aku dulu."
Arman tertawa pendek, keras, tanpa humor. "Kau yang membuatnya seperti itu," katanya. "Kau yang selalu membelanya. Kau ajari dia membenciku."
"Aku tidak mengajarinya! Dia sudah besar! Dia tau mana yang benar dan mana yang salah!" balas Priska.
Arman melangkah maju satu langkah. Priska tidak mundur. Tatapan mereka bertabrakan—tajam dan penuh luka.
"Dia kurang ajar,"desis Arman. "Dia memaki aku. Anak macam apa yang berani bicara begitu pada ayahnya?"
"Anak yang sudah terlalu sering melihat ibunya menangis," Priska membalas cepat. "Anak yang capek melihat ayahnya melampiaskan emosi!"
Arman mengangkat tangannya setengah, lalu menurunkannya kembali. Rahangnya mengeras. "Kau selalu menyalahkanku."
"Karena kau memang salah!" suara Priska pecah. "Dan sekarang kau mau menghukum Winda dengan perjodohan itu? Kau mau membuang anakmu sendiri karena dia tidak mau tunduk denganmu lagi?"
"Lebih baik dia pergi dari rumah ini.Daripada terus menantangku di rumah ini." ucap Arman dingin.
Kalimat itu membuat Priska terdiam. Matanya berkaca-kaca, bukan karena takut, tapi karena hancur.
"Jadi begitu," bisiknya. "Kau bukan ingin menyelamatkan keluarga. Kau hanya ingin menyingkirkan anak yang berani membencimu."
Keheningan jatuh. Berat. Menyesakkan.
Arman memalingkan wajah. "Keputusan sudah diambil," katanya singkat. "Aku tidak mau berdebat lagi."
Priska tertawa kecil, getir. “Kau boleh menutup mulutku,” katanya lirih, “tapi kau tidak akan pernah bisa memaksa Winda berhenti membencimu.”
Keheningan sesaat menyelinap di antara kata-kata mereka. Hanya ada suara napas tertahan dari dua orang dewasa di luar kamar—dan satu napas gemetar dari seorang anak yang mendengarkan semuanya dalam diam.
Winda memeluk lututnya. Bahunya bergetar setiap air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Semalam ia menangis tanpa benar-benar tahu alasannya. Tapi pagi ini memberinya jawaban yang terlalu menyakitkan.
Ia sadar, pertengkaran itu bukan sekadar perdebatan biasa. Dan perjodohan itu bukan sekadar wacana.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya marah pada ayahnya—
ia lelah.
Dan Winda tahu satu hal:
Ayahnya sudah benar benar sangat membencinya. Bahkan kehadiran nya dirumah ini
Ia dijodohkan karena........ Ayahnya ingin dia pergi dari rumah ini... hanya itu.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini