NovelToon NovelToon
The Kings And The Woman

The Kings And The Woman

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lilly✨

Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.

"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pemuda itu menyipitkan mata ketika gadis berambut emas itu melangkah melewatinya tanpa sepatah kata pun. Angin gurun menerpa di antara mereka, membawa debu pasir yang menari di udara, namun ia tetap diam, hanya mengikuti gerakan gadis itu dengan tatapannya yang tajam.

Keangkuhan dan ketenangan gadis itu membuatnya semakin penasaran. Tidak banyak orang yang berani mengabaikannya begitu saja, terlebih di tengah padang pasir yang begitu kejam. Siapa pun yang berani menempuh perjalanan seorang diri pasti memiliki alasan kuat—atau sedang melarikan diri dari sesuatu.

Kudanya bergerak gelisah, merasakan keheningan yang aneh di antara mereka. Pemuda itu sedikit menarik tali kendali, menyesuaikan posisi agar bisa tetap melihat gadis itu.

Dia berjalan di samping nya sembari memegang kuda nya,"nona,kau ingin pergi kemana?."Tanya nya

dia tidak menjawab nya, seperti ada deja vu.

"hm?"desir pria itu.

"apakah Mesir masih jauh?."kata nya

!!

pria itu terkejut dan berkata dengan pelan,"tidak."

mendengar nya , tubuh nya sudah kehilangan Batas nya,dia tumbang karena kelelahan,anak itu menopang nya,"Haus...air.."gumam nya.

Padang pasir yang luas dan ganas membentang sejauh mata memandang, tetapi pemuda itu tahu arah. Sungai Nil memang tidak dekat, tetapi juga bukan perjalanan yang mustahil.

Tanpa ragu, ia menarik tubuh lemah gadis itu ke pelananya, membiarkannya bersandar di dadanya sementara ia menggenggam tali kendali. Kudanya meringkik pelan, merasakan beban tambahan, tetapi tidak melawan.

"Aku tidak tahu siapa kau," gumamnya lirih, "tapi kau tidak bisa mati di sini."

Dengan satu hentakan ringan di kendali, kudanya melesat melewati padang pasir yang terbakar matahari.

Perjalanan menuju Sungai Nil bukan hal mudah. Angin gurun berhembus membawa pasir yang menyapu kulit seperti ribuan jarum kecil. Pemuda itu menundukkan tubuhnya sedikit, melindungi gadis di pelukannya dari terpaan angin.

Langit perlahan berubah warna. Matahari mulai tenggelam di cakrawala, mewarnai langit dengan semburat oranye dan merah. Itu pertanda baik. Malam di padang pasir lebih dingin, dan mereka bisa bergerak lebih cepat tanpa terbakar sinar matahari.

Gadis itu tetap diam dalam dekapannya, hanya nafasnya yang terdengar pelan dan lemah.

Setelah beberapa jam perjalanan, garis-garis hijau mulai muncul di kejauhan. Tanda kehidupan.

Pemuda itu mempercepat laju kudanya. Bau air mulai tercium, suara gemericik samar terdengar. Dan akhirnya, hamparan Sungai Nil yang luas dan menenangkan terbentang di hadapannya.

Ia segera turun dari kuda dan dengan hati-hati mengangkat gadis itu. Langkahnya mantap saat ia berjalan ke tepi sungai, membiarkan air yang sejuk menyentuh kakinya sebelum perlahan menurunkan gadis itu ke tepi air.

Air Sungai Nil yang dingin membasahi kulit gadis itu, memberi kesejukan setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Pemuda itu mengambil kantung airnya, menuangkannya ke tangannya, lalu dengan lembut menyentuhkan air ke bibir gadis itu.

"Minumlah," suaranya rendah, hampir seperti bisikan.

Saat tetesan air menyentuh bibirnya, kelopak mata gadis itu perlahan bergetar.

Pemuda itu menatapnya dengan ekspresi tak terbaca, tetapi matanya mengamati setiap gerakan gadis itu dengan intensitas yang sulit dijelaskan.

Gadis itu perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram, tetapi dia bisa merasakan kesejukan air yang menyentuh bibirnya. Aroma tanah basah dan angin sungai membawa kesadaran yang samar-samar kembali padanya.

Nafasnya berat, tubuhnya masih lemah setelah perjalanan yang panjang. Namun, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya—keberadaan seseorang di dekatnya.

Selena mengangkat kepalanya sedikit. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata kuning keemasan yang menatapnya dengan tajam, penuh dengan ketenangan yang nyaris mengintimidasi.

"Bangunlah, kau butuh lebih banyak air," suara pria itu rendah dan dalam, namun tidak terdengar dingin.

Selena tidak langsung menjawab. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatannya. Rasa haus masih membakar tenggorokannya, tetapi dia tidak ingin menunjukkan kelemahan.

Pria itu, yang masih berjongkok di dekatnya, mengamati dengan diam. Cahaya senja memantulkan rona keemasan di rambut panjangnya yang berkibar diterpa angin sungai.

Akhirnya, Selena mengulurkan tangan dengan lemah. Tanpa banyak kata, pria itu mengisi kantung airnya kembali dan menyerahkannya padanya. Jemari mereka bersentuhan sebentar—hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk menimbulkan sensasi aneh yang mengalir di antara mereka.

Selena minum perlahan. Air dingin mengalir di tenggorokannya, mengusir panas yang membakar tubuhnya selama perjalanan panjang di padang pasir.

Pria itu masih diam, hanya mengamati. Ada ketertarikan yang tersirat dalam tatapannya, namun bukan dalam arti yang dangkal. Dia seperti seseorang yang mencoba memahami teka-teki yang baru saja muncul di hadapannya.

"Kenapa kau sendirian di padang pasir?" akhirnya dia bertanya.

Selena menurunkan kantung air, menatap lurus ke dalam mata pria itu. "Aku ingin pergi ke Mesir."

Pemuda itu mengangkat alis, seolah memproses jawaban yang begitu sederhana namun penuh misteri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!