Sequel Jodoh Pilihan Allah
~Aku mencintaimu karena Allah, aku menikahimu Karena Allah, Semoga Karena Allah pulalah kita berpisah~
Shafa Azura & Zidane Ar-Rayyan pasangan fenomenal dengan kisah cintanya yang unik dan menginspirasi. Namun, sebuah tragedi terjadi, memaksa mereka terpisah. Apakah itu ujian? Atau garis takdir yang harus mereka jalani.
Mampukah Shafa bertahan dengan penantian dan cintanya kepada Rayyan?
Jangan tanyakan sampai kapan aku menunggu, Karena aku di takdirkan untuk menunggu dan kau di takdirkan untuk kembali~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alamat
Sudah hampir dua hari Andi hanya terdiam di dalam kamar karena rasa pusingnya masih sering muncul. Abah sudah memaksanya untuk ke Jakarta tapi ia belum mau, ia minta waktu beberapa hari untuk menenangkan fikiran sambil memulihkan kondisinya.
Ayah Atu namanya Layyan!
Ia teringat kembali kata-kata Am waktu itu.
"Rayyan? Astagfirullah, Am! Bagaimana nasib anak itu ya Allah" Ia baru ingat bahwa dua hari yabg lalu ia melihat Am hampir tenggelam atau mungkin sudah tenggelam. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan buru-buru keluar kamar mencari keberadaan seseorang.
"Syah... Aisyah!!!" Beberapa kali ia memanggil Aisyah, ia mencarinya di dapur, di halaman belakang tapi tak menemukan gadis itu.
"Andi, Kamu teh sudah baikan? Apa masih sakit kepalanya?"
"Alhamdulillah sudah mendingan ambu, Aisyah dimana ambu?" Tanya Andi sambil menyapu pandangannya ke seluruh isi ruangan.
"Aisyah lagi metik cabe di samping" Ujar ambu yang tengah meracik bumbu untuk makan siang.
Andi segera melebarkan langkah kakinya setengah berlari menuju pekaranagan samping untuk mencari Aisyah.
"Aish... Aish... Ikut aku sekarang" Ujarnya pada Aisyah yang tengah asyik memetik cabe di pekarangan samping rumah.
"Akang sudah sembuh? Nanti kumat lagi, Aish yang repot" Ucapnya sinis. Gara-gara ia banyak bercerita waktu itu membuat Andi kembali sakit. Abah dan ambu bahkan sampai memarahi Aisyah.
"Sudah, akang sudah baikan" Ucapnya.
"Ya udah, mau ikut kemana ni? Mau ke kebun teh atau ke pabrik?" Tanya Aisyah. Rutinitas Andi selama berada di tempat itu hanya ke kebun teh mengawasi para pekerja atau ke pabrik mengontrol pengolahan daun teh menjadi teh siap seduh. Teh dengan merk Melati tersebut cukup laris di pasaran bahkan pemasarannya sudah menembus sampai ke luar pulau jawa.
"Antar saya menemui anak itu" Ucapnya.
"Anak saha kang? Akang otaknya gesrek ya?" Aisyah masih tak paham akan maksud ucapan Andi.
"Anak yang pernah ketemu di kebun teh. Saya yakin dia bagian dari ingatan saya yang hilang" Balas Andi. Selama hampir dua hari ia berdiam diri di rumah, bayang-bayang wajah Am terus menghantuinya. Bagaimana ia memanggilnya Ayah, terlihat jelas kerinduan dan kebahagiaan yang membuncah di wajah bocah bergigi ompong tersebut saat melihatnya.
"Ya hayuk, tapi mau nyari kemana kang? Akang tahu dimana dia menginap di sini? Nggak mungkin kan kita cari satu-satu di rumah warga. Ogah lah Aish mah"
"Saya juga ngga tau, makanya saya ngajak kamu. Kamu yang lebih tahu warga disini" Ujar Andi.
"Ogah lah, mana Aish tahu kang, kampung ini teh luas" Tolak Aish. Yang benar saja, mencari seorangvanak kecil yang belum jelas nama dan alamatnya di kampung seluas itu, bagaikab mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Assalamualaikum..." Suara lembut itu menghentikan ocehan Aisyah.
"Waalaikum salam" Andi menjawab dengan menangkupkan tangan di dada.
"Kang Andi sudah sehat? Risa dengar dari Abi, katanya akang sedang sakit." Tanyanya dengan lemah lembut.
"Alhamdulillah neng, saya sudah baikan" Jawab Andi. Sedangkan Aisyah yang berada disitu merasa seperti obat nyamuk tak terpakai. Ia melirik Andi dan Risa bergantian. Mengapaa tak satupun pertanyaan terlontar untuknya?
"Kalau boleh tahu, akang sakit apa? Siapa tahu Risa bisa ngasih tips. Oh iya, ini Risa bawakan Gurame bakar buat akang." Ucapnya dengan seulas senyum yang tak pernah pudar dari wajah kalemnya.
"Nggak sakit parah kok teh, kang Andi cuma lagi ingat sama anaknya saja" Sahut Aish yang sudah tidak tahan menyaksikan dua orang insan berbeda jenis, dimana salah satunya sedang mencoba untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
"A...anak?" Risa membelalak kaget. Rasa kecewa seketika menyusup ke dalam kalbunya. Apakah harapannya kini telah pupus?
"Aish! Oh itu bu bidan maksudnya...
"Udah nggak usah kebanyakan ngeles! Ayo kita cari anak kang Andi itu, atau akang cari sendiri." Ujar Aisyah smabil melotot pada Andi.
"Iya...iya... Maaf bu bidan saya permisi dulu, ada urusan lain. Oh ya terimakasih untuk masakannya. Insha Allah saya akan makan nanti. Assalamualaikum" Ucapnya. Setidaknya ia menghargai pemberian orang lain untuk dirinya, apalagi Risa adalah gadis baik menurutnya, terlepas dari ucapan Aisyah yang ia anggap sebagai fikiran seorang abg labil.
Risa tersenyum getir menatap punggung lelaki yang akhir-akhir ini menguasai hati dan fikirannya semakin menjauh. Ingin rasanya ia menahan, namun apa daya. Andi mau tersenyum dan memakan pemberiannya saja sudah sangat syukur. Ia terus memangdangi laki-laki yang mulai sering ia sebut dalam doa hingga benar-benar hilang dari pandangan.
Apa benar kang Andi sudah punya anak? Apa dia sudah ingat masa lalunya? Ya Allah semoga itu salah.
.
.
.
.
Andi dan Aisyah menyusuri lorong-lorong yang ada di kampung itu dengan menggunakan sepeda motor. Mereka tidak memiliki tujuan yang jelas, hanya berkeliling berharap tak sengaja bertemu kembali dengan Am.
"Syah? Kapan kamu kembali ke Jakarta?" Tanya Andi.
"Minggu depan kang? Kunaon atuh?"
"Apa mungkin aku kesana sekalian bareng kamu aja ya? Supaya nggak nyasar" Ujar Andi.
"Ya, tergantung abah, siapa tahu abah maunya akang segera dibawa ke sana. Kalau nanti-nanti malah bahaya kang" Ujar Aisyah. Kepalanya melongok ke kiri dan kanan. Ia berhenti saat belihat anak kecil berusia sekitar 3 tahun untuk memastikan anak yang di cari Andi.
"Saya akan kesana setelah menemukan anak itu."
"Stop...stop!!! Aisyah menepuk bahu Andi memintanya berhenti.
"Kenapa?"
"Dari tadi teh kita muter-muter tapi nggak ketemu. Sekarang Aish mau ngebakso dulu. Lapar atuh kang sekalian kita pikirin bagaimana caranya nemuin anak itu" Ia turun dari motor dan langsung memesan semangkuk bakso dan segelas es teh untuknya.
"Aish!!!"
"Naon?"
"Waktu itu saya sempat ketemu anak itu di sini, dia di temani anak laki-laki lain" Ujar Andi. Iaa ingat saat itu Dul bahkan melarangnya memberikan es teh pada Am.
"Lah terus----"
Belum selesai Aisyah melanjutkan ucapannya, Andi sudah beranjak dari kursinya menghampiri mamang penjual bakso ynag tengah menyiapkan pesanan Aisyah.
"Maaf mang, mamang masih ingat sama anak kecil yang beberapa hari lalu kemari?" Ia berdoa semoga si mamang masih mengingatnya, sehingga bisa menjadi titik terang baginya.
"Yang mana ya kang? Soalnya anak kecil yang kemari teh banyak" Ujar mamang sambil mengangkat mangkuk bakso pesanan Aisyah.
"Yang ganteng itu mang, yang giginya ompong... Ahhh" Andi mengusap wajahnya, bagaimana harus menjelaskan kepada mamang bakso ini. Ia kemudian teringat akan foto yang ia ambil saat makan bakso bersama dengan Am.
"Yang ini mang... Yang ini, yang beberapa hari lalu beli bakso di tusuk di sini" Ia menunjukan foto di handphonenya.
"Oh iya, anak kecil yang cerewet itu ya? Kenapa memangnya kang?"
"Mamang tahu di mana dia tinggal?" Tanyanya tak sabar.
"Kalau itu sayaa nggak tau kang"
"Kalau ini, anak yang ini! Mamang tahu di mana rumahnya?" Ia menunjuk wajah Dul yang tak sengaja terkena kamera. Yang ia tahu Am datang bersama anak lelaki itu.
"Itu mah si Abdul kang, cucunya pak Ali. Iya ya, pas itu teh anak ini sama Dul" Jawab mamang penjual bakso.
"Aish, kamu tau rumahnya pak Ali dimana?" Andi menghampiri Aisyah yang tengah memakan baksonya.
"Tahu"
"Ayo ---"
"Makan dulu kang, makan!!!" Selanya sebelum Andi menyelesiakan ucapannya.
"Iya... iya cepat!" Andi tak sabar ingin bertemu Am. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Am adalah bagian dari masa lalunya yang hilang.
"Ya ampun kang, ini setengah belum habis udah mau cepet-cepet. Pokoknya kalau samapai akang ingatan udah kembali, akang harus bayar Aish 10 juta, buat ongkos nemenin muter-muter" Jawabnya kesal.
"Iya Aish, iya"
Jangankan 10 juta, 100 juta pun akan aku berikan kalau benar Am adalah anak ku.
"Udah"
"Alhamdulillah Aish"
"Shhh... iya... iya. Alhamdulillahirobbil alamin. Ayo lets go ke rumah pak Ali" Ucapnya.
Andi segera memacu motornya mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Aisyah. Tak sabar rasanya ingin segera mengetahui kondisi Am.
"Nah... itu sebelah kiri kang yang ada pohon jambu air nya" Tunjuk Aisyah pada sebuah rumah dengan banyak pohon buah buahan di halamannya.
Aku mau beli jambu air mas!
Sekuat tenaga ia menghalau suara yang kembali terdengar di kepalanya.
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum..." Aisyah berteriak mengucapkan salam sambil mengetuk-ketuk pintu bercaylt putih yang tengah tertutup.
"Nggak ada orang kang"
"Coba lagi Syah"
"Assalamualaikum... Mang, Teh, Uwak!!!" Teriaknya lebih keras.
"Waalaikum salam" Terdengar sahutan dari dalam. Sebuah senyum terbit dari bibir Andi saat melihat ada pergerakan di balik pintu.
"Ada apa teh?" Tanya Dul setelah membuka pintu dengan sempurna. Aish mencoba melongok kedalam rumah yangbkelihatan sepi.
"Sendiri Dul?"
"Iya, Ibu sama bapak sudah ke pabrik" Jawab Dul
"Kamu yang waktu itu bersama Am ke warung bakso kan?" Sela Andi tanpa basa-basi.
"Iya kang. Kenapa?" Dul nampak bingung dengan kedatang dua orang itu.
"Am dimana sekarang? Saya ingin bertemu dengannya" Ujar Andi tak sabar.
"Adek Am dan keluarga sudah pulang ke Jakarta kang dua hari lalu setelah adek Am kecebur sungai" Terang Dul.
"Pulang?" Sekelebat rasa kecewa dan menyesal merasuk hati Andi. Andai saja waktu itu dia menemui Am kembali atau paling tidak bertemu dengan keluarganya, mungkin ada titik terang tentang dirinya. Tapi kembali lagi, ia percaya ini adalah bagian dari skenario Allah untuknya.
"Bagaimana kondisi Am saat itu?" Ia melontarkan pertanyaan lain.
"Adek Am nangis terus, makanya sama omnya langsung di bawa pulang untuk di rawat di Jakarta" Balas Dul.
"Dul tahu Alamatnya anak itu di Jakarta?" Tanya Aisyah. Ia tak tenang melihat Andi yang mulai gelisah. Ia takut tiba-tiba Andi pingsan atau berteruak seperti dua hari lalu.
"Ada teh!"
"Boleh minta dul, kebetulan teteh dan kang Andi mau ke Jakarta" Ujar Aisyah.
"Tunggu ya teh, Dul ambil kertas dulu"
Setelah menunggu kurang lebih 5 menit, Dul muncul dengan membawa kertas di tangannya.
"Ini Alamatnya teh!"
"Makasih ya Dul. Teteh pulang dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Besok kita ke Jakarta Syah!!!" Ucap Andi tiba-tiba.
"APA???"
tp akhirnya ceritanya gantung.
tolong dilanjut sampai end kak...
ternyata selama itu kak authornya vakum
semoga sehat selalu kak ya, dimudahkan segala urusan oleh Allah SWT
Aamiiiin
ayolah kakak di lanjut lg
jngan di gantung
sy selalu mendoakan semoga kak Thor naik sehat dan selalu dlm lindungan Tuhan ,,
biar bisa lanjut
sy samapai jenuh menunggu
Tp ngomong2. Ini banyak komen gn dibaca ga sih sama si Author.
ga terlalu lebay
tapi kenapa lama sX up lanjutan nya
sampe 5 x baca bolak balik
belum ada sambung nya ,
sampe cape nunggu
sampe hafal cerita nya karna berulang X di baca
malah sampe geregetan sama AUTHOR nya
kenapa blm UP lg
sampe nangis di tinggal AUTHOR ngilang begitu Saja
tapi kenapa kelanjutan nya belum ada juga tor
lanjut dong biar seru
sampe bosen bacanya 5X baca loh ,,
sampe khatam ceritanya