Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misterius?...
Varren di sana tersenyum miring. Untung saja kemarin dia menolak uang dan rumah dari Alvino. "Gue nggak akan keluar. Justru malah gue tertantang." jelas Varren di sana dengan semangat.
Varren tidak pernah merasakan kekalahan dalam hidupnya, dididik keras oleh Shena membuat sikap kerasnya terasah dengan baik. Ini membuat harinya lebih berwarna.
"Gila loe...!!" Alvaro melempar kepala Varren dengan botol bekas minumnya yang tidak ada lagi isinya.
Varren melirik Alvaro bengis mengusap kepalanya yang terasa sakit terkena lemparan botol. Pelan ia ambil botol yang jatuh. "Loe tau Alvino kemaren nawarin gue rumah sama uang buat pergi dari rumah gue." ujar Varren kepada Alvaro pelan.
Alvaro melebarkan mata menatap Varren kaget. "Terus loe terima?" tanyanya berseru.
Varren menggeleng. "Awalnya sih mau, cuma nggak jadi soalnya gue tau di dunia ini tu nggak ada yang gratis." jelas Varren tenang.
Alvaro menatap Varren lega. "Ren. Syukur deh otak pinter loe berfungsi." ujarnya mengusap dadanya.
Varren mengangkat bahu acuh dan melempar botol ke arah kepala milik Alvaro. Alvaro meringis memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Dan yang dilakukan sama dia pasti dia minta balas budi. Loe tau kan? Semuanya punya takaran yang harus dibayar, jadi nggak ada alasan buat gue nerima tawaran dia." jelasnya menyeringai.
Alvaro mengusap kepalanya sakit. "Cok... santai dong nggak usah lempar segitu juga. Tau gue tau loe lagi jelasin sesuatu tapi nggak usah dipraktekin dendam loe..!!" ujar Alvaro kesal kepada Varren yang membalas lemparannya dengan ucapan sok bijak.
Varren mengangkat bahu acuh. "Yaudah gue mau masak dulu yah." ujar Varren.
"Weh mau dong. Gue ikut, gue laper dari siang nggak makan, malah dikasih buah aja sama loe." ujar Alvaro ikut berdiri dan mengikuti Varren keluar kamar.
Varren hanya berdehem pelan.
---
Saat pintu kamar Varren terbuka, ia bisa melihat Tavian dan Reja yang bermain game di depan TV.
"Wey. Woy Varren sama siapa loe?" lirik Tavian melirik Varren yang keluar bersama Alvaro di belakangnya.
"Kenalin, gue Alvaro." ujar Alvaro singkat dengan anggukan.
Tavian dan Reja mengangguk balik, lalu kembali ke game mereka.
Varren melangkah ke dapur diikuti Alvaro. Tapi sebelum mereka sampai, Sylas keluar dari kamarnya tanpa menggunakan baju—hanya celana pendek. Tatapannya langsung tertuju pada Alvaro, lalu berubah dingin.
"Kamar kita eksklusif. Hanya penghuni yang boleh masuk." ujar Sylas tanpa basa-basi.
Varren menatapnya tajam. "Dia temen gue."
"Temen loe keluar," potong Sylas dingin. "Selama gue ketua asrama, aturan gue berlaku. Gue nggak suka orang asing ada di sini."
Alvaro mendengus. "Loe pikir asrama ini istana pribadi loe? Gue cuma numpang bentar."
"Gue nggak peduli loe mau numpang atau tinggal." Sylas menatap Alvaro tajam. "Pokoknya pergi."
Varren melangkah maju, menatap Sylas. "Dia temen gue. Dan dia di sini atas izin gue."
Sylas mengalihkan tatapan ke Varren. Ada sesuatu di balik sorot matanya—ketegangan yang tidak biasa.
"Kalo ada barang hilang, gue yang tanggung jawab." Varren melanjutkan dengan tegas.
Tavian dan Reja saling melirik, game di tangan mereka berhenti. Suasana di ruang tamu terasa seperti akan meledak.
Reja memberanikan diri. "Eh bos, santai lah. Cuma temennya Varren."
"Biarin aja, Rej. Ini urusan gue." Sylas tidak bergeming. "Gue bilang, orang asing nggak boleh di sini."
Alvaro memutar bola mata. "Baiklah, Ren. Aku pergi aja. Nggak perlu ribut."
"Tunggu," Varren menahan tangan Alvaro. Lalu menatap Sylas. "Kalo loe masalahin dia lagi, gue juga bakal pergi."
Kalimat itu menggantung di udara.
Sylas terdiam. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Tavian dan Reja menahan napas.
Akhirnya Sylas berbalik. "Terserah loe." Ia melangkah ke kamarnya, menutup pintu tanpa suara.
Reja menghela napas lega. "Akhirnya."
Tavian menatap Varren. "Jangan terlalu pikirkan, Ren. Bos emang mood-nya lagi nggak enak."
Varren mengangguk, tapi matanya tetap menatap pintu kamar Sylas yang tertutup.
Kenapa dia membuat aturan baru? Kenapa dia begitu keras pada Alvaro?
Ada yang aneh.
---
Di belahan dunia lain, dalam sebuah ruangan berarsitektur klasik, dua pria dewasa sedang berbincang. Salah satunya duduk di kursi empuk di dekat jendela besar, menatap pemandangan kota di bawah. Wajahnya teduh, tapi matanya menyimpan luka lama.
"Kau tidak berniat menjemput dia?" tanya temannya.
Pria itu tersenyum tipis, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. "Kalau aku menjemputnya sekarang, bukankah aku hanya akan memperbesar kebenciannya?"
Temannya menghela napas. "Lalu?"
Pria itu menatap keluar jendela, matanya kosong namun penuh arti. "Tunggu saja saat yang tepat."
Ia terdiam beberapa saat, lalu menambahkan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Saat waktunya tiba... aku sendiri yang akan menjemputnya pulang."
Bersambung...