JANGAN BAYANGKAN KISAH CINTA SEPERTI DOTS karena kenyataannya tidak akan pernah semanis itu, jika ingin mengguak akan kerasnya kehidupan pernikahan bersama om loreng.
hidup itu keras jika ingin tahu drama didalamnya, silahkan baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Waktu bergurir dengan sangat cepat dan tanpa kuinginkan sampailah di hari H dimana lelaki yang akan menjadi suamiku menggucapkan akad.
jika laki-laki akan disiksa dengan rasa khawatir jika salah melafalkan ijab qabul, wanita malah mendapatkan siksaan secara fisik agar terlihat sempurna di hari pernikahannya.
perjuanganku calon penggantin perempuan dimulai dengan diperlakukan layaknya boneka oleh si tukang makeup. aku begitu respec dan memberi mereka standing applause untuk mereka yang bisa dengan tegar melewati siksaan ini.
aku harus bangun dari jam 2:25 subuh, mengambil air wudhu, harus bisa menjaga air wudhu itu tetap utuh sampai proses mappasikarawa. aku membiarkan tukang makeup mendandaniku di pagi buta itu dan nyatanya aku baru siap pukul 08:15. sumpah penggorbanan untuk hari H itu sangat banyak.
Bagi masyarakat bugis, kegiatan mappasikarawa ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan perkawinan. Orang yang melakukan kegiatan mappasikarawa ini adalah orang-orang panutan atau pilihan dalam masyarakat orang pilihan dimaksud pappasikarawa.
proses kegiatan mappasikarawa ini di awali dengan mempelai laki-laki menjemput istrinya. Dalam menjemput tersebut biasanya pintu kamar tertutup rapat dan di jaga oleh orang-orang yang memiliki power (kekuasaan) atau di hormati oleh pihak keluarga mempelai wanita.
pintu baru dapat di buka jika pihak mempelai laki laki telah menyerahkan sesuatu sehingga keluarga mempelai wanita setuju untuk membuka pintu kamar.
dalam proses mappasikarawa ada beberapa tahap yaitu, yang Pertama adalah mempertemukan antara ibu jari (jempol) tangan laki-laki dan perempuan saling berhadapan.
Kedua, Pappasikarawa memegang kedua ibu jari tersebut kemudian memerintahkan kepada pengantin laki-laki dan pengantin perempuan untuk melemaskan ibu jari masing-masing dan tidak saling menekan.
Selanjutnya Pappasikarawa mengambil ibu jari pengantin pria kemudian dilekatkan di sekitar samping kiri kening (dekat telinga kiri) dan kemudian Pappasikarawa membaca ayat Al Qur’an ”Qul Ing Kuntum Tuhibbunallah”.
Kemudian, Papapasikarawa menyuruh pengantin pria melanjutkan ayat tersebut dengan membaca ”Pattabiuunii Yuhbib Kumullah”. Dan terakhir, Pappasikarawa menyerahkan kembali pengantin pria dan wanita kepada indo’ botting untuk acara selanjutnya yakni duduk di pelaminan.
itu baru susunan acaranya tapi belum kulakukan rasanya sudah sangat melelahkan. Tepat pukul 10 pagi dia dan keluarganya telah memasuki pekarangan rumah lalu akad dimulai diwaktu 10:15 dan tepat pada pukul 10:30 statusku sudah berubah menjadi seorang istri dari Danton Muhammad Hafiz lelaki dewasa yang usianya jauh berbeda dari usiaku.
Terdengar jelas suaranya mengucapkan janji suci namun pikiranku melayang dimana kala aku masih menjadi anak kecil yang bebas, ceria dan hanya perlu menanggis untuk mendapatkan apa yang kumau, bedanya kali ini aku malah menanggis karena kehilangan yang kumau.
Entah berapa lama aku melamun hingga kurasakan genggaman ibu pada kedua tanganku, kuperhatikan wajahnya yang mulai menua namun masih terlihat sangat cantik apa lagi kini dihiasi makeup yang menambah kesan anggun dan keibuan ternyata dirinya tidak sendiri karena tidak jauh dari tempatku duduk terlihat kak Diba hanya menundukkan kepala karena enggan bersitatap denganku.
Dipeluknya aku sembari memberiku petuah, ibu berkata
"aira, kesayangannya ibu sekarang sudah jadi istri, jadilah wanita yang berbakti pada suami ya sayang" ujar ibu terbata-bata sembari menahan air matanya.
"...." aku hanya menggangukkan kepala sebagai balasan
"ibu sudah bilang kan, wanita hebat itu adalah wanita yang bisa mempertahankan rumah tangganya"
"mm" ujarku menjawab
"aira anak ibu yang paling nakal, tapi nanti aira ngak boleh nakali suami seperti aira nakal ke kakak diba dan bang adi ya?"
"mm" kataku lagi, sungguh tak ada mata yang bisa terlontarkan karena aku sedang menahan lelehan air mata itu ikut serta turun dengan derai air mata ibu. setelah menggakhiri petuahnya ibu memelukku erat namun tidak kubalas pelukannya.
aku masih tidak menggeluarkan sepatah katapun karena selama menggetahui akulah tumbal dari perjanjian itu aku mengguranggi bibirku untuk berbicara banyak dengan mereka.
aku masih duduk nyaman di tempatku, pintu telah terbuka lalu terlihatlah dia beserta rombongannya memasuki kamar yang kutempati.
dihadapanku terlihatlah lelaki yang telah berjanji menjadi imamku, dengan pakaian yang warnanya sama denganku, dia dituntun untuk melakukan proses mappasikarawa.
Hafiz ogh salah, maksudku suami baruku itu dituntun menyentuh keningku, dada sebelah kiri dimana seharusnya letak jantung serta telingaku. aku tidak tahu makna dari itu yang jelas aku tidak diizinkan untuk menghalangi atau mengganggu kegiatan itu.
setelah proses mappasikarawa selesai, barulah aku boleh menyalimi suamiku sedangkan dia mencium keningku yang rasanya menggelikan karena harus disaksikan banyak orang juga harus ditahan agar potografer bisa menggabadikan moment itu.
saat akan menggoreskan tinta pada buku nikah semuanya berjalan hikmat walau sebelum aku menggerakkan polpen ada keraguan yang menghantamku dan setelah selesai menorehkan tinta dibuku nikah tiba-tiba aku merasakan gelap dan yaa aku kehilangan kesadaranku.
mereka panik hingga semua orang di suruh keluar kecuali mama, kak diba dan perias pengantin. semua yang melekat dibadanku terpaksa harus dibuka dan lelaki itu harus rela mendapat ucapan selamat dari keluarga seorang diri.
penderitaanku tidak berakhir sampai disitu, sorenya aku kembali di dandani lalu berganti pakaian dengan gaun besar yang ekornya lebih dari 1 meter untuk menyapu lantai.
beberapa aksesoris itu masih ku gunakan seperti bando, gelang, dan kalung. just informasion gelang yang digunakan saat pernikahan itu hampir menyentuh siku dan itu kiri kanan. jangan tanya rasanya yang jelas itu berat.
Insident aku tak sadarkan diri nyatanya tidak urung untuk membuat mereka menghentikan pernikahan nista itu. malam ini, acara dilanjutkan dengan acara resepsi acaranya dilakukan di salah satu hotel ternama di Makassar.
Resepsi ini bertemakan kerajaan yang sangat indah dihiasi berbagai barang-barang yang berkilau dan seakan memamerkan keindahannya masing masing.
yaaa seperti itulah yang kudengar dari kak Diba menceritakan jika pernikahan ini akan sangat menakjubkan untukku dan tidak akan pernah kulupakan seumur hidup katanya.
Ingin rasanya aku berkata "Ya tentu saja tidak akan pernah kulupa seumur hidup toh aku tumbal dari perjanjian bodoh itu" Namun hal itu hanya kupendam dan tidak ku hiraukan lagi dirinya.
Kami telah berada di sana, saat diruang ganti dimana aku dibantu untuk menggunakan gaun yang sangat indah bewarna putih bersih menjulang hingga kelantai, kutatapi wajahku
Kami sudah memasuki pintu ruangan yang sudah disulap seperti yang diceritakan kak Diba, sungguh aku takjub melihatnya namun ketika lelaki yang sudah menggucapkan namaku saat akad itu membentuk lengannya menjadi siku-siku aku baru sadar jika sudah waktunya aku bersandiwara.
Kuhembuskan nafasku secara kuat seakan hal itu mampu menghilangkan semua beban yang ada padaku, akhirnya tanpa kata aku menggandeng tangannya sembari memperhatikan wajahnya yang sangat datar, dilihat dari sisi mana pun ternyata lelaki ini tetap sama yaa dirinya kaku, dingin, keras dan jangan lupakan mulut tajamnya itu.
Kini lelaki yang sudah resmi menyandang status sebagai suamiku kini menggunakan seragam PDU 1 maka gambaran lelaki hebat dengan seragamnya itu tergambar jelas dihadapan kami semua. sebelum semua dimulai om tua itu berkata
"jangan buat saya malu" ancamnya
"ngak kebalik om?" kataku menantang dengan nada suara sama lirihnya agar tak terdengar orang lain.
"cukup drama tadi kamu buat kami kalang kabut ya, diatas pelaminan jangan lagi"
"duh manisnya suami baruku yang sangat perhatian ini!" kataku dengan mimik wajah menggejek.
"...." dia memilih diam malah menggalahkan pandangan tapi tetap saja senyum miring itu terlihat olehku seakan dia sedang menggolok-ngolok.
"kamu takut kutinggal mati ya om?" kataku iseng namun malah dibalasnya
"tidak sama sekali" katanya dan diakhiri dengan decih yang ditunjukkan secara terang-terangan kali ini.
"ighh jadi setelah aku mati kamu niat nikah lagi?" kataku ngelantur dan bodohnya dia menanggapi dengan kalimat
"kenapa tidak?" katanya dengan wajah menjengkelkan lalu menghapus lipstikku langsung dengan tanganya.
diperlakukan seperti itu, ku tepis tangannya lalu plototi dia namun dia tetap acuh tuh. bayangan untuk mencabik-cabik tubuhnya sudah terbayang dalam benakku tapi tidak bisa kulakukan. aku berkata
"kalo aku jelek dihadapan orang banyak, itu gara-gara om ya!"
"kamu emang jelek" ejeknya tanpa canggung.
"jelek tapi tetap kamu paksa untuk nikah" balasku tidak mau kalah.
"bukan mauku" balasnya santai
"ente pikir ane yang ngotot?" tuduku.
"seharusnya begitu"
"cih om-om tua gini dinikahin, kalo tiap hari di jajanin micin langsung stroke ngak ente?" kataku sambil mencolek-colek tangannya untuk mendapat perhatiannya.
mendengar perkataanku, dia bukannya marah tapi sedikit merendahkan posisi tubuhnya agar bisa berbisi dan berkata
"jangan jajanin micim, aku lebih suka makan kamu setelah ini gimana?" katanya dengan suara lirih lalu tanpa kusangka dia bergerak untuk meniup mataku yang sukses menimbulkan rasa ngeri sekaligus geli yang menjalar keseluruh badan.
aku tidak bisa melawan karena banyak mata yang menggawasi kami. aku akhirnya terdiam kaku hingga tanpa sadar, Aku lagi-lagi melamun namun ketika tangan kokoh itu menyentuh tanganku membuatku tersadar jika kini dihadapan kami berdiri seorang tentara laki-laki yang memberi hormat.
laki-laki itu meminta izin untuk memulai tradisi pedang pora. setelah lelaki disampingku menjawab dengan suara tegasnya lelaki itu kembali kebarisan lalu memberi aba-aba kepada pasukan lainnya.
suara musik terdengar memenuhi ruangan yang kami tempati. Kami kembali melangkah dengan pelan namun pasti melewati pedang yang diangkat tinggi diatas kepala kami.
Ketika pedang pertama kami lewati, terdengar suara pembawa acara menjadi backsoon dan menjelaskan mengenai tradisi pedang pora yang sedang kulakukan hingga kaki kami terus melangkan melewati pedang ke dua belas.
Pembawa acara terus saja berkoar-koar menjelaskan bahwa pedang pora ini untuk memperkenalkan dunia angkatan bersenjata pada mempelai wanita selain itu, pedang mengambarkan solidaritas, persaudaraan dan permohonan kepada tuhan untuk melindunggi angkatan bersenjata.
Bentuk pedang yang berbentuk gapura yang telah dilalui mengartikan jika kedua mempelai telah memasuki gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.
Semua yang menyaksikan proses tersebut dibuat takjub dan terdiam, suara tambur musik milliter juga meredam suara-suara bisik-bisik dari keluargaku maupun keluarga lelaki itu, mereka seakan sangat menikmati kesakralan acara pedang pora.
tidak butuh waktu lama para pasukan kembali menghunuskan pedangnya namun kali ini pedang dibentuk lingkaran, aku dan suamiku berada di tenggah lingkaran itu.
Di dalam lingkaran aku dan dia saling berhadapan lalu lelaki itu menggeluarkan kotak cincin dari saku celananya. dengan wajah datar juga kaku lelaki itu memasukkan cincin emas putih ke jari manisku, begitupun sebaliknya aku memasukkan cincin ke jari manis tangan kananya.
semua ini tidaklah sampai disitu, karena kini kedua orang tua Hafiz alias mertuaku memberi sepotong seragam persit lengkap dengan lencananya.
deru tepuk tangan kini terdengar menggisi gedung kala aku menerima pemberian kedua mertua ku dan untunglah itu adalah proses yang terakhir dan kami boleh menaiki plaminan.
Kuhembuskan lagi nafasku secara kasar berharap bebanku dibawa pergi oleh udara. Kuperhatikan kedua orang tuaku yang juga duduk tidak jauh dariku, mereka berdua terlihat sangat bahagia begitupun dengan kedua orang tua hafiz.
kepala sedikit menunduk sembari tanganku memainkan cincin yang baru saja lelaki itu sematkan dijariku. cincin itu bentuknya simple hanya bulat semata dan ada berlian kecil di tenggahnya.
cincin nikah ini sangat sederhana jika dibandingkan dengan cincin tunangan kami. menggingat kejadian menyesakkan itu, tanpa kupinta tetesan air melesat bebas dari muaranya namun lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas tanpa mencari solusi.
aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan saat ini, tapi melihatku demikian om itu berkata
"jangan drama deh, semua orang memperhatikan kita" tegurnya dengan suara lirih sambil membenarkan posisi cincin nikah yang tadinya ku mainkan.
"apa banget sih om, negur mulu kayak guru BP?" kataku sambil memukuli tanganya yang mencuri-curi kesempatan untuk merusak hena yang terukir di tanganku.
"hilangkan wajah jelekmu dan tersenyumlah" perintahnya. sambil berbisik tapi satu tangan dia gunakan untuk merangkulku. kutepis tangannya sambil berkata
"maaf ya om aku tidak bisa semunafik om yang seolah-olah bahagia" kataku sarkis.
"manja" ejeknya padaku.
"biarin wekk" kataku tanpa lupa memeletkan lidah padanya.
"anak kecil" ledeknya sambil berusaha memegang tanganku lagi tapi lagi-lagi kutepis.
"biarin emang situ om-om tua" kataku mulai menjaga jarak dengannya.
"tukang ngadu"
"sekali lagi ngomong ku tinggal nih" ancamku.
"emang berani?" tantangnya padaku
"berani" kataku dengan dagu lebih tinggi dari seharusnya untuk menantang dia.
"coba aja" katanya.
aku yang diperintah seperti itu bukannya memelas malah mulai sedikit mengangkat gaun, melepas sandal dan siap berdiri juga meninggalkan kursi pelaminan tapi sebelum hal itu terjadi, tangan nistanya sudah menarik hingga memaksaku kembali duduk.
kutatapi dia dengan penuh amarah tapi sebelum aku mengumpatinya, dia lebih dulu berkata
"emosian tapi penyakitan" ejeknya dan sumpah kalimat itu tidak bisa kuterima.
jika tadi dia yang mencuri-curi kesempatan memegang tanganku, kini malah aku yang meraih tangannya. bukan untuk menggengam tapi untuk mengigitnya, dengan niat juga harapan tangan itu putus seperti ekor cicak.
aku sudah hampir menggigit dia sukses menghindar dan tertawa besar sehingga membuatku semakin jengkel.
apa yang kami lakukan diatas pelaminan diperhatikan para keluarga tapi aku tidak peduli. kami baru selesai dengan perdebatan kami kala para tamu undangan mulai berdatangan.
seperti seharusnya mereka menyalami kami dan kedua keluarga sambil memberi ucapan selamat atas pernikahan kami. satu persatu orang naik dan kebanyakan dari tamu yang datang tidak ku kenali.
para undangan lebih didominasi oleh kenalan orang tuaku, orang tua hafis dan teman-teman hafiz sendiri sedangkan aku, aku tidak menggundang siapa pun, kenapa yaaa karena tidak ingin saja walau sebenarnya aku malu.
udah manja dan keras kepala
saya selalu rindu mungkin karena saya orang Bugis JD apa yang diceritakan di dalamnya terasa nyata karena sering melihat seperti itu