Selalu dianggap jelek dan dihina oleh suami dan keluarganya, bahkan hingga diceraikan. Membuat Nadi Djiwa membalaskan dendamnya dengan merubah penampilannya, ia ingin membuat mantan suaminya menyesal karena telah menceraikannya, dan ia pun ingin merebut kembali perusahaan yang ia rintis dari nol.
Akankah Nadi berhasil membalaskan dendamnya? Cerita selengkapnya hanya ada di novel Beauty - NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Sepanjang perjalanan Nadi teringat perlakuan manis yang di tunjukan Mentari kepada Cindy. 'Apa seandainya dulu aku bisa memberikannya cucu, mama akan menyayangiku seperti mama menyayangi Cindy sekarang?'
Aaron menyentuh ringan tangan Nadi. "Kamu baik-baik saja sayang?" sedaritadi ia memperhatikan Nadi nampak diam dan melamun, memnadangi jendela mobil.
Nadi tersenyum sembari mengangguk. "Ya, aku hanya sedikit memikirkan pekerjaan besok," jawab Nadi berbohong, ia tak mungkin mengatakan jika dirinya tengah memikirkan mantan ibu mertuanya. "Apa Alyssa tidak marah kita jalan hanya berdua?"
"Tidak. Dia tahu kalau kita hanya kondangan, jadi dia sama sekali tak rewel dan tidur cepat." Aaron menepikan kendaraannya di wilayah pasar malam yang tak jauh dari komplek kediaman lamanya. "Kau masih ingat tempat ini?"
Nadi tertawa, ia sangat ingat jika hampir setiap akhir pekan, mereka bertiga makan pecel lele di pasar malam itu. "Pecel lele kesukaanmu," jawab Nadi.
Aaron pun ikut tertawa. "Ayo kita turun," ia membuka sabuk pengamannya kemudian ia turun dari mobil. Aaron memesan banyak makanan untuk bernostalgia bersama Nadi. "Kapan-kapan kita ajak Sofi ke sini."
Nadi hanya memandangi lele goreng, tempe mendoan, bebek goreng dan sambal yang penuh dengan minyak yang ada di hadapannya. Pandangannya beralih ke Aaron yang tengah menyantap semua itu dengan lahap. "Loh kenapa cuma di liatin aja, Die?" Aaron mendongak, menatap makanan yang ada di hadapan Nadi masih utuh. "Mau aku suapin?"
Nadi menggeleng. "Enggak usah, aku udah kenyang."
Aaron mengakat alisnya, sembari menatap Nadi lekat-lekat. "Kenyang? Kita kan belum makan apa-apa dari tadi. Kamu sudah tidak suka ya makan di pinggir jalan?"
Eh' Nadi bukannya tidak suka dengan makanan yang ada di hadapannya, hanya saja jika ia makan makanan tersebut maka program diet yang selama ini ia jalani akan gagal, Nadi tidak ingin tubuhnya gendut lagi, ia tak ingin kembali menjadi bahan olok-olokan karena tubuhnya yang sebesar gajah. "Aku beneran udah kenyang, Aaron."
"Dikit deh, dikit aja," Aaron mengulurkan tangannya, ia menyuapi Nadi dengan tangan kosongnya. "Enak kan?"
Nadi mengangguk, pecel lele itu masih sama rasanya seperti dulu. Enak, gurih dan pedas. Tapi Nadi tak bisa lagi memakannya. "Lagi ya," Aaron kembali menyodorkan tangannya.
"Udah.."
"Dikit lagi, Die. Ayolah.." Aaron menyuapi Nadi layaknya ia menyuapi Alyssa, ia terus membujuk Nadi hingga Nadi menghabiskan setengah porsi nasi uduk dan satu lele gorengnya.
"Udah Aaron, dari tadi satu-satu mulu enggak selesai-selesai," protes Nadi.
Aaron tersenyum puas, Nadi benar-benar terlihat sama seperti putrinya. "Iya, iya." ia menghabiskan separuh porsi milik Nadi dan satu porsi miliknya sendiri.
Selesai makan, Aaron mengantar Nadi pulang. Sebetulnya ada yang ingin Aaron sampaikan pada Nadi, namun Nadi bergegas turun dari mobil Aaron. "Aku masuk dulu, Aaron. Terima kasih untuk malam ini," ia mengecup pipi Aaron sebelum ia turun dari mobil Aaron.
Nadi berlari masuk ke rumahnya dan ia langsung menuju kamar mandi, ia memasukkan jari ke mulutnya hingga ia memuntahkan seluruh makan yang tadi ia akan bersama Aaron. 'Aku tidak boleh gendut lagi, tidak boleh,' batin Nadi.
...****************...
Dari kejadian itu, semangat Nadi untuk membalaskan dendamnya semakin meningkat, bekerja lebih keras untuk merebut kembali perusahaan dan rumah yang kini Surya tempati bersama keluarganya dan juga istri barunya.
Nadi beranjak dari ruang kerjanya, menuju ruang kerja Sofia. Ia mengulurkan berkas kepada sahabatnya itu. "Gue berencana menambah lagi pekerja di lapangan. Bagaimana menurut loe?"
"Lagi?" tanya Sofia bingung, baru beberapa hari yang lalu Nadi menambah sekitar dua puluh pekerja lapangan, kini Nadi kembali menabah tiga puluh pekerja lagi.
"Gue udah menghitung ulang semua anggaran biayanya, loe enggak perlu cemas. Kita masih tetap mendapatkan keuntungan yang lumayan, lagi pula semakin cepat pekerjaan selesai maka semakin cepat juga kita menarik invoice!"
"Tapi apa menurut loe, mudah mencari pekerja sebanyak itu dalam waktu singkat? Gue enggak mau loh pekerja yang tidak memenuhi standar, yang ada nantinya malah hanya menambah biaya."
"Loe enggak perlu khawatir, gue punya standar sendiri dalam merekrut semua pekerja yang bekerja di perusahaan ini."
Tanpa pikir panjang Sofia pun menandatangani berkas yang di berikan kepadanya. "Oke deh, gue percaya sama loe," ia menyerahkan kembali berkas yang sudah ia tandatangani.
"Oh iya, gue ke perusahaannya Aaron dulu ya."
"Cie, ada yang mau nyamperin calon suami," ledek Sofia sembari tertawa, ia sudah tidak sabar menjadi pengiring pengantin dalam acara pernikahan kedua sahabatnya itu.
"Apaan sih, orang gue mau meeting tau!"
"Hah! Bukannya Aaron sudah...?"
Nadi meninggalkan Sofia dalm keadaan penuh tanda tanya dalam benaknya.
Tiba di perusahaan Global Group, Aaron menyambut kekasihnya dengan penuh kegembiraan. "Tumben kemari, kagen ya sama aku," goda Aaron sembari memeluk dan mengecup kedua pipi Nadi. "Kalo iya, aku juga kangen banget sama kamu," satu tangan Aaron membelai lembut wajah Nadi, ia menatap Nadi lekat-lekat.
Perlahan Nadi melepaskan pelukan Aaron. "Sebenarnya aku kemari mau meminta bantuanmu," ucap Nadi ragu-ragu.
"Apa sayang? katakanlah!"
"Aku ingin mengirimkan invoice!"
Aaron tertawa mendengarnya. "Loh kenapa tidak kamu kirimkan saja lewat email, kan kamu tahu tidak mengurusi pembayaran perusahaan."
"Aku tahu itu, tapi kamu pemilik perusahaan ini, aku ingin agar prosedur pembayarannya lebih cepat, sebab kami butuh uang untuk membayar material dan tenaga pekerja lapangan," terang Nadi. "Kamu tidak perlu khawatir, kami tetap mengerjakannya dengan sangat baik, kamu bisa mengeceknya sendiri."
"Aku percaya padamu, sayang." Aaron meraih telepon di mejanya, ia menghubungi bagian finance agar segera melakukan pembayaran pada tagihan perusahaan sofia.
"Sudah," Aaron kembali berbalik menghadap Nadi.
"Boleh satu permintaan lagi?"
Aaron mengangguk. "Tentu saja, apa pun itu," ia meraih pinggang Nadi dan membawanya kembali ke pelukannya. "Kau ingin menikah hari ini pun akan aku kabulkan."
"Aaron, aku serius," Nadi melepaskan tangan Aaron dari pinggangnya. "Aku ingin ikut ke pertemuanmu dengan pemilik mall yang sedang kita bangun."
Aaron berpikir sejenak, kemudian ia mengatakan. "Boleh, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Aaron menatap Nadi dengan serius, ia tahu Nadi sedang sangat bersemangat dalam bekerja, tapi... "Ini adalah acara anniversary mereka, jadi tidak ada pembicaraan mengenai pekerjaan. Kau datang bersamaku sebagai kekasihku, bukan patner kerja. Setuju?"
Nadi mengangguk. "Setuju," jawabnya. "Terima kasih ya."
Aaron melihat jam di dinding ruang kerjanya, ia hampir saja kelupaan untuk menjemput putrinya di sekolah. "Aku mau jemput Alyssa, apa kamu mau ikut? Dia pasti senang sekali jika kau ikut."
"Aku mau, tapi sayangnya aku harus ke lapangan."
Aaron tersenyum sembari mengelus lengan Nadi. "Tidak apa-apa, nanti malam saja ya, kita makan malam bersama. Aku dan Alyssa akan menjemputmu." Mereka berdua keluar dari ruangan, Aaron mengantar Nadi hingga kekasih masuk ke mobil, barulah ia masuk ke mobilnya dan menjemput putrinya.