"Ayo kita bercerai!"
Hana tiba-tiba diceraikan oleh Heston karena sang suami mengalami kecelakaan dan amnesia.
Dunia Hana hancur apalagi dia diceraikan dalam keadaan hamil.
Apa yang akan Hana lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Waktu
Hana melihat kedua anaknya makan sup mahal dengan lahap. Tidak hanya sup tapi menu lainnya yang ada di meja mereka karena terlihat sangat menggoda.
Perempuan itu sadar jika selama ini jarang membawa si kembar jalan-jalan apalagi makan di tempat mewah seperti ini.
"Nona es krim, apa kau tidak ikut makan?" tanya Aston.
Hana mendengus kasar karena mendengar pertanyaan Aston itu. Dia mengikuti lelaki itu bukan karena uang yang ditawarkan tapi memang di luar hujan semakin deras.
Tidak mungkin Hana akan membawa kedua anaknya pergi dalam keadaan seperti itu.
"Hana, itu namaku. Jadi, berhenti memanggilku nona es krim," ucap Hana kemudian.
Aston tersenyum miring karena Hana sudah mulai mau memperkenalkan diri pada dirinya. Usahanya sedikit demi sedikit membuahkan hasil.
"Jadi..." Aston sekarang memandang sepasang anak kembar yang duduk di depannya.
"Di mana papa kalian?"
Venus membalas tatapan Aston di sana. "Papa kami sudah meninggal!"
"Uhuk!" Aston langsung tersedak mendengarnya.
"Me... meninggal?"
"Apa paman mau menjadi papa baru kami?" timpal Mars memberi penawaran.
Aston semakin tercengang dibuatnya. "Papa baru?"
"Hahaha..." Mars dan Venus kemudian tertawa karena melihat ekspresi wajah dari Aston yang tampak syok seperti itu.
"Kalian tidak boleh mengganggu paman ini," tegur Hana supaya kedua anaknya tidak mengganggu Aston.
"Maafkan anak-anakku, mereka memang sering menggoda orang!"
Aston menganggukkan kepalanya paham. "Tapi, apa benar papa mereka sudah meninggal?"
"Ya begitulah," jawab Hana ambigu.
Kalau memang benar Heston adalah ayah kandung dari dua anak itu pasti Hana merasa sangat sakit hati sampai mengatakan bahwa Heston sudah meninggal.
Aston tidak mau banyak bertanya lagi atau Hana akan semakin tidak nyaman padanya.
Hari itu, Aston mengantar Hana dan si kembar pulang ke rumah mereka setelah hujan benar-benar reda.
"Terima kasih paman," si kembar membungkukkan badannya sejenak setelah turun dari mobil.
"Selamat tinggal dan jangan temui kami lagi," tambah Hana.
Aston menaikkan kedua bahunya. "Aku bukan laki-laki yang suka ingkar janji, aku pasti akan kembali dengan membawakanmu uang!"
"Dasar aneh!" ketus Hana seraya pergi.
Tidak ada rasa tersinggung pada diri Aston walaupun dikatakan aneh oleh Hana. Dia justru semakin bersemangat.
Kalau tahu begini seharusnya dia mendekati Hana lebih awal.
Aston melihat tempat tinggal Hana yang tampak sederhana berbeda sekali dengan tempat tinggalnya sekarang.
Disaat keluarganya hidup bergelimang harta, ada dua anak yang hidupnya pas-pasan.
Aston tidak menyukai kondisi ini.
*
*
"Ck!" Heston berdecak kesekian kalinya karena melihat di luar hujan dan pekerjaannya yang menumpuk.
Setelah kembali dia harus membantu sang kakak mengurus perusahaan tapi Aston tidak menampakkan batang hidungnya hari ini.
"Di mana sebenarnya dia?"
Lelaki itu merasa kesal bukan main.
"Saya rasa tuan Aston tidak bekerja hari ini," balas Gleen seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
Sebentar lagi jam pulang kantor tidak mungkin Aston akan muncul di perusahaan.
Heston terpaksa harus lembur hari ini supaya besok dia bisa bersantai.
Tak lama Queen datang untuk menjemput calon suaminya.
Padahal mereka akan segera menikah tapi sangat sulit untuk bertemu jadi Queen mengalah supaya bisa bertemu dengan Heston hari ini.
"Nona Queen..." tegur Gleen yang melihat perempuan itu datang.
"Di mana Heston?" tanya Queen.
"Tuan Heston masih melakukan pekerjaannya di dalam," Gleen menunjuk ruangan Heston berada.
Tanpa banyak kata lagi, Queen langsung masuk ke ruangan yang ditunjuk.
Di dalam sana Heston memang tampak sibuk untuk memeriksa perkembangan proyek perusahaan.
"Ada apa lagi, Gleen?" tanya Heston yang merasa ada seseorang mendekat. Dia pikir itu adalah sang asisten.
Tercium aroma parfum wanita yang membuat Heston mengalihkan atensinya.
"Queen?" Heston melihat calon istrinya datang.
"Aku datang untuk mengajakmu makan malam tapi sepertinya kau sibuk," ucap Queen yang sudah mendekat.
"Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa pergi jadi pulanglah!" Heston setengah mengusir perempuan itu.
Queen menatap Heston yang selalu acuh itu.
"Kita akan menikah tapi kenapa sikapmu masih seperti ini?" protes Queen.
"Kau tidak mau membuka hati untukku?"
Heston mendengus kasar, dia tidak bisa menjawab karena dia selalu merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Lelaki itu sadar sudah melupakan sesuatu hal yang besar.
"Bisakah kau menunggu sampai ingatanku kembali?"
"Aku akan membuat keputusan setelah ingatanku benar-benar pulih!"
Heston meminta Queen untuk menunggunya.
agak lama yaa nunggu nya