NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Kabar dari VIP

Dering nyaring dari ponsel khusus milik Reno memecah keheningan romantis yang tengah membungkus penthouse. Nama Dokter Utama RS Adhyastha berkedip terang di layar, seketika menghantarkan sentakan ketegangan kecil di antara mereka berdua.

Reno merenggangkan pelukan intimnya dengan perlahan, menatap wajah Aura yang mendadak menegang cemas. Tangan tegap Reno terulur, mengusap lembut pipi mulus istrinya untuk memberikan ketenangan sebelum ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

"Sebentar ya, sayang," bisik Reno lembut. Ia mengangkat telepon itu dan langsung mengaktifkan mode pengeras suara agar Aura bisa mendengar secara langsung. "Selamat malam, Dokter. Bagaimana kondisi Ibu mertua saya?"

Aura menahan napas, berdiri sangat rapat di samping Reno. Suara Dokter Utama dari seberang sambungan terdengar begitu mantap dan sarat akan nada antusias yang tak mampu disembunyikan.

"Selamat malam, Pak Reno, Bu Aura," sapa Dokter Utama dengan nada tegas penuh binar kebahagiaan. "Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu malam-malam begini. Kami ingin mengabarkan perkembangan medis yang sangat luar biasa! Beberapa menit yang lalu, grafik aktivitas otak Ibu Salma menunjukkan lonjakan responsif. Refleks mata beliau mulai bereaksi terhadap stimulasi cahaya, dan kelopak matanya baru saja bergerak-gerak beberapa kali!"

Aura spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata haru yang tak lagi bisa ditahan seketika menetes deras membasahi pipinya. Dengkulnya terasa lemas oleh kebahagiaan yang membuncah. Reno yang melihat reaksi istrinya langsung merangkul pinggang Aura rapat-rapat, meremas jemari lentik wanita itu dengan penuh kekuatan.

"Apakah Ibu mertua saya sudah siuman sepenuhnya, Dok?" tanya Reno, memastikan secara medis dengan nada baritonnya yang tenang namun tegas.

"Beliau saat ini berada di ambang kesadaran penuh, Pak Reno," jelas Dokter secara rinci. "Tingkat kesadaran sarafnya meningkat sangat pesat. Jika Bapak dan Bu Aura berkenan hadir ke rumah sakit malam ini, stimulan suara langsung dari Bu Aura bisa menjadi pemicu utama untuk membantu Ibu Salma membuka matanya secara sempurna dari fase koma."

"Baik, Dokter. Kami segera berangkat ke rumah sakit sekarang juga. Tolong siapkan seluruh tim dokter spesialis dan penanganan terbaik!" perintah Reno tanpa keraguan sedikit pun.

Setelah panggilan terputus, Reno menangkup kedua pipi Aura yang basah oleh air mata syukur. Ia mengusap jejak air mata itu dengan ibu jarinya penuh kasih sayang.

"Dengar kan, sayang? Ibu menunggu kamu. Ibu berjuang buat bangun malam ini," tutur Reno menatap dalam-dalam ke iris mata Aura. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang."

Aura mengangguk cepat, suaranya tercekat oleh rasa haru yang meluap. "Iya, Mas... Ayo kita temui Ibu!"

Mobil Lexus hitam milik Reno membelah jalanan kota Jakarta yang mulai lengang dengan kecepatan tinggi namun tetap terkendali. Di dalam kabin, Aura tak henti-hentinya memanjatkan doa, meremas jemari tangan kiri Reno yang menggenggamnya erat di atas paha sepanjang perjalanan.

Tak butuh waktu lama, kendaraan mewah itu tiba di area parkir khusus VIP RS Adhyastha. Tanpa membuang waktu, Reno membimbing Aura melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Dua pengawal tegap yang berjaga di depan pintu kamar perawatan VIP membungkuk hormat dan membukakan pintu secara sigap.

Di dalam ruangan bernuansa hangat itu, tim dokter spesialis saraf dan beberapa perawat senior sudah berbaris siap. Di atas ranjang perawatan, di bawah sorotan lampu yang lembut, tubuh Ibu Salma tampak menegang kecil. Jemari tangannya bergerak lebih aktif dibanding siang tadi, dan kedua kelopak matanya bergetar hebat seolah-olah wanita paruh baya itu tengah bertarung sekuat tenaga menepis kegelapan koma yang membelenggunya selama berbulan-bulan.

Aura melangkah mendekati ranjang dengan dada berdebar kencang. Ia berlutut di samping tempat tidur, menggenggam erat telapak tangan ibunya yang dingin lalu menempelkannya di pipinya yang hangat.

"Ibu... Ini Aura, Bu..." bisik Aura dengan suara yang getas dan gemetar hebat karena air mata yang kembali menetes. "Aura di sini, Bu. Aura pulang... Ibu bisa dengar suara Aura, kan?"

Reno berdiri kokoh tepat di belakang Aura. Tangan kekarnya berlabuh mantap di bahu sang istri, menyalurkan fondasi kekuatan yang tak tergoyahkan. Pria itu menunduk sedikit, mengarahkan suaranya ke dekat peraduan ibu mertuanya.

"Ibu... Ini Reno, suami Aura," ucap Reno dengan nada suara bariton yang dalam, tenang, dan sarat akan penghormatan tulus. "Aura dan Reno ada di sini menunggu Ibu. Buka mata Ibu, ya... Jangan takut lagi."

Mendengar bisikan lembut putrinya yang bersanding dengan gema suara tegas dan mantap dari Reno, keajaiban medis itu benar-benar terjadi.

Dada Ibu Salma naik turun teratur, napasnya berembus pelan. Jemari tangannya yang semula kaku perlahan-lahan meremas balik genggaman tangan Aura secara nyata. Dan di detik berikutnya, kedua kelopak mata yang terpejam sekian lama itu perlahan-lahan terangkat.

Iris mata Ibu Salma yang redup dan penuh rasa lelah bergerak lambat, menyesuaikan diri dengan terpaan cahaya ruangan. Fokus matanya perlahan terkunci, menatap tepat ke arah wajah Aura yang sedang menangis haru di samping ranjangnya.

"I-ibu..." isak Aura akhirnya pecah. Ia mencium jemari dan telapak tangan ibunya bertubi-tubi dengan derai air mata bahagia. "Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih Ya Allah... Ibu sudah bangun!"

Bibir Ibu Salma yang kering bergerak-gerak sangat pelan, berjuang keras membentuk sepatah kata dari tenggorokannya yang serak.

"...Au...ra..." bisik Ibu Salma sangat halus, hampir tak terdengar, namun begitu menggema di dalam dada Aura.

"Iya, Bu... Ini Aura. Anak Ibu ada di sini," sahut Aura seraya mengusap lembut kening dan rambut ibunya yang memutih.

Pandangan mata Ibu Salma yang masih sayu kemudian bergeser pelan ke atas, bergulir menatap sosok pria tegap, gagah, dan berwibawa yang berdiri merangkul bahu putrinya dengan tatapan penuh perlindungan. Pria yang suaranya selalu membisikkan rasa aman dan janji-janji manis di telinganya selama ia terbaring tak berdaya dalam koma.

Reno membungkukkan tubuhnya sedikit lebih rendah, memberikan senyuman paling hangat, tulus, dan penuh rasa hormat pada wanita yang telah melahirkan istrinya.

"Selamat datang kembali, Ibu..." tutur Reno dengan suara baritonnya yang sangat lembut dan tenang. Ia menggenggam lembut tangan Ibu Salma bersama jemari Aura. "Perkenalkan, Bu... Saya Reno, suami Aura."

Ibu Salma menatap Reno dengan binar mata yang redup namun penuh tanya, mencoba memproses kata-kata pria gagah di hadapannya.

"Maafkan Reno ya, Bu... Reno dan Aura terpaksa menikah tanpa menunggu Ibu sembuh terlebih dahulu," lanjut Reno penuh kelembutan, menatap Ibu Salma dengan rasa hormat yang mendalam. "Tapi Ibu tidak perlu cemas. Mulai hari ini, Reno janji akan selalu menjaga, menyayangi, dan membahagiakan Aura. Ibu fokus istirahat saja ya, biar cepat pulih..."

Air mata bening perlahan menetes dari sudut mata Ibu Salma yang masih sangat lemah. Meski belum sanggup banyak bicara atau menggerakkan tubuhnya, binar matanya memancarkan rasa syukur dan keharuan yang mendalam. Ibu Salma tahu, doa-doanya di masa lalu telah dijawab oleh Tuhan,ia telah menyerahkan putri tunggalnya ke tangan pria yang sangat tepat dan bertanggung jawab.

Dokter utama segera maju dengan penuh kehati-hatian untuk melakukan pemeriksaan refleks lanjutan. "Kondisi tanda vital Ibu Salma sangat stabil, Pak Reno, Bu Aura. Ini adalah proses siuman yang sangat sempurna."

Reno merangkul bahu Aura yang masih tergugu haru, mengecup sisi kepala istrinya dengan penuh kasih. Di dalam ruang VIP yang penuh kehangatan itu, sebuah babak baru kehidupan mereka yang utuh, tanpa bayang-bayang ketakutan dan rasa cemas, baru saja dimulai.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!