Soraya harus merasakan sakit yang luar biasa ketika mengetahui Mario yang tak lain calon suaminya menghamili wanita lain, padahal dia juga sedang mengandung anak Mario.
Soraya tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungannya dengan Mario, dia memilih untuk melepaskan Mario dan menyuruh Mario untuk bertanggung jawab pada wanita itu.
Mario tentu tidak terima, karena dia tidur dengan wanita itu tanpa sengaja, dan dia kekeh ingin menikahi Soraya, tapi Soraya juga kekeh menolak.
karena tidak ingin Mario mengejar-ngejarnya lagi Soraya, nekad menikahi pria bayaran yang sudah memiliki kekasih, tentu saja Soraya melakukan ini demi status dari anak yang di kandung karena Mario belum tau bahwa dia mengandung dan selama bertahun-tahun pula, Soraya berhasil menyembunyikan fakta, bahwa anak yang dulu dia kandung adalah anak Mario.
Dan karena masih dendam dengan keputusan Soraya, Mario terus mengganggu Soraya dan menyakiti anak Soraya, yang juga tanpa dia sadari adalah anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Bertemu Kelvin
Soraya melihat ke sekitarnya, memastikan alamat yang di berikan oleh Mario benar, saat ini Soraya akan meninjau lahan tempat Mario yang membangun rumah.
Yang membuat Soraya bingung, kawasan rumah ini jauh dari rumah-rumah lain, kemarin Mario tidak mengatakan bahwa lahan yang akan dibangun masih berdiri Satu rumah kecil yang seperti villa, itu sebabnya Soraya bingung karena dia takut dia salah alamat.
Tak lama terdengar suara mobil yang mengklakson dari arah belakang, hingga Soraya menoleh dan ternyata itu adalah mobil Mario, dan dengan cepat Soraya pun langsung memajukan mobilnya kemudian memarkirkannya di area depan Vila tersebut
Jantung Soraya berdetak dua kali cepat ketika melihat Mario keluar dari mobil, dia pikir Mario akan pergi bersama Regina, karena kemarin Mario mengatakan akan mengajak Regina untuk mengecek lokasi tapi ternyata Mario malah datang sendiri.
Ketika Mario berjalan ke arahnya, Soraya dilanda kebingungan dia harus berbicara seperti apa, haruskah dia berbicara formal seperti kemarin atau berbicara seperti biasa.
“Ayo masuk!" Ajak Mario, yang tanpa basa-basi mengajak Soraya untuk masuk hingga Soraya mengangguk, dia mengikuti langkah Mario.
Ketika melihat Mario di depannya, tangan Soraya seperti meronta-ronta ingin menggapai punggung Mario, meminta Mario untuk melihat ke arahnya, tapi tentu saja Soraya tidak melakukan itu.
Mario membuka pintu Kemudian dia menggeser tubuhnya mempersilahkan Soraya untuk masuk dan ketika Soraya masuk Soraya tertegun ketika melihat nuansa klasik yang sangat indah.
“Silahkan cek Terlebih dahulu di bagian belakang, aku akan menunggu di sini," ucap Mario dan seperti biasa dia berbicara formal pada Soraya, seakan mereka orang asing.
Beberapa saat berlalu,
Soraya sudah selesai mengecek sekitarnya, hingga dia langsung kembali lagi ke ruang tamu, untuk menemui Mario, dan ternyata Mario sedang fokus pada laptopnya.
“Ekhemm.” Soraya berdehem, hingga Mario tersadar.
“Silahkan duduk, kita bicarakan tentang pembayaran dan kontrak!" Ucap Mario hingga Soraya pun mengangguk, kemudian dia langsung mendudukan diri di sebelah Mario.
Pembicaraan demi pembicaraan di mulai, Soraya berusaha fokus, karena jujur saja ini begitu aneh untuk Soraya, mereka yang dulu sangat dekat, Kini Seperti orang asing.
“Maaf, Tuan Mario. Sebentar ....” Soraya terpaksa mengehentikan pembicaraan yang sedang berlangsung . Sebab ponselnya berbunyi, hingga dia pun langsung mengangkat panggilannya dan ternyata panggilan itu dari Cio, dan ternyata Cio yang menelpon Soraya dan mengatakan bahwa dia sudah menjemput Kirea di sekolah.
“Maaf tuan silakan lanjutkan," ucap Soraya.
“Kita lanjutkan setengah jam lagi aku ada pekerjaan sebentar.” Setelah mengatakan itu, Mario pun bangkit dari duduknya, kemudian dia langsung meninggalkan Soraya, membuat Soraya kebingungan, karena reaksi Mario sangat aneh.
Mario masuk ke sebuah ruangan, dia melonggarkan dasinya, wajah lelaki itu mendadak kesal ketika Soraya menyebut nama Cio dengan raut wajah senang.
Setengah jam berlalu, Mario keluar dari ruangan yang tadi dia tempati, lelaki tampan itu mengerutkan keningnya ketika melihat Soraya tidak ada di mana pun, hingga dia pun melihat ke arah luar.
Mata Mario membulat ketika melihat Soraya yang sedang berbicara dengan seorang lelaki yang sangat dia kenal. Rupanya, Soraya sedang berbicara dengan Kelvin, teman Mario.
Tadi, saat Soraya melihat ke sekitar Fila, dia melihat Kelvin sedang berjalan, karena ternyata Kelvin mempunyai Vila di sekitar Fila Mario.
Ingat dah kena strok