Gebi baru saja mengetahui kalau sang Papa mengidap kanker otak, dan sebagai permintaan terakhirnya. Gebi harus menikah dengan pria yang tidak ia kenal.
Jadi meskipun keberatan Gebi tetap menyetujui permintaan Papanya, namun ia tak menyangka bahwa keputusan nya adalah hal yang ia sesali, ketika mengetahui suaminya sudah memiliki kekasih.
Terperangkap dalam pusaran kebohongan, N@fsu dan pengkhianatan. Akankah Gebi mempertahankan pernikahan nya ??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 09~Kelakuan Kean
Gebi langsung keluar ruangan VIP dan berjalan mendekati pria itu. "Hai" sapa nya sembari mengangkat segelas win yang ada di tangannya, berharap pria di hadapannya itu akan segera mengerti.
Pria itu mengerutkan keningnya "apa yang kau inginkan ?" tanyanya sembari bersandar pada meja bar.
"Aku akan memberimu kesenangan, ayo berikan tanganmu !" balas Gebi.
"Kamu mabuk ?" ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya.
Gebi tersenyum puas, ia pikir pria itu akan menolak permintaannya. Namun saat ia akan meraih tangan pria itu seseorang langsung menarik tubuhnya agar menjauh.
"Apa yang kau lakukan ?" bentak Kean dan tanpa aba-aba langsung melayangkan satu pukulan di wajah pria itu.
*******
Mata Gebi terbelalak ketika Kean memasukkannya ke dalam mobil. Ia masih bisa mendengar umpatan demi umpatan yang Kean katakan.
"Apakah kamu menciumnya?"
"Siapa?" tanya Gebi dengan mata tertutup.
"Bajingan itu," desis Kean.
"Maksudmu dirimu sendiri?" Gebi tertawa.
Kean menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat.
Dalam waktu kurang dari beberapa menit, Gebi bisa mencium aroma familiar dari rumah yang beberapa hari ia tempati. Kean membawa Gebi ke kamar tidur dan membaringkannya dengan pelan. Setelah itu Kean menuju ke arah lemari.
"Duduk ! Aku akan mengganti bajumu."
Gebi melakukan apa yang Kean inginkan. Ia duduk, meskipun ia akan terjatuh karena pusing.
Kean membuka satu persatu kancing atasan Gebi. Sementara Gebi hanya melihat Kean dengan serius saat melepaskan pakaian nya. Ia bisa melihat ketegangan di rahang Kean saat dia memakaikan kemeja kebesaran ke tubuh Gebi.
"Sekarang berdiri." Perintah Kean dengan nada dingin.
"Aku tidak bisa." Jawab Gebi dengan lembut.
Kean menghela nafas sebelum mendorong tubuh Gebi dengan lembut untuk berbaring.
Gebi bisa merasakan tangan Kean di atas rok mini nya. Ia menggigit bibir bawahnya saat tangan Kean yang hangat menyentuh paha nya.
"Jawab aku ! apakah kamu menciumnya?" Kean kembali bertanya.
"Siapa yang kau maksud" tanya Gebi dengan mata menyipit.
"Ummm" Gebi mengerang ketika Kean tiba- tiba mengusap paha nya dengan lembut.
"Jawab aku sayang ! Jangan membuat aku menjadi gila" ucap Kean lagi. Sembari menciumi leher jenjang Gebi.
Gebi langsung mengangkat kepala nya untuk memberi banyak ruang pada Kean, agar leluasa menjelajahi lehernya.
"Katakan padaku sayang, katakan padaku !." Bisik Kean lembut sambil terus mencium leher Gebi
"Ah, Keandra" kembali Gebi mengerang saat pria itu memasukkan jarinya ke dalam lub@ng kenikmatan milikku.
"Apakah kamu menciumnya?" tanya Kean lagi sambil mencium leher Gebi.
"Aku tidak tau siapa yang kau bicarakan, aku belum mencium siapa pun kecuali, Ah---" Gebi bahkan belum menyelesaikan apa yang akan ia katakan ketika Kean meraba bagian d@danya.
"Jangan pernah coba- coba sayang" bisik Kean lagi.
Kean menghentikan ciumannya. Dan saat ini ia menurunkan ritsleting celananya sampai senjata ganasnya keluar. Pria itu mengambil sesuatu dari laci kemudian kembali merangkak di atas tubuh Gebi, Kean kembali mencium Gebi dengan penuh gair@h. ia membuka kaki Gebi dan mulai mendorong pusaka miliknya.
"Punya mu masih sangat sempit sayang" ucap Kean dengan suara seraknya.
"Aahhh" Gebi berteriak ketika Kean mendorong semua senjatanya.
"Berteriak lah sayang ! Tidak akan ada yang melarang mu"
Gebi tidak tahu harus berbuat apalagi, selain menikmati setiap sentuhan Kean yang memabukkan. Pria itu berhasil membuatnya seperti terbang menembus langit ketujuh.
Kepala Gebi menoleh ke kiri dan ke kanan, sementara tangannya mencengkram seprai dengan kuat.
"Gebi" gumam Kean sambil membenamkan pusaka nya lebih dalam. Gebi bisa merasakan cairan panasnya memenuhi rahim nya.
Kean menjatuhkan dirinya di samping Gebi, lalu menarik tubuh Gebi lebih dekat dan memeluknya dengan erat. Gebi tidak lagi bisa melawan karena rasa lelah yang ia rasakan.
Kean menempelkan wajahnya ke leher Gebi. "kamu milikku sayang. Hanya milikku !" Bisik Kean sebelum akhirnya ia tertidur.
******""
"Emmm " Gebi terbangun karena merasa seseorang sedang mempermainkan miliknya. Dan tebakannya benar, saat ia melihat Kean di bawah p@ha yang telah terbuka.
"AHhh" Gebi mengerang saat ia merasakan jari Kean bermain dibawah sana.
"Kean Apa yang kau lakukan ?"
Mendengar hal itu Kean menghentikan permainannya, ia menarik kembali jarinya di dalam sana.
"Selamat pagi" sapa Kean letih. Ia kembali berbaring di samping Gebi hingga tubuh polos mereka menempel sempurna.
Kean meletakkan tangannya di bawah kepala Gebi lalu semakin mengeratkan pelukannya.
"Ya, selamat pagi," balas Gebi sinis, yang membuat Kean tertawa.
"Apakah kamu tidak suka ciuman ku?"
Gebi langsung menampar lengannya, membuat Kean semakin tertawa.
Hari masih gelap, dan Gebi yakin kalau saat ini masih subuh.
"Apa kamu tidak lelah?" Tanya Gebi
"Aku tidak akan merasakan itu jika melihat tubuh indahnu" jawab Kean dengan suara serak, kemudian menggesekkan pusaka nya pada Gebi yang sudah mengeras.
"Apa kamu merasakan itu ?" Bisik Kean
Gebi menelan ludah dan langsung menutup matanya.
"Lakukanlah jika kamu ingin aku merasakannya !" Ucap Gebi dengan suara lemah.
"Apa kamu sedang menggodaku sayang ? Maka aku akan melakukannya dengan senang hati" balas Kean..
Dan dalam hitungan detik keduanya kembali melakukan adegan panas itu, Gebi berpegangan pada bantal saat Kean mempercepat permainannya, rasa lelahnya langsung berubah menjadi rasa nikmat yang tidak bisa Gebi jelaskan.
Beberapa menit kemudian Kean terkulai lemas di atas tubuh Gebi, saat sudah mencapai puncaknya. Lahar panas miliknya menyembur dengan sempurna membasahi rahim Gebi.
"Rasanya enak" bisik Kean yang kini sudah berada fi samping Gebi, ia memeluk tubuh Gebi dengan erat.
Gebi tak menjawab karena tubuhnya benar-benar lelah.
Tak berapa lama ponsel Kean berdering. Kean beranjak dari tempat tidur untuk melihat siapa yang menghubunginya. Kemudian Kean menatap Gebi dengan serius, lalu memberi isyarat selamat tinggal.
Gebi hanya bisa menjawab dengan anggukan, sambil menatap Kean yang berjalan keluar kamar.
Namun entah kenapa, kaki Gebi langsung berdiri dan mengikuti kemana Kean pergi.
"Ayo kita bertemu nanti." Gebi mendengar Kean berkata, dan langsung memutuskan panggilan.
Gebi tersenyum pahit ia segera kembali ke tempat tidur, namun Kean langsung menyadari keberadaan Gebi yang mengikutinya.
Dengan cepat Kean mengejar Gebi, ia memasuki kamar dan membungkuk di atas tubuh Gebi dan memeluk wanita itu dengan erat. Beberapa menit kemudian tangan Kean kembali menjelajahi tubuh Gebi.
Rasanya Gebi ingin memukul dirinya sendiri saat ua terus memberikan tubuh nya pada Kean, padahal pria itu masih memiliki hubungan dengan wanita lain.
Tak terhitung sudah berapa kali mereka melakukannya, Gebi bahkan tidak bisa menghitung. Bahkan saat tengah hari pun Kean terus memintanya lagi. Namun sayangnya Gebi tidak bisa menolak.
kalu gebi udah tanda tangan surat dari sofie
jujur aja k kean gebi
mungkin gebi kira kean yg suruh..
up lg kk
waktu sofi datang?