Irma Sukma Ayu adalah penari termashur di desanya. Dia gadis cantik dengan sejuta pesona, penampilannya di atas panggung selalu ditunggu dan dinanti para penggemarnya.
Irma adalah gadis cantik yang anggun, tutur bahasanya lemah lembut dan sangat ayu. Sehingga ia menjadi kesayangan seorang Juragan Muda bernama Tama Sutha Jaya, sang pemimpin group ronggeng tempat Irma menari.
Namun, kisah cinta mereka tidaklah berjalan mulus. Irma yang ayu ternyata dicintai oleh makhluk tak kasatmata juga. Laki-laki itu harus bersaing secara sengit demi membebaskan Irma dari pengaruh sang Raja Jin penguasa hutan larangan yang memang sudah lama mengincar Irma sejak dia masih bayi merah.
Lantas bagaimana kisah mereka, dan ada Misteri apa yang tersimpan dari seorang penari ronggeng dari Desa Renggong ini? Yuk, Cekidot!
***
Don't forget, Gais!
Like, komen, love and givenya, ya
Thank you😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niti Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Tubuh Danu Adji dengan lihainya menghindar dari segala serangan makhluk itu, tangan kirinya di belakang tubuhnya dan tangan kanan berada tepat di depan mulutnya yang masih komat kamit, menatap tajam pada makhluk besar di hadapannya waspada dengan segala serangan makhluk seram itu yang semakin menggila karena tak juga berhasil melukai tubuh lawannya.
"Allahu Akbar!" Suara Danu Adji menggema di seluruh ruangan, membuat makhluk seram itu seketika menutup kedua telinganya dan mengerang kesakitan. Suara lafaz yang keluar dari mulut Danu Adji seakan merusak gendang telinga makhluk itu.
Bugh! Bugh! Bugh!
Pukulan bertubi-tubi dari tangan kanan Danu Adji menghantam dada perut dan wajah makhluk hitam besar di hadapannya, seketika membuat makhluk itu mengerang kesakitan, mata merahnya meredup, tubuhnya mundur beberapa langkah menjauhi Danu Adji, dan akhirnya lenyap.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas pertolonganMu," ucap syukur Danu Adji seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
Danu Adji melihat ke arah tubuh polos Irma yang tergeletak tak sadarkan diri, dan langsung membopong tubuh gadis itu memasuki kamar dan meletakan tubuh Irma di ranjang, segera ia tutupi tubuh itu dengan selimut yang ada di atas ranjang, lalu ia segera keluar dari dalam kamar Irma, dan menunggu di ruang tamu.
***
"Benarkah, Kang Danu Adji?" tanya Irma mengernyitkan keningnya, ia masih merasa takut dengan ingatannya. "Irma takut, Kang, ada makhluk yang memeluk tubuh Irma sewaktu Irma lagi mandi," kata Irma dengan nada suara bergetar karena rasa takutnya.
"Tenanglah, Dek, kau jangan khawatir, kau sudah aman, makhluk itu belum sempat melakukan apa pun padamu," sahut Danu Adji berusaha meyakinkan Irma dan menenangkannya.
"Ta-tapi Irma sangat takut, Kang, makhluk itu terus mengawasi dan menganggu Irma." Irma terisak karena rasa takut yang menyelimuti hatinya.
"Sebaiknya kau cepat pakai pakaianmu lebih dulu, Dek. Akang tunggu di depan, ada yang harus kita bicarakan." Irma menganggukkan kepalanya, dan Danu Adji keluar dari kamar Irma.
Tak lama Irma keluar dari dalam kamarnya dengan kebaya kain hitam dan bawahan kain carik batik melilit di kakinya yang jenjang. Irma menghampiri Danu Adji dan duduk di kursi kayu di samping pria itu.
Irma menatap wajah tampan Danu Adji, menunggu lelaki itu mengatakan sesuatu yang ingin dia bicarakan dengannya tadi. Cukup lama Irma menunggu dan akhirnya Danu Adji membuka percakapannya.
"Dek Irma," ucap Danu Adji menoleh ke arah Irma.
Irma pun membalas menatap ke arah Danu Adji, menyiapkan diri untuk mendengar apa yang lelaki itu katakan. "Kedua orang tuamu sudah melakukan perjanjian terkutuk itu dengan makhluk itu, Irma. Ini takan mudah untukmu, karena makhluk itu menganggap kau itu sebagai istrinya, makhluk itu takan berhenti di sini, dia akan terus berada di sekitarmu dan terus mendampingimu, Dek." Perkataan Danu Adji semakin menambah ketakutan pada diri Irma, kini matanya menatap kosong ke arah wajah Danu Adji berharap ada solusi dari semua masalah yang ia miliki.
"Lalu apa yang harus Irma lalukan, Kang, Irma tak mau terus dihantui makhluk mengerikan itu," ucap Irma disela isak tangisnya.
"Akang akan berusaha terus melindungi kau, Irma. Insya Allah, akang akan berusaha semampu akang dengan izin dariNya." Danu pun hanya bisa berlindung dari fitnah yang jin itu siapkan nantinya.
"Apa, Kang Danu yakin?" Irma ingin memastikan.
"Insya Allah, Dek. Ini permintaan dari kedua orang tuamu sebelum mereka meninggal, dan akang akan berusaha menepati janji akang semampu akang," jawab Danu Adji berusaha meyakinkan Irma, meski pun dirinya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana.
Irma tersenyum dan merasa lega sekarang, setidaknya ia mungkin akan terlindungi oleh pria yang duduk di sampingnya saat ini. "Shalatlah, Dek. Dan terus berdoa kepada Allah, untuk memohon perlindungan padaNYA, karena Ia sebaik-baik pelindung," lanjutnya, Danu Adji mengingatkan kepada Irma agar wanita itu bisa lebih mendekatkan diri pada sang maha pencipta.
Irma pun menganggukan kepalanya, dia tahu selama ini agamanya memang Islam, tapi keluarganya sangat jauh dari ibadah. Agus dan Ratna tidak pernah mengajaknya shalat atau ibadah lainnya.
"Tapi, Irma tidak mengerti caranya shalat, Kang. Ibu dan bapak tidak pernah mengajak Irma beribadah." Gadis itu menunduk.
"Belajar perlahan, Allah tahu jika ibdahmu belum sempurna, tapi tetapkan di dalam hatimu, kuatkan niatmu untuk beribadah padaNya. Kakang akan ajarkan nanti, dan akang harap Irma harus selalu ingat akan hal itu."
Irma kembali mengangguk patuh, tanpa ia sadari pria di hadapannya ini tengah merasakan kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan.
"Ambilah ini." Danu Adji memberikan sekantung manik tasbih di dalamnya, dan diterima oleh Irma. Irma masih diam tak menjawab apa pun yang Danu Adji katakan.
"Lemparkan manik-manik tasbih itu jika Adek merasa makhluk itu hadir di sekelikingmu, ucapkan basmallah dan adek lemparkan ke arah di mana Adek merasa makhluk itu hadir," lanjut Danu Adji menjelaskan.
"Baiklah, Kang, terima kasih Akang sudah mau membimbing Irma, Irma bersyukur sekali bisa kenal dengan Akang sekarang. Andai waktu bisa terulang, andai Irma waktu itu bisa bicara pada bapak dan ibu, Irma akan melarang mereka untuk melakukan hal salah seperti ini, Irma merindukan ibu dan bapak ...." Tangis Irma kembali membuncah, ingatannya kembali pada bayangan masa lalu.
***
"Irma kau hati-hatilah, Nak, dan berikan penampilan terbaikmu, ini pertama kalinya Irma jadi seorang penari. Ini impian Irma kan dari kecil, Irma ingin menjadi bintang, semoga Irma berhasil ya, Sayang." Ratna menepuk lembut lengan Irma memberikan semangat pada putrinya yang akan pergi pentas pertama kalinya, karena Irma baru saja diajak oleh Tama Jaya Group yang cukup terkenal di desa mereka.
"Iya, Irma ... kau pasti bisa, Nak!" Agus juga ikut menimpali istrinya, dan Irma hanya tersenyum manis, ia sangat bahagia karena impiannya ingin menjadi penari hebat didukung oleh kedua orang tuanya.
"Terima kasih Ibu, Bapak, Irma akan berusaha keras agar bisa memberikan yang terbaik untuk penonton," timpal Irma dengan penuh semangat.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang, Irma langsung berlari kecil menuju pintu dan membukakannya.
"Kang Tama, Teh Lilis ayo masuk," sapa Irma senang melihat kedatangan kedua orang tadi, dan mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"Ibu, Bapak, ini Kang Tama dan Teh Lilis sudah datang." Irma memperkenalkan. "Duduk, Kang, Teh," kata Irma mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Duduklah, Nak Tama, Lilis. Bibi akan buatkan minuman untuk kalian dulu yah," sambung Ratna seraya memberi senyum ramah.
"Jangan repot-repot, Bi, kami tidak akan lama kok, kami ke sini hanya ingin menjemput Irma, karena malam ini akan ada pentas di desa sebrang," ucap Tama yang diangguki oleh Lilis di sebelahnya.
"Iya, Bi. Kami hanya sebentar kok," sambung Lilis seraya tersenyum manis. "Irma, ayo segera siap-siap kita berangkat sekarang," lanjutnya melirik ke arah Irma.
"Ah iya, Teh, tunggu sebentar yah, Irma siap-siap dulu sebentar," sahut Irma yang langsung berlari kecil ke dalam kamarnya.
Ratna dan Agus tersenyum melihat putrinya yang begitu bersemangat. "Irma sangat bahagia sekali, Nak." Tama dan Lilis juga tersenyum menanggapi ucapan Ratna.
Tak lama Irma keluar kembali dari kamarnya. "Ayo, Kang, Teh, Irma udah siap," ucap Irma sembari membawa tas kain yang tersampir di pundaknya.
"Ya udah ayo," timpal Tama yang langsung berdiri disusul Lilis.
"Ah iya, Nak Tama, Nak Lilis, tolong jaga Irma ya, Kak," ucap Agus menitipkan anak gadis semata wayangnya pada dua orang yang membawa putrinya.
Moga ajj darah yg d hisap gk sampe ketelen ma tama.dibuang s3mua
kayak logat batak ajj ya.
Apa athor nya rang medan ya????
tadi terdengar suara rintihan ratna kesakitan waktu dukun nya mo tiba.
lah saat mo lahiran malah teriakanny gak kedengaran sampe luar karna ruangan d kasih peredam suara.klo cerita jaman segitu.apa ya udah ada redam suara.🤦♀️🤦♀️