NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Ningsih, Teman yang Berpendirian

“Angkat tanganmu.”

Laras menurut. Ningsih melingkarkan pita ukur di bawah perutnya, lalu mencatat angka di kertas pola.

“Jangan terlalu pas,” kata Laras. “Perutku masih akan membesar.”

“Aku penjahit, bukan tukang bungkus ketupat.”

Laras tertawa. Mereka duduk di ruang depan rumah Ningsih beberapa hari setelah perkara Ucok. Mesin jahit tua berdiri dekat jendela. Potongan kain tersusun berdasarkan warna, sedangkan dua baju bayi yang belum dipasangi kancing tergantung di dinding.

Ningsih mengangkat satu daster dengan bagian depan yang bisa dibuka. “Ini enak dipakai hamil dan nanti bisa untuk menyusui. Aku buat sisi pinggangnya longgar.”

Laras memeriksa jahitan. Rapi, kuat, dan tidak berlebihan. “Kalau dibuat tiga ukuran dan dua jenis kain, ini bisa dijual di pasar.”

“Orang pasar menawar sampai benang pun ingin gratis.”

“Kita hitung harga bahan, upahmu, ongkos, lalu tetapkan batas terendah. Tidak perlu mengambil semua pesanan.”

Ningsih menatapnya. “Kita?”

“Kalau kamu bersedia. Aku bantu pola sederhana, catatan, dan mencari pesanan. Kamu pegang kualitas serta jahitan mesin. Keluargaku bisa membantu bagian tangan yang ringan.”

Ningsih menyandarkan tubuh ke kursi. “Aku sudah lama ingin menerima lebih banyak pekerjaan, tapi semua uang mesin jahit disebut uang keluarga besar. Kalau aku membeli kain, ada saja yang bertanya kenapa aku punya simpanan.”

“Buat rekening kerja terpisah dan catat setiap rupiah. Upahmu bukan uang curian.”

“Bu Sri bisa bilang menantu tidak tahu diri.”

“Kalau begitu kita mulai dari pesanan yang jelas dan kuitansi bahan. Bukan untuk melawan beliau, tetapi agar tidak ada yang bisa memutar cerita.”

Ningsih tertawa kecil. “Pantas Bu Marni kesal padamu. Kamu membuat orang sulit berbohong.”

Ia mengambil kain katun bermotif awan. “Yang ini untuk selimut bayi. Hadiah dariku.”

“Aku tetap membayar bahannya.”

“Hadiah tidak pakai kuitansi.”

“Kalau begitu aku membayar dengan membantu menjual tiga baju pertama.”

“Setuju.”

Mereka lalu membuat aturan di selembar kertas. Uang muka hanya untuk membeli bahan. Upah dibagi setelah pesanan diterima pembeli. Kain sisa tetap dicatat dan tidak boleh dibawa pulang diam-diam oleh siapa pun. Jika pelanggan mengubah ukuran setelah kain dipotong, tambahan biaya harus dibicarakan lebih dahulu.

“Terlalu resmi untuk sepuluh potong baju,” komentar Ningsih.

“Justru saat masih sepuluh kita belajar. Kalau nanti seratus, kita tidak saling curiga.”

Ningsih membaca ulang aturan itu dan membubuhkan tanda tangan. “Aku suka bagian tidak saling curiga.”

Laras ikut menandatangani. Mereka tidak memakai materai atau bahasa hukum. Hanya dua nama, tanggal, dan pembagian yang terang. Namun bagi Ningsih, kertas itu menjadi pertama kalinya hasil jahitannya diakui sebagai pekerjaan, bukan bantuan menantu yang boleh diminta tanpa dibayar.

“Satu lagi,” ujar Laras. “Tidak ada pesanan mendadak yang mengharuskan kita begadang. Aku hamil dan kamu juga punya rumah yang harus diurus.”

“Kalau pelanggan memaksa?”

“Biarkan mereka mencari penjahit yang tidak perlu tidur.”

Ningsih tertawa sampai matanya berair.

Jarwo masuk membawa dua gelas teh dan sepiring singkong rebus. Ia menyapa Laras, lalu meletakkan nampan tanpa mengganggu pembicaraan.

“Mas Jarwo selalu setenang itu?” tanya Laras setelah lelaki itu keluar ke belakang.

“Tenang kalau tidak sedang menghadapi keluarganya.” Ningsih menarik napas. “Bapak baik, tapi terlalu takut rumah ramai. Masalah apa pun disuruh diam. Ibu mengikuti siapa yang paling beliau sayangi.”

“Melati?”

Ningsih menurunkan suara. “Adik bungsu selalu dianggap paling tahu, paling pintar, paling pantas dibantu. Kalau Melati ingin kursus di kota, uang ada. Kalau Jarwo perlu modal pupuk, kami disuruh sabar.”

“Saudara lain tidak keberatan?”

“Keberatan. Hanya caranya berbeda. Ada yang mengomel di belakang, ada yang meminta bagian lebih dulu. Semua luka kecil dikumpulkan, lalu Bapak heran mengapa anak-anaknya tidak akur.”

Laras teringat tatapan Melati dari jendela saat perkara Ucok. Perempuan itu mengetahui masa depan yang seharusnya terjadi, lalu kini melihat jalurnya berubah satu demi satu.

“Melati sendiri bagaimana?”

“Dia manis kalau sedang membutuhkan sesuatu. Belakangan dia sering bertanya soal Mas Arya, pengumuman guru, dan siapa yang datang ke balai desa.”

Tangan Laras berhenti di atas kain.

Ningsih menangkap perubahan itu. “Tenang. Aku tidak akan membiarkan orang memakai rumahku untuk mendekati suami temanku.”

“Aku tidak takut Arya mendekatinya.”

“Bagus. Berarti kamu hanya tidak suka dia mendekati Arya.”

Laras tidak menjawab. Wajahnya menghangat dan Ningsih tertawa puas.

Untuk pertama kali sejak datang ke Girimulyo, Laras dapat membicarakan kecemburuan kecil tanpa harus menjadikannya strategi bertahan hidup. Ningsih tidak memujinya karena menjadi menantu sempurna, tidak menilai masa lalunya, dan tidak bertanya seberapa banyak uang yang masih ia punya.

Sebaliknya, Ningsih menceritakan hari pertama menikah ketika ia menangis gara-gara santan pecah, lalu berpura-pura sakit agar tidak perlu menghadapi komentar Bu Sri. Laras membalas dengan kisah kegagalannya menyalakan tungku sampai alisnya hampir terbakar.

Percakapan mereka bergeser dari kain ke suami, dari harga telur ke rasa takut melahirkan. Ningsih telah mendampingi kakak iparnya dua kali dan tahu jalan tercepat menuju Puskesmas.

“Kalau malam dan Pakde Karyo tidak bisa datang, Jarwo punya motor,” katanya. “Kamu simpan nomor kami.”

Laras mencatatnya di halaman belakang buku KIA. “Terima kasih.”

“Teman tidak hanya datang untuk minum teh.”

Suara palu terdengar dari samping rumah. Arya tiba bersama Jarwo dan sedang memperbaiki engsel jendela yang lama miring. Ia tidak diminta. Begitu melihat sekrup longgar, ia langsung meminjam alat.

“Suamimu juga tidak hanya datang untuk minum teh,” ujar Ningsih.

Ketika pekerjaan selesai, Arya masuk untuk menjemput Laras. Matanya berhenti pada baju bayi kecil di tangan istrinya.

“Sudah membeli?”

“Hadiah dari Ningsih.”

Arya mengangguk kepada tuan rumah. “Terima kasih. Kalau mesin atau raknya perlu diperbaiki, panggil saya.”

“Kalau begitu kami akan sering memanggil,” canda Jarwo.

Dalam perjalanan pulang, Laras membawa pola, dua potong contoh, dan catatan biaya. Arya membawa kain agar ia tidak kelelahan.

“Kamu terlihat senang,” katanya.

“Aku punya teman.”

“Sebelumnya?”

Laras berpikir tentang hubungan Larasati lama yang dibangun dari pesta, gengsi, dan saling memanfaatkan. “Banyak kenalan. Mungkin bukan teman.”

Arya tidak mendesak. Ia hanya menggeser kain ke satu lengan, lalu menggenggam tangan Laras dengan tangan lainnya.

Di rumah, mereka membuka pesanan pertama: enam daster menyusui dari seorang pedagang pasar dan empat baju bayi dari istri perangkat desa. Seluruh uang muka dicatat, bahan akan dibeli bersama, dan pembagian upah disepakati sebelum sehelai kain dipotong.

Usaha kecil itu belum cukup mengubah hidup siapa pun.

Namun di rumah Pak Waluyo, kabar bahwa Ningsih kini memiliki pesanan sendiri membuat seseorang membanting pintu kamar sebelum makan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!