"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Yang Kanaya Pilih, Aku Ikut
...****************...
Kanaya masih berdiri di dekat pintu dengan paperbag yang menggantung ditangannya saat suara Wina lebih dulu memecah keheningan di ruang tamu.
"Kanaya, kamu sudah pulang?"
Perempuan itu tersentak kecil. Ia mengalihkan pandangannya dari Dirga dan mendapati semua orang kini tengah menatap ke arahnya.
"Sudah, Bu."
Obrolan yang sedari tadi terdengar ramai perlahan terhenti. Semua kepala menoleh ke arah pintu masuk, membuat Kanaya yang tidak menyangka akan menjadi pusat perhatian hanya mampu tersenyum canggung.
"Nah...sini, Sayang," panggil Laras sambil melambaikan tangannya dengan antusias. "Kenapa berdiri disitu terus?"
"I-Iya, Tante."
Kanaya segera menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah memasuki ruang tamu. Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas ia melihat berbagai macam katalog, contoh kain, hingga beberapa barang yang memenuhi meja dihadapan mereka.
Rupanya, mereka benar-benar datang dengan persiapan yang lengkap.
Ia akhirnya duduk disamping Laras, sementara Dirga yang berada di sofa seberangnya hanya memperhatikannya sekilas sebelum kembali menatap layar ponselnya.
"Tante sama Dirga ke sini mau ketemu kamu."
Kanaya langsung menoleh ke arah Laras.
"Oh iya...maaf, Tante. Saya nggak tau kalau Tante mau kesini. Tadi saya pergi sama teman saya."
"Iya, gapapa." Laras tersenyum lembut. "Tadi ibu kamu juga sudah bilang kalau kamu pergi sama sahabat kamu. Lagian, kami juga baru sampai tidak terlalu lama."
Laras kemudian meraih tangan Kanaya dan menepuk punggung tangannya pelan.
"Sekarang ada yang mau Tante bicarakan."
"Silahkan, Tante."
Untuk sesaat, seluruh ruangan kembali hening. Bahkan Dirga yang sedari tadi tampak tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan itu akhirnya mengangkat kepalanya.
"Jadi begini..." Laras mulai menjelaskan dengan mata yang berbinar. "Karena waktu pernikahan kan tinggal dua minggu, Tante kesini sekalian bawa desainer, vendor dekorasi, sama WO. Daripada bolak-balik, mending semuanya kita bahas hari ini. Nanti kamu sama Dirga tinggal urus cincinnya saja."
Kanaya tampak sedikit terkejut.
"Ah... begitu. Harus hari ini ya, Tante?"
"Iya dong." Laras terkekeh kecil. "Memangnya mau kapan lagi? Dua minggu itu cepet loh."
Kanaya hanya bisa mengembuskan napas pelan.
"Eh... ya sudah, Tante. Kanaya ikut saja."
Laras langsung menggeleng.
"Jangan ikut saja. Kamu diskusi sama Dirga juga."
Seluruh pandangan spontan beralih kepada pria yang namanya baru saja disebut.
Dirga meletakkan ponselnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kanaya selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar.
"Apa yang Kanaya pilih, aku ikut."
Jawaban singkat itu seketika membuat ruang tamu kembali hening.
Laras menghela napas panjang, sementara Wina hanya tersenyum kecil seolah sudah menduga jawaban seperti itu akan keluar dari mulut Dirga.
"Nah, kan? Begitu terus jawabannya." Laras menggeleng pasrah sebelum kembali menoleh ke arah Kanaya. "Ya sudah. Kalau begitu, ayo pilih kebayanya dulu."
Seorang perempuan yang sedari tadi duduk tidak jauh dari mereka segera bangkit dan mendekati Kanaya sambil membawa sebuah katalog berukuran cukup besar.
"Silahkan, Mbak Kanaya. Ini koleksi terbaru kami."
Kanaya menerimanya dengan sopan, lalu mulai membuka halaman demi halaman yang berisi berbagai desain kebaya terbaru dengan warna dan detail yang berbeda-beda.
Ada yang modern, ada yang mewah dengan taburan kristal berlebihan, ada juga yang di padukan dengan potongan gaun yang cukup berani.
Namun, pandangannya akhirnya berhenti pada satu halaman.
Kebaya bernuansa pastel itu langsung mencuri perhatiannya. Permukaannya di penuhi sulaman bunga berwarna lembut dengan taburan payet dan kristal yang memantulkan cahaya secara elegan.
Potongan kebaya yang sederhana, tapi detail bordir yang begitu rumit membuatnya terlihat mewah tanpa terkesan berlebihan. Di padukan dengan veil transparan berhias bunga-bunga kecil, kebaya itu memancarkan kesan anggun, lembut, sekaligus klasik.
Jemarinya tertahan di halaman itu selama beberapa detik.
Entah kenapa, dari sekian banyak desain yang ada, hanya kebaya itu yang membuat pandangan Kanaya tertahan lebih lama.
Perempuan yang berprofesi sebagai desainer itu rupanya menyadari hal tersebut. Ia tersenyum tipis sebelum sedikit mendekat kearah Kanaya.
"Mbak Kanaya suka dengan yang ini?"
"Iya..." jawab Kanaya lirih tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari halaman katalog. "Cantik sekali."
"Kebetulan untuk desain yang ini saya membawa sampelnya." Senyum sang desainer semakin lebar. "Kalau Mbak Kanaya berkenan, nanti bisa langsung dicoba. Saya juga membawa beberapa model lain sebagai perbandingan."
Kanaya menggeleng pelan. "Tidak perlu. Saya mau yang ini saja."
Jawaban yang begitu cepat membuat sang desainer terkekeh kecil. "Baik. Kalau begitu saya siapkan dulu kebayanya."
"Iya, Mbak. Terima kasih."
Setelah desainer itu beranjak mengambil sampel kebaya, Kanaya menoleh kearah Laras dan Wina sambil memperlihatkan halaman yang sedari tadi terbuka dihadapannya.
"Naya suka yang ini, Tante."
Laras langsung mendekat untuk melihat lebih jelas, di susul Wina yang ikut memperhatikan gambar pada katalog tersebut.
"Wah... cantik sekali," puji Laras sambil mengangguk puas. "Pilihanmu bagus, Sayang."
"Iya, cantik sekali." Wina ikut tersenyum. "Ibu juga suka. Warnanya lembut...cocok sekali sama kamu, Kanaya."
"Kalau begitu sekalian di coba ya," lanjut Laras. "Biar langsung di ukur juga."
"Iya, Tante. Itu lagi disiapin kebayanya."
Sambil menunggu kebaya di siapkan, Kanaya kembali membuka katalog yang berada diatas meja. Kali ini tangannya meraih katalog khusus pakaian pria. Ia membalik beberapa halaman hingga akhirnya kembali menghentikan jemarinya pada sebuah desain beskap yang menurutnya sederhana, tetapi tetap terlihat elegan.
"Mbak..."
Desainer yang tengah sibuk membuka kotak garment itu segera menoleh.
"Iya, Mbak Kanaya?"
"Kalau untuk prianya pakai desain beskap yang ini, tapi warnanya champagne, bisa tidak?" Kanaya menunjuk gambar di hadapannya. "Biar senada sama kebayanya."
Sang desainer memperhatikan gambar yang ditunjuk Kanaya selama beberapa detik, kemudian mengangguk mantap.
"Tentu bisa. Warnanya bisa kami sesuaikan. Nanti sekalian Pak Dirga juga langsung kami ukur supaya proses pengerjaannya bisa segera dimulai."
Kanaya tersenyum kecil.
"Iya, Mbak. Kalau begitu untuk prianya yang ini saja."
Ucapan itu membuat Laras dan Wina saling berpandangan sebelum sama-sama tersenyum tipis. Bahkan Laras sempat melirik ke arah putranya yang sedari tadi hanya duduk tenang mendengarkan semua keputusan Kanaya tanpa menyela sedikit pun.
Sementara Dirga, ia hanya mengalihkan pandangannya sekilas ke arah gambar beskap yang di pilih Kanaya, lalu kembali menyandarkan tubuhnya disofa tanpa memberikan komentar.
"Kalau begitu, mari Mbak Kanaya," ajak sang desainer sambil membawa kotak garment di tangannya. "Kita coba dulu kebayanya."
Kanaya segera berdiri dari tempat duduknya.
"Ah... iya." Ia menoleh lebih dulu kepada Wina dan Laras. "Sebentar ya, Bu... Tante."
"Iya, Sayang," balas Laras sambil mengangguk. "Coba dulu kebayanya."
Kanaya membalas dengan senyum kecil, lalu mengikuti sang desainer keluar dari ruang tamu menuju kamar tamu yang berada disisi kanan rumahnya.