Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sementara itu, di sebuah rumah yang berjarak puluhan kilometer dari Kepanjen, suasana tak kalah mencekam.
Di depan pintu kamar Diaz yang terbuka lebar, sang mama terduduk lemas di atas lantai.
Napasnya memburu, sementara tangannya gemetar hebat memegang selembar seprai yang tampak kusut—bekas jalur Diaz melompat keluar jendela subuh tadi.
Kamar itu kosong melompong. Lemari pakaian terbuka sedikit, menyisakan gantungan baju yang bergoyang sunyi.
"Kamu kemana, Diaz? Kenapa kamu bodoh seperti ini ." ratap sang mama dengan suara parau.
Air matanya luruh, bercampur dengan rasa panik yang teramat sangat.
Di atas meja rias, sebuah surat penolakan singkat yang ditinggalkan Diaz mempertegas bahwa anak gadisnya itu tidak akan pernah kembali untuk pernikahan ini.
Tepat di saat rasa putus asa itu mencekik dada sang mama, keheningan rumah mereka pecah oleh suara deru mesin mobil-mobil mewah yang memasuki halaman.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil Alphard hitam terdengar nyaring, disusul oleh suara pintu-pintu mobil yang ditutup secara bersamaan.
Itu adalah rombongan Bramasta—pria egois calon suami Diaz—beserta keluarga besarnya.
Mereka datang dengan setelan jas mahal, senyum angkuh, dan membawa seserahan mewah berkelas tinggi.
Suara langkah kaki yang mantap dan tawa penuh percaya diri dari keluarga Bramasta terdengar semakin dekat menuju pintu depan.
Jantung sang mama serasa berhenti berdetak. Tubuhnya gemetar hebat, namun ia tahu ia tidak bisa bersembunyi selamanya.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia bertumpu pada dinding, memaksa kakinya untuk berdiri tegak.
Mau tidak mau, siap tidak siap, hari ini ia harus melangkah ke ruang tamu dan menghadapi amukan serta tuntutan dari keluarga pebisnis kelas atas itu sendirian, tanpa tahu bahwa anak gadisnya saat ini telah resmi menjadi istri seorang anak kiai.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Mama membuka pintu depan.
Senyum paksa diukirnya demi menyambut rombongan yang tampak begitu mentereng itu.
"Eh, Jeng. Nak Bramasta. Silakan masuk, silakan duduk," ucap Mama, suaranya agak bergetar.
Bramasta, dengan setelan jas necis dan rambut yang tertata klimis, melangkah masuk penuh percaya diri.
Di belakangnya, kedua orang tuanya mengekor dengan dagu terangkat tinggi.
Mereka duduk di sofa ruang tamu yang langsung terasa sempit oleh tumpukan kotak seserahan mewah.
Bramasta melirik jam tangan Rolex di pergelangan kirinya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah yang sepi.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan calon pengantin wanita.
"Ma, di mana Diaz? Jam akad kita sudah mepet, lho," tanya Bramasta dengan nada menuntut, tanpa ada keramahan sedikit pun.
Mama menelan ludah, tenggorokannya terasa sekering padang pasir. Beliau meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya nekat membuka suara.
"Bram, mama minta maaf. Diaz, tidak mau dijodohkan sama kamu. Diaz kabur dari rumah subuh tadi."
Brak!
Bramasta menggebrak meja kaca di ruang tamu dengan sangat keras hingga cangkir-cangkir teh yang baru disajikan berdenting hebat.
Wajahnya seketika merah padam akibat emosi yang meluap.
"Maaf? Mama bilang maaf?!" bentak Bramasta, napasnya memburu kasar.
"Mama sudah mempermalukan saya dan keluarga besar saya! Semua kolega bisnis saya tahu hari ini saya menikah!"
Tanpa memedulikan sopan santun lagi, Bramasta bangkit berdiri dan melangkah lebar menuju lorong kamar.
Ia mendobrak pintu kamar Diaz. Kosong. Kamar itu rapi, namun jendela belakangnya terbuka lebar dengan gorden yang berkibar tertiup angin. Diaz benar-benar lenyap.
Bramasta kembali ke ruang tamu dengan urat-urat yang menonjol di lehernya.
"Ma! Di mana Diaz sekarang?! Ke mana perempuan itu pergi?!"
"Mama, benar-benar tidak tahu, Bram. Diaz pergi bawa motornya," tangis Mama pecah, beliau terduduk lemas di sofa sambil menutup wajahnya.
"Sial!!" umpat Bramasta kasar, menendang salah satu kotak seserahan di lantai hingga isinya berhamburan.
Ayah Bramasta yang sejak tadi diam dengan wajah sekeras batu, akhirnya bangkit berdiri.
Auranya berubah sangat dingin dan mematikan. Beliau menatap Mama Diaz dengan pandangan menghina.
"Cukup, Bram. Tidak ada gunanya kita mengemis pada keluarga yang tidak tahu diuntung ini," ucap Ayah Bramasta tegas, lalu menoleh pada istrinya.
"Ayo, Pa, Ma, kita pergi dari sini!"
Sebelum melangkah keluar, Ayah Bramasta berbalik dan menatap Mama Diaz dengan tajam.
"Mulai hari ini, detik ini juga, kami putuskan semua kontrak kerja sama bisnis dengan perusahaan mendiang Subroto! Nikmati saja kebangkrutanmu!"
Rombongan mewah itu berbalik pergi dengan kemarahan yang membakar.
Pintu depan dibanting keras, disusul suara deru mobil-mobil Alphard yang meninggalkan halaman rumah dengan kecepatan tinggi.
Di dalam rumah yang mendadak sunyi, Mama Diaz hanya bisa menangis histeris meratapi kehancuran bisnis peninggalan almarhum suaminya, sama sekali tidak menyadari bahwa di tempat lain, putrinya sedang melakukan resepsi pernikahan.
Di dalam kamar utama ndalem yang beraroma harum kayu cendana, Diaz duduk kaku di depan cermin besar.
Jemari terampil dari tim tata rias Wedding Organizer mulai bergerak cekatan, memoles wajahnya dengan riasan yang natural namun berkelas, serta menata hijab modernnya agar serasi dengan gaun pengantin pengganti berwarna putih gading yang sangat mewah.
Di tengah riuhnya bisikan para penata rias dan gemerisik kain gaun, ponsel Diaz di dalam tas ransel hitamnya yang tergeletak di pojok kasur tiba-tiba bergetar hebat. Ada rentetan pesan masuk yang intens.
Dengan tangan sedikit gemetar, Diaz meminta izin sebentar untuk meraih ponselnya.
Begitu layar menyala, sebuah pesan dari Mamanya terpampang nyata, membawa histeria, makian, sekaligus tangisan yang tertuang dalam baris kalimat tebal:
Diaz! Puas kamu bikin Mama malu?! Bramasta batalin pernikahan dan papanya memutuskan semua kontrak bisnis peninggalan Almarhum Ayahmu! Kita bangkrut, Diaz! Rumah kita terancam disita! Kamu di mana sekarang?! Pulang dan tanggung jawab!
Diaz membeku seketika. Ponsel di genggamannya nyaris merosot.
Matanya berkaca-kaca menahan sesak yang teramat sangat di dada.
Rasa bersalah yang teramat besar menghujam hatinya saat mengetahui bisnis peninggalan almarhum ayahnya hancur akibat pelariannya.
Namun di sisi lain, ia sadar dirinya kini telah terjebak di dalam sangkar emas yang baru, yang tak kalah mencekam.
"Sudah selesai, Mbak. Cantik sekali, pangling," puji sang penata rias, membuyarkan lamunan pahit Diaz.
Tepat saat proses rias selesai, pintu kamar utama diketuk beberapa kali sebelum akhirnya terbuka. Ganda melangkah masuk.
Pria itu kini telah berganti pakaian menggunakan setelan jas resepsi kedua yang amat gagah, memancarkan aura karismatik seorang putra kiai terpandang.
Diaz bangkit dari duduknya dengan perlahan, lalu berbalik menghadap Ganda.
Gaun pengantin mewah itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan kecantikan alami Diaz yang selama ini tersembunyi rapat di balik kaus oblong dan celana jins kasualnya.
Ganda seketika menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan.
Jantungnya berdesir hebat. Pria itu terpaksa menelan salivanya sendiri, terpaku menatap visual Diaz yang luar biasa memukau setelah didandani.
Ada binar kekaguman yang mendalam, sekaligus rasa kepemilikan yang mendadak muncul di mata sang anak kiai.
Ganda berdeham pelan, mencoba menguasai dirinya sebelum melangkah mendekat.
"Kamu, terlihat sangat cantik, Diaz," puji Ganda dengan nada suara yang berat, mencoba mencairkan ketegangan Diaz yang terlihat sangat pucat akibat membaca pesan mamanya tadi.
Belum sempat Ganda dan Diaz menikmati momen berdua di dalam kamar, pintu kamar digeser dengan kasar dari luar.
Sret!
Laura melangkah masuk dengan gaun resepsi kedua yang tak kalah mewah dan glamor.
Namun, wajah cantiknya langsung berubah penuh kecemburuan yang membakar setelah melihat betapa anggunnya Diaz berdiri di samping Ganda.
Tanpa tahu malu dan mengabaikan keberadaan para kru WO yang masih ada di sana.
Laura langsung menghambur maju dan memeluk erat tubuh Ganda dari samping.
Ia menempelkan kepalanya di bahu Ganda, mencoba mengklaim kembali posisinya sebagai istri sah di depan mata Diaz.
"Ayo, Mas, kita keluar. Tamu VIP, pejabat, dan kolega Abah sudah nunggu kita di pelaminan utama," ucap Laura dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat.
Ia lalu melirik sinis ke arah Diaz, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Jangan biarkan mereka menunggu lama cuma karena urusan yang enggak penting."
Mendengar sindiran itu, Diaz hanya bisa mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun.
Ganda tidak melepaskan pelukan Laura, namun ia juga tidak membiarkan Diaz tertinggal begitu saja di belakangnya.
Dengan tatapan mata yang tegas, berwibawa, dan tidak bisa didebat, Ganda mengulurkan kedua tangannya secara bersamaan.
Dalam momen yang menegangkan dan sarat akan intrik itu, Ganda menggenggam erat telapak tangan Diaz di sisi kanan, dan tangan Laura di sisi kiri.
Ia menyeimbangkan posisi kedua istrinya di kanan dan kirinya, mengunci pergerakan mereka berdua.
Ganda menatap kedua istrinya bergantian dengan pandangan yang tak tergoyahkan.
"Hari ini, kalian berdua adalah istriku. Ayo kita keluar dan tunjukkan pada dunia."
Laura mendengus geram dengan rahang mengeras. Dadanya bergemuruh hebat karena terpaksa harus berbagi panggung dan sorotan dengan wanita yang dianggapnya sebagai pelayan.
Sementara itu, Diaz melangkah keluar dari kamar dengan jantung yang berdebar hebat, memegang erat genggaman tangan Ganda, bersiap menghadapi ratusan pasang mata yang siap menghakimi dan menguliti status barunya di luar ndalem.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡