NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak bisa diam

Pasukan bergerak perlahan, lalu semakin cepat, meninggalkan halaman istana menuju jalan besar yang membentang jauh ke arah utara. Debu beterbangan perlahan, dan perlahan sosok-sosok gagah itu menjadi kecil, lalu hilang sama sekali dari pandangan Bellatrix.

Baru setelah suara langkah kuda dan senjata benar-benar lenyap, Bellatrix mundur perlahan dari jendela. Ia duduk kembali di kursi empuk itu, menatap taman paviliun yang kini terasa lebih sepi. Matanya berkaca-kaca namun tidak ada air mata yang jatuh. Hatinya penuh dengan tekad yang kuat. Dia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi dan dia tidak suka itu.

Ia akan menunggu di sini, di Paviliun Putri Mahkota ini, menjaga dirinya dan menjaga doanya untuk mereka semua. Dan saat mereka pulang nanti, ia bukan lagi Bellatrix yang takut mendekat, bukan lagi yang menyembunyikan perasaan dan kekuatannya. Ia akan berdiri tegak, siap menyambut mereka dengan kasih sayang yang utuh, dan siap berdiri di samping mereka menghadapi apa pun yang datang.

Kisah ini adalah kisahnya sendiri. Dan kali ini, ia akan menulisnya dengan bahagia. Harus!

.

.

.

Hari-hari berlalu perlahan di Paviliun Putri Mahkota. Kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini kadang terasa terlalu panjang, seolah waktu berjalan lebih lambat tanpa suara langkah kaki yang biasa ia dengar. Bellatrix menghabiskan waktunya di kamar, duduk di dekat jendela atau berjalan pelan menyusuri lorong berhias tanaman air. Ia sering teringat sosok yang mengenakan zirah berlambang api, sang Putra Mahkota Thiago. Namun perasaannya masih samar, seperti kabut tebal di atas danau saat fajar. Ia tahu ada ikatan takdir yang menyatukan mereka, tapi ia belum bisa menyebutnya cinta atau sekadar rasa terima kasih yang mendalam. Semuanya masih abu-abu, belum jelas bentuknya, belum berani ia pahami sepenuhnya.

Sore itu, Duke Leonidas datang berkunjung ke paviliun. Wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, dan ada kerutan khawatir yang dalam di dahinya. Ia duduk di hadapan Bellatrix, lalu berbicara dengan suara rendah namun tegas.

"Bella," ucapnya pelan, "Ayah baru saja menerima laporan dari pengintai di garis depan. Ternyata pemberontakan ini bukan sekadar kerusuhan rakyat biasa atau perselisihan wilayah seperti yang kami duga awal. Ada campur tangan sihir hitam di baliknya."

Bellatrix menegakkan tubuhnya, matanya membelalak kaget. "Sihir hitam? Tapi bukankah itu sudah lama dihapus dan dilarang keras di seluruh kerajaan?"

"Itula yang aneh," jawab Leonidas menghela napas panjang. "Prajurit musuh bertarung dengan kekuatan yang tidak wajar. Luka yang seharusnya mematikan tidak membuat mereka jatuh, serangan yang bisa membekukan atau membakar datang dari mana saja, dan ada bayangan gelap yang menghilang saat dikejar. Sepertinya kelompok pemberontak ini mendapatkan bantuan dari orang-orang yang ingin menghancurkan keseimbangan elemen dan kekuasaan kerajaan. Itu sebabnya Ayah melarangmu ikut serta, Bella. Bahaya yang dihadapi Thiago dan Kakakmu jauh lebih besar dari yang kami bayangkan sebelumnya."

Kabar itu membuat hati Bellatrix terasa sesak. Sihir hitam adalah musuh alami bagi kekuatan air murni yang mengalir dalam darahnya. Ia tahu betapa berbahayanya kekuatan yang memakan kehidupan orang lain untuk menjadi kuat. Namun ia hanya bisa mengepalkan tangan di atas pangkuan, tidak berani membantah keputusan ayahnya.

 

Setelah itu, Bellatrix berusaha menata hatinya dan mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, tetap menuruti pesan Ayah untuk tidak memaksakan diri berlatih sihir. Ia menghabiskan waktu berjam-jam menyusun ulang buku-buku tua di perpustakaan kecil paviliun, membaca tentang sejarah tumbuhan penyembuh dan cara merawat luka tanpa menggunakan kekuatan sihir. Kadang ia berjalan ke taman belakang, menatap kolam ikan air tawar yang tenang, memperhatikan bagaimana air bergerak mengikuti arus angin tanpa dipaksa. Dia juga sering memeriksa mall yang ada diruang dimensinya untuk ambil camilan.

 

Suatu sore yang cerah, Duchess Elara datang membawa nampan berisi teh hangat dan kue kesukaan Bellatrix. Ibu dan anak itu duduk di balkon paviliun, memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.

"Bunda," panggil Bellatrix pelan, "bolehkah Bunda bercerita tentang masa lalu keluarga kita? Tentang bagaimana awalnya keluarga Volkov menjadi pelindung elemen air?"

Elara tersenyum lembut, matanya berbinar cerah seolah sedang melihat kenangan lama. "Tentu saja, Bella. Itu adalah kisah yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi."

Ia menyesap tehnya sebentar, lalu mulai bercerita dengan suara yang tenang dan penuh kehangatan.

"Dahulu kala, ratusan tahun yang lalu, leluhur kita bukanlah bangsawan. Mereka adalah sekelompok nelayan dan penjaga sungai yang hidup sederhana di tepi danau terbesar di kerajaan ini. Suatu saat, terjadi kekeringan panjang yang membuat sumber air keruh dan beracun. Semua orang putus asa, sampai akhirnya seorang gadis muda bernama Lira leluhur pertama kita mendengar panggilan dari jiwa air yang murni. Ia berani masuk ke danau yang dianggap keramat, dan berjanji akan menjaga keseimbangannya selamanya sebagai ganti air yang bersih kembali mengalir."

Elara menatap Bellatrix lekat-lekat. "Sejak saat itu, kekuatan air mengalir di darah keluarga kita. Kita tidak menguasai air, Bella. Kita adalah pelindungnya. Air akan menuruti kita hanya jika hati kita jujur, dan akan menjadi liar jika kita dipenuhi ketakutan atau keserakahan. Itulah sebabnya dulu saat kau menjauh, kekuatanmu menjadi tidak stabil karena hatimu terbelah, takut menyakiti orang yang kau cintai."

Bellatrix mendengarkan dengan saksama, air matanya perlahan menggenang. "Jadi keluarga kita selalu saling menjaga satu sama lain?"

"Selalu," jawab Elara mantap, lalu mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Keluarga Volkov tidak pernah berdiri sendiri. Dulu ada yang menjaga pantai, ada yang menjaga mata air di pegunungan, ada yang menjadi penasihat kerajaan. Semuanya saling melengkapi. Ayahmu dulu sangat keras kepala dan sulit mengungkapkan perasaannya, sama seperti kau dan Pangeran Thiago sekarang. Tapi Bunda tahu, di balik sikap diamnya, ia sangat menyayangi kita semua. Begitu juga Kakakmu, Alexander dia terlihat dingin dan kaku, tapi setiap kali kau sakit atau sedih, dialah orang pertama yang mencari cara untuk membantumu."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan"Kekuatan sihir hitam yang muncul di perbatasan itu adalah ancaman bagi semua orang. Tapi Bunda yakin, kekuatan kasih sayang dan persatuan keluarga kita jauh lebih kuat daripada kegelapan apa pun. Kau tidak perlu menjadi pahlawan sendirian, Bella. Kau cukup menjadi dirimu sendiri, dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama."

Mendengar cerita itu, hati Bellatrix terasa lebih tenang. Ia mulai mengerti asal-usulnya, mulai mengerti mengapa ia tidak bisa hidup terpisah dari orang-orang yang menyayanginya. Meski perasaannya terhadap Thiago masih belum jelas sepenuhnya, ia tahu satu hal yang pasti. Ia tidak akan lagi menyembunyikan diri. Ia akan belajar menerima kasih sayang keluarganya, dan suatu saat nanti, ia akan berani menghadapi apa pun yang ada di hatinya.

 

Malam itu, suasana di Paviliun Putri Mahkota terasa sangat hening. Hanya terdengar suara aliran air dari kolam kecil di halaman, dan desir angin yang menyapu dedaunan. Bellatrix duduk di tepi tempat tidur, menatap bayangannya sendiri di cermin besar yang terbuat dari kristal cair. Ia sudah berhari-hari berdiam di dalam sini, mendengar kabar buruk tentang sihir hitam yang menyebar ke seluruh penjuru ibu kota, membaca kisah leluhur keluarga Volkov, dan merenungi perasaannya yang masih samar, abu-abu, dan belum jelas bentuknya terhadap Thiago.

Ia tahu betul pesan tegas Ayah dan Bunda: tetaplah di paviliun, jangan keluar, karena bahaya mengancam di luar sana. Namun hatinya tidak tenang. Ia sadar bahwa kekaisaran ini tidak hanya terdiri dari tembok tinggi istana yang megah dan aman, atau lantai marmer yang bersih dan hangat. Ada ribuan orang yang tinggal di pinggiran kota, di gang sempit, di rumah-rumah sederhana mereka yang mungkin sedang menderita, terkena dampak buruk sihir hitam, atau sekadar butuh pertolongan yang hanya bisa ia berikan dengan kekuatan air murni yang mengalir di darahnya.

"Aku tidak bisa hanya diam di sini menunggu orang lain menyelamatkan mereka," bisiknya pelan pada bayangan di cermin. "Jika kekuatanku benar-benar besar, aku harus menggunakannya untuk hal yang benar. Bukan hanya untuk melindungi diriku sendiri di balik tembok ini."

Ia perlahan berdiri, berjalan menuju lemari pakaian tersembunyi di sudut kamar yang dingin. Ia tidak mengambil gaun kebesaran Putri Mahkota yang berwarna biru terang, berhias benang perak dan permata air. Sebaliknya, ia memilih sehelai jubah panjang berwarna abu-abu gelap yang sederhana, namun terbuat dari kain tebal yang menahan angin dan dingin malam. Ia juga mengambil selembar cadar tipis namun rapat, berwarna senada dengan jubah itu, yang akan menutupi seluruh wajahnya kecuali sepasang matanya yang berwarna biru jernih.

Saat ia mulai memakaikan cadar itu ke wajahnya, seketika ia teringat satu hal penting. Dulu, saat momen yang mengubah segalanya terjadi saat ikatan takdir itu terjalin lewat ciuman pertamanya sejak saat itu ada koneksi halus, benang tak kasat mata yang selalu menghubungkan hatinya dengan hati Thiago.

Tapi malam ini, ia ingin berjalan sendiri, tanpa diketahui siapa pun, tanpa diikuti atau dikhawatirkan. Ia tidak ingin koneksi itu membuat Thiago atau pengawas lain menyadari keberadaannya jauh dari paviliun.

Bellatrix menutup matanya perlahan. Ia memusatkan energi air yang tenang dan dalam di dalam dirinya, lalu membayangkan benang-benang cahaya yang menghubungkan jiwanya dengan jiwa orang lain. Ia menemukan satu benang yang berwarna perpaduan biru laut dan merah menyala benang yang menghubungkannya dengan Thiago.

Dengan lembut, seolah menutup pintu ruangan dari dalam, ia memisahkan aliran kesadarannya dari benang itu. Ia tidak memutusnya, karena itu adalah takdir yang sudah terukir dan tak bisa dihapus, tapi ia menutup aksesnya rapat-rapat. Sekarang, tidak ada lagi rasa yang bisa ia kirimkan atau terima lewat sana. Ia seolah menghilang sepenuhnya dari peta batin orang lain.

Setelah memastikan semuanya aman dan tersembunyi, Bellatrix menghela napas panjang yang lega. Ia sudah bisa melakukan perpindahan tempat secara instan atau teleportasi sejak kekuatannya menyatu utuh dan stabil di dalam dirinya.

Ia tidak perlu berjalan lewat gerbang istana yang dijaga ketat prajurit, tidak perlu meminta izin siapa pun. Ia hanya perlu membayangkan tempat tujuannya dengan jelas di dalam pikiran.

Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan jalan tanah di pinggiran pemukiman warga, tempat tinggal gadis kecil yang dulu pernah ia tolong. Sekejap kemudian, sosoknya lenyap dari kamar itu, digantikan oleh pusaran air yang berkilau pelan lalu menghilang tanpa jejak sama sekali.

 

1
Osie
waaahhh bakal dibakar abiz nih ma sihir api bella
Osie
laaahh udah buta msh aja ngebacot nih kaisar Utara
Osie
huuufttt habislah sdh kaelen cs ditangan bella
Ayu Padi
kereeen
Ayu Padi
seru sekali...lanjut Thor...ayo ramaikan baca dan koment ny .
Osie
BOOOM jleb baru suara bella yg keluar blm lagi pasukan elemen n para sahabat kontraknya
aku
astaga 🤣🤣🤣🤣 ngakak bgt
aku
4 tor 🤔 bukan 3. 😭
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣
aku
wkwkwkwk gagal lagi 🤣
aku
kok NAK tor? bukannya DEK..?? 🤔😁😁
Osie
waduh LDR an deh bella ma thiago
Osie
hrsnya utk kuda kuda bella udah jago donk nya..secara kan jiwa ms depan sosok hebat lagi yg jago main senjata..gak mungkinlah ya gak bisa
Osie
eleanor ente salah cari lawan🤣🤣🤣jiwa ms depan dilawan ya kalah licik lah ente
Osie
interupsi interupsiii thoorr.nale dibab ini rambut putra mahkota jd warna hitam logam.. apa dicat tuh rambut
Jennifer: ok deh, krna kamu aku double up lagi kali yaaa, hehe makasihhhh🫶
total 3 replies
Osie
jiwa bella kan jiwa masa depan apalagi ahli perang..pastinya bisa donk bela diri masa depan jadi kenapa tdk itu aja di kuatkan dgn dipadukan bela diri kuno
Osie
yaaaaa demi bisa kuat bella masukan jebakan batman🤣🤣🤣ish ish ish padahal aku dah berharap bella minggat dr hdp si putra mahkota..dahlaaahh/Frown/
Osie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣ku suka gaya bella..kereeeennn😍😍😍😍
Osie
aku hadir nih..suka cerita transmigrasi dgn tokohnya sosok wanita tangguh n smart ..dan yg pastinya gak muluk muluk permintaanku.. moga ceritanya ini sp end💪🙏
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!