Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Suara derit ban beradu keras dengan aspal basah di sebuah gang belakang kawasan perbelanjaan malam yang remang-remang.
Malam di sudut kota ini tidak pernah benar-benar tidur, namun ia menyembunyikan sisi gelapnya di balik bayang-bayang gedung tua dan deretan tempat sampah besi.
Seorang gadis baru saja melompat keluar dari pintu penumpang sebuah mobil sedan hitam yang baru saja melambat di persimpangan.
Kakinya yang telanjang tanpa alas menapak kasar pada permukaan jalan yang dingin dan tajam. Napasnya memburu, membelah hawa malam yang menusuk hingga ke paru-paru.
Tanpa menengok ke belakang, ia berusaha berlari sekencang mungkin. Gaun panjang berbahan tipis yang dikenakannya terasa berat, menjuntai dan menyangkut di setiap langkah tergesa-gesanya, namun ketakutan memberi dorongan adrenalin yang jauh lebih besar daripada rasa lelah.
"BERHENTI ATAU AKU AKAN MENEMBAKMU!"
Teriakan lantang seorang wanita paruh baya menggema di sepanjang jalan sempit itu, memantul kasar pada dinding-dinding bata yang berlumut.
Beberapa pejalan kaki dan pengunjung kelab malam di sekitar ujung jalan sempat menoleh sejenak. Namun, begitu mata mereka menangkap kilatan senjata api di tangan wanita berkulit pucat itu, serta kehadiran tiga pria bertubuh kekar berjas hitam yang berhamburan keluar dari mobil, orang-orang itu segera memalingkan wajah.
Di sudut Los Angeles yang keras ini, menyikapi urusan orang lain adalah jalan tercepat menuju petaka. Tak ada yang berniat menjadi pahlawan. Tak ada yang peduli. Mereka bertindak seolah-olah jeritan ketakutan itu hanyalah angin lalu, membiarkan kegelapan menelan nasib sang gadis.
"Kumohon... aku tidak mau! Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!" jerit gadis itu saat sudut gaunnya berhasil dicengkeram oleh salah satu pria berjas hitam.
Langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya yang mungil terseret ke belakang, terbanting menyenggol tumpukan kotak kayu sebelum akhirnya dua pasang tangan berotot mengunci kedua lengannya dengan cengkeraman seperti catut besi.
Wanita paruh baya yang berteriak tadi melangkah mendekat dengan nada sepatu heels-nya yang mengetuk nyaring di atas aspal. Wajahnya yang dipenuhi riasan tebal tampak bengis di bawah sorot lampu jalan yang temaram. Ia membetulkan kerah mantel bulunya lalu menatap gadis di depannya dengan pandangan jijik.
"Aku sudah bersusah-payah menjemputmu dari desa... dan kau ingin kabur lagi?" desis wanita itu, suaranya tajam beracun. "Bibimu telah menjual mahal dirimu, sialan!"
Gadis itu terus berontak dengan sisa-sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar hebat, campuran antara ketakutan yang luar biasa dan rasa dingin yang menggigit. "Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak punya urusan dengan kalian! Aku tidak tahu apa-apa!"
Namun, usahanya sia-sia. Cengkeraman para pengawal itu sama sekali tidak bergoyang.
Melihat gigihnya perlawanan gadis itu, wanita paruh baya tersebut terkekeh sinis. Ia memajukan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata gadis yang berkaca-kaca itu dengan senyuman penuh kemenangan.
"Asal kau tahu..." bisik wanita itu, penuh penekanan pada setiap kata, "bibimu menjualmu karena perintah ayahmu."
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar pada detik itu juga.
Rossi Widmer, gadis berusia 24 tahun itu, mendadak mematung.
Seluruh perlawanannya, jeritannya, dan kibasan tubuhnya terhenti seketika. Seluruh kekuatannya seakan disedot habis dari dalam tubuhnya. Air mata yang tadinya tertahan di sudut matanya, kini menetes tanpa batas, mengalir melewati pipinya yang pucat dan kotor terkena debu jalanan.
"A... ayah?" lirih Rossi sangat pelan, hampir tak terdengar di antara bisingnya mesin kendaraan jauh di sana.
Kata itu terasa asing, namun sekaligus menghantam dadanya hingga sesak. Ayah. Sosok yang selama ini hanya menjadi bayangan kabur dalam ingatan masa kecilnya. Pria yang membuangnya ke sebuah desa terpencil di Central Valley sejak ia masih sangat muda, membiarkannya tumbuh dalam pengasingan, kesepian, dan penderitaan tanpa pernah sekalipun datang menjenguk.
Sambil ditarik secara kasar oleh dua pengawal untuk diseret kembali ke arah mobil, kepala Rossi terkulai. Tatapannya kosong menatap aspal. Di dalam hatinya, sebuah bisikan pilu membakar jiwanya sampai menjadi abu.
Akhirnya kau benar-benar melepaskan aku, Ayah... Tapi bukan untuk membebaskanku, melainkan menjualku.
Sakit. Kecewa yang teramat sangat mendera dadanya.
Pengalaman hidupnya seperti tak pernah diberi jeda untuk bernapas lega. Diasingkan di desa terpencil bertahun-tahun, diabaikan seolah ia tidak pernah lahir ke dunia, dan kini... diakhiri dengan dijual seperti barang tak berharga oleh darah dagingnya sendiri.
Menyedihkan sekali hidupmu, Rossi... batinnya pasrah. Pandangannya mulai buram terhalang lapisan air mata yang terus mengalir deras.
...°°°°°°...
Sementara itu, beberapa blok dari tempat ketegangan itu terjadi, suasana yang sangat berbeda menyelimuti sebuah kelab malam paling eksklusif di Los Angeles.
Dentuman musik bergenre deep house dari DJ ternama mengguncang lantai dansa Gasoline.
Cahaya neon berwarna ungu dan biru gelap memantul pada gelas-gelas kristal mahal dan deretan botol minuman premium. Tempat itu adalah tempat pelarian bagi kaum elit—tempat di mana uang bisa membeli privasi dan ketenangan temporer dari kerumitan dunia luar.
Di salah satu sudut area VIP yang remang, Rowan Vale-Knight duduk menyandarkan punggungnya pada sofa kulit berwarna hitam.
Wajah tegasnya tak terpancing oleh ketukan musik yang membakar semangat orang-orang di sekitarnya. Pria itu tampak begitu terpisah dari keramaian, memancarkan aura dingin dan berbahaya yang membuat siapa pun enggan mendekat tanpa diundang.
Rowan merogoh saku jas mewahnya, menarik ponselnya, dan menatap layarnya yang menyala.
Sebuah pesan masuk dari sekretaris pribadinya menyapa penglihatannya. Di sana tertera sebuah alamat lengkap di kawasan Central Valley—alamat yang sempat ia minta secara rahasia beberapa saat lalu dari dokumen lama keluarga istrinya.
Matanya menelusuri baris demi baris tulisan di layar tersebut. Central Valley. Tempat tinggal adik terbuang dari Cathez, Istrinya.
Rowan tersenyum sinis. Sebuah lengkungan di bibirnya yang penuh dengan ironi dan ketegasan yang tak tertahankan.
"Ini kemauanmu, Cathez," gumamnya pelan, suaranya tenggelam di antara dentuman bas musik Gasoline. "Kau yang membukakan pintunya, dan aku hanya melangkah masuk."
Tanpa menghabiskan minuman di gelas kristalnya, Rowan bangkit berdiri. Ia mengancingkan jas mewahnya dengan gerakan anggun dan dingin, lalu melangkahkan kakinya yang panjang menuju jalur keluar privat menuju area parkir VIP di bagian belakang bangunan.
Pria itu tidak butuh waktu lama untuk membulatkan tekad. Jika istrinya ingin mempermainkan ikatan pernikahan mereka, Rowan siap melangkah lebih jauh dari apa yang pernah dibayangkan oleh Cathez.
Hawa dingin malam langsung menyergap wajah Rowan saat ia mendorong pintu besi yang memisahkan bagian dalam kelab dengan area parkir khusus yang sepi. Hanya ada beberapa mobil mewah terparkir rapi di sana di bawah naungan sorot lampu jalanan yang remang-remang.
Rowan berjalan santai menuju SUV hitam miliknya. Ia menekan tombol pada kunci otomatisnya. Lampu mobil berkedip dua kali diiringi suara bip yang renyah.
Pria itu mengulurkan tangan, menarik gagang pintu pengemudi untuk masuk.
Namun, sebelum ia sempat menginjakkan kakinya ke dalam kabin mobil, suara langkah kaki yang panik dan terengah-engah mendekat dengan sangat cepat dari arah gang samping. Belum sempat Rowan memutar tubuhnya untuk memeriksa situasi, pintu penumpang di sebelah kanan SUV-nya mendadak dibuka secara paksa dari luar.
BRAK!
Seorang wanita bergerak secepat kilat, menyusup masuk ke dalam kabin tempat duduk penumpang depan, lalu membanting pintunya hingga rapat.
Rowan mematung di sisi pengemudi. Alis tebalnya bertaut tajam. Matanya berkilat penuh bahaya menatap penceroboh yang tiba-tiba berada di dalam kendaraan pribadinya.
Di dalam remang cahaya lampu kabin yang menyala otomatis, Rowan bisa melihat sosok wanita itu.
Pakaiannya cukup terbuka dan seksi—sebuah gaun malam yang tampak acak-acakan dan koyak di beberapa bagian. Rambutnya berantakan, napasnya naik turun dengan sangat cepat, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat seolah baru saja melarikan diri dari cengkeraman maut.
Gadis itu menoleh ke arah Rowan. Mata mereka bertemu. Tampak bekas genangan air mata yang masih basah di pipinya, serta ketakutan murni yang memancar dari manik matanya yang jernih.
"Tuan..." suara gadis itu gemetar, melengking pelan penuh ketakutan yang tak tertahankan.
Tangannya yang dingin dan gemetar memegang lengan jas Rowan secara spontan, memohon keselamatan. "Tuan... bisa tolong bawa kabur saya dari sini? Saya janji... saya janji akan membalas kebaikan Anda, Tuan! Tolong...!"
Rowan menatap jemari gadis itu yang mencengkeram jas mewahnya, lalu beralih menatap wajah pucat di sampingnya. Di luar sana, suara langkah kaki berat beberapa pria yang berlari mendekat mulai terdengar memecah keheningan parkiran.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰