Dipertemukan lagi dengan mantan sugar daddy nya secara tidak terduga membuat Bryssa Kalysandra menginginkan laki-laki yang pernah dengan sengaja ia tinggalkan itu, untuk sekali lagi memilikinya.
Terdengar egois dan sangat tidak tahu diri memang, pasalnya laki-laki yang pernah dekat dan membiayai sekolah semasa SMA nya itu kini sudah menjadi pacar sang kaka.
Nyatanya, itu tidak menjadi penghalang bagi Bryssa, 2 Tahun tidak bertemu dengan Davion Sakya Maharu ternyata banyak yang berubah, laki-laki tampan, matang, dan mapan itu membuat Bryssa merasa sedikit gila, tidak rela sekalipun Davion bersama dengan kakanya. Tetapi Davion yang sekarang tidak semudah itu untuk ditaklukan. Bryssa harus berjuang lebih untuk mendapatkan cinta pertamanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Baru Amora
Melihat gedung tinggi di depannya, senyum Amora terus terukir, tidak dapat dipungkiri jika dengan dialihkannya ia di kantor anak bosnya, Amora semakin bersemangat, bahkan yang tadinya cukup dengan penampilan rapih dan sedikit polesan riasan, kini dengan sangat sadar Amora meninginkan dirinya tampil lebih baik lagi dari sebelumnya.
Rambut yang sudah wangi dan tertata rapih karena sebelumnya pergi ke salon terlebih dahulu membuat Amora terkekeh pelan.
Se exctide itukah dirinya?
Mengingat itu membuatnya merasa tersentil sendiri, ada perasaan malu dan aneh karena tingkahnya itu.
"Ara," panggil seorang wanita yang tanpa Amora lihat keberadaannya pun sudah sangat ia tahu siapa.
Suara itu akhir-akhir ini sangat familiar sekali, bahkan sesekali mengirimnya pesan.
Amora menoleh, memberikan senyum dan sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
"Selamat pagi bu Yoshi," sapa Amora dibalas dengan senyuman dan bahkan tangan bu Yoshi memegang pundak Amora lembut.
"Cantik sekali," puji wanita yang masih memiliki keturunan jepang itu.
Sekali lagi, Amora membalasnya dengan sebuah senyuman, senyum mengembang yang begitu hangat.
"Ibu juga selalu cantik," balasnya merendah.
Ah, sepertinya setiap wanita jika dipuji oleh sesama jenisnya akan menjawab demikian, jawaban umum yang sering Yoshi dengar, tetapi karena Amora yang mengatakannya, beliau merasa suka.
"Ayo saya antar kamu ke ruangan Dav," ajak Yoshi membuat Amora sempat terkejut.
"Maaf bu, bukannya ruangan saya jauh dengan ruangan pak Davion ya?" bingung Amora mendapat anggukan kepala Yoshi.
"Memamg iya, tapi saya tadi sudah mengatakan pada Dav untuk memperkenalkan kamu secara langsung pada karyawan di sini," jelas beliau dijawab anggukan kepala Amora.
Keduanya berjalan menuju ke ruangan Davion, sedari perjalanan menuju ke ruangan laki-laki itu, banyak karyawan yang menyapa ramah Yoshi, beliau memang terkenal sangat dermawan dan juga baik hati, tetapi kebaikan beliau tidak berlaku untuk Bryssa, karena perbedaan usia yang terpaut jauh membuat beliau tidak menyukai Bryssa, tanpa mengenal terlebih dahulu.
Pintu ruangan Davion terbuka, Yoshi dan Amora masuk ke dalam dan duduk di sofa ruangan tersebut.
"Intan, buatkan saya dan Ara kopi ya?" titah beliau pada asisten kantor Davion.
"Baik bu, permisi," pamitnya keluar dari ruangan Davion.
Amora sedari tadi sibuk mengamati ruangan Davion yang sangat megah dan elegan, ruangan itu juga tertata sangat rapih, bahkan meja milik laki-laki itu juga sangat tertata rapih, kertas bertumpukan dengan rapih, tidak ada yang keluar dari tatanan.
Selera Davion untuk membuat ruangannya nyaman semakin membuat Amora penasaran dengan laki-laki itu. Untuk saat ini Amora merasa Davion ini laki-laki yang suka dengan kerapihan juga lurus-lurus saja.
"Permisi bu, kopinya," ujar Intan menaruh dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di atasnya.
"Terimakasih Intan, oh iya dimana bosmu?" tanya Yoshi karena tidak mendapati Davion di ruangannya.
"Pak Davion keluar sebentar, tadi sudah datang bu," jelas Intan diangguki oleh Yoshi.
"Ya sudah, kamu boleh kembali ke ruanganmu," titah beliau diangguki Intan dengan sangat sopan.
"Bagaimana menurutmu Ara?" tanya beliau seketika membuat Amora yang sedari tadi masih sibuk mengamati interior ruangan Davion tersadar.
"Sepertinya pak Davion memiliki selera yang sangat tinggi ya bu," ujar Amora membuat Yoshi tersenyum.
"Setiap barang yang ada di ruangan ini terlihat mahal dan unik, saya yakin lampu di atas meja beliau itu merupakan lampu langka yang hanya ada beberapa di dunia."
Yoshi bertepuk tangan dengan senyum mengembang, ia bangga dengan Amora yang bisa melihat detail juga menilai barang-barang mewah, tidak salah memang kalau beliau menginginkan Amora untuk dekat dengan anaknya.
"Kamu punya pengamatan yang bagus sekali, apa mamamu juga menyukai barang antik dan langka?" tanya beliau seketika membuat Amora menggeleng dengan senyum.
"Ah, tidak bu, mama saya hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi almarhum papa saya dulunya memang menyukai barang-barang antik," jelas Amora kembali mendapat pujian dari beliau.
"Wah, saya ikut berduka cita ya Ara, tetapi sepertinya bakat dari almarhum papa kamu kini berpindah padamu."
Obrolan ringan terus berjalan beberapa saat, sampai akhirnya laki-laki yang sedari tadi ditunggu itu muncul, namun kemunculan laki-laki itu membuat Yoshi membuka mulutnya lebar.
Davion datang dengan pakaian yang sedikit acak-acakan dan tidak rapih, sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang sedari tadi beliau katalan pada Amora.
"Dav, apa-apaan kamu? Kenapa begitu?" tanya beliau membuat Davion menoleh, mendapati mamanya dan seorang wanita yang duduk tidak jauh dari mamanya.
"Ah maaf, aku kira mama sudah pergi karena aku sudah cukup lama meninggalkan ruangan," ujarnya semakin membuat Yoshi kesal.
"Dav," tekan Yoshi membuat Davion tersenyum simpul. Lalu berjalan ke arah mejanya, merapihkan kemeja yang dikenakannya juga rambut yang ia sugar sedikit ke belakang.
Amora justru tidak keberatan melihat penampilan berantakan Davion tadi, ia malah melihat sisi lain dari seorang Davion dengan penampilan berantakannya tadi, justru menambah kesan tampan pada laki-laki tersebut, tidak seperti ketika sarapan dan makan malam dengannya, Davion terlihat sangat rapih sekali sampai ke rambutnya.
"Sudah lah, mama ke sini mau memberitahumu jika mulai hari ini Ara sudah bekerja di kantor ini, kamu tidak lupa apa yang mama katakan tadi malam bukan?" tanya beliau diangguki Davion, tanpa bersuara sepatah kata.
"Baiklah Ara, saya pergi dulu ya? ada arisan jam 9 nanti, kamu kalau ada apa-apa bisa minta tolong Dav, jangan sungkan," ujar beliau diangguki Amora.
"Terimakasih banyak bu Yoshi, jamuan kopi pagi ini," balas Amora mendapat senyuman dari beliau sebelum kepergiannya.
Sekarang tinggal Davion dan Amora saja di ruangan itu, jujur saja Amora jadi kebingungan sendiri untuk melakukan apa, terlebih Davion sedari tadi hanya duduk tanpa menatap ke arahnya.
"Ehem, kalau begitu saya permisi ke ruangan saya pak Davion, semoga saya bisa bekerja dengan baik di sini," ujar Amora bangkit dari duduknya.
Tepat ketika Amora sudah melangkah sekitar 3 langkah, Davion baru membuka suaranya.
"Mari, saya antar ke ruangan anda, dan saya yang akan temani anda untuk memperkenalkan diri secara langsung dengan karyawan di sini."
Langkah Amora terhenti, dengan sudut bibir tertarik ke atas, tidak dipungkiri perasaannya menghangat atas tawaran Davion padanya.
"Baik pak, terimakasih banyak," ujarnya sangat tenang.
Keduanya keluar dari ruangan Davion untuk menuju ke ruangan Amora yang baru, namun sebelum Amora sampai di ruangannya, semua karyawan yang berada di lantai atas itu dikumpulkan oleh Davion untuk memperkenalkan Amora secara langsung sebagai menegar yang baru.
Davion melakukan itu karena permintaam Yoshi tadi malam.
nunggu cerita yg baru , beralih ke alsa dan gerald lagi ahh . . ❤️