Judul : LUNARA
Genre : Romantic/Comedy
Sedari kecil selalu dikelilingi oleh empat orang pria yang sangat menyayangi dan melindunginya, ternyata tak membuat kisah cintanya seberuntung itu.
Kisah cinta pertamanya, berakhir bahkan sebelum dimulai. Kisah cinta selanjutnya dan seterusnya, penuh dengan penghianatan.
Gadis itu bernama Lunara, yang berarti Putri Bunga. Mempunyai kulit putih mulus, berparas cantik dan berhati baik. Bisa diibaratkan Lunara seperti malaikat. Kekayaan orangtua yang melimpah, tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis angkuh dan sombong.
Lunara gadis yang selalu terlihat ceria dimata dunia, namun memendam banyak luka.
© 2020, Maya Asviana
Kisah ini merupakan lanjutan dari Novel saya sebelumnya yang berjudul Paman Yoo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luna Takut, Bang
Saat tiba waktu makan malam, Keitaro berinisiatif memanggil Lunara. Pasalnya mereka semua sudah berkumpul di meja makan selama lima belas menit, dan Lunara belum juga keluar dari kamarnya. Sudah menjadi tradisi di keluarga Erlangga, untuk selalu makan malam bersama.
"Luna, lu gak makan malam. Lun ...," ucap Keitaro seraya mengetuk pintu kamar kakaknya itu. Namun tidak ada jawaban dari dalam sana.
Keitaro pun mencoba menekan handle pintu kamar Lunara, yang ternyata tidak terkunci. Keitaro terperanjat saat melihat kakaknya itu tengah tertidur dengan masih menggunakan seragam sekolahnya.
Keitaro pun masuk kedalam kamar Lunara kemudian membangunkannya.
"Lun ... Kak Luna ...," ucap Keitaro sambil sedikit mengguncang lengan Lunara, hingga gadis itu pun terbangun.
"Kenapa Kei?" tanya Lunara begitu terbangun dari tidurnya.
"Lu capek banget ya? Sampai ketiduran begini?" tanya Keitaro yang tengah menatap iba kepada kakak manjanya. Sedangkan Lunara hanya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah bangun, makan malam dulu. Ditungguin sama mommy dan daddy." Lunara langsung mengulurkan kedua tangannya, agar Keitaro membantunya untuk duduk.
Keitaro menarik pelan kedua tangan Lunara, hingga Lunara kemudian duduk dan mengucek kedua matanya.
"Duluan Kei, gue cuci muka dulu," ucap Lunara kemudian berjalan menuju kamar mandi yang memang berada di dalam kamarnya.
"Gue tungguin aja di sini, kita turun bareng," jawab Keitaro.
"Memang gak dapat tempat duduk tadi di bus?" tanya Keitaro begitu Lunara keluar dari kamar mandi.
"Boro-boro Kei, dari awal naik berdiri terus. Mana jembatan transitnya panjang banget, Kei," jawab Lunara. Mereka kini berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
"Loh, kok masih pakai seragam, anaknya daddy?" tanya Yohan begitu melihat anak gadisnya yang kini telah duduk di sisi sebelah kirinya.
"Ketiduran Dad," jawab Lunara enggan. Lunara pun mengambil nasi beserta lauknya dengan porsi lebih banyak dari biasanya.
"Kenapa pada melihat Luna? Gak pernah lihat bidadari kelaparan ya?" ucap Lunara yang kini tengah makan dengan sangat lahap.
"Bidadari rakus!" ucap Keitaro.
"Seperti yang selalu lu bilang, Kei ... pura-pura bahagia butuh banyak tenaga ekstra," sindir Lunara sambil melirik ke arah ayahnya.
"Yasudah ... kamu menyerah saja kalau begitu, gampang kan? Jadi kamu tidak perlu menderita karena harus pulang sekolah naik bus," jawab Yohan santai.
Dengan mulut penuh makanan, Lunara menatap tajam kepada ayahnya. "Luna sih gak masalah dengan naik bus. Yang Luna permasalahkan itu, Daddy yang tidak mengizinkan abang menemani Luna besok!"
"Loh, nanti kamu di Sydney itu sendirian loh Lun, tidak ada babang Yuyun-mu di sana," jawab Yohan sambil menelan salivanya saat melihat Lunara makan dengan sangat lahap.
"Abang itu hanya mau menemani Luna tiga hari pertama aja, bukannya selamanya!" ucap Lunara kesal.
"Lagian ... sebentar lagi abang akan pergi ke Inggris. Mungkin ini terakhir kali Luna menghabiskan waktu berdua dengan Abang."
Melihat kesedihan di mata anak sulungnya itu, membuat Yohan iba, "yasudah, daddy izinkan," ucap Yohan
"Beneran Dad!" ucap Lunara bersemangat. Yohan pun mengangguk kepalanya. "Tapi ingat, hanya tiga hari aja!"
"Siiiaap ...." Lunara pun melanjutkan kembali aktivitas makannya dengan ceria.
"Oh iya Dad, sampaikan ucapan terimakasih Luna buat pria tua menyebalkan itu," ucap Lunara disela-sela makannya.
"Siapa pria tua? om Nic?" tanya Yohan heran.
"Kok om Nic, sih. Ya karyawan kesayangan Daddy itu lah ... Reinaldo," jawab Lunara sambil melirik malas kepada ayahnya.
"Reinaldo? Kok pria tua? Usia dia baru 23 tahun loh. Hanya terpaut lima tahun dari usia kamu, Lun," jelas Yohan.
"Ya ... jarak usia lima tahun itu sudah terlalu tua kalau menurut Luna," ucap Lunara santai.
"Apanya yang terlalu tua? mommy dan daddy saja beda usia lima belas tahun kok," ucap Mikayla yang turut membela pernyataan Yohan, suaminya.
"Itu sih salah Mommy sendiri. Kenapa dulu Mommy mau dengan pria yang sangat tua!" celetuk Keitaro. Lunara terkekeh dan mengangguk setuju dengan ucapan adiknya itu.
"Wah, anak ini ... mulutnya benar-benar deh!" ucap Yohan kesal. Yohan bahkan melempar Keitaro dengan potongan wortel yang ada di piringnya.
"Maksud kalian daddy itu terlalu tua, gitu? Asal kalian tau, walaupun sudah berusia lima puluh tahunan, kalau daddy mau, saat ini juga daddy bisa mendapatkan gadis muda yang seumuran Luna!" ucap Yohan dengan menatap angkuh kepada kedua anaknya. Tanpa dia sadari, seorang wanita sedang meliriknya dengan tajam.
"Oh gitu ya ... yasudah, cari deh sana gadis yang seumuran Luna!" ucap Mika yang langsung bergegas meninggalkan meja makan itu. Yohan pun hendak mengejar istri tercintanya itu.
"Habiskan makanan kamu! Jangan mubazir, di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa makan!" Yohan pun kembali duduk di kursi makan sambil melotot kepada kedua anaknya yang tengah tertawa geli.
"Gara-gara kalian nih! mommy jadi ngambek kan. Gagal deh rencana daddy nanti malam!" sungut Yohan. Bukannya takut, kedua anaknya itu malah makin terkekeh-kekeh menanggapi ucapan ayah mereka.
"Nasib deh, punya bokap bucin!" ucap Keitaro yang kini juga pergi meninggalkan meja makan itu, sambil terus menertawakan ayahnya. Lunara juga masih terkekeh mendengar ucapan Keitaro, hingga Lunara mendadak menahan tawanya, karena tatapan tajam sang ayah.
Ketika Lunara sudah menyelesaikan makannya, Lunara pun hendak pergi meninggalkan meja makan itu.
"Temani daddy makan dong, Lun. Sekalian kita ngobrol," pinta Yohan.
Lunara pun mengiyakan permintaan ayahnya itu. "Luna bawa piring bekas makan ke dapur dulu ya, Dad," ucapnya. Yohan pun mengangguk.
Sekembalinya dari dapur, Lunara pun menemani ayahnya makan malam, hanya duduk berdua di meja makan.
Sebelum Lunara datang, Yohan sudah mempersiapkan ponsel untuk merekam pembicaraannya dengan Lunara saat ini. Hasil rekaman itu, langsung dikirimnya ke ponsel Chicko.
...*...
Sementara itu, Junior dan kedua orangtuanya sedang mengobrol di ruang keluarga. Mereka sedang membicarakan mengenai persiapan kuliah Junior di Inggris nanti. Hingga beberapa saat kemudian, Chicko menerima sebuah pesan suara dari Yohan Erlangga.
"Yoo mengirimkan pesan suara apa nih?" ucap Chicko, yang berhasil mengalihkan pandangan Gea dan Junior.
"Kenapa Yank?" tanya Gea.
"Ini ... Yohan mengirimkan pesan suara, katanya curahan hati Lunara," jelas Chicko sambil melirik Junior.
Luna curhat dengan daddy Yoo? gumam Junior dalam hati.
"Coba Pa, putar rekaman suara dari daddy Yoo," ucap Junior penasaran. Chicko pun memutar rekaman suara yang dikirimkan oleh Yohan.
Yohan : Perasaan Luna gimana sayang, sewaktu Jun bilang kalau dia akan kuliah di Inggris?
Luna : Daddy telat menanyakannya. Seharusnya dari kemarin-kemarin!
Yohan : Maafkan daddy ya ... soalnya belakangan ini daddy sedang sibuk-sibuknya karena ingin memberikan kalian seorang adik.
Luna : Ih, apa sih Daddy. Memangnya mommy mau, hahaha ....
Yohan : Udah, jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaan daddy. Bagaimana perasaan Luna, saat tau Jun tidak bisa menemani kamu ke Sydney.
Luna : Walaupun itu bukan yang pertama kalinya Luna kecewa dengan abang, tapi saat itu Luna benar-benar kecewa, rasanya Luna ingin marah, tapi gak bisa. Luna ingin memaki abang, tapi gak bisa juga, hehe ....
Yohan : Kenapa gak bisa? kalau Luna ingin marah, ingin memaki abang, seharusnya Luna lampiaskan aja.
Luna : Ya gak bisa begitu lah, Dad. Abang kan juga punya mimpi. Gak fair rasanya kalau abang melupakan mimpinya hanya demi Luna. Memangnya Luna ini siapa? Lagian, selama ini abang yang selalu membuat Luna bahagia, Luna belum pernah membalas apa-apa. Kalau dengan mengikhlaskan abang ke Inggris bisa membuat abang bahagia. Luna akan lebih bahagia.
Yohan : Oooh ... anak daddy ternyata sudah dewasa.
Luna : Terimakasih ya Daddy, sudah memberikan Luna kesempatan untuk kuliah di Sydney. Luna janji, kalau Luna bisa mengurus diri dengan baik, walaupun sendiri di sana.
Yohan : Hei, kamu masih harus berjuang lima bulan lagi loh, untuk mendapatkan izin dari Daddy.
Luna : Tapi Luna yakin sih, kalau Luna bisa melewati semua tes dari Daddy. Karena Luna gak akan pernah mau dijodohkan dengan pria tua menyebalkan itu!
Yohan : "Hei, hati-hati loh, nanti kalau tiba-tiba kamu jatuh cinta sama Rein, bagaimana?
Luna : Cih! itu gak akan mungkin terjadi.
Yohan : Hahahaha ....
Luna : Yasudah Dad, besok Luna mau sekolah, Luna juga belum mandi dari pagi, masih pake seragam juga.
Yohan : Pantas saja dari tadi daddy mencium bau-bau sayur basi di sini. Asyeem!
Luna : Menyesal Luna menemani Daddy makan malam!
Ketika rekaman suara kiriman Yohan telah selesai diputar, tanpa berpamitan, Junior langsung meninggalkan kedua orang tuanya.
"Galau lagi deh tuh. Aku heran deh Yank, anak itu sebenarnya cintanya dengan siapa sih? Luna atau Cecilia?" ucap Gea pelan, sambil menatap punggung anak tunggalnya yang sudah menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Yaaa ... mana aku tau Yank, Jun sendiri kelihatannya juga bingung, apalagi aku," jawab Chicko.
...* *...
Setelah di kamar, Junior terus menghubungi Lunara, namun Lunara tidak menjawabnya.
Oh iya, di rekaman tadi katanya Luna mau mandi. Batin Junior.
Hingga kemudian Lunara yang menghubungi Junior.
"Baru selesai mandi ya, Dek?" tanya Junior begitu menjawab panggilan telepon Lunara.
"Loh, kok Abang bisa tau?" tanya Lunara heran.
"Wangi strawberry-nya tercium sampai ke sini," jawab Junior.
"Serius dong, Bang! Kok Abang bisa tau sih, Luna barusan selesai mandi? Abang pasang CCTV di kamar Luna ya!" selidik Luna.
"Cuma nebak aja kok, karena dari tadi Abang hubungi tapi gak dijawab, Abang pikir pasti Luna lagi mandi. Luna kan kalau mandi lama," jawab Junior ngasal.
"Oooh gitu."
"Kok mandinya malam banget sih, Dek. Nanti masuk angin loh," ucap Junior lembut.
"Ketiduran Bang, lelah hayati, hehe ...," canda Lunara.
"Oh iya Bang, besok dan lusa temani Luna naik bus lagi ya, sudah diizinkan oleh daddy kok," sambung Lunara dengan antusias.
"Dek, apa abang kuliah di Sydney aja menemani kamu ya? Gimana menurut Luna?" Lunara langsung terdiam mendengar pertanyaan dari Junior.
"Dek ... kok gak dijawab sih. Kalau Luna ingin abang ke Sydney, abang akan turuti apa maunya Luna," ucap Junior lagi. Namun Lunara masih terdiam.
"Jawab dong Luna ...," ucap Junior memelas.
"Bang, lakukan aja apa yang bisa membuat Abang bahagia. Apapun pilihan Abang, kalau Abang merasa bahagia, Luna akan bahagia kok," jawab Lunara. Junior hanya bisa menghela kasar napasnya mendengar jawaban Lunara.
"Yasudah, Luna ngantuk banget nih, Bang. Pulang sekolah besok temani Luna naik bus lagi ya Bang," ucap Lunara mengakhiri panggilan telepon itu. Lunara pun meletakkan ponselnya pada meja yang terdapat di samping ranjangnya, kemudian memeluk boneka besar yang selalu menemani dirinya saat tidur.
"Lunara Erlangga ... kamu tambah mahir berbohong, hehe ...," ucap Lunara pada dirinya sendiri, sambil menyembunyikan wajah pada boneka yang sedang dipeluknya.
"Luna takut, bang ...."
...Terimakasih sudah membaca 💕...
...Jangan lupa untuk selalu tekan LIKE, tuliskan KOMENTAR kamu dan beri VOTE yaaa ......
...Jangan lupa juga untuk memberikan RATE...
...⭐⭐⭐⭐⭐ di sampul halaman depan...
mau ke laundry bang (L)
😂😂😂
tdk monoton ke dalam romantisan saja...
lanjut author💪💪💪
ntar keenakan dia bikin kacau ditempat kerja.. 🤦♀️🤦♀️
kalau gk boleh dekat ma orang lain....
jangan muna. weww.. 😁😁