Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkat Taka
"Bu!"
Bu Isma berhenti dan menoleh. "Iya, yah?"
"Sini, bu."
Tanpa pikir panjang, bu Isma pun mendekat.
"Ada apa, yah?"
Pak Surya tar dengar menghembuskan napas pelan. Sebelum kemudian mengatakan sesuatu pada istrinya.
"Ibu bisa tolong buang ini?" Pak Surya menunjuk ke arah bungkus rokok yang tergeletak di atas meja dekat kopi.
Bu Isma mengangguk. "Iya, yah."
Bu Isma pun mengambil bungkus rokok tersebut. Awalnya beliau mengira jika rokok nya telah habis. Namun, begitu di ambil rokok nya masih tersisa lima batang.
"Ini masih ada, yah," ujar bu Isma sambil memperlihatkan isi dalam bungkus tersebut.
"Ibu buang saja. Mulai sekarang ayah tidak akan merokok lagi."
Bu Isma di buat tercengang mendengar kalimat yang di ucapkan pak Surya barusan.
"Ayah ini bisa aja bercandanya. Mana bisa ayah berhenti merokok. Itu buktinya di tangan masih nyala."
Pak Surya mengangkat rokok yang masih tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Beliau langsung mematikan rokok tersebut dan membuangnya ke asbak.
Bu Isma sampai melongo melihatnya. Apa suaminya benar-benar ingin berhenti merokok? Padahal tidak ada angin tidak ada hujan, beliau sudah memperingati puluhan bahkan ratusan kali agar suaminya berhenti merokok. Tapi tidak pernah di dengar. Lalu apa yang membuat suaminya sekarang memutuskan untuk berhenti merokok?
Suasana berubah hening. Bu Isma menatap suaminya tidak percaya.
"Yah .. Ayah serius mau berhenti merokok?"
Bu Isma menatap suaminya bahkan sampai tidak berkedip.
"Bukankah ini permintaan ibu kan? Supaya ayah berhenti merokok."
Bu Isma spontan mengangguk. "Iya, tapi-"
"Cepat buang sebelum ayah berubah pikiran."
Dengan cepat bu Isma mengangguk. "Iya, yah. Iya."
Bu Isma membawa asbak bekas rokok dan bungkus rokok yang ada di genggaman tangannya saat ini ke dapur.
"Ada apa, bu?" tanya Diba kaget mendapati ibunya kembali ke dapur dengan langkah tergesa.
"Nak, bisa tolong cubit tangan ibu?"
Diba sontak terkejut. "Apa sih, bu? Mana mungkin Diba melakukannya. Diba tidak mungkin menyakiti ibu."
"Lakukan saja, nak. Ini permintaan ibu."
"Aku tidak mau, bu. Maaf, ini sama saja dengan menyakiti ibu. Diba tidak berani." Diba tetap menolak permintaan sang ibu yang terdengar konyol.
Bu Isma pun menaruh asbak serta bungkus rokok ke atas pantry, lalu menyubit lengannya sendiri.
"Aaww .." bu Isma memekik kesakitan.
"Ibu .. Kenapa ibu melakukannya? Kenapa ibu menyakiti diri sendiri?" seru Diba cemas.
Bu Isma memegang kedua bahu Diba dan menatap putrinya dengan senang.
"Ternyata ibu tidak mimpi, nak. Barusan ayah minta ibu untuk membuang rokok ini. Dan katanya mulai sekarang ayah tidak akan merokok lagi. Ayah mau berhenti merokok."
"Ibu serius?"
Bu Isma mengangguk membenarkan. "Iya."
Diba ikut senang dengarnya. Lantaran ayah nya memiliki asma namun tidak terlalu parah. Dan begitu ia dengar jika ayahnya memutuskan untuk berhenti merokok, tentu saja itu sesuatu yang membahagiakan sekaligus tidak percaya.
"Kok bisa, bu?" tanya Diba penasaran.
"Ibu juga tidak tahu, nak. Padahal ayah masih pegang rokok yang masih menyala."
Diba ikut merasa heran. "Apa ada sesuatu yang membuat ayah sadar untuk berhenti merokok saat ini juga?"
Bu Isma kembali menggeleng. "Ibu juga tidak tahu, Diba. Tapi sekarang ayah sedang duduk di teras bersama nak Taka. Apa .."
Bu Isma menggantung kalimatnya saat beliau menduga jika ini berkat Taka. Diba pun menduga hal yang sama. Ia akan pastikan pada suaminya nanti. Apa yang membuat ayahnya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti merokok, padahal selama ini dokter dan ibunya sudah meminta ayahnya untuk berhenti merokok namun tidak pernah di dengar.
_Bersambung_