NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan Main Sang CEO

Pagi baru saja merayap naik, membawa bias cahaya matahari yang mencoba menembus tirai tebal berwarna abu-abu gelap di jendela kamar utama. Namun, cahaya pagi itu tidak membawa kehangatan apa pun ke dalam ruangan yang terasa hampa.

Kirana terbangun dalam posisi meringkuk di atas karpet tebal di samping ranjang pengantin. Semalaman ia tertidur di lantai dengan gaun pengantin mewah yang kini sudah kusut masai, berkerut di sana-sini, dan ternoda oleh air matanya sendiri. Tubuhnya terasa kaku, persendiannya ngilu akibat suhu pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, dan kepalanya terasa sangat berat bagai dihantam batu.

Dengan gerakan lambat dan gemetar, Kirana mendudukkan dirinya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sunyi. Sisi ranjang di sebelahnya tampak rapi, dingin, dan sama sekali tidak tersentuh. Suaminya benar-benar menghabiskan malam pertama mereka di ruang kerja, meninggalkan istrinya menangis seorang diri hingga jatuh tertidur di lantai.

Kirana menarik napas panjang, mencoba menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa sakit di dadanya masih berdenyut nyeri, tetapi ada kesadaran dingin yang mulai merayap masuk ke dalam benaknya—bahwa dongeng tentang pernikahan bahagia yang ia bayangkan telah hancur berkeping-keping sebelum sempat dimulai.

Dengan sisa tenaganya, Kirana bangkit berdiri. Ia melepas tiara kecil dari sanggul rambutnya yang sudah berantakan, menaruhnya di atas nakas, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan merapikan diri. Ia tidak mengenakan gaun pengantin itu lagi; sebagai gantinya, ia memilih sebuah *dress* rumahan sederhana berwarna merah muda lembut—salah satu pakaian kesukaannya yang dibawanya dari rumah orang tuanya.

Kirana melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga kayu berpelitur mengilap menuju lantai bawah. Suasana rumah begitu senyap, seolah dihuni oleh hantu-hantu tak kasat mata. Para pelayan rumah tangga tampak bergerak sibuk dalam diam, merapikan sudut-sudut ruangan dengan kepala tertunduk, menunjukkan betapa kaku dan disiplinnya atmosfer yang diciptakan oleh pemilik rumah ini.

Saat Kirana tiba di area meja makan, ia melihat sosok Arka sudah duduk di sana. Pria itu tampak sangat rapi mengenakan setelan jas kerja *tailored-fit* berwarna hitam pekat, kemeja putih licin tanpa sedikit pun kusut, dan dasi sutra abu-abu yang melingkar sempurna di lehernya. Di sebelah piring porselen tempat Arka menikmati secangkir hitam kopi pahit, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar.

Langkah kaki Kirana yang pelan membuat Arka mendongak.

Pria itu menatap Kirana dengan mata tajam nan dingin, tanpa ada secercah pun rasa bersalah atas apa yang terjadi semalam. Tatapan itu seolah menilai penampilan Kirana, lalu kembali fokus pada cangkir kopinya.

"Pagi, Mas..." cicit Kirana pelan, suaranya terdengar serak dan rapuh.

Arka tidak menjawab. Ia meneguk kopinya perlahan, meletakkannya kembali di atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang berdenting tajam di tengah kesunyian ruang makan. Setelah itu, Arka menggeser amplop cokelat tebal yang ada di sampingnya ke arah kursi kosong di seberang meja.

"Duduklah," titah Arka. Suaranya bariton, datar, dan mutlak.

Kirana menurut. Ia menarik kursi dengan gerakan ragu-ragu, lalu duduk tepat di seberang suaminya. Jarak di antara mereka terasa begitu dekat secara fisik, namun bagaikan dipisahkan oleh jurang yang sangat dalam.

Arka mendorong amplop cokelat itu lebih dekat ke hadapan Kirana.

"Buka dan baca," kata Arka dingin. "Itu adalah aturan main selama kita hidup di bawah atap yang sama. Saya tidak suka basa-basi, Kirana. Jadi, pahami setiap poin yang tertulis di dalamnya agar kita tidak perlu membuang waktu untuk berdebat di kemudian hari."

Jari-jemari Kirana yang gemetar meraba permukaan amplop cokelat tersebut. Ia menarik keluar beberapa lembar kertas HVS putih bersih yang dijilid rapi dengan *stapler* di sudutnya. Judul di halaman paling atas tercetak tebal dengan huruf kapital: **ATURAN TERTIB DAN KEBIJAKAN RUMAH TANGGA KELUARGA PRATAMA.**

Kirana mulai membaca lembar demi lembar isi dokumen itu. Semakin jauh matanya menatap deretan teks di atas kertas, semakin sesak pula napas yang ia hirup. Aturan itu bukan sekadar panduan hidup bersama; itu adalah kontrak pembatasan diri—sebuah daftar larangan ketat yang mereduksi statusnya sebagai seorang istri menjadi sekadar seseorang yang menumpang hidup di rumah ini.

Ia mendongakkan kepalanya, menatap Arka dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Mas... ini... apa maksudnya semua ini? Kita ini suami istri. Kenapa harus ada aturan seketat ini?"

Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. Wajahnya mengeras, memperlihatkan benteng pertahanan emosional yang tidak bisa ditembus.

"Suami istri?" Arka mengulangi kata itu dengan nada mengejek yang sangat tipis. "Jangan salah paham, Kirana. Pernikahan ini terjadi di mata hukum dan agama semata-mata untuk memenuhi permintaan terakhir orang tua kita dan menjaga stabilitas relasi bisnis keluarga besar kita. Di luar itu, status kita tidak lebih dari dua orang asing yang kebetulan tinggal di satu bangunan yang sama."

Pernyataan itu menghujam jantung Kirana seperti belati tajam. Ia mencengkeram kertas di tangannya hingga ujung-ujungnya menjadi kusut.

"Tapi... tapi di poin kedua tertulis kalau aku dilarang keras mencampuri urusan pribadiku... urusan pribadi kamu..." suara Kirana tercekat. "Bahkan di poin keempat... aku dilarang datang ke kantor kamu dengan alasan apa pun. Kenapa, Mas? Apa salahnya kalau seorang istri membawakan makan siang untuk suaminya ke kantor?"

"Karena saya benci ketidakpastian dan kekacauan," potong Arka tajam, matanya menatap lurus menembus manik mata Kirana tanpa ampun. "Kantor saya adalah tempat kerja profesional, bukan tempat bermain bagi seorang wanita manja yang tidak punya pekerjaan tetap. Kamu pikir saya tidak tahu kebiasaanmu di rumah orang tuamu? Bangun siang, menghabiskan waktu berjam-jam di salon, merengek minta dibelikan ini-itu, dan hidup tanpa arah tujuan yang jelas."

Arka memajukan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah meja agar setiap kata yang ia ucapkan terdengar jelas dan menyayat hati.

"Saya tidak punya waktu untuk menghadapi drama, rengekan, atau sikap manja ala anak orang kaya yang tidak mandiri. Aturan itu dibuat demi kebaikan kita berdua. Selama kamu tinggal di sini, jalankan peranmu sebagai nyonya rumah secara administratif, urus keperluan dasar rumah ini lewat pelayan, dan jangan pernah sekali-kali mencoba masuk ke dalam ranah privat atau pekerjaan saya."

Kirana tertegun. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, menetes membasahi pipinya yang mulus. Ia tidak menyangka bahwa suaminya memiliki pandangan sekaku dan sekejam itu terhadap dirinya. Arka melihat air matanya bukan sebagai bentuk kesedihan yang harus dihibur, melainkan sebagai bukti nyata dari kelemahan dan kecengengan yang selama ini sangat dibencinya.

"Kamu menangis?" Arka mendengus pelan, suaranya terdengar begitu sinis. "Baru ditegur seperti ini saja sudah menangis. Bagaimana nanti kalau kamu dihadapkan pada dunia luar yang sebenarnya? Ingat, Kirana, air mata tidak akan mempan di hadapan saya. Saya tidak akan luluh."

Kirana merapatkan bibirnya yang bergetar. Rasa sakit yang luar biasa bercampur dengan rasa marah dan harga diri yang diinjak-injak mulai membakar hatinya. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun—bahkan kedua orang tuanya yang sangat memanjakannya—yang pernah berbicara secuek dan sekasar itu kepadanya. Ia dinilai rendah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk membuktikan kemampuannya.

"Baiklah, Mas..." bisik Kirana lirih, suaranya bergetar hebat namun perlahan-lahan mulai mengeras di ujung kalimatnya. Ia menatap wajah tampan namun dingin itu dengan pandangan yang menyiratkan luka yang sangat dalam. "Aku paham sekarang."

Kirana merapikan lembaran kertas aturan itu, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya kembali di atas meja tepat di hadapan Arka. Ia tidak menyentuh makanan apa pun yang tersaji di meja makan.

"Kalau aturan itu yang kamu mau, aku akan mematuhinya," lanjut Kirana dengan nada datar yang berusaha ia tegarkan. "Aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kantor kamu. Dan aku tidak akan pernah mengganggumu."

Arka sedikit tertegun melihat perubahan respons Kirana yang tidak meledak-ledak atau merengek seperti bayangannya semula. Ada kilatan keheranan yang melintas sesaat di mata hitam pria itu, namun dengan cepat ia menepisnya kembali ke balik topeng kedinginannya. Bagi Arka, kepatuhan itu adalah hal yang wajar dan memang sudah seharusnya terjadi.

"Bagus kalau kamu mengerti," ujar Arka dingin sambil berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas kerjanya, menyambar tas kerja kulit di sisi kursi, dan mengenakan kembali jam tangannya dengan gerakan tegas. "Saya berangkat ke kantor. Jangan tunggu saya pulang untuk makan malam, saya ada rapat panjang dengan dewan direksi."

Tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata perpisahan, dan tanpa meninggalkan satu sentuhan pun, Arka melangkah meninggalkan ruang makan. Suara pantulan sepatu pantofelnya menggema di lantai marmer, menjauh perlahan hingga suara pintu utama tertutup rapat dari luar, menandakan kepergian sang CEO ke dunianya yang sibuk dan tak tersentuh.

Kirana tetap duduk sendirian di meja makan yang luas itu. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar kini terasa begitu menyilaukan dan hampa.

Ia menatap kosong ke arah kursi yang baru saja ditinggalkan Arka. Di dalam dadanya, sesuatu yang rapuh telah resmi patah, namun di saat yang bersamaan, sebuah perisai tak kasat mata mulai terbentuk melingkupi hatinya. Nona manja yang selama ini selalu bergantung pada orang lain perlahan-lahan mulai menyadari bahwa di rumah mewah ini, ia harus belajar bertahan hidup seorang diri—tanpa cinta, tanpa pelukan, dan tanpa belas kasihan dari suaminya sendiri.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!