Ternyata tinggal bersama ibu mertua tak seindah bayangan Gita. Miranti terus saja menyiksa batin serta fisiknya.
Gita mengalami baby blues pasca melahirkan hingga hampir mencekik bayinya sendiri.
Miranti dengan rencana yang telah tersusun rapi di dalam otaknya, semakin kejam dalam menyiksa batin Gita. Melayangkan berbagai fitnah, hingga sang putra, Pramudya membenci, Gita dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Apa langkah yang harus Gita ambil dalam rumah tangganya. Ketika sang ibu mertua menyimpan dendam padanya dari kehidupan masa lalu.
Apakah Gita tetap bertahan dengan rumah tangga yang bagaikan neraka itu?
Atau pergi dan membuat Pram menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9. Baby Asha Masuk Rumah Sakit.
Gita memilih untuk menuruti apa kata orang dan tidak mendebatnya lagi. Karena pertengkaran itu hanya akan semakin menguras tenaganya. Gita juga kasihan pada suaminya yang nampak kelelahan. Mungkin, dirinya akan mencoba membahas lagi nanti ketika pram sudah lebih tenang.
Gita telah mengkonsumsi pil pelancar ASI yang ditebus di apotik tadi. Harganya lumayan mahal karena itu Pram menekannya harus berhasil. Ancaman dari suaminya itu membuat dirinya sangat berharap air susu-nya keluar banyak malam ini. Gita juga kasihan melihat bayinya kekurangan nutrisi. Putrinya itu nampak lemas dan hanya tertidur saja.
"Sayang, semoga malam ini kamu bisa menyusu sampai kenyang dan puas ya. Bunda akan berusaha sebaik mungkin," gumam Gita sambil mengusap kepala bayinya yang terbalut selimut. Muka putri mungilnya itu nampak lebih tirus dari setelah dilahirkan. Karena pada saat itu, berat bayinya hanya tiga ribu gram. Akan tetapi, kemarin hanya tinggal dua ribu tujuh ratus gram saja.
"Bunda akan makan sayur dingin tanpa rasa ini. Semoga, bisa menambah nutrisi juga," gumam Gita lagi seraya memasukkan sayur bayam yang kuahnya sudah tak bening itu lagi, dan ...
Hueekk!
Gita justru memuntahkan isi perutnya. Karena, ternyata sayur itu sudah basi.
"Mama, kamu tega sekali memberikan sayur basi padaku. Bagaimana aku bisa memproduksi ASI jika seperti ini. Perlakuanmu sangat keterlaluan, Ma. Apa salah Gita," isaknya lirih sambil membersihkan bekas muntahannya sebelum Pram keluar kamar mandi.
Berharap suaminya itu tak mendengar kejadian barusan. Tak lama Pram keluar dan melihat istrinya itu sedang memijat dadanya dengan minyak kelapa asli. Gita tengah melakukan apa yang di ajarkan oleh bidan di klinik tadi. Mumpung bayinya masih tenang.
Pram menelan ludahnya kasar.
Melihat pemandangan itu, jiwa kelelakiannya tentu saja meronta. Apalagi, sudah cukup lama dirinya tidak menikmati keindahan Gita.
Hal itu membuatnya lantas emosi. Baginya, Gita sengaja melakukannya untuk menyiksa dirinya. "Kamu apa tidak bisa melakukannya di kamar mandi!" protes Pram kesal seraya melempar handuk ke arah Gita. Hingga, menutupi wajah wanita itu.
"Mas ini kenapa sih? Kan tadi ada kamu di kamar mandi. Lagipula, aku tidak kuat berdiri lama, darahku semakin deras keluar. Kata dokter juga kan aku tidak boleh banyak bergerak dulu," sahut Gita. Dia pun turun perlahan sambil membawa handuk basah suaminya ke kamar mandi.
"Kamu itu sekarang pintar menjawab suamimu ya. Ingat, Gita, kamu itu istriku. Menurutlah padaku saja juga mama!" kecam Pramudya, yang telah memberikan tatapan tajamnya pada Gita.
Sementara itu, Pram tidak tau jika pada saat ini Gita sang istri tengah menahan sesak di dalam dadanya. Wanita itu terdiam tak lagi menyahut bukan karena tak berani membela dirinya. Akan tetapi, wanita yang telah menjadi ibu dari anaknya itu sedang merasakan sedih dan perih karena telah menerima bentakan serta omelan setiap hari.
Sejak, awal hamil hingga melahirkan tak ada satu ucapan pun dari Pram yang membesarkan hatinya. Tak ada kalimat pujian maupun terimakasih karena selama ini dirinya telah berhasil memperjuangkan Putri kecil mereka. Seandainya pria itu tau, bahwa sang mama selama ini menginginkan kehancuran bayi mereka sendiri.
"Kamu kalau di kasih tau, bisanya cuma nangis aja. Sekali-kali kamu minta maaf sama mama. Bagiamana pun dia mamamu juga, hormati dan hargai apa yang telah mama lakukan buat kamu!" ujar Pram lagi. Pria ini sama sekali tidak memperhatikan bagaimana raut wajah Gita saat ini. Bagaimana ekspresinya yang sudah begitu tertekan. Pram tak mau tau, laki-laki itu hanya tau menjaga perasaan miranti saja.
Padahal, seharusnya para suami mengerti. Jika perasaan wanita hamil maupun yang telah melahirkan lebih sensitif karena hormon mereka belum berada di batas normal. Mereka sangat butuh perhatian dan pengertian. Karena, wanita ini juga sebenarnya bingung dengan keadaan serta perubahan yang terjadi pada diri mereka.
Para wanita ini tengah mengalami transisi dari gadis lalu menjadi istri dan kini menjadi seorang ibu. Meskipun itu semua adalah kodrat dari seorang perempuan, tetap saja mereka butuh dukungan dan juga ilmu. Karena sejatinya semua hal ini adalah kali pertama yang terjadi dalam siklus hidup mereka.
Setelah mengatakan hal tanpa memikirkan perasaan istrinya itu. Pram langsung keluar kamar dan membanting pintu. Gita tau jika suaminya pasti ingin makan karena itu dia turun ke bawah.
Gita meluruhkan tubuhnya ke kasur. Ia tak meneruskan pijatan pada dadanya. Karena seluruh sendi pada tulangnya terasa lemas. Ucapan dari Pramudya benar-benar membuatnya hilang semangat. Batinnya teriris, dengan kenyataan yang tidak memihak padanya sedikitpun.
Gita kembali bergadang malam ini. Pramudya kembali kekamar untuk mengambil selimut kemudian tidur sofa panjang yang ada di pojok kamar. Pria itu tak mau tau meski mendengar bayinya menangis tanpa suara.
"Sayang, kamu kenapa Nak?" Gita melirik ke arah jam dinding. Benda berbentuk lingkaran itu telah tunjukkan angka 3 dini hari. Akan tetapi bayi perempuannya ini terus saja menangis dengan suara yang sangat pelan.
Padahal bayinya itu ia susui satu jam sekali. Hingga, duduk dadanya terasa semakin perih. Gita berpikir, isapan bayinya yang semakin kuat pertanda jika ASI-nya sudah keluar banyak. Tadinya, Gita merasa tenang dan juga senang karena pada akhirnya dia dapat menyusui bayinya itu dengan baik.
Karena bingung, dengan keadaan bayinya Gita pun membangunkan Pram.
"Mas, bangun!" panggil Gita seraya menggoncang bahu Suaminya itu.
Pramudya kaget dan langsung membelalakkan matanya. "Kenapa sih, Git? Ini baru jam berapa?" cecar Pram agak kesal karena dirinya masih mengantuk. Pria itu sama sekali tak mau tau apakah istrinya itu sudah tidur atau belum.
"Asha, Mas. Bayi kita menangis terus tapi tanpa suara. Aku khawatir," ungkap Gita.
"Kalau nangis ya tinggal kamu susui. Jangan bilang masih tak keluar juga! Aku sudah beli vitamin mahal buat kamu Gita!" marah Pram. Merasa Gita membangunkannya untuk hal yang tidak penting. Persis seperti kata mama jika istrinya ini hanya mencari perhatiannya saja.
"Sudah, Mas. Bahkan satu jam sekali. Tapi, wajah Asha justru semakin kuning. Kau lihatlah," pinta Gita, berharap Pram lebih memerhatikan bayi mereka.
Pram pun kaget dan beranjak ke tempat tidur. Benar saja, wajah bayinya terlihat lebih kuning dari tadi sore. Bahkan, menurut Gita, Asha belum juga pup sejak sore tadi. Karena khawatir keadaan bayinya yang semakin memburuk maka Pram memutuskan untuk membawanya kerumah sakit.
Di perjalanan, Miranti terus menyalahkan Gita. Wanita itu terus menangis sambil memeluk bayinya yang lemas.
"Sudahlah, Ma. Nanti saja marahnya. Sekarang kita harus memikirkan keselamatan Asha terlebih dulu," ucap Pram mencoba menenangkan emosi Miranti. Bagaimana juga dia tak tega melihat keadaan Gita yang sudah kacau seperti zombie itu.
Seandainya di rumah sakit.
Dokter menyarankan, agar Pram mencari ruang NICU untuk bayi mereka. Karena bilirubin semakin tinggi. Sehingga, menyebabkan bayi lemas dan tidak bisa mengisap dengan optimal.
Pram pontang-panting mencari ruangan khusus tersebut. Hingga, atas pertolongan kenalannya yang seorang perawat di rumah sakit lain. Maka bayi mereka pun dapat segera mendapat tindakan.
Asha, bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu kini berada di dalam tempat khusus. Sebuah box kaca yang memancarkan sinar biru untuk menekan Bilirubin-nya.
"Semua ini karena ulahmu, Gita. Kau sungguh, seorang ibu yang tidak berguna," bisik Miranti pada menantunya, di saat sang putra sedang menemui dokter.
...Bersambung ...
walaupun singkat tapi mantap..terus berkarya dan sehat selalu 😘😘