Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 KESEPAKATAN GILA
Bunyi suara sendok saat makan dan ramai obrolan memenuhi kantin kantor yang ramai siang itu. Keysa kembali duduk berhadapan dengan Risa, rekannya buat makan siang di jam istirahat.
di sebuah meja. Mereka lagi menikmati semangkuk bakso yang masih panas. Keysa baru aja menceritakan lelucon konyol dan ponselnya bergetar di atas meja. Nama Dila muncul di layar.
“Bentar, Ris” kata Keysa sambil meraih ponselnya. dia mengangkat panggilan itu dan beranjak sedikit menjauhi Risa, mencari tempat yang lebih tenang.
"Halo, Dil? Kenapa?” tanya Keysa pelan, suaranya dipenuhi nada ceria kaya khas mereka berdua.
tapi, di seberang sana, suara Dila terdengar tegang dan sedikit terengah-engah, seolah baru aja menahan napas panjang. “Keysa, aku butuh kamu.”
Keysa mengerutkan kening.
“Ada apa? Suara kamu kenapa kaya gitu?”
“kamu ingat kan, yang waktu itu aku cerita soal perjodohan dari orang tua aku?” Dila berbisik.
Dada Keysa nyesek.Tentu aja kesya ingat.Dila, yang selalu menolak ide pernikahan yang diatur, sekarang seolah terpojok.
"Iya, aku ingat. Kenapa?”jawab kesya
“Malam ini, Keysa. Malam ini aku bakal ketemu dia” kata Dila, penekanan pada kata malam ini terdengar sangat memilukan.
“ibu aku udah atur semuanya. Di sebuah tempat mewah tempat private, buat pertemuan kaya gini"
Keysa spontan memegang lengan, rasa kaget menjalar.
“APA? malam ini?Kok mendadak banget! kamu serius?”
“Serius! Tadi ibuku baru kasih tahu, semuanya udah disiapkan. aku panik, Key. aku nggak tahu harus ngapain” suara Dila mulai bergetar.
“aku gak mau jalan sendiri ke sana. kamu tahu kan, ini pertama kalinya aku dihadapkan pada situasi gila begini”
Keysa menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya dan Dila.
“Oke, oke, tenang. jangan panik,Sekarang kamu di mana?”tanya kesya
“aku di rumah, lagi siap-siap. Tapi sebelum aku harus berangkat ketemu pria pilihan orang tuaku itu, aku mau ketemu kamu dulu . Sebentar aja, Keysa. aku butuh kekuatan, butuh kamu di dekat aku”
Permintaan itu menusuk hati Keysa. dia tahu betapa berartinya kehadiran sahabat saat seseorang lagi menghadapi hal besar yang menakutkan. “Ketemu di mana? Jam berapa?”
“Jam lima sore. Di kafe biasa kita nongkrong, dekat perempatan. aku janji cuma sebentar. sebelum aku harus balik dan berangkat. kamu bisa, kan key?” tanya Dila penuh harap.
Keysa menoleh ke arah Risa yang lagi melambaikan tangannya, memberi isyarat bertanya ada apa.
"aku pasti datang, Dila. Jam lima di kafe. kamu tenangkan diri dulu.Jangan berpikir macam-macam. Kita bahas semuanya nanti, ya? Sampai ketemu”
Setelah menutup telepon, Keysa kembali ke mejanya, wajahnya terlihat serius. Risa langsung menatapnya dengan rasa ingin tahu.
“Siapa? Kenapa tegang banget?” tanya Risa.
Keysa mengaduk sisa kuah bakso di mangkuknya,sambil melamun.
“Itu Dila. Sahabatku ,Malam ini dia bakal di pertemukan dengan pria yang dijodohkan orangtua nya”
Risa terperangah. “Serius? Astaga! Terus dia minta apa?”
Keysa menyandarkan punggung ke kursi. “Dia minta aku ketemu dia jam lima sore ini, sebelum dia berangkat ke sana.aku harus kasih dia suntikan semangat terakhir”
Keysa melihat Risa dengan senyum tipis, tetapi matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam. “aku nggak akan biarin Dila menghadapi ini sendirian”
Lalu Keysa menghampiri Dila di kafe
Keysa melangkah masuk ke dalam kafe yang biasa mereka datangi, aroma kopi yang tercium langsung menyambutnya. Pandangannya langsung tertuju pada Dila yang
tampaknya belum tersentuh. Wajah Dila terlihat pucat, kontras dengan sweater rajut merah maroon yang dia pakai. Jelas sekali dia lagi dilanda kepanikan hebat.
“Dil!” Keysa bergegas menghampiri dan menjatuhkan diri ke kursi di hadapannya. “kamu kenapa, sih? tadi di telepon kedengeran panik banget”
Dila tersenyum tipis, senyum yang gak terlihat “aku gak tahu harus mulai dari mana, Key.” Dila menghela napas, melihat air putih di cangkirnya seolah itu adalah masalah terbesarnya.
“aku udah mikirin ini berulang kali saat ibu dan ayah bilang malam ini.Dan, jujur aku nggak bisa”
“Nggak bisa apa?” tanya Keysa, bersiap mendengarkan keluh kesah sahabatnya.
“Nggak bisa datang” jawab Dila tegas, meskipun ada getaran di suaranya. “Jangankan datang, membayangkan duduk di sana, dipajang kayak barang terus dengerin cowok asing ngomongin masa depan kami,aku mual”
Dila menggeleng cepat, rambut panjangnya juga ikut bergerak. “aku nggak bisa, Keysa. Ini hidup aku, bukan sinetron. Kalo pun aku datang, aku akan langsung bilang ke dia. aku menolak perjodohan ini”
Keysa terdiam. Dia mengambil sedotan di mejanya, memainkannya tanpa minat. Di satu sisi, dia mengagumi keberanian Dila menentang orang tuanya, tapi di sisi lain, dia tahu betul konsekuensi dari penolakan itu. Ibunya Dila bukanlah tipe orang yang mudah menerima kata enggak dari putrinya, apalagi ini menyangkut kehormatan keluarga.
Keysa cuma bisa melihat Dila, bingung harus merespons apa.
"Terus kamu mau ngapain? kamu mau kabur?” tanya Keysa dengan nada hati-hati. “kamu tahu kan orangtua kamu bakal gimana?”
Dila mencondongkan tubuh ke depan, matanya menatap tajam ke arah Keysa.
Di tengah keputusasaan itu, sebersit cahaya atau mungkin kegilaan muncul di matanya. Bibirnya yang awalnya menutup rapat, perlahan membentuk senyum misterius, senyum yang buat bulu kuduk Keysa merinding.
"Key” Suara Dila terdengar sangat pelan, hampir berbisik, tapi penuh penekanan. “Ada satu jalan”
Keysa sadar tatapan Dila gak lagi seperti kepanikan, tapi sesuatu yang licik, kaya rubah yang baru aja menemukan lubang tikus. Keysa menahan napasnya. “Jalan apa?”
Dila gak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum lebar, menunjuk Keysa dengan matanya, seolah Keysa adalah jawaban dari semua doanya.
“KAMU !”
Dunia Keysa terasa berhenti berputar. Udara di sekitarnya mendadak dingin, dan bunyi ramai di kantin kaya jauh. Keysa memelototi Dila, gak percaya sama apa yang baru aja terlintas di pikiran sahabatnya.
“Gila kamu, ya?” Keysa akhirnya ngomong, nadanya tinggi. dia menurunkan suaranya lagi, berhati-hati supaya orang lain gak mendengar.
“Apa nggak ada jalan lain selain mau masukin aku ke rencana gila itu, hah, Dil?”
Dila tertawa kecil, tawa yang terdengar sedikit licik dan terpaksa. Dia meraih tangan Keysa, menggenggamnya erat, dan melihat Keysa dengan tatapan penuh permohonan.
“Nggak, Key. Nggak ada jalan lain” bisik Dila.
“Kalau aku nggak datang, orang tuaku bakal malu banget dan marah besar"
"Tapi kalau,kalau kamu yang datang.seenggaknya malam ini terlewati tanpa insiden besar. kamu cuma perlu bersikap biasa, atau sedikit aneh, supaya dia yang ilfil duluan”
Keysa menarik tangannya, menyilangkan di dada. “Dan kenapa harus aku?
"Karena kamu keysa inara, yang paling bisa aku percaya, dan yang paling gampang buat aku ajak gila-gilaan” Dila berusaha melucu, tapi raut wajahnya kembali sedih.
“Dengerin aku, Key. Jujur, aku nggak mau kamu kena masalah, tapi ini satu-satunya cara”
Dila kemudian menghela napas, dan senjata mematikannya keluar.
" kamu masih ingat kan, waktu kamu mau banget kerja di perusahaan? kamu ingat ,dengan impian kamu itu? kamu udah menyerah. tapi siapa yang nyeret kamu ke direktur utama dan meyakinkan dia buat kasih kamu interview? Siapa yang begadang bantuin kamu revisi portofolio? Itu aku, dila”
"Selebihnya ,selama kamu mau bantu aku buat urusan ini.aku akan memberi kamu imbalan yaitu Uang untuk menambah kebutuhan ibu kamu dan keluarga kamu".coba pikirkan key
Keysa terdiam, lidahnya kaku. Dila benar. waktu yang lalu, Keysa hampir kehilangan kesempatan kerjanya. Dila, yang kebetulan memiliki koneksi keluarga sama salah satu petinggi di sana, mati-matian membantu Keysa. Itu adalah bantuan yang gak ternilai harganya, sebuah utang budi yang belum terbayarkan sepenuhnya.
Dila tersenyum, senyum penuh harap.
“Aku kan udah bantu kamu buat bekerja, Key. Mungkin, ini giliran kamu bantu aku, ya?” Dila memajukan bibirnya, terlihat menggemaskan, sambil tertawa kecil.
Keysa mencondongkan tubuh, matanya meneliti wajah sahabatnya. dia lihat keputusasaan yang nyata di balik tawa renyah Dila. Keysa tahu, Dila gak akan meminta hal konyol ini kecuali ini benar-benar jalan terakhirnya.
"Oke. aku benci kamu! Tapi oke” kata Keysa, akhirnya menyerah. Rasanya kaya menandatangani kontrak sama iblis, tapi demi Dila, dia akan melakukannya.
“kamu benar. kamu udah bantu aku soal kerjaan itu, dan aku gak akan lupa”
Kini, giliran Keysa yang mulai panik. dia langsung beralih ke mode rencana
“Tunggu dulu. Kalau aku yang datang, aku harus tahu semuanya! Siapa namanya? Dia kerja di mana? Dia orangnya kayak apa? Mana fotonya? Minimal aku harus tahu wajah yang akan aku temui!”
Dila kembali tertawa. Tawa ini lebih lepas, kaya beban seberat gunung tiba-tiba terangkat dari pundaknya. tapi, tawa itu hilang secepat dia datang, digantikan sama raut wajah yang panik.
“Nah,itu dia masalahnya, Key” Dila berbisik, memainkan ujung meja.
“aku nggak punya fotonya. Nama lengkapnya aja nggak tahu. Tadi pagi, ibu aku cuma bilang, Nanti malam ketemu nak wira tanpa kasih tahu nama panjang atau detail lainnya. Saking paniknya, aku lupa nanya ke ibu aku”
Keysa melebarkan matanya.
“HAH? Jadi kamu mau aku datang, ketemu pria yang namanya mungkin ‘Wira’ di tempat privat, dan aku nggak tahu wajahnya sama sekali? gimana kalau aku salah orang? gimana kalau dia punya ciri-ciri khusus?”
Dila mengangkat bahu pasrah. “Nggak ada pilihan, Key.tempatnya spesifik, tempat pertemuan yang diatur. Pasti nggak akan ada orang lain yang namanya ‘Wira’ di sana yang sedang menunggu seseorang.Ibuku bilang, kamu tinggal sebut nama aku aja kalau ditanya, Dila”
Keysa merasakan pusing yang mendadak. Malam ini. Sendirian. Bertemu pria asing yang dijodohkan, tanpa modal informasi apa pun. Ini bukan lagi sekedar bantu sahabat, ini adalah misi rahasia yang benar-benar konyol.
“Sialan kamu, Dil” Keysa marah, tapi dia gak benar-benar marah. “kamu utang bakso sama aku seumur hidup”
Dila tersenyum lega, air mata kebahagiaan hampir menetes di sudut matanya.
“Apapun yang kamu mau, Keysa. Apapun!”
Keysa menarik napas dalam, melihat jam tangan. Pukul 16.30. dia cuma punya waktu kurang dari dua jam buat berubah dari Keysa menjadi Dila dan ‘siap dipertemukan’. Sebuah peran yang harus dia mainkan demi menyelamatkan sahabatnya dari takdir yang enggak dia mau.
“Baiklah, Ratu Drama. Sekarang jelaskan ke aku detail tempatnya. Dan kamu harus bantu aku .aku gak bisa pakai baju ini buat misi bunuh diri ini.”kata kesya